
Sean menjatuhkan diri di kursi kebesarannnya. Tangannya bergerak memijit kening untuk mengurangi sakit kepalanya. Rasanya kepalanya mau pecah memikirkan masalah Delmar. Masalah yang dikiranya akan mudah itu, ternyata lebih rumit dari dugaanya.
Ceklek
Sean sudah bersiap ingin memaki sekretarisnya yang masuk tanpa mengetuk, tapi saat dilihatnya Rain yang masuk, dia kembali menyandarkan punggungnya.
"Pah gimana perkembangan kasus Del. Laura sudah sadar kan Pah?" Tanya Rain sambil berjalan kearah suaminya.
Sean diam saja, berat sekali mengatakan yang sesungguhnya, karena Rain pasti akan sangat sedih dan cemas.
"Pah, kenapa diam saja?" Rain menarik lengan Sean karena kesal pertanyaannya tidak dijawab.
"Kita duduk disana." Sean menunjuk dagu kearah sofa lalu menggandeng Rain menuju tempat itu.
"Apa ada masalah? " Rain bisa melihat kekhawatiran diwajah suaminya.
"Duduk dulu." Sean mendorong pelan bahu Rain agar duduk disofa, kemudian dia duduk disebelahnya.
"Pah, jangan bikin mama makin khawatir." Mata Rain sudah mulai berkaca kaca. Dia tahu ada yang tidak beres.
"Laura sudah sadar." Gumam Sean.
"Bukankah itu bagus. Laura akan memberi keterangan pada polisi, dan Del akan bebas." Rain tampak antusias. Dia sungguh tak sanggup membayangkan kalau sampai Del mendekam terlalu lama ditahanan.
"Ternyata ini lebih rumit dari dugaan kita mah." Sean menjatuhkan punggungnya di sandaran sofa sambil menghela nafas berat.
"Maksudnya?"
"Laura mengatakan yang sebaliknya. Gadis itu bilang, Delmar yang telah menusuknya."
Deg
Mata Rain terbelalak sempurna mendengarnya. Jantungnya seakan mau berhenti berdetak. Nasib Del berada diujung tanduk sekarang.
"Tapi kenapa gadis itu berbohong? Kenapa dia memfitnah anak kita. Mama yakin Del tak melakukan itu Pah." Rain mulai menangis sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.
"Papa juga yakin, Del tak mungkin melakukan itu."
"Mama harus ketemu gadis itu, Mama harus ketemu Laura. Mama akan tanya kenapa dia tega memfitnah Del." Rain ingin beranjak tapi ditahan oleh Sean.
"Sabar dulu mah, kita tidak boleh gegabah menyelesaikan kasus ini."
"Tapi mama gak bisa tinggal diam Pah. Mama harus bicara dengan Laura." Rain setengah berteriak saking kesalnya. Kesal pada Laura yang tega memfitnah Del.
"Laura hamil mah." Gumam Sean.
"Apa!" Rain lagi lagi dibuat terkejut. "Jangan bilang___" Rain tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Laura bilang, dia hamil anak Del." Sahut Sean dengan ekspresi sulit diartikan. Jujur saja pria itu juga bingung saat ini.
Tubuh Rain seketika lemas. Air matanya mengalir deras. Untuk kedua kalinya, ada wanita yang mengaku dihamili Delmar. Sebagai seorang ibu, hatinya hancur.
"Papa tidak yakin itu anak Del. Mengingat Laura adalah seorang pembohong." Tutur Sean.
"Tapi bagaimana jika benar Pah?" Rain memeluk suaminya. Rasanya dia sudah kehilangan kekuatan sekarang.
"Papah akan tanyakan langsung pada Del. Semoga saja itu bukan anak Del." Ucap Sean sambil mengusap kedua telapak tangannya di wajah. Dia sungguh dibuat pusing dengan masalah ini.
"Killa tidak boleh tahu tentang ini Pah." Ujar Rain sambil menatap netra hitam suaminya. "Ini tidak baik untuk kandungannya. Mama tak mau sampai terjadi apa apa dengan calon cucu kita."
"Papah setuju, sementara kita rahasiakan masalah ini dari Killa." Sahut Sean sambil menggenggam erat tangan Rain.
"Bagaimana dengan bukti lain? apakah papa sudah menemukan bukti kalau Del tidak bersalah?"
"Sementara belum, ditempat itu tidak ada cctv. Sedangkan semua bukti yang ada mengarah pada Del. Dipisau itu, hanya ada sidik jari Del dan Laura."
"Apa mungkin Laura bunuh diri karena dia hamil diluar nikah?" Tebak Rain.
"Sepertinya tidak. Kalau memang dia bunuh diri, mengapa dia menelepon polisi? Dari ponsel yang disita polisi. Ada 2 nomor terakhir yang dihubungi Laura. Yang pertama Del, yang kedua polisi."
"Itu sudah jadi bukti Pah, jika Laura menelepon Del untuk minta tolong, setelah itu dia telepon polisi."
"Tak semudah itu menarik kesimpulan mah. Karena pada kenyataannya, sidik jari Delmar yang ada dipisau itu. Dan Del mempunyai alasan yang kuat untuk menghabisi Laura."
"Alasan? apa maksudnya?"
"Delmar sangat mungkin berniat menghabisi Laura karena Laura hamil dan Del tak mau tanggung jawab. Sementara, itulah kesimpulan yang ditarik saat ini."
"Tapi Laura itu pacar Delmar mah." Sean makin pusing. "Dan yang lebih parah lagi. Mama tahu siapa ayah Laura?"
"Siapa?" Rain mengernyitkan keningnya.
