DELMAR

DELMAR
NAFKAH



Ingat, sebentar lagi kamu akan jadi ayah.


Ucapan Killa itu seakan menggema dikepala Del.


Apapun yang akan kakak lakukan diluar sana. Cukup ingat satu hal. Ada istri dan calon anak kakak yang menunggu dirumah. Sebentar lagi kamu akan jadi ayah. Jangan sampai melakukan hal diluar batas.


Semua ucapan Killa terus saja berputar tiada henti diotak Del. Bahkan sekarang rasanya Killa sedang berdiri disampingnya dan membisikkan kata kata itu.


"Killa." Ucap Del setengah sadar. Dan hal itu membuat seorang Laura speechless. Kenapa disaat mereka Making out, Del justru menyebut nama cewek lain.


"Kita gak boleh ngelakuin ini Ra." Ujar Del sambil mundur beberapa langkah. Dia memegangi kepalanya, mencoba mengembalikan kesadaran yang hampir hilang akibat alkohol dan birahi.


"Kenapa kak?" Tanya Laura sambil maju mendekati Del.


"Ini gak Bener Ra." Ujar Del sambil menggelengkan kepalanya dan mengatur nafasnya yang memburu.


Laura menatap bagian bawah Del yang tampak menonjol dibalik cd nya. "Aku tahu kamu menginginkannya kak. Aku rela, aku sayang sama kamu. Kamu bisa mengelurkan diluar jika takut aku hamil."


Laura kemudian mencium Del dan memainkan jarinya didada bidang cowok yang sudah polos itu.


Ciuman Laura membuat Del kembali terhanyut dalam gelombang birahi. Sentuhan sensualnya membuat adik kecil Del kian mendesak untuk keluar.


Laura dengan berani memasukkan tangannya kedalam cd Delmar dan mengelus sesuatu yang mengeras itu.


Killa sayang Kak Del, sekarang, nanti dan selamanya. Bahkan disaat tidak ada lagi orang yang sayang sama kamu. Killa tetep sayang sama kakak.


Tiba tiba bayangan Killa yang sedang tersenyum manis membuat Del tersadar.


"Shitt." Umpat Del sambil mengeluarkan tangan Laura dari dalam cd nya. Sekuat tenaga Del mengendalikan dirinya. Dia tak mau ada seorang cewek lagi yang mengaku hamil anaknya. Membayangkannya saja Del sudah merasa horor.


"Kenapa kak?" Laura terlihat kecewa.


"Enggak Ra, kita gak boleh ngelakuin ini." Del segera memunguti pakaiannya dan buru buru memakainya.


"Cepat pakai bajumu Ra."


Laura tak bergeming, air matanya perlahan turun. Dia sudah menjatuhkan harga dirinya, tapi kenapa Del malah menolaknya. Dia membayangkan Making L0ve, tapi nyatanya hanya berakhir pada Making 0ut.


"Mau kemana?" Laura mencekal tangan Del yang hendak keluar kamar.


"Gue mau pulang. Gue teleponin supir lo biar jemput lo pulang."


"Enggak, aku gak mau, aku mau sama kakak." Kata Laura sambil memeluk Del erat sambil menangis.


Del melepas paksa tangan Laura yang melingkar dipinggangnya. Dia sudah berusaha menahan diri, tapi jika Laura terus seperti ini, bisa gawat. Yang ada dia tak bisa menahan napsu yang udah di ubun ubun.


"Maaf Ra, gue harus pergi." Del segera keluar meninggalkan Laura yang menangis. Cewek itu terduduk dilantai bersandarkan dinding sambil sesenggukan. Rasanya sakit sekali dicampakkan seperti ini. Bahkan saat dirinya sudah merelakan semuanya, dia masih dicampakkan.


Dan apa tadi, Del menyebut nama Killa. Laura mengepalkan tangannya. Dia geram saat mengingat Killa.


"Gue benci elo Kil, gue benci." Teriak Laura.


...*****...


Del melajukan motornya dengan kecepatan tinggi di jalanan yang sudah lumayan lenggang karena sudah hampir tengah malam. Beruntung dia masih sadar, belum terlalu mabuk, jadi masih aman untuk mengendarai motor.


Sesampainya dirumah, dia langsung menuju kamar.


Brakk


Del membanting pintu kamar dengan kuat hingga membuat Killa yang berada didalam terjingkat karena kaget.


"Kak Del." Ucap cewek itu. Dia masih belum tidur, lebih tepatnya tidak bisa tidur karena cemas memikirkan Delmar.


Del menutup pintu lalu berjalan cepat menghampiri Killa yang sedang mematung disamping meja belajar.


Cup


Del langsung mencium Killa dengan penuh gairah. Mendapat ciuman mendadak membuat Killa tercengang. Dia hanya diam tanpa membalas ciuman Del.


Tubuh Killa bergetar dengan jantung berdegup kencang saat mencium bau alkohol pada nafas Delmar.


Killa tampak terengah engah, begitu pula dengan Del.


