
Hari ini, Killa belajar menyusui baby Deluna secara langsung. Bayi berusia dua minggu itu sudah mulai bisa bernafas tanpa bantuan alat. Sehingga dia bisa langsung menyusu pada ibunya.
Awalnya memang sulit, tapi akhirnya bayi mungil itu mulai bisa menyusu. Ini pertama kalinya Killa menggendong bayinya, kemarin kemarin, dia hanya bisa memperhatikan dari luar inkubator.
Tak hanya Killa yang terlihat antusias, Delmar juga sama. Wajah cowok itu berseri beri melihat bayi mungilnya sudah mulai tampak sedikit berisi. Setidaknya tak sekecil saat baru lahir dulu.
"Hallo Deluna sayang, princessnya daddy." Sapa Del sambil memegangi jari jari mungil Deluna. "Yang kuat ngisepnya biar cepet gendut. Daddy udah sabar pengen bawa kamu pulang." Del begitu gemas dengan putri kecilnya itu. Ingin sekali dia menggendong Deluna, tapi nyalinya tak sebesar itu, dia tak berani menggendong.
"Oh iya kak, kitakan belum beli perlengkapan buat Deluna?" Killa baru ingat kalau dulu dia belum sempat belanja kebutuhan bayi karena Del ditangkap polisi.
"Mama dan Cea udah belanjain banyak banget. Malahan Dilan tiap hari sibuk mendekorasi kamar Deluna. Aku sampai bingung, perasaan yang punya anak kita, tapi kenapa yang lebih antusias mereka." Tutur Del sambil geleng geleng.
"Itu tandanya semua orang sayang sama Deluna. Semua orang menyambut kehadirannya. Terutama mommy sayang." Ujar Killa sambil mengecup gemas pipi dan kening Deluna.
"Daddy juga." Del tak mau kalah. Dia lalu mencium pipi Deluna, membuat Killa segera mendorong kepala cowok itu.
"Gak usah nyari kesempatan." Omel Killa.
"Apaan sih Bi, aku tuh beneran mau nyium Deluna, bukan dada kamu. Gak usah gue er deh." Del pura pura jaim. Aslinya mah dia emang sekalian nyari kesempatan. Mumpung susternya lagi keluar. Kalau ada dia, bisa kena omel lagikan kayak waktu itu.
"Tapi kena."
"Ya gak segaja, anggap aja bonus. Iya kan princess?" Del mencari dukungan Deluna. Sayangnya bayi itu tak mengerti apa apa, dia masih saja asik menyusu.
"Enak mana, diisep Deluna apa aku?" Dasar gak ada otak, bisa bisanya dia menyuruh Killa membandingkan. "Pasti enak aku kan?" Del menarik sebelah alisnya menggoda Killa.
"Halah, kepedean kamu. Konteksnya udah beda kak, mana bisa dibandingin." Omel Killa. "Kak, aku pindah kamar aja ya?" lanjutnya.
"Kenapa? gak nyaman disini? Tapi ini udah yang paling bagus loh Bi."
"Bukan, bukan karena gak nyaman. Aku gak enak aja sama mama dan papa. Mereka yang bayarin, aku malah enak enak disini, gak mau pulang." Sebernarnya sejak tiga hari yang lalu, Killa sudah diperbolehkan pulang. Hanya saja, karena Deluna belum pulang, Killa belum mau pulang, dia ingin terus dekat dengan Deluna.
"Biarin aja gak usah dipikirin. Entar kamu malah gak nyaman kalau pindah kamar. Terus aku juga gak nyaman jagain kamunya." Tolak Del. Malas sekali dia kalau harus jagain Killa kamar yang fasilitasnya biasa saja.
"Tapi aku gak enak kak." Killa sangat yakin jika mertuanya itu sudah menghabiskan banyak uang untuk perawatannya dan Deluna di rumah sakit. Apalagi semua perawatan yang dipilih adalah yang paling bagus.
"Gak usah dipikirin. Itu juga sebagian uang aku. Kamu tahukan kalau warisanku hampir semunya masih dibawah pengelolaan Papah. Aku baru bisa mendapatkan semua hak ku setelah berusia 21 tahun. Papah itu dapat uang banyak dari saham milikku. Asal kamu tahu, kakek punya banyak sekali saham dibeberapa perusahaan, dan sialnya, papa baru tahu saat semua itu jadi milikku. Kasihan banget kan dia." Del tak bisa menahan tawa. Apalagi saat mengingat wajah papanya yang shock ketika pembacaan surat pembagian warisan. Saat itu Sean hampir saja pingsan saat tahu jumlah kekayaan orang tuanya. Dan sepertinya, dewi fortuna tak berpihak padanya. Semuanya jatuh ke tangan Delmar. Sedangkan dia hanya mendapatkan perusahaan saja.
"Selain itu, papa juga selalu nyewain vila, resort dan apartemen. Itu semua atas namaku, tapi uangnya masuk kantong papa. Biarin, sekali kali kita porotin dia." Dasar anak durhaka, bisa bisanya punya ide morotin bapaknya sendiri.
Tiba tiba terdengar ketukan, saat pintu ruangan Killa terbuka, tampak Naomi yang datang sendirian sambil membawa kotak kado yang berukuran lumayan besar. Sejak Killa melahirkan dia memang belum pernah menjenguknya. Dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.
"Kil, maaf ya baru sempat datang." Ujar Naomi sambil berjalan mendekati Killa. "Anak lo cantik banget." Naomi begitu gemas melihat baby Deluna. Bayi itu tengah tertidur dalam pangkuan Killa setelah merasa kenyang.
"Ya iyalah, secara daddy cakep." Sahut Del.
"Sumpah, baby Deluna mirip banget sama lo Del." Naomi memandangi wajah Deluna dan Del bergantian. Dalam hati dia berdoa supaya baby Deluna tidak mewarisi sifat arrogat daddynya.
"Ya iyalah, kan anak gue. Kalau mirip Aiden, patut diwaspadai." Celetuk Del.
Seketika raut wajah Naomi berubah. Mata cewek itu langsung berkaca kaca mendengar nama Aiden. Tapi seberapa banyakpun air mata yang dia keluarkan, tak akan bisa mengubah kenyataan. Sekarang, Aidennya itu sudah sah menjadi suami Sasa.
"Santai aja." Naomi menghapus air matanya dan mencoba bersikap biasa aja. "Boleh gak aku gendong baby nya." Ucap Naomi sambil mengusap usap pipi Deluna.
"Gak boleh." Del buru buru mencegah. Cowok itu bahkan langsung menarik kursi untuk Naomi agar cewek itu segera duduk. "Duduk diam disini, jangan ganggu anak gue yang lagi bobok. Dan satu lagi, jangan harap boleh gendong baby Deluna, bisa bisa jatuh dia kalau lo yang gendong." Sinis Del.
"Kebangetan lo Del, posesif amat jadi bapak. Ya gak mungkinlah gue jatuhin." Naomi tak terima.
"Lo gak ada pengalaman gendong bayi. Jadi gak usah aneh aneh."
Naomi hanya bisa menghela nafas pasrah. Melawan Del, tak akan mungkin bisa. Cowok itu paling pantang kalah, biarpun sama cewek, apalagi Naomi.
"Beberapa hari yang lalu, orang tua kamu kesini, kamu kok gak ikut?" Tanya Killa.
"Maaf, gue lagi sibuk Kil."
"Sibuk apa? meratapi nasib lo yang tragis." Tutur Del tanpa perasaan.
"Kak Del...." Desis Killa yang kurang suka dengan omongan suaminya yang tanpa perasaan. Del memang selalu asal nyeplos, ngomongnya gak pernah difilter.
"Biar Kil, biar dia tahu kalau selama ini pilihan dia itu salah."
"Kayak lo orang bener aja Del." Celetuk Naomi.
"Seenggaknya gue masih lebih baik daripada mantan lo itu. Ngomong ngomong berapa kali lo putus sama Aiden. Lo gak lupa ngitung kan?"
Del tersenyum sinis, dia yakin sekali cewek bucin kayak Naomi pasti ingat berapa kali dia putus nyambung.
"10 dan kemarin yang ke 11 kali selama satu setengah tahun pacaran."
Killa seketika melongo. Tak mengira akan sebanyak itu. Dan hebatnya, Naomi ingat sekali berapa kali dia putus dengan Aiden.
"Hebat." Del sampai tepuk tangan. "Selama 18 bulan kalian putus 11 kali. Dan itu artinya lo disakitin 11 kali Nom? Dan lo masih aja cinta? Kayaknya nama lo perlu ditulis di buku rekor deh. Naomi cewek paling terkuat disakitin." Ledek Del. Sejak dulu sebenarnya dia tidak menyukai hubungan Naomi dan Aiden, tapi kembali lagi, dia tak bisa berbuat apa apa.
"Hebat kamu Nom, kalau aku sih gak bakalan kuat." Ujar Killa.
"Ralat Bi, bukan hebat, tapi BODOH." Del menekankan kata katanya.
"Udah ah, Males gue disini, dibully mulu." Ujar Naomi sambil cemberut pura pura ngambek. "Gue kasini selain mau nengok baby Deluna, juga mau pamit."
"Pamit?" Killa mengernyit bingung.
"Iya Kil. Gue mau masuk pesantren."
"Kuping gue gak salah dengarkan? lo udah kabur 3x dari pesantren, dan sekarang mau masuk kesana lagi?" Del tak habis pikir. Hijaber kw kayak Naomi masuk pesantren, yang ada cuma bikin pengurus pesantren pusing.
"Gue gak ada pilihan lain. Takut depresi kalau tiap hari merenungi nasib mulu. Mending gue di pesantren, nenangin diri sambil belajar. Gue gak mau sampai depresi."
"Bagus deh kalau Gitu. Gue dukung keputusan lo." Sahut Del.