DELMAR

DELMAR
EMPAT SEKAWAN



Hari ini Miko, Manu dan Rey janjian kerumah sakit untuk menjenguk Killa dan baby Deluna. Mereka ingin melihat keponakan barunya.


"Cie....cie... romantis banget sih." Ujar Rey yang langsung nyelonong masuk saat Killa tengah menyuapi Del. Authornya gak lagi typo. Emang yang habis operasi Killa, tapi yang disuapi Del. Emang somplak tuh bocah. Istrinya baru 2 hari lahiran udah minta disuapin. Manjanya lagi kumat.


"Yang sakit lo apa Killa? Kenapa lo yang disuapin?" Protes Manu.


"Killanya aja gak protes, kenapa lo yang kayak gak terima." Sahut Del.


"Hai Kil, gimana kondisi lo?" Sapa Miko.


"Baik kak." Jawab Killa sambil meletakkan piring ke atas nakas. Makanannya emang sudah habis. Yang mereka lihat tadi adalah suapan terakhir.


"Mana keponakan gue, baby Deluna?" Rey celingukan mencari keberadaan box bayi.


"Dia masih dirawat di NICU." Jawab Killa.


"Yah, padahal pengen banget lihat dia." Rey tampak kecewa.


"Gak usah lihat anak gue. Ntar lo naksir. Dia cantik banget. Secarakan daddy nya secakep gue." Sahut Delmar dengan penuh percaya diri. Stok pe de nya kan emang banyak. Gak bakalan habis pokoknya.


Ketiga teman Del hanya menyebikkan bibir sambil memutar kedua bola matanya jengah. Mereka sudah terlalu bosan mendengar Kenarsisan Del.


"Oh iya, ini buat lo." Manu memberikan sebuket mawar putih yang sangat indah untuk Killa.


"Makasih, bunganya cantik banget." Ujar Killa dengan senyum manisnya sambil mencium bunga yang harum itu.


"Kalian tuh apa apaan sih? ngunjungin orang habis lahiran kok bawa bunga? Dah kayak ke makam aja." Protes Delmar dengan muka jengkel. Tak bisa dipungkiri, dia masih suka cemburu pada Manu.


"Cemburu lo?" cibir Manu.


"Itu bukan dari Manu. Tapi dari kita bertiga. Tadi belinya patungan." Ujar Miko menjelaskan.


"Dih, kelihatan banget miskinnya. Beli kembang aja patungan." Ledek Del dengan gaya sok kayanya.


"Kak Del ihh, gak boleh ngomong gitu. Biarpun patungan, yang penting mereka ikhlas ngasihnya. Daripada kamu, gak ngasih aku bunga." Sindir Killa. Seketika Del langsung kicep. Sedangkan ketiga temannya tertawa terbahak bahak.


"Parah lo Del. Gak ngehargain banget perjuangan Killa ngelahirin anak lo. Lo gak kasih apa apa ke dia sebagai ucapan terimakasih?" Tanya Manu sambil geleng geleng.


Del baru sadar, jika dia tidak memberikan hadiah apapun kepada Killa setelah perjuangan cewek itu melahirkan anak mereka.


"Mending ya Kill, suami kayak gini ditukar tambah aja di pasar loak." Seloroh Rey sambil tertawa menatap Delmar.


"Emang bisa ya kak? Kapan kapan anter Killa kesana. Mau nuker Kak Del sama yang lebih romantis." Killa ikut ikutan menggoda Del. Membuat Del seketika melemparkan tatapan tajam ke arahnya.


"Tukar sama gue aja Kil. Lebih romantis dan lebih setia pastinya." Rey menyahuti.


"Kalau Del ditukar sama lo, yang ada bukan tukar tambah, tapi dapat dapat kembalian." Ledek Miko sambil cekikikan.


"Sekata kata lo Mik." Seru Rey sambil memelototi Miko.


"Gak mau ditukar sama siapa siapa. Maunya Kak Del doang. Kan cintanya Killa cuma Kak Del." Ujar Killa sambil menatap Del. Membuat Del yang tadinya jengkel langsung tersenyum dan mengecup bibir Killa. Membuat Killa langsung melotot dengan muka merah padam menahan malu.


"Njirrr..... ada anak dibawah umur disini, kebangetan lo Del." Ujar Rey sambil menyenggol lengan Manu. "Gak kasihan, Manu kan jadi pengen."


"Makanya cepat cari pasangan. Betah banget ngejomblo." Sahut Delmar.


"Males." Jawab Manu enteng. "Ngapain pacaran, kalau ujung ujungnya, nikahnya sama orang lain."


Miko dan Delmar auto kesindir dengan ucapan Manu.


Disaat bersamaan, dokter datang untuk memeriksa Killa. Membuat mereka berempat melanjutkan obrolan diluar.


"Lo jadi nikahin Laura Mik?" Tanya Del.


"Lo tahu gak Mik? Definisi dapat durian runtuh, alias dapat jackpot itu ya kayak lo ini." Seloroh Rey.


"Dapat jackpot gimana maksud lo?" Manu kurang paham.


"Ya iyalah dapat jackpot. Laura bro, Laura. Cewek tercantik di SMA 48 selama tiga anggakatan belum ada yang nyaingin. Body goals dan anak orang kaya. Perfek pokoknya. Beruntung banget lo dapetin Laura." Ujar Rey menggebu gebu. Awal Laura masuk SMA, sebenarnya Rey sudah suka padanya. Tapi karena saingannya Del, dia mundur teratur. Udah pasti kalah soalnya.