"Mario Dinata, salah satu pengacara terhebat di negri ini."
Deg
Jantung Rain seperti berhenti berdetak. Berbagai pikiran buruk tentang nasib Del berseliweran diotaknnya.
Hal itulah yang membuat Sean makin pusing tujuh keliling. Ayah Laura adalah pengacara hebat. Dia pasti punya banyak koneksi dalam bidang hukum. Jika Laura benar benar hamil anak Del, bisa dipastikan, Del tak akan selamat kali ini.
...******...
Sean datang bersama pengacaranya menemui Del ditahanan. Hatinya terasa diiris iris melihat Del yang tampak lusuh dengan pakaian tahanan. Anaknya yang selalu dibilang mirip dengannya dari segi wajah dan sifat, hari ini tampak berbeda. Tak ada lagi Delmar yang arrogat dengan segala pesona yang mampu meluluh lantakkan hati kaum hawa. Sekarang hanya terlihat Delmar yang sudahlah, tak bisa dijelaskan dengan kata kata, menyedihkan.
Sean berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia tak ingin terlihat rapuh didepan putranya. Dia adalah kepala rumah tangga, dimana seluruh keluarganya menggantungkan harapan yang besar padanya.
"Bagaimana keadaanmu Del?" Tanya Sean sambil menepuk bahu Del.
"Tidak baik, seperti yang papa lihat." Jawab Del dengan raut wajah frustrasi. Pasalnya, sudah tiga hari cowok itu mendekam ditahanan. "Apa Laura belum juga sadar Pah?" Del tak sabar menunggu Laura sadar, tak sabar menunggu dia bebas. Dia sangat merindukan keluarganya, suasana rumah dan terutama Killa dengan perut besarnya.
"Sudah, kemarin dia sadar."
"Benarkah? Tapi kenapa Del belum dibebaskan?" Del mulai merasa panik. Dia yakin ada sesuatu yang tidak beres disini.
"Laura mengatakan hal yang sebaliknya. Dia bilang pada polisi, jika kamu yang menusuknya." Jawab Sean.
Delmar seperti tersambar petir mendengarnya. Laura bilang dia yang menusuknya. Astaga, ada apa ini? Dia datang dengan niatan untuk menolong, tapi kenapa justru Laura menuduhnya. Apakah ini sebuah jebakan? Kepala Del rasanya mau pecah. Harapannya untuk segera bebas sekaan lenyap ditiup angin.
Sean menatap Pak Agus, pengacara yang duduk disebelahnya. Membuat pengacara itu paham apa yang harus dia lakukan.
"Saudara Delmar, bolehkan saya bertanya? Dan tolong jawab dengan jujur. Karena saya tidak bisa membantu anda jika anda tidak mengatakan yang sesungguhnya." Ujar Pak Agus sambil menatap Delmar.
"Ada apa pak?"
"Apa benar anda yang menusuk Laura?"
"Tidak, justru saya datang karena dia meminta pertolongan."
"Satu lagi. Saudari Laura hamil, apakah itu anak anda?"
Mata Del seketika membulat sempurna. Laura hamil? Sungguh, dia tak tahu tentang itu. Menurut Del, Laura adalah tipe cewek setia dan sangat terobsesi padanya. Apa mungkin dia selingkuh hingga hamil? Dan apakah dia terlalu bodoh hingga tak tahu jika Laura selingkuh selama ini?
"Bukan Pak, itu bukan anak saya." Jawab Del.
"Apakah anda yakin?"
"Sangat yakin, karena kami tidak pernah melakukan hubungan badan. Jadi mustahil Laura hamil anak saya."
Sean bernafas lega. Setidaknya itu bukan anak Del. Sekarang Sean makin yakin jika Laura adalah pembohong. Cewek itu telah memfitnah Delmar. Dan Sean berjanji tak akan melepasnya Laura karena telah berani membuat keluarga Kalandra dalam masalah. Dia hanya perlu bukti sekarang, bukti yang akan membebaskan Del dan memasukkan Laura dalam penjara.
"Apakah saat melepon minta tolong, Laura bilang tentang ciri ciri orang yang ingin mencelakainya?" Tanya Sean.
"Tidak Pah, dia hanya bilang jika ada orang yang mengirim chat ancaman padanya." Jawab Del.
"Chat ancaman?" Pak Agus mengernyitkan keningnya. "Tolong jelaskan detailnya."
"Saya tidak tahu detail ancamannya seperti apa. Tapi yang saya tahu, Laura bilang, ada yang ingin mengahabisinya."
"Tapi kenapa polisi tak menemukan chat itu diponsel Laura?" Pak Agus merasa aneh. Apa mungkin polisi sengaja menutupi hal itu? Tapi rasanya tidak mungkin.
"Saya rasa karena chat itu tidak pada nomor yang disita polisi."
"Maksud anda?"
"Ya, Nomor yang dipakai Laura untuk menghubungi saya waktu itu, adalah nomor baru. Bukan nomor Laura yang biasanya, karena saya sudah memblokir nomor yang biasanya dipakai Laura."
"Jadi maksud anda____"
"Kemungkinan chat ancaman itu dikirim ke nomor Laura yang satunya. Bukan yang disita pihak kepolisian. Kemungkinan juga, dia ganti nomor karena takut terus diteror."
"Ini petunjuk bagus." Ujar Pak Agus. "Kita bisa mencari tahu riwayat panggilan dan pesan yang terkirim pada nomor Laura yang satunya. Dan kita bisa tahu siapa yang mengirim chat ancaman. Karena kemungkinan besar, orang itu yang menusuk Laura."