DELMAR

DELMAR
WELCOME



Hari yang ditunggu akhirnya datang. Hari dimana baby Deluna sudah boleh dibawa pulang. Sejak pagi dirumah Rain sudah direpotkan dengan acara untuk penyambutan baby Deluna.


Rain sengaja membuat acara syukuran kecil kecilan. Bagaimanapun, ada perjuangan besar dibalik lahirnya baby Deluna. Dan hari ini, rasanya semua perjuangan itu terbayar lunas. Rain berharap, prahara dikeluaganya akan berakhir dengan datangnya malaikat kecil yang bisa menjadi penyejuk hati seluruh keluarga.


"Mah, jam berapa sih datangnya?" Cea sudah tak sabar menanti keponakan lucunya itu.


"Bentar lagi sayang. Tadi kata Kak Del bilang masih beberes. Sabar dong." Jawab Rain sambil memotong motong cheese cake untuk hidangan.


Dilan yang masuk kedapur langsung mencomot cake cheese cake kesukaannya itu.


"Kamarnya udah bereskan sayang?" Tanya Rain pada Dilan yang asik mengunyah cheesecake.


"Udah mah. Beres semuanya. Dijamin Kak Killa bakalan suka. Dan baby Deluna, dijamin bakalan bobok dengan nyaman. Percaya deh sama Dilan. Dilan kan jagonya design interior." Ya, sejak kecil Dilan memang bercita cita menjadi arsitek. "Kakek gak kesini mah?"


"Datang kok, udah dijemput Pak joe tadi. Sekalian ****** ibunya kak Killa."


"Temen Temen Papah juga kesini ?"


"Entar malem, kasian baby Deluna sama Kak Killa gak bisa istirahat kalau mereka datang siang. Sekalian sama acara ngaji bareng anak yatim piatu dari panti cahaya surga."


"Mama jadi ngundang anak yatim?"


"Jadi dong sayang. Kita kan juga harus berbagi kebahagiaan."


"Bagus deh mah. Dilan sayang mamah." Ucap Dilan sambil berdiri lalu memeluk pinggang mamanya dari samping. "Dilan bangga banget punya ibu kayak mama. Mama lebih suka berbagi dari pada beli barang barang mewah." Dilan memang sangat mengagumi sosok mamanya.


"Mama pernah hidup susah sayang. Mama pernah berada dititik terendah dimana mama benar benar kesulitan mencari uang. Makanya kamu harus banyak banyak bersyukur. Kamu udah hidup enak sejak kecil. Jadi jangan sombong."


"Bilangin Kak Del tuh, jangan sombong jadi orang."


"Semua anak mama dibilangin. Hanya saja, kalau Bilangin kak Del, butuh ekstra energi lebih banyak." Ujar Rain dan disambut tawa oleh Dilan. Kakaknya itu memang luar biasa. Beruntung dia punya mama kayak Rain dan istri kayak Killa yang Stok sabarnya melimpah. Kalau enggak, pasti udah nyerah semua ngadepin Del dengan segala arogansi dan kesongongannya.


"Mah, mereka udah dateng." Teriak Cea sambil menuruni tangga. Sejak tadi cewek itu menunggu dibalkon kamarnya. Jadi dia bisa langsung tahu saat mobil Del memasuki halaman.


"WELCOME BABY DELUNA KALANDRA." Teriak Cea sambil berlari menghampiri Killa yang baru turun dari mobil. Cewek cantik itu segera menciumi Deluna yang tengah tertidur pulas digendongan mommy nya.


Rain, Sean dan Dilan juga menyambut diteras rumah. Tak lupa keempat art, yang juga ikut menyambut didepan pintu. Gurat bahagia sangat tampak diwajah mereka.


"Welcome home cucu cantiknya oma." Sapa Rain sambil mencium pipi Deluna yang mulai gembul. "Sini biar mama yang gendong." Rain mengambil alih Deluna dari gendongan Killa.


Dilan dan Sean juga menciumi bayi mungil itu. Gemas sekali melihat wajah cantik dan imut baby Deluna.


"Kamu masih cocok loh Mah gendong bayi gini. Jadi pengen punya anak lagi. Kita bikin adiknya Cea yuk?" Goda Sean sambil menyenggol lengan istrinya.


"Enggak, aku gak mau punya adek." Cea langsung menyahuti. "Lagian ingat umur Pah. Udah punya cucu, masih aja pengen punya anak lagi." Sewot gadis cantik yang paling anti punya adik itu.


"Naik ke atas yuk." Ajak Dilan antusias. Dia tak sabar ingin menunjukkan kamar baby Deluna.


"Yuk, yuk, yuk." Sahut Cea tak kalah antusias.


Mereka semua akhirnya naik ke lantai dua menuju kamar Deluna. Dilan merelakan kamarnya dipakai untuk baby Deluna karena letakkan disebelah kamar Del. Sehingga bisa diberi pintu penghubung dari dalam. Sedangkan Dilan, cowok itu pindah kamar ke lantai bawah.


