DELMAR

DELMAR
SAYANG



Gara gara Rain nangis nangis ditelepon, Sean terpaksa meninggalkan meetingnya. Sesampainya dirumah dia langsung menuju kamar Del tapi tak menemukan cowok itu. Tanpa pikir panjang, dia segera menuju kamar Killa.


Brak


Sean membanting pintu hingga Del dan Killa yang berada didalam terjingkat karena kaget.


"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya Sean sambil berjalan menghampiri Del yang sedang duduk bersandarkan kepala ranjang.


"Gak papa pa, Del baik baik aja kok." Jawab Del sambil mengakhiri gamenya lalu meletakan ponsel diatas nakas.


"Gimana kronologinya?"


Del mulai ketar ketir, ini lah yang dia takutkan. Papanya itu susah dibohongi, tak seperti mamanya.


"Ada ibu ibu yang tiba tiba belok. Untuk menghindari tabrakan, Del terpaksa mengerem mendadak hingga Del jatuh tertimpa motor." Del berusaha tenang agar aktingnya terlihat natural.


"Dimana kejadiannya?" Sean bertanya layaknya wartawan saja.


"Di... jalan Kusuma, deket sekolah Del." Jawab Del dengan sedikit gemetar.


"Udah lapor polisi?"


"Hah." Del tercengang. Tak pernah dia kepikiran jika papanya menyuruh lapor polisi.


"Kamu udah lapor polisi?" Sean mengulangi pertanyaannya karena Del tak kunjung menjawab. "Orang itu sudah bikin kamu celaka, dia harus tanggung jawab."


"Gak usah lah pa. Kasian ibu itu udah tua. Lagian Del juga gak papa kok. Del juga gak keberatan bayar biaya rumah sakit." Melihat tatapan mata papanya yang tajam, Del sampai gemetaran dan keluar keringat dingin. Sedangkan Killa yang sedang duduk di kursi meja belajar ikutan tegang.


"Gak bisa gitu? bentar lagi kamu ujian Del. Gara gara dia kamu celaka. Dia harus diberi sanksi karena keteledorannya. Papa akan mengecek cctv didaerah itu untuk bukti. Papa akan laporkan orang itu ke polisi."


"Gak, gak usah Pah. Ibu itu udah minta maaf, itu udah cukup buat Del."


"Kamu yakin?" Tanya Sean sambil membuka ikat pinggangnya. Del makin gemetaran, begitu pula dengan Killa. Cewek itu meremat bajunya karena ketakutan.


"Jujur atau ikat pinggang ini melayang?" Bentak Sean sambil menarik ikat pinggangnya hingga terlepas.


"Del udah jujur Pah"


PLAK


Sebuah tamparan mendarat diwajah Del hingga meninggalkan bekas tangan disana. Killa makin ketakuan. Baru bertama kali ini dia melihat mertuanya sangat marah.


"Jujur?" Pekik Sean sambil mengangkat ikat pinggangnya. Melihat itu Killa segera berlari dan memeluk Delmar.


"Jangan Pah, jangan cambuk kak Del. Dia udah sakit Pah, jangan ditambah lagi." Ujar Killa sambil menangis memeluk Del.


"Minggir." Bentak Sean sambil dengan wajah merah padam menahan emosi.


Killa menggelang cepat, dia tak mau Minggir. Dia sudah bertekad akan melindungi Del apapun yang terjadi.


"Sampai kapan kamu mau kayak gini Del? Kamu sudah dewasa dan sebentar lagi punya anak. Kamu gak kasian sama mama? Dia Nangis Nangis karena kamu. Kamu lupa udah pernah janji gak bikin ulah lagi?"


"Maaf Pah." Ujar Del menyesal sambil menunduk.


"Papa tahu semuanya. Papa tahu kamu jatuh saat ikut balapan liar. Jangan pernah berniat untuk mengelabuhi papa. Sejak kejadian kamu menghamili anak orang, papa selalu mengintai pergerakan kamu."


"Papa." Panggil Rain yang baru masuk kekamar Killa. Mata wanita itu sekelika membulat sempurna melihat suaminya memegang ikat pinggang. "Ngapain kamu Pah?" Tanya Rain sambil merebut ikat pinggang yang dipegang Sean. "Kamu apain Del?" Rain curiga melihat wajah Del yang merah serta Killa yang menangis.


"Gak ada apa apa. Tadi hanya ada kesalah pahaman sedikit saja." Sean tak mau memberitahu Rain. Tak ingin istrinya itu kecewa pada Del dan berujung menyalahkan dirinya sendiri.


"Beneran sayang? papa gak ngapa ngapain kamu?" Tanya Rain sambil meraba pipi Del yang terlihat merah.


"Enggak kok mah." Jawab Del sambil memegang tangan mamanya yang berada dipipinya.


"Ya udah, papa mau istirahat dulu. Killa, rawat suamimu dengan baik." Ujar Sean sambil meninggalkan kamar Killa.


"Iya Pah." Jawab Killa sambil mengangguk.


"Mama samperin papa dulu ya." Pamit Rain dan dijawab dengan anggukan oleh Delmar.


"Gak usah." Jawab Del sambil menggeleng. "Gak sakit kok." Jawab cowok itu dengan mata berkaca kaca.


"Tapi kak."


"Peluk Kil, gue butuh pelukan saat ini."


Killa merapatkan posisinya pada Del lalu membawa cowok itu kedalam dekapannya. Del memyembunyikan wajahnya diceruk leher Killa. Untuk beberapa saat, cowok itu hanya diam.