"Betah banget sih lo Del. Setahun lebih pacaran sama Laura gak lo apa apain. Eh malah keduluan diperawanin Miko." Ucapan Rey auto bikin Miko nunduk. Jujur saja dia merasa bersalah pada Del.


"Udah gak usah bahas itu." Tutur Del yang melihat perubahan wajah Miko. Dia tahu sahabatnya itu sedang merasa tak nyaman.


"Kapan Killa boleh pulang Del?" Tanya Manu.


"Belum tahu, kemungkinan agak lama. Karena riwayat Killa yang mengalami komplikasi preeklamsia. Jadi masih harus dipantau dokter."


"Kalau anak lo?"


"Anak gue malah kemungkinya lebih lama lagi. Paru parunya belum berkembang sempurna. Ditambah lagi beratnya hanya 1,5 kg. Minta doanya buat Killa dan anak gue ya. Semoga mereka cepat sehat dan bisa pulang."


"Pasti, kita pasti doain buat Killa dan baby Deluna." Jawab Miko sambil menepuk pelan bahu Delmar.


"Tapi masalahnya satu." Tutur Rey.


"Apa?" Tanya mereka bertiga kompak.


"Yakin kalau doa kalian dikabulkan? kalau gue sih kurang yakin doanya para pemegang golden tiket ke neraka dikabulkan." Jawab Rey sambil cekikikan.


"Anj*ng lo. Gini gini tiap minggu gue ke gereja." Manu membela diri.


"Gue juga, tiap jumat gue ke masjid." Miko tak mau kalah.


"Kalau lo Del?" Rey menunjuk dagu kearah Delmar.


Sejenak Del terdiam, hingga akhirnya, dia mengeluarkan kata kata yang membuat ketiga sahabatnya terdiam.


"Sejak ditahanan, gue sholat terus sampai sekarang."


"Salut gue sama Laura. Kayaknya cuman dia yang bisa bikin lo insaf." Seru Rey.


"Bukan karena Laura, tapi karena Killa dan baby Deluna. Sejak denger Killa pendarahan, gue takut banget. Gue takut kehilangan Killa dan anak gue. Belum pernah gue ngerasa setakut kini sebelumnya. Sejak itu gue terus berdoa agar Tuhan gak ngambil mereka dari gue. Gue gak siap kehilangan mereka. Gue belum bikin mereka bahagia." Mata Del berkaca kaca, membuat Manu menepuk nepuk bahunya agar lebih rilex.


"Kalian pernah gak sih punya niatan untuk berubah, memperbaiki diri maksud gue?" Del bertanya sambil menatap satu persatu temannya. "Melihat Deluna berjuang untuk hidup, gue ngerasa kalau selama ini, gue udah nyia nyiain hidup gue. Deluna membuat gue ingat untuk bersyukur. Bersyukur jika selama ini, gue udah dikasih banyak banget nikmat sama Tuhan."


Ketiga teman Del speechless. Mereka seolah melihat sisi lain dari Delmar. Sisi yang baru muncul setelah statusnya berubah menjadi seorang ayah.


"Gue pengen hidup gue lebih bermanfaat. Pengen menjadi sosok yang bisa dibanggain oleh Killa dan baby Deluna." Ujar Del.


"Bener kata lo Del." Sahut Miko. "Gue juga udah ngerasa jika selama ini, gue udah merusak masa muda gue sendiri. Masa yang harusnya gue pakai untuk belajar, malah melenceng ke mabuk mabukan, ngerokok, balapan liar, bahkan sampai *** bebas. Unfaedah banget kan?" Lanjut Miko sambil tersenyum getir. "Mungkin dengan kejadian Laura hamil, itu teguran buat gue."


"Dan parahnya, kita menggunakan orang tua sebagai alasan. Hanya karena merasa kurang kasih sayang, kita mencari pelampiasan. Dan pelampiasan kita selalu kearah negatif. Padahal gue yakin, jika setiap orang tua pasti sayang sama anak mereka. Mungkin saja, mereka berada disituasi yang mengharuskan mereka berpisah, atau menyerahkan hak asuh kita pada orang lain." Setelah semua yang dia lewati, Del sadar, jika kedua orangtuanya sangat menyayanginya. Tidak benar jika dia dibuang karena tidak diinginkan.


"Elo sayang Del sama baby Deluna?" Tanya Manu.


"Pertanyaan koyol." Del tersenyum geli. "Tentu saja gue sayang banget. Walaupun pada awalnya, gue marah dengan keberadaan dia. Tapi sekarang, gue sayang banget. Killa dan baby Deluna, keduanya bakal selalu jadi prioritas dalam hidup gue, bahkan diatas diri gue sendiri."


"Gue seneng dengernya. Kayaknya, gue harus bener bener move on dari Killa."


Ketiga cowok itu langsung menatap Manu. "Jadi lo belum move on dari Killa?" Tanya Rey.


"Gal move mulu." Jawab Manu sambil nyengir. "Tapi kali ini, gue bakal berusaha lebih keras lagi. Gue seneng lihat Killa bahagia. Dan itu udah lebih dari cukup buat gue."


"Makasih." Del tersenyum sambil menepuk bahu Manu pelan. Bagaimanapun, dia tidak bisa melarang perasaan seseorang.