DELMAR

DELMAR
NAMA



Killa pov


Setelah menyelesaikan ujian, aku meminta ijin pulang lebih dulu dengan alasan tidak enak badan. Padahal hari ini rencananya mau meminta maaf dulu sama teman teman karena hari terakhirku sekolah. Tapi semua rencana itu lenyap dari otakku gara gara gara omongan Shani tentang Laura.


Saat keluar gerbang, aku melihat mobil Kak Del sudah terparkir disisi jalan. Aku segera menghampirinya lalu masuk kedalam mobil.


"Bi, kamu baik baik aja, pucet banget." Tanya Kak Del saat kami sudah didalam mobil. "Mau kerumah sakit?"


"Pulang aja." Lirihku sambil menggeleng.


"Ya udah kalau gitu." Kak Del segera melajukan mobilnya menuju rumah. Selama perjalanan, aku hanya diam. Aku memejamkan mata karena kepala ini rasanya sangat berat.


Sesampainya dirumah, aku segera ganti baju lalu rebahan. Kepala yang pusing membuat aku memilih untuk tidur saja, berharap saat bangun nanti sakitnya berkurang atau mungkin hilang.


"Beneran kamu gak papa?" Kak Del terlihat cemas. "Kita kedokter ya?"


Aku kembali menggeleng. Baru dua hari yang lalu aku kedokter, masak mau kesana lagi. Bosen entar dokternya ngeliat aku.


"Peluk, Killa pengen dipeluk." Lirihku sambil menatap nanar kearah Kak Del yang berdiri di samping ranjang. Ya, sekarang yang kubutuhkan bukan dokter, melainkan pelukan dari Kak Del.


Tak perlu menunggu lama, Kak Del segera berbaring disampingku lalu membawa tubuhku kedalam dekapannya.


Benar, inilah yang aku butuhkan sekarang. Rasanya sangat nyaman berada didalam dekapannya. Aroma tubuhnya yang begitu khas membuatku menghirupnya dalam dalam. Aku sangat menyukai aroma tubuh Kak Del. Sangat maskulin dan mampu menghipnotisku.


"Apa terjadi sesuatu disekolah?" Tanya Kak Del sambil membelai rambutku. Sepertinya dia menyadari akan keresahanku.


"Aku takut." cicitku.


"Takut?" Kak Del mengernyit sambil menarik daguku agar menghadapnya. "Ada yang jahatin kamu disekolah?"


Aku menggeleng sambil berkata "Enggak."


"Lalu, takut apa?"


"Entahlah, perasaanku tidak tenang."


"Tapi kenapa? Apa gara gara email semalam? "


Semalam Kak Del dapat email dari salah satu kampus di US. Dia diterima kuliah disalah satu kampus ternama disana.


"Aku udah bilang, aku gak akan ambil. Lagian aku juga udah kuterima di salah satu universitas di Jakarta. Aku akan tetap disini, nemenin kamu. Aku kan udah janji bakal nemenin kamu lahiran. Aku gak akan kemana mana."


Harusnya aku bisa lega setelah mendengar penuturannya. Tapi nyatanya, bukan hanya itu masalah yang sedang aku pikirkan.


Laura? Bayangan cewek itu terus menari nari dibenakku. Ucapan Shani tadi sungguh meracuni otakku.


Aku takut jika benar Laura hamil. Takut jika anak itu adalah anak Kak Del. Berbagi suami? enggak aku gak mau. Sebucin apapun aku ke Kak Del, aku gak mau dipoligami.


"Hei, kenapa diem aja?" Kak Del menyadarkanku dari lamunan.


Apa aku terlalu overthinking? Entahlah.


"Kak, boleh aku tanya? tapi janji jangan marah."


"Iya, emang mau tanya apa?"


Tanya gak ya? takut dia tersinggung. Tapi gak tanya, bisa makin penasaran.


"Kakak pernah ngelakuin itu gak sama Laura?"


"Ngelakuin apa?"


"Yang biasa kita lakuin."


"Apa sih aku gak ngerti."


"Making love?"


Tangan Kak Del tiba tiba berhenti membelai punggungku. Dia juga melepaskan pelukannya, membuatku sangat khawatir. Oh Tuhan, aku salah bicara, dia pasti tersinggung. Dulu aku udah pernah bertanya, dan dia menjawab tidak. Tapi hari ini sekali lagi aku menanyakan hal itu.


Kak Del diam saja, aku lihat matanya terpejam. Ya, aku sangat yakin jika dia marah. Buru buru aku menarik tubuhku lebih keatas lalu membenamkan kepala di ceruk lehernya.


"Maaf." Lirihku sambil memeluk dadanya. Tanpa sadar, air mataku turun hingga membasahi lehernya.


"Apa aku sangat buruk dimatamu?"


Aku buru buru menggeleng.


"Kenapa menanyakan hal yang sama untuk kedua kalinya? Sebegitu tidak percayakah kamu denganku?"


"Maaf."


"Jawabanku masih tetap sama. Aku gak pernah ngelakuin itu dengan wanita manapun kecuali kamu. Tapi semua kembali padamu, mau percaya atau tidak." Nada suaranya begitu datar. Aku yakin dia sedang berusaha meredam emosinya. Dia pasti marah padaku.


Gara gara Shani nih, aku jadi kayak gini. Kak Del jadi tersinggung.


"Maaf." Lagi lagi cuma itu yang bisa aku ucapkan.


"Aku tak mau dengar kamu menanyakan itu lagi untuk yang ketiga kalinya. Karena jawabanku akan tetap sama."


"Aku gak akan ngulanngin lagi. Jangan pernah ninggalin aku, aku takut."


"Gak akan." Jawabnya sambil menghapus air mata sialan yang selalu saja memaksa turun walaupun sudah aku cegah dengan sekuat tenaga.


"Ntar malem aku pengen nyanyi di Ocean cafe. Kakak nonton ya, terus kita ngedate di rooftop."


"Ya." Jawabnya sambil tersenyum lalu mencium keningku lama.


Fly me to the moon


Let me play among the stars


Let me see what spring is like on


A-Jupiter and Mars


In other words, hold my hand


In other words, baby, kiss me


Fill my heart with song and let me sing forevermore


You are all I long for


All I worship and adore


In other words, please be true


In other words, I love you


Killa bernyanyi sambil memetik gitar. Hari ini dia sungguh terlihat sangat cantik, dengan gaun warna putih selutut. Ditambah Flower crown yang menghiasi rambut panjangnya, sungguh tampak seperti seorang peri.


Gara gara squid game, Killa jadi mendadak suka lagu fly me to the moon. Dan malam ini, dia menyanyi dengan sangat merdu hingga membuat semua pasang mata di Oceano Cafe menatap kagum kearahnya.


Semua pelanggan bertepuk tangan setelah Killa menyelesaikan lagunya. Dan disaat bersamaan, Delmar maju sambil membawa sebuket bunga.


"Penampilan kamu sungguh luar biasa." Ujar Del sambil memberikan bunga lalu mencium kening Killa. Membuat para pengunjung bersorak untuk mereka berdua.


Seperti permintaan Killa, setelah menyanyi, mereka naik ke rooftop. Malam ini Delmar sengaja meminta bagian rooftop untuk ditutup. Karena dia tak ingin ada yang mengganggu acara kencannya dengan Killa.


Mereka berdua duduk dibawah sambil menikmati buah buahan segar yang sudah dipotong dan dibersihkan.


"Langitnya cerah sekali ya kak. Aku suka melihat pemandangan langit malam." Ujar Killa mendongak keatas menatap hamparan langit malam yang luar biasa indah itu.


"Aku gak suka." Sahut Del.


"Kenapa?" Tanya Killa sambil menoleh kearah Del yang ada disampingnya.


"Karena aku lebih suka memandang kamu. Cintaan Tuhan yang paling indah adalah Akilla Luna."


Blush


Wajah Killa otomatis memerah mendengar pujian Del.


Gemas melihat wajah Killa yang memerah, Del tak tahan untuk tidak menciumnya, melum*tnya sebentar lalu melepasnya.


"Malam ini kamu cantik sekali Bi." Ujar Del sambil merapikan rambut Killa kebelakang telinga lalu menghujani kecupan di seluruh bagian wajah Killa.


Killa hanya bisa pasrah, karena dia terlalu sibuk menormalkan detak jantungnya yang tak karuan.


"Kak, kamu udah punya nama belum buat calon anak kita?" Tanya Killa.


"Belum kepikiran."


"Jangan bilang kalau mau kamu kasih nama yang arinya lautan juga kayak semua nama dikeluarga kamu?" Ledek Killa.


"Emang kenapa kalau iya?" Tanya Del sambil menyeringai ringan. Menurutnya tak ada salahnya juga memberi nama yang artinya sama dengan namanya.


"Aku pengen nama lain. Yang berhubungan dengan tata surya atau langit."


"Kampungan, udah terlalu pasaran nama itu."


"Dih, gitu banget sih." Sahut Killa sambil cemberut. Membuat Del langsung mengecup bibirnya karena gemas.


"Dari tadi perasaan nyium mulu deh." Protes Killa.


"Biarin, habisnya bibir kamu enak sih, bikin nagih. Apalagi kalau pas rasa jeruk gini, beuh bikin makin ketagihan." Killa langsung terkekeh sambil melanjutkan memakan buah jeruk baby yang ada dipiring.


"Aku suka bulan, gimana kalau nama anak kita Deluna, Delmar dan Luna. Bagus gak?" Tanya Killa antusias. Luna artinya adalah bulan.


"Deluna?" Del mengetuk ngetuk jarinya dikepala seolah sedang berfikir keras. Padahal mah itu cuma gaya doang. "Emang anak kita perempuan?"


"Entahlah, tapi feelingku sih cewek kak. Tapi kalau cowok, kamu aja yang kasih nama."


"Aku?" Del menunjuk dirinya sendiri.


"Iyalah kamu, kan kamu bapaknya."


Del terlihat berpikir, kali ini beneran mikir dia, bukan hanya akting.


"Orion. Orion Kalandra."


Orion adalah nama rasi bintang yang paling terang. Karena Killa ingin anaknya diberi nama yang berhubungan dengan tata surya, jadi menurut Del, Orion sangat tepat.


"Bagus, aku suka. Tapi... " Killa menjeda ucapannya.


"Tapi apa?"


"Haruskah pakai nama belakang Kalandra? Anak ini tak bernasabkan kamu. Dia ada dari hubungan diluar pernikahan." Mata Killa mendadak berkaca kaca. Ya, kasihan sekali anaknya nanti, karena tak bernasabkan Delmar. Anak itu tak akan bisa membawa nama Delmar sebagai bin ataupun bintinya.


"Maaf." Del merangkul Killa dan menyandarkan kepala cewek itu didada bidangnya. "Maaf karena kesalahanku, kamu dan anak kita yang harus menanggung aibnya." Mata Del mendadak ikut berkaca kaca. Dia benar benar merasa bersalah. Seberapapun besar usahanya untuk menyembunyikan kenyataan ini. Pada saatnya nanti, semua orang akan tahu tantang status anaknya yang diluar nikah.