Killa melihat mata Del yang merah dan terlihat lain. Ya, mata itu terlihat penuh kabut gairah. Hal itu membuat Killa katakutan dan mundur beberapa langkah.


"Gue butuh elo Kil." Ujar Del sambil menarik pinggang Killa merapat padanya. "Gue butuh lo sekarang." Ucapnya parau tepat ditelinga Killa. Del tak bisa menahan diri lagi. Dia butuh pelepasaan saat ini. Dia butuh menyalurkan hasrat tertundanya tadi.


Killa merasakan darahnya berdesir, jantung berdegup kencang. Tak bisa dipungkiri, ada sedikit rasa takut dihatinya.


"Elo mau kan Kill, please. Gue tersiksa Kil, please bantu gue." Mohonnya sambil menatap Killa penuh damba. Berharap cewek yang sudah berstatus istrinya itu bisa menolong untuk menuntaskan hassratnya.


Killa sekuat tenaga menghilangkan ketakutan dan rasa gugupnya. Melihat Del dalam kondisi mabuk memang selalu membuat Killa ketakutan. Walaupun saat ini Del tak benar benar mabuk, tapi tetap saja tercium bau alkohol dari mulutnya.


"Please Kill." Del terus memohon hingga akhir nya Killa mengangguk pasrah.


Mendapatkan lampu hijau Dari Killa, membuat senyum Del merekah dan langsung mencium bibir cewek itu.


Killa yang awalnya hanya pasrah menerima ciuman Del, lama kelamaan mulai membalasnya. Mereka saling mel*mat, menghisap dan membelit lidah. Saling bertukar saliva dan saling mengabsen setiap rongga mulut satu sama lain.


Del membuka satu persatu kancing piyama Killa hingga terlepas seluruhnya. Meremas dada yang yang masih tertutup bra itu dengan lembut. Hinga membuat pemiliknya bergerak gerak tak tenang karena merasakan kenikmatan yang luar biasa.


Ciuman Del turun menyusuri leher Killa sambil menggiring cewek itu menuju ranjang. Del membuka seluruh pakaiannya serta Killa, membuat keduanya sama sama naked sekarang.


"Aww..... sakit." Desis Killa saat Del mulai memasukinya. Ini memang bukan yang pertama, tapi masih terasa sakit bagi Killa. Miliknya masih belum terbiasa menerima sesuatu yang asing itu.


"Tahan sebentar."


"Aww... " bukannya menahan, Killa malah makin berteriak kencang saat milik Del menerobos paksa sampai bagian terdalam. Air matanya meleleh membasahi kedua pipinya.


"Sorry." Ujar Del sambil mencium Killa dan meremas lembut dadanya. Dia berusaha mengalihkan rasa sakitnya.


Dan benar saja, tak berselang lama, Killa mulai melenguh kecil merasakan nikmat di bagian inti sekaligus dadanya secara bersamaan.


Cewek itu menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan desahhann.


"Jangan digigit, keluarin aja." Ujar Del sambil melanjutkan memberi nafkah batin untuk yang pertama kali setelah menikah.


"Peeelan kak, ada bebbih." Ucap Killa sambil terengah saat Del mempercepat gerakannya.


Del hanya mengangguk, tapi sama sekali tak memperlambat gerakannya. Dia justru makin mempercepat karena merasa akan segera mendapatkan sesuatu yang begitu luar biasa.


Killa merasakan tubuhnya bergetar hebat bersama dengan Del menyirami rahim nya. Untuk beberapa detik, keduanya saling menatap sambil mengatur nafas. Kemudian Del merebahkan tubuhnya disamping Killa.


"Capek?" Tanya Del sambil mengelap keringat yang membasahi dahi Killa.


Killa hanya menjawab dengan anggukan sabil menarik selimut menutupi tubunya. Dia tak pernah tahu kalau aktifitas seperti ini sangat menguras tenaga. Sangat melelahkan hibgga tubuhnya terasa lemas.


"Haus." Lirih Killa sambil memegangi tenggorokannya yang kering.


"Tunggu disini, biar gue ambilin minum." Ucap Del sambil turun dari ranjang lalu mengambil pakaian dari dalam almari. Cowok itu menatap Killa sekilas lalu keluar untuk mengambil minum.


Saat Del kembali, dia mendapati Killa sudah tertidur. Sepertinya cewek itu sangat lelah, hingga langsung tertidur.


"Kil, bangun. Katanya haus, minum dulu." Ucap Del sambil menggoyangakn bahu Killa pelan.


"Killa ngantuk banget kak." Jawab Killa dengan mata yang masih terpejam.


"Minum dulu, habis itu bersihkan punya kamu. Gak baik setelah gituan langsung tidur. Bersihin dulu gih."


"Ngantuk."


"Ya udah, kalau gitu gue bantu bersihin pakai tisu."


"Enggak." Killa buru buru menepis tangan Del yang hendak membuka selimutnya..


"Kenapa?"


"Malu." Jawab Killa dengan muka merah yang begitu menggemaskan.