Killa membekap mulutnya sendiri dengan mata terbuka lebar saat melihat kamar baby Deluna. Sungguh diluar ekspektasinya. Kamar Deluna begitu cantik dan mewah. Bahkan kamarnya dirumah ibunya tak ada apa apanya.


Box bayi warna putih dengan kelambu yang mengelilingi berbentuk mirip kastil. Semua perabot didominasi warna ungu dan putih.


"Gimana Kak Kil, suka gak sama kamarnya? Aku sendiri loh yang ngedesign." Tanya Dilan.


"Banget, ini sangat cantik Dilan. Makasih banyak." Jawab Killa sambil terus memperhatikan semua isi kamar Deluna.


"Cea juga ikut bantuin loh kak." Cea tak mau ketinggalan.


"Makasih banyak ya Ce."


"Sama sama."


Killa membuka almari, lagi lagi dia dibuat tercengang. Almari itu sudah penuh dengan baju, sepatu, topi dan perlengkapan lainnya yang bisa dibilang sangat banyak.


Selain itu, berbagai macam mainan dan boneka juga sudah tersusun rapi dirak model istana. Ya, sepertinya Deluna benar benar akan menjadi princess dirumah ini.


Killa memeluk Del sambil membenamkan kepalanya didada sang suami. Tanpa melihatpun, Del tahu kalau Killa sedang menangis saat ini.


"Kenapa?" Tanya Del sambil membelai kepala Killa.


"Aku sangat bahagia, sangat." Jawabnya sambil menghapus air mata dan menatap suaminya.


"Mama, papa, Dilan, Cea, makasih banyak ya. Makasih karena udah mau menerima aku dan baby Deluna dengan sangat baik." Entah kenapa Killa tiba tiba jadi baper. Dulu, awal mula masuk kerumah ini, dia sangat cemas. Takut jika keluarga Delmar tak bisa menerima kehadirannya. Mereka orang kaya, sedangkan dia hanya gadis biasa saja. Dan lagi, Del menganggapnya sudah menghancurkan masa depannya. Dia takut jika seluruh keluarga Del juga menganggapnya seperti itu.


Tapi sungguh diluar dugaanya, keluarga Delmar menerimanya dengan sangat baik, hangat dan penuh kasih sayang.


Rain menyerahkan baby Deluna pada Sean. Wanita itu lalu mendekati Killa dan memeluknya. "Kami semua sayang sama kamu dan Deluna. Kalian adalah bagian dari keluarga ini." Ujarnya sambil membelai punggung Killa.


"Makasih mah, Killa beruntung banget jadi menantu dikeluarga ini. Killa sayang mama, sayang semua orang dikeluarga ini." Cea dan Del ikutan Baper. Mereka lalu ikut berpelukan ramai ramai. Hanya Sean dan Dilan saja yang tidak ikut. Sean sedang menggendong Deluna. Sedangkan Dilan, dia tak ikut memeluk karena tahu pasti akan diomeli Del jika ikut memeluk istrinya.


Oek oek oek


Drama pelukan berjamaah itu berhenti ketika tangis Deluna pecah. Bayi mungil itu tampaknya terbangun. Killa segera mengambil alih Deluna dari gendongan papa Sean.


"Us, us, Us, sayang....kenapa nangis?" Killa menimang bilang Deluna agar bayi itu tenang.


"Mungkin dia lapar sayang. Mending kamu susuin dulu." Ujar Rain.


Delmar buru buru mengkode Dilan agar keluar. Adik laki lakinya itu hanya bisa menghela nafas pasrah lalu keluar.


"Keluar yuk Pah." Dengan santainya Dilan menggandeng papanya agar ikut keluar.


Setelah kedua laki laki itu keluar, Killa segera duduk disofa single yang sengaja disiapkan untuknya menyusui. Bayi mungil itu, langsung menyusu dengan sangat kuat. Sepertinya dia memang sedang kelaparan.


"Kalau Deluna tidur, kamu juga ikutan istirahat. Nanti malam ada acara pengajian bareng anak yatim. Jadi kamu istirahat dulu biar nanti malam fresh. Ibu kamu juga kesini, mungkin masih dalam perjalanan." Pesan Rain.


"Makasih banyak ya mah."


"Iya sayang." Ujar Rain sambil mengajak Cea keluar agar Deluna bisa tidur nyenyak.


"Welcome home princessnya daddy." Ucap Del sambil mengelus pipi Deluna. "Ini rumah kamu sayang. Kamu akan tumbuh dan tinggal disini dengan orang orang yang menyanyangi kamu. Daddy janji, bakal jaga dan selalu buat kamu dan mommy bahagia." Del mencium kening Deluna lalu berganti mencium kening Killa.