DELMAR

DELMAR
BERTEMU LAGI



Killa sudah sampai dikelas saat kondisi kelas masih sepi. Dia meletak meletakkan tas dikolong meja setelah mengambil ponselnya.


Killa senyum senyum sendiri sambil melihat foto selfinya bersama Del. Di banding berselancar di sosmed, Killa lebih suka memandangi foto Delmar. Menurutnya itu lebih bisa membuatnya senang daripada melihat komen netijen yang maha benar.


"HP lo baru Kil?"


Killa terperangah mendengar suara Shani. Terlalu fokus pada HP membuat Killa tak sadar jