
"Having s*x with me."
"Tuh kan becanda mulu, males Killa. Ganti truth aja deh kalau gitu." Ujar Killa dengan muka kesalnya.
"Gue gak lagi becanda." Ucap Del dengan wajah seriusnya.
Killa seketika gelagapan. Dia menggigit bibir dalamnya karena bingung harus menerima atau menolak. Jantungnya berdegup kencang. Rasanya seperti mau diajak malam pertama saja.
"Kenapa Kil, muka lo kok pucet gitu?"
"Hah?" Hanya itu yang keluar dari mulut Killa. Cewek itu bingung harus yes or no. Kalau aku sih yes, wkwkwk.
"Ini dare, lo gak bisa nolak." Maksa banget babang Delmar.
"Tapi....." Killa meremas jemarinya karena gugup.
"Tapi apa?"
"Hem... Killa mau, kakak jujur dulu sama Killa."
"Apa?"
"Apa kakak pernah ngelakuin itu sama Laura?" Tanya Killa ragu ragu.
pletak
Bukannya menjawab, Del malah menyentil kening Killa.
"Sakit tauk." Protes Killa sambil mengusap dahinya yang terasa panas.
"Habis pertanyaan lo ngaco. Ya gak pernahlah, orang kita belum nikah."
Killa menghela nafas lega. Ya setidakmya, Del tak seburuk yang dia pikirkan. "Ya kali aja khilaf gitu. Kayak yang kakak lakuin ke Killa dulu."
"Gak pernah, gue hanya pernah ngelakuin itu sekali, sama lo doang. Itu juga karena gue gak sadar. Kalau gue sadar, gak mungkin gue ngelakuin itu ke elo."
"Kenapa? karena Killa gak cantik seperti Laura?"
"Otak lo itu isinya apa sih Kill?" Del mengeram kesal. Bisa bisanya tuh cewek mikir kayak gitu. "Ya karena gue gak mau ngerusak anak orang. Gue juga punya adek cewek, gue gak mau kalau sampai kejadian serupa terjadi sama adek gue. Gue memang bukan cowok baik, tapi gue masih punya otak, masih bisa mikir." Gara gara pertanyaan Killa Del jadi kesal.
Killa terdiam sambil menunduk, meresapi ucapan Del. Benar kata mertuanya, Delmar sebenarnya baik. Hanya saja dia menjadi sedikit liar untuk mencari perhatian orang tuanya. Hanya sebatas mencari perhatian, bukan untuk merugikan orang lain.
"Kenapa lo diem?"
"Hah." Ucap Killa sambil mendongak menatap Delmar.
Delmar makin gemas melihat Killa yang dari tadi hanya Hah Heh Hah Heh gak jelas.
Mereka saling menatap beberapa saat, hingga akhirnya Del menarik Killa kearahnya dan mengecup bibir cewek itu. Mata Killa membulat sempurna karena aksi dadakan yang dilakukan Del. Dia seperti tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Udara yang awalnya dingin terasa panas hingga dia bisa merasakan tubuhnya mulai berkeringat. Darah Killa berdesir hebat dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Killa mulai memejamkan matanya dan membalas ciuman dari Del. Tidak mau munafik, Killa sebenarnya juga sangat menyukai apa yang mereka lakukan saat ini. Tapi kali ini rasanya beda, Killa lebih gugup, mungkin efek dari permintaan Del.
"Lo ngerasa ciuman kita rasanya beda gak?" Tanya Del saat pagutan mereka terlepas.
"A, apanya?" Killa sangat gugup.
"Rasa MSG." Ujar Del sambil tersenyum, hingga membuat wajah Killa seketika memerah karena malu. Namanya juga baru makan mie instan, ya rasa MSG lah mulutnya.
"Gak ada MSG nya aja udah nagihin, apalagi rasa MSG kayak gini." Del kembali merengkuh tubuh Killa dengan satu tangannya. Bibirnya kembali beradu dengan bibir merah milik Killa.
Suara kecupan mereka menjadi irama tersendiri ditengah kesunyian apartemen milik Pak Joe. Spongebob dan pattrik yang sedang menangkap ubur ubur berhenti sejenak untuk memelototi dua sejoli itu.
Ciuman itu berhenti saat keduanya sama sama kehabisan nafas. Tapi tak berlangsung lama karena Del kembali menyatukan bibir mereka setelah menghirup oksigen sebanyak banyaknya. Mungkin efek msg yang membuatnya begitu ketagihan.
Killa seperti terhipnotis, sedangkan Del, seperti mendapatkan pereda rasa nyeri yang luar biasa. Dia sampai lupa jika tangan, kaki dan punggungnya sedang sakit. Perlahan tangannya mulai bergerak melepaskan satu persatu kancing seragam Killa dengan bibir yang masih bertautan. Tapi dengan segera Killa mendorong tubuh Del menjauh.
"Kenapa?" Del terlihat kecewa.
"Tangan sama kaki kakak masih sakit, kita tunda dulu aja ya."
"Tapi gue maunya sekarang Kil." Ujar Del dengan suara serak dan nafas naik turun. Dia tak bisa lagi menahan gejolak dalam dirinya.
"Emang gak sakit? yakin bisa?"
"Elo diatas."
"Hah." Killa tercengang mendengarnya. Apa dia bisa? dia belum pernah melakukannya.
"Ehem, ehem."
Killa buru buru melepas pagutan bibirnya serta menutup baju seragamnya saat mendengar suara deheman. Beruntung dia memakai tanktop, jadi walaupun beberapa kancing bajunya terlepas, dadanya masih tertutup sempurna.
"Damn." Umpat Del sambil menoleh ke sumber suara. Wajahnya terlihat sangat kesal. Tapi ya siapa juga yang kesal kalau mau enak enak malah diganggu. Dan pengganggunya, siapa lagi kalau bukan Pak Joe yang datang dengan tampang tanpa dosa.
"Jangan berbuat mesum disini." Ujar Pak Joe dengan ekspresi datar. Wajah Killa sudah mirip tuan crab, dia sangat malu.
"Mesum kata lo? Koreksi, kita udah nikah. Gue cuma mau ngasih nafkah buat istri gue, bukannya mesum." Ujar Del yang tak terima.
"Ck, merid by accident aja bangga." Cibir Pak Joe sambil bersedekap.
"Apa lo bilang." Del yang kesal segera berdiri dan mengangkat tangannya, bersiap untuk memberi hadiah bogem pada Pak Joe. "Aww.. ." Bukannya memukul, dia malah meringis kesakitan. Dia baru ingat kalau tangan kanannya sedang terluka.
Pak Joe menutup mulutnya rapat rapat agar tawanya tak meledak. Sungguh, dia ingin sekali menertawakan Del saat ini. Perutnya sampai terasa sakit gara gara menahan tawa.
"Berani lo ketawain gue, lo gue pecat." Ancam Del dengan wajah mengeras karena emosi.
"Ngapain lo pulang? kedatangan lo cuma ngerusak momen aja."
"Ini apartemen saya, terserah saya mau pulang kapanpun. Lagian kamar dirumah anda banyak, kenapa pula harus disini?"
"Berani lo sama gue Hah?" Bentak Del dengan muka garangnnya.
"Enggak." Jawab Pak Joe datar.
"Cea sama Dilan sudah ditempat bimbel, sekarang ikut saya. Kita mulai rencananya. Ingat, gak gratis."
"Njiir, urusan duit aja lo cepet."
Killa dan Del segera mengemasi barang mereka. Hari ini, dengan bantuan Killa dan Pak Joe, Del akan pura pura kecelakaan saat pulang sekolah.
"Inget, lo punya utang sama gue." Bisik Del ditelinga Killa sebelum mereka keluar dari apartemen.
...*******...
Rain, wajah perempuan itu terlihat cemas. Dia menggenggam ponsel sambil mondar mandir diteras rumahnya. Beberapa saat yang lalu Pak Joe menghubunginya dan bilang jika Del mengalami kecelakaan saat pulang sekolah. Bisa dibayangkan, betapa cemasnya seorang ibu saat mendapat kabar anaknya kecelakaan.
Saat melihat mobil Pak Joe masuk halaman, Rain segera berlari menghampirinya.
"Del, gimana keadaan kamu sayang?" Tanya Rain saat Del baru keluar dari mobil.
"Del baik baik mah." Jawab Del sambil tersenyum dan menggenggam tangan mamanya yang terasa sangat dingin dan sedikit gemetaran.
Air mata Rain menetas melihat kondisi tangan dan kaki Del yang diperban. Wanita itu segera memeluk anak sulungnya itu.
"Mah, sakit." Ujar Del sambil meringis saat Rain menyentuh punggungnya yang memar. "Punggung Del sakit mah."
"Maaf sayang, mamah gak tahu." Ujarnya menyesal.
"Gak usah nangis." Tutur Del sambil menyeka air mata mamanya. "Del baik baik aja."
"Kayak gini kamu masih bilang baik baik aja?" Seru Rain sambil kembali menangis.
"Udah dong ma, gak usah nangis. Del ngerasa makin bersalah kalau mama kayak gini. Panas mah disini, masuk yuk." Rain mengangguk lalu memapah Dek masuk kedalam rumah. Sedangkan Killa mengikuti dibelakang.
"Del tidur dikamar Killa aja mah. Susah kalau mau naik keatas."
"Terserah kamu."
Rain mengantar Del hingga dikamar yang ditempati Killa. Setelah Del duduk ditepi ranjang, Rain segera mengecek luka ditubuh anaknya itu. Rain membuka kancing seragam Del untuk melihat luka dipunggungnya tapi Del menahan tangan mamanya.
"Malu mah, biar Killa aja yang mengobati punggung Del."
"Oh, sekarang gitu ya, malu sama mama, tapi sama Killa gak malu." Goda Rain sambil menatap Del dan Killa bergantian. Senyumnya mengembang, ada perasaan senang melihat hubungan Del dan Killa yang makin dekat.
"Ya udah kalau gitu mama siapin makanan. Killa biar bantu kamu ganti baju. Oh iya, bentar lagi papa kamu pulang."
"Ngapain?"
"Kok ngapain, ya lihat kondisi anaknya lah. Mama kasih tahu papa kalau kamu kecelakaan."
Del memutar kedua bola matanya malas sambil membuang nafas kasar. Pasti makin ribet kalau urusan dengan papanya. Belum lagi kalau sampai papanya curiga, bisa habis dia.