
Rain, Dilan dan ibu Killa mondar mandir didepan ruangan Killa. Wajah mereka tampak tegang. Mulut mereka tak henti henti melafalkan doa sembari menunggu dokter yang memeriksa Killa. Setelah kejang beberapa detik, Killa langsung pingsan.
Liana, ibu Killa tak henti henti menangis, dia sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya.
"Sabar Bu, Killa dan bayinya pasti baik baik saja." Rain mencoba menenangkan besannya, walaupun sebenarnya dia sendiri juga sangat khawatir.
Tak lama kemudian dokter keluar, membuat Rain segera menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan putri saya dok?" Tanya Rain dengan raut cemas.
"Sepertinya, Killa harus segera menjalani operasi caesar. Saya tak ingin mengambil resiko. Komplikasi yang dialami sudah bukan lagi preeklamsia, tapi masuk ke eklamsia. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, lebih baik Killa segera menajani operasi caesar." Jelas Dokter Alma yang menangani Killa.
"Tapi usia kandungannya baru 30 minggu dok. Apa tidak terlalu dini untuk melahirkan?" Rain kembali bertanya.
"Tapi komplikasinya sudah berat. Jadi kalau keluarga setuju, saya akan menjadwalkan Killa operasi caesar besok siang."
Rain dan Liana menutup mulut mereka karena shock. Besok siang, apakah tak terlalu cepat? Mengingat janin itu baru berusia 30 minggu, pasti akan banyak komplikasi yang kemungkinan akan terjadi.
Rain menatap Liana, tanpa berkatapun, Liana pahan maksud tatapan Rain. Wanita itu tengah menanyakan pendapatnya.
"Baiklah dok, kalau itu yang terbaik, kami setuju." Sahut Rain setelah mendapat anggukan dari Liana.
"Baiklah kalau begitu, saya akan siapkan semuanya. Nanti akan ada suster yang datang untuk meminta tanda tangan persetujuan dari pihak keluarga." Ujar Dokter Alma lalu meninggal mereka.
Setelah dokter Alma dan perawat pergi, Rain, Dilan dan Liana masuk kedalam ruangan Killa.
"Sayang." Liana menghampiri Killa dan mencium kening gadis itu lama. Tetes demi tetes air mata Liana turun membasahi wajah Killa.
"Apa terjadi sesuatu yang buruk pada Killa dan anak Killa Bu?" Tanya Killa pada sang ibu. Walaupun dia tak ingat apa yang barusan terjadi, tapi Killa yakin, sesuatu buruk terjadi padanya, mengingat wajah ibunya dan Rain yang tampak sembab.
"Enggak sayang, kalian baik baik saja." Jawab Rain sambil menggenggam tangan Killa.
"Jangan bohongin Killa mah." Ujar Killa dengan mata yang mulai berkaca kaca.
"Kamu___"Rain menjeda ucapannya, membuat Killa makin penasaran.
"Aku kenapa mah?"
"Kamu harus segera melahirkan." Lanjut Rain.
"Me, melahirkan mah?" Killa menutup mulutnya karena terkejut. "Tapi baru 7 bulan?"
"Karena komplikasi, bayi kamu terpaksa lahir prematur. Besok kamu akan menjalani operasi caesar."
"Besok?" Killa makin shock. "Enggak mah, enggak mungkin. Killa gak mau, anak Killa masih belum cukup umur mah, kasihan dia." Tangis Killa seketika pecah. Membayangkan bayi yang lahir prematur membuat Killa cemas. Pasalnya akan banyak masalah yang terjadi pada bayi yang lahir prematur.
Bayi mungil yang berat badannya dibawa rata rata, kulit keriput, wajah cekung. Tidak, membayangkan saja sudah membuat Killa tak tega. Apalagi kalau sampai terjadi komplikasi pada organ vitalnya karena belum terbentuk sempurna.
"Ini yang terbaik untuk kamu dan bayi kamu nak." Ujar Liana sambil terus menciumi pucuk kepala Killa.
"Tapi Killa gak mau melahirkan tanpa Kak Del Bu, Killa gak mau. Kak Del udah janji bakal nemenin Killa lahiran , Kak Del udah janji." Killa makin terisak.
Killa sudah sempat membayangkan momen dramatis melahirkan ditemani Del. Walaupun menegangkan dan sakit, pasti akan menjadi kenangan terindah saat ada Del disampingnya sambil menggenggam erat tangannya.
"Ibu akan menemani kamu nak. Ada ibu, ibu yang akan jaga kamu. Ibu akan selalu ada disamping kamu." Liana mencoba menenangkan Killa.
"Ini demi kebaikan kamu dan bayi kamu sayang." Ujar Rain sambil menyeka air matanya. Wanita itu tak tega melihat keadaan menantunya.
"Mah jangan nangis." Tutur Dilan sambil memeluk mamanya. "Kita harus memberi kekuatan pada Kak Killa. Jangan bikin dia makin sedih." Lanjutnya
"Kak Killa pasti bisa, Kak Killa wanita yang kuat. Besok kakak akan jadi ibu, jadi gak boleh sedih." Dilan mengenggam tangan Killa untuk memberi cewek itu kekuatan.
"Persiapan mental kakak baik baik. Walaupun gak ada Kak Del, tapi kami semua disini bersama kakak. Dilan yakin, jika kak Killa adalah calon ibu yang kuat. Kakak pasti bisa. Kak Del suka cewek yang kuat, bukan cewek cengeng."
Killa tersenyum mendengarnya. Dan dengan segera dia menghapus air matanya.
"Kak Killa akan jadi superhero besok. Bukankan semua ibu adalah superhero dimata anak anaknya? Melahirkan adalah perjuangan yang luar biasa dari seorang ibu. Dan tidak berlebihan jika ibu diberi gelar superhero karena perjuangannya saat hamil dan melahirkan."
"Aku akan jadi ibu yang kuat buat baby. Dan istri yang kuat Buat Kak Del." Ujar Killa dengan senyum kecil yang mulai tersungging dibibirnya.
"Bagus sayang, kamu pasti bisa. Kami semua disini menyayangi kamu dan akan selalu ada buat kamu. Semangat, besok kamu akan jadi ibu. Dan mamah akan jadi nenek." Ucap Rain dengan senyuman menghiasi bibirnya.
"Dan Dilan, akan jadi Om." Sahut Dilan antusias.
...******...
Brakk
Rain yang emosi membuka pintu ruang rawat Laura dengan kasar. Dia tak bisa lagi menahan kekesalannya pada gadis bernama Laura yang sekarang berada di hadapannya. Kalau tidak ingat cewek itu habis menjalani operasi, ingin sekali Rain menampar dan menjambak rambut Laura.
"Apa anda tidak tahu sopan santun, ini rumah sakit." Seru Celin, mamanya Laura yang sedang berada disana.
Rain sama sekali tak menanggapi ucapan Celin. Matanya menatap tajam kearah Laura yang sedang duduk diatas ranjang.
"Saya tidak tahu apa yang kamu ucapkan pada Killa hingga menantu saya itu mengalami kejang. Tapi yang perlu kamu tahu, saya tak akan tinggal diam dengan semua perbuatan kamu. Saya pastikan, kamu akan membayar mahal jika sampai terjadi apa apa pada menantu dan cucu saya." Ancam Rain.
Wajah Laura seketika menjadi pucat pasi. Tubuhnya gemetaran mendengar ancaman Rain.
"Beraninya anda meneriaki dan mengancam putri saya." Bentak Celin sambil menarik kasar lengan Rain. Sebagai seorang ibu, dia tak terima anaknya di bentak bentak.
"Kenapa saya harus takut? Saya tak pernah takut dengan siapapun kecuali Tuhan." Sahut Rain sambil mengacungkan telunjukkanya ketas. "Bahkan saya juga tidak takut dengan anda maupun suami anda." Rain yang emosi mendorong bahu Celin hingga perempuan itu terhuyung ke belakang.
"Saya akan melaporkan anda dengan pasal perlakuan tidak menyenangkan." Ujar Celin dengan lantang. Wanita itu adalah mantan jaksa, dia sangat paham tentang masalah hukum.
"Silakan, saya tidak tahut." Rain berteriak tepat didepan wajah Celin. "Saya akan melawan siapapun yang berani mengusik kehidupan keluarga saya terutama anak anak saya." Seorang ibu akan berubah menjadi harimau saat anak anaknya diganggu.
Celin tersenyum miring mendengar ucapan lantang Rain yang seolah menantanganya.
"Begitu pula dengan saya." Celin menunjuk dirinya sendiri. "Saya juga tidak akan membiarkan siapapun menyakiti putri saya. Tak terkecuali putra anda." Celin balas berteriak didepan wajah Rain.
Laura yang melihatnya hanya bisa gemetaran sambil menangis. Ada rasa bersalah dalam hatinya karena sudah berbuat sejauh ini. Membuat kedua orang yang berstatus ibu itu saling adu mulut demi membela anak mereka masing masing.
"Anda adalah orang yang paham tentang hukum. Dan saya yakin jika anda juga paham pasal tentang fitnah dan memberikan kesaksian palsu. Dan saya pastikan, putri anda akan ditahan karena kasus itu." Rain menatap Laura tajam lalu keluar dari ruangan itu.
Celin yang melihat Laura menangis segera menghampiri putrinya itu.
"Melihat kelakuan wanita tadi. Mama jadi ragu dengan keinginan kamu menikah dengan Delmar. Mama tak yakin dia akan memperlakukan kamu dengan baik sayang." Ujar Celin sambil memeluk Laura dan membelai punggung putri tercintanya itu.
Ceklek
"Astaga." Desis Celin kesal. "Untuk apa anda kembali lagi?" Teriak Celin sambil melepaskan pelukannya pada Laura dan menoleh ke arah pintu.
Tapi ternyata bukan Rain yang masuk, melainkan seorang pria muda.
Mata Laura membulat sempurna melihat siapa yang datang.
"Miko." Gumam Laura sambil menatap Miko yang berdiri diambang pintu.