"Gak ada yang sayang sama gue Kil." Ucap Del dengan suara serak. Walaupun tak melihat, tapi Killa tahu jika Del menangis. Killa bisa merasakan tetesan air mata membasahi bahunya. Untuk pertaman kalinya, Killa melihat sisi lain dari Delmar. Ternyata cowok itu tak sekuat perkiraannya. Del juga bisa menjadi sangat rapuh.


"Killa sayang sama Kak Del. Mama, papa, Dilan dan Cea juga sayang. Bahkan Bik Siti dan bik Jum, juga sayang sama Kak Del." Ujar Killa sambil membelai kepala Del penuh sayang.


"Enggak, semua gak ada yang sayang sama gue. Cuma opa dan oma yang sayang sama gue. Tapi kenapa mereka ninggalin gue? Kenapa mereka gak ajak gue pergi sekalian." Suara Del terdengar putus putus karena sambil menangis.


"Itu gak Bener, Mama sama papa sayang sama kakak. Bahkan Dilan yang selalu kakak jutekin juga sayang sama kakak, Cea juga."


"Elo gak tahu Kil, gue bahkan udah dibuang sejak umur 5 tahun. Mama sama papa gak sayang sama gue. Mereka cuma sayang sama Dilan dan Cea." Nada suara Del terdengar sangat putus asa.


"Itu gak Bener kak. Killa bisa ngelihat kalau mama sama papa sayang banget sama kakak. Bahkan kata Bik Siti, mama tadi hampir pingsan saat mendapat kabar kakak kecelakaan. Dan papa juga sayang, dia seperti tadi karena gak ingin kakak celaka. Dia ingin kakak lebih dewasa, lebih bisa bertanggung jawab. Apalagi kakak udah pernah janji sama mama gak bakal buat kekacauan lagi."


"Sayang? saat gue terluka aja dia mukul gue. Kalau saja tadi lo gak ngelindungin gue. Mungkin gue udah dicambuk pakai ikat pinggangnya." Ujar Del sambil mendongak menatap Killa.


"Kakak tahu gak, kalau awal Killa tinggal disini, Killa iri sama kakak. Kakak punya orang tua yang sangat baik. Sedangkan Killa, ayah Killa suka sekali main judi sama mabuk. Kadang saat dia kalah judi, dia melampiaskan pada ibu. Dan disaat Killa mencoba ngelindungin ibu, Killa juga ikut jadi sasaran pukulan ayah. Killa juga pernah ditendang."


Del terdiam, dia tak pernah tahu kehidupan Killa sebelum menikah dengannya. Dan ternyata dia baru sadar jika nasib Killa jauh lebih buruk dari dirinya. Padahal yang ada dalam otak Del, semua anak yang tinggal bersama orang tuanya pasti bahagia. Sedangkan Del selalu berfikir jika dia anak yang paling tidak diinginkan oleh orang tuanya.


"Mama pernah cerita sama Killa. Kalau dia terpaksa ngasih kakak ke oma. Oma terus mendesaknya hingga dia gak ada pilihan lain."


"Tapi kenapa harus gue Kil, kenapa gak Dilan aja yang dikasih ke Oma?"


"Semua udah terjadi kak, waktu gak bisa diputar kembali. Berdamailah dengan keadaan. Jangan selalu berpikiran negatif. Ambil saja hikmah dari semua ini. Sekarang yang perlu kaka tahu, semua sayang kakak. Mama, Papa, Dilan, Cea dan Killa." Ujar Killa sambil menggenggam tangan Del


"Elo baik banget sih Kil, gue udah jahat tapi lo masih aja sayang gue."


"Killa bakal selalu sayang sama kakak. Bahkan saat sudah tidak ada lagi yang sayang sama kakak. Killa akan tetap sayang sama kakak. Killa sayang sama kakak dalam tiga waktu, sekarang, nanti dan selamanya." Del merasakan hatinya bergetar mendengar ucapan Killa. Killa adalah wanita ke tiga yang ucapannya terdengar begitu tulus setalah oma dan mamanya.


Tok tok tok


"Den, ada tamu." Terdengar suara Bik siti dari balik pintu.


"Siapa bik?" sahut Del.


"Teman teman Aden."


"Suruh tunggu bentar bik."


Tak lama kemudian, Del keluar kamar menuju ruang tamu. Dia tak menyuruh teman temannya masuk kamar karena banyak sekali barang milik Killa disana.


Del terbelalak saat melihat ada Laura dirumahnya. Ternyata yang datang Rey dan Laura.


"Kak Del." Laura segera menghampiri Del yang berjalan tertatih. "Kenapa kakak bilang gak papa padahal parah gini." Ujar Laura sambil membantu Del berjalan hingga duduk disofa.


"Gue, gak papa kok Ra, gak usah cemas. Kok gak bilang kalau mau kesini?"


"Karena kalau Laura bilang, pasti gak dibolehin sama kak Del." Jawab Laura sambil menggenggam tangan Del.


"Permisi Den." Sekuriti depan tiba tiba datang.


"Ada apa pak?" Tanya Del.


"Ini, barusan ada kurir yang nganter pesanan makanannya Non Killa." Ujar security itu sambil menenteng plastik keresek berisi makanan.


"Killa!" Laura tampak terkejut


"Killa lagi ada disini Del? padahal kata Bik siti tadi, Cea dan Dilan belum peluang?" Tanya Rey.