
Killa tak menyangka jika acara syukuran yang dibilang kecil itu ternyata lebih besar dari dugaannya. Ternyata tamu yang datang sangat banyak, selain teman teman papa Sean, teman Del, anak yatim piatu yang berjumlah 100 anak, datang pula tetangga mereka.
Awalnya Rain tak yakin mau mengundang tetangga, tapi sudahlah, sampai kapan dia mau menyembunyikan fakta kalau Del sudah punya anak. Gunjingan pasti ada, tapi lama lama mereka pasti akan capek sendiri dan akhirnya melupakan masalah ini.
Acara berjalan lancar, baby Deluna sama sekali tidak rewel. Lantunan ayat ayat suci, sholawat dan doa membuat Deluna makin nyenyak.
Selesai acara, mereka membagikan hampers untuk anak anak yatim. Diantara semua orang, Dilan yang paling terlihat akrab dengan mereka.
"Kamu kelihatan akrab banget sama mereka Dil?" Tanya Killa yang berdiri disamping Dilan sambil menggendong Deluna.
"Aku sering diajak mama ke panti kak. Jadi udah lumayan dekat dengan mereka."
"Baik banget sih kamu Dil." Puji Killa.
"Baik mana sama kak Del?" Goda Dilan.
"Baikan Kak Del lah. Pokoknya dia yang terbaik." Jawab Killa.
"Dih yang bucin. Kalau udah cinta, tai kucing rasa coklat." Ejek Dilan.
"Biarin."
"Cinta itu, kadang kadang tak ada logika." Dilan menyanyikan lagu Agnes mo untuk menyendir Kakak iparnya itu.
"Nyanyi kamu?"
"Enggak, kumur kumur." Jawab Dilan sambil melotot dan langsung disambut tawa oleh Killa.
"Capek? sini gantian aku yang gendong. Kamu makan dulu." Del yang baru datang mengambil alih Deluna dari gendongan Killa. Bayi mungil itu tampak seperti princess dengan gaun putih dan bandara yang senada.
"Makasih ya Kak, tahu banget aku lagi lapar." Ujar Killa sambil tersenyum dan mengelus perutnya.
"Tahulah, sejak menyusui makan kamu kan makin banyak. Dah kayak porsi kuli." Ledek Del.
"Ish, jahat deh." Kesal Killa sambil memelototi Del lalu pergi kebelakang untuk makan. Acara memang sudah selesai, para tamu sebagian sudah pulang. Hanya beberapa saja yang masih tinggal.
"Deluna mirip banget sama lo ya Del?" Ujar Manu yang berada disamping Del dan memperhatikan wajah bayi cantik itu. Meskipun berbeda keyakinan, Manu tetap datang. Dia juga ingin ikut merasakan kebahagiaan Del dan Killa.
"Cantik banget kan anak gue?" Ujar Del bangga. Ya, wajah Deluna memang sangat mirip Del.
"Cantiklah mommy nya kan cantik." Jawab Manu yang seketika mendapat tatapan tajam dari Del. "Cemburu?" Manu menyebikkan bibirnya mengejek Del.
"Killa emang cantik. Udah gak usah cemburu." Rey menengahi. "Sini baby Delunanya, biar uncle Rey yang gendong." Rey mengulurkan dua tangannya hendak meraih baby Deluna tapi segera ditepis oleh Del.
"Gak usah. Gue gak ijinin, anak gue digendong playboy kayak lo."
"Gue emang playboy, tapi bukan pedofil, tenang aja."
"Emang lo bisa gendong? Enggak enggak." Del geleng geleng. "Anak gue baru umur sebulan, gak percaya gue lo bisa gendong."
"Lo kenapa Mik? perasaan diem aja sejak tadi? Lo kan mau merid? Happy dong harusnya?" Tanya Manu yang sejak tadi penasaran dengan sahabatnya itu.
"Gue lagi pusing." Jawab Miko dengan muka ditekuk.
"Dih, mau nikah sama bidadari kok malah pusing. Happy bro, bentar lagi lo punya bini cantik. Terus lo juga jadi mantu orang kaya." Seloroh Rey. Tak tahu saja dia apa yang sedang dipikirkan Miko.
"Lo bisa bantu gue Del?" Tanya Miko sambil menatap Del.
"Bantu apaan? Kalau berhubungan dengan Laura ogah gue. Sumpah, masih trauma berurusan sama mantan yang satu itu." Jawab Del.
"Bantu gue cari kerjaan. Kali aja ada lowongan di oceano cafe atau tempat cucian mobil bokap lo. Atau kalau gak, di kantor bokap lo deh. Jadi OB atau cleaning service terserah, yang penting kerja." Miko sungguh dipusingkan dengan masalah finansial sekarang. Gaya hidup Laura dan mertua yang tajir membuatnya pusing. Bagaimanapun, setelah menikah, dia tak mau dianggap tak bisa menafkahi Laura. Dia tak ingin dipandang remeh oleh mertuanya.
"Tapi gimana dengan kuliah lo?" Tanya Del.
"Gampang, itu bisa diatur. Pokoknya gue harus dapat kerja. Gue gak kayak lo yang ongkang ongkang kaki aja duitnya mengalir. Gue butuh kerjaan buat nafkahin Laura dan anak gue nantinya." Jawab Miko.
Nikah muda memang tak semudah yang dibayangkan. Banyak sekali problem yang menanti. Selain karena belum adanya kesiapan mental, masalah yang tak kalah rumit adalah finansial. Pendidikan yang masih rendah membuat mereka tak bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi.
"Lo yakin mau kerja di cafe Mik? Gajinya gak seberapa. Bahkan masih banyak uang jajannya Laura daripada gaji sebulan kerja di cafe." Tutur Del. Sebagai mantan, dia sangat tahu bagaimana gaya hidup Laura. Berapa uang jajannya sebulan dan berapa uang yang dia keluarkan untuk sekadar perawatan di salon. Dan itu semua, tak mungkin tercover hanya dengan gaji bekerja di cafe atau cucian mobil.
"Ya tapi setidaknya gue masih bisa nafkahin dia, daripada tidak sama sekali. Kalian tahukan kalau gue ikut kakek nenek. Makan sehari hari sama uang saku ikut mereka. Biaya kuliah dari bokap." Sejak orang tuanya bercerai, Miko memilih ikut kakek neneknya. Untuk biaya hidup sehari hari, mereka mengandalkan uang pensiunan kakeknya.
"Ya udah ntar gue bilangin mamah. Yang ngurusin cafe kan mamah. Tenang aja, gue pasti bantu." Ujar Del.
"Makasih ya Del. Kali ini gue bener bener ngandalin lo."
"Santai aja bro. Bukan hal sulit buat gue, gak usah dibesarin."
"Ternyata pelik juga ya Mik masalah lo. Gue pikir lo bakalan enak karena punya istri cantik dan mertua tajir. Ternyata gak semudah dugaan gue." Ujar Rey sambil menepuk nepuk bahu Miko. Ya, setidaknya dia masih bisa bersyukur karena tak harus terjebak dengan pernikahan dini.
"Kuliah sambil kerja emang gak mudah. Tapi gue yakin, lo pasti bisa Mik. Apapun masalah lo, jangan lupa cerita sama kita. Kita pasti bantu sebisanya." Manu turut menyemangati.
"Kalian dateng ya kenikahan gue minggu depan." Undang Miko. "Emang bukan pesta mewah sih, cuma akad doang. Tapi seenggaknya, gue pengen semua sahabat gue ngumpul dihari sakral gue." Lanjutnya sambil menatap satu persatu sahabatnya.
"Kita pasti dateng kok." Jawab Manu dah diangguki oleh Del dan Rey.
"Kita sahabat, dan pasti akan selalu ada buat sahabatnya." Ujar Del.
"Halah ngomong doang lo Del. Buktinya lo merid gak ngundang kita. Dah gitu pakai rahasia lagi, bilang kalau Killa pacarnya Dilan." Sindir Rey.
"Sorry, sorry." Sahut Del. "Setiap kali bahas Miko, selalu beralih ke gue, Males deh." Del membuang nafas kasar.
"Udahlah, yang udah terjadi ya udah. Gak usah dibahas lagi. Kita masih kuliah di kampus yang sama walau beda fakultas. Semoga aja kita masih bisa dekat." Manu memang yang paling bijak diantara keempat sahabat itu.
"Kita akan tetap jadi Sahabat. Sekarang dan selamanya." Tutur Del dan langsung diangguki oleh teman temannya.