
Killa membersihkan luka dilengan Fando membuat cowok itu meringis menahan perih. Killa memang mengobatinya jauh dari kata halus, melainkan sangat kasar dan tampak tergesa gesa.
"Tiupin dong biar gak terlalu perih." Pinta Fando tapi tak digubris sama sekali oleh Killa. Cewek itu lebih memilih akting pura pura budeg daripada menuruti perkataan Fando.
"Gak usah deket deket." Killa mendorong kening Fando dengan telunjuknya agar menjauh. Pasalanya cowok itu makin maju dan maju terus mendekatkan wajahnya pada wajah Killa.
"Elo gak kangen gue?" Goda Fando sambil tersenyum jahil.
"Enggak sama sekali." Jawab Killa cepat.
"Sayang banget, padahal gue kangen banget sama lo."
Killa mengoles obat diluka Fando dengan sedikit kasar, tapi cowok itu diam saja tak kesakitan sama sekali. Dia malah asik menatap wajah Killa dan sesekali meniup anak rambut yang menutupi wajah Killa.
Pemandangan itu sontak membuat siswa lain yang ada diuks menatap cengo kearah mereka.
"Gak usah niup niup, nafas kamu bauk." Omel Killa tanpa menatap Fando.
"Masak sih?"
Fando menempatkan telapak tangannya didepan mulut untuk merasakan aroma nafasnya.
"Enggak kok, wangi nafas gue." Protes Fando.
Akhirnya Killa selesai mengobati lengan Fando. Dan sekarang giliran keningnya. Sebenarnya Kill malas sekali untuk menyentuh ataupun manatap wajah cowok itu. Tapi mau gimana lagi, Killa terpaksa.
"Akilla Luna." Fando membaca badge dibaju seragam Killa. "Jadi nama lo Luna?"
Killa diam saja tak menanggapi. Udah tau masih nanyak, itulah yang ada di pikiran Killa.
"Lo tahu gak persamaan lo dengan bulan?"
"Bulan dan Luna artinya kan sama." Jawab Killa jutek sambil memutar bola matanya malas. Tak kan seperti itu saja dia tak tahu.
"Bukan, bukan artinya maksud gue. Tau gak?" Fando kekeh bertanya.
"Lo dan bulan sama sama gak ngebosenin walau ditatap terus terusan."
Ciee..... si Fando mulai ngegombal.
"Kalau perbedaannya lo tahu gak?"
Killa tetap pada posisi diam.
"Bedanya, kalau bulan menyinari bumi, lo menyinari hati gue."
Terdengar tawa kecil, siswa lain diuks yang ikut mendengarnya. Sedangkan Killa tak menggubris sama sekali gombalan receh Fando. Yang dia Pikirin adalah cepat cepat menyelesaikan mengobati Fando.
"Tadi gue lihat Laura ngedeketin cowok lo?" Adu Fando. Tadi dia memang melihat Laura memberi air minum dan berbicara dengan Delmar.
Killa diam saja tak memberi respon.
"Gak cemburu?"
Killa masih setia diam. Berharap Fando berhenti membahas Del. Karena ditempat itu tak hanya ada mereka berdua.
"Putusin aja cowok kayak gitu. Mending sama gue aja." Fando mendekatkan wajahnya pada wajah Killa hingga membuat cewek itu risih luar biasa dan memundurkan wajahnya.
Sementara dilapangan, wasit meniup peluit yang menandakan berakhirnya kuarter kedua.
Del yang sejak tadi tak melihat Killa segera mengambil ponsel ditasnya..
"Sial." Umpat Del saat membaca balasan chat dari Killa yang sudah masuk sajak awal pertandingan tadi. Killa mengatakan kalau dia sedang berada di Uks.
Del buru buru meneguk air meniral lalu berlari menuju Uks.
Dan pemandangan pertama yang dilihat Del adalah Killa yang sibuk mengobati kening Fando dan Fando yang sibuk menatap wajah Killa yang jaraknya lumayan dekat.
"Ikut gue." Ujar Del setengah membentak sambil menarik tangan Killa yang berada diwajah Fando.
Killa sangat terkejut melihat kedatangan Del, sedangkan Fando, dia tersenyum miring melihat Del yang terlihat emosi.
Del menarik tangan Killa untuk pergi tapi Fando mencekal tangan Killa yang satunya.
"Dia masih ngobatin gue." Ujar Fando.
"Hei lo." Del menunjuk dagu kearah Sarah yang sedang duduk memperhatikan mereka. "Obati dia." Titah Del sambil melirik kearah Fando.
"Enggak, gue mau Manis yang ngobatin gue." Tolak Fando.
"Enggak." Fando justru menarik tangan Killa kearahnya. Del yang melihat Killa terhuyung ke arah Fando segera menarik tangan Killa kearahnya. Terjadilah tarik menarik dengan posisi Killa ditengah.
"Sakit." Pekik Killa saat kedua tangannya jadi korban saling tarik antara Del dan Fando. Kedua cowok itu langsung berhenti menarik, tapi tak satupun mau melepas tangan Killa.
"Kak Del." Laura tiba tiba muncul didepan pintu. Mata cewek itu langsung tertuju pada tangan Del yang sedang memegang Killa. Menyadari tatapan tak suka dari Laura, Del segera melepas tangan Killa.
jleb
Sakit sekali hati Killa yang merasa tiba tiba diabaikan saat Laura datang.
"Ayo kembali ke lapangan." Ujar Laura sambil menggandeng lengan Del. Hal itu sontak membuat Fando menatap Heran. Sedangkan Killa, dia memilih mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Ikut gue kelapangan." Ujar Del sambil menarik tangan Killa lagi.
"Aku disini saja." Jawab Killa sambil menghempaskan tangan Del. Kejadian itu sontak membuat Fando membulatkan matanya.
"Ikut gue." Bentak Del sambil berusaha meraih tangan. Tapi diluar dugaannya, Killa malah menjauhkan tangannya dari jangkauan Del fan membuat cowok itu makin geram.
"Kamu ngapain sih yang ngurusin dia?" Ucap Laura yang merasa kesal karena Del justru mengurusi Killa dan mengabaikannya.
"Dia cewek adik gue. Dan gue gak suka liat dia deket deket dengan cowok lain." Pernyataan Del itu membuat Fando speechless.
"Ayo ikut gue kelapangan." Del melepaskan tangan Laura dilengannya lalu mendekati Killa dan menarik lengan cewek itu.
Laura dibuat makin geram dengan kelakuan Del yang terlihat lebih mengurusi Killa yang hanya pacar adiknya.
"Gak mau." Killa berusaha melepaskan cengkeraman tangan Del.
"Kalau dia gak mau, lo jangan maksa. Tuh cewek lo nungguin, mending lo pergi sana." Ujar Fando sambil menatap Del tajam.
"Ayo pergi dari sini." Laura kembali memegang lengan Del dan mengajaknya pergi.
"Lo gak mau pergi sama gue?" Del kembali bertanya sambil menatap kedua bola mata Killa tajam.
"Enggak." Lirih Killa sambil menunduk. Dia tak berani membalas tatapan Del.
"Tuh kan, dianya juga gak mau. Mending kita pergi saja." Laura terlihat memaksa Del.
"Baiklah." Akhirnya Del melepaskan tangan Killa lalu keluar bersama Laura..
Killa memegangi dadanya yang sakit. Enggak, gak boleh nangis hanya karena ditinggal Del bersama Laura.
"Elo gak papa?" Tanya Fando sambil memegang bahu Killa.
"Enggak." Jawab Killa sambil menggeleng.
"Masih mau ngelanjutin ngobatin gue gak?"
"Hem." Killa mengangguk lalu kembali duduk ditempat tadi. Fando juga kembali duduk diranjang pemeriksaan. Dia melihat ada yang lain dari Killa. Dia melihat ada kesedihan dimata cewek itu.
"Maaf."
"Untuk?" Tanya Killa sambil mendongak menatap Fando.
"Waktu itu. Sory, gue gak tau kalau lo cewek adiknya Del. Gue pikir lo ceweknya Del."
"Sudahlah, Jawab Killa sambil mengambil kasa dan plester untuk menutup luka dikening Fando. Setelah selesai mengobati Fando, Killa segera membereskan kotak p3k nya.
"Mau ikut gue kekantin gak? Gue mau traktir lo sebagai permintaan maaf gue sekaligus terimakasih karena udah mau ngobatin gue."
Killa hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Please...."
"Maaf, aku gak bisa." Tolak Killa lagi.
"Kalau lo nolak, artinya lo gak mau maafin gue. lo mau gue merasa bersalah seumur hidup?"
Killa membuang nafas kasar sambil menatap jengah kearah Fando.
"Mau ya?" Bukan Fando namanya jika mudah menyerah.
"Baiklah." Akhirnya Killa setuju. Lebih baik makan dikantin daripada sibuk mikirin sakit hati gara gara Delmar.
Fando dan Killa keluar bersama dari uks lalu menuju kantin. Saat mereka berdua melewati lapangan. Fando sengaja berteriak menyemangati temannya yang sedang bermain. Sebenarnya tujuan utamanya adalah untuk menarik perhatian Del. Dan benar saja, Del melihat kearah Fando yang sedang berjalan bersama Killa.
Fando tersenyum miring padanya, sedangkan Killa sama sekali tak ingin menoleh ke lapangan. Del makin kesal, moodnya hancur hibgga berujung pada performanya dilapangan yang hancur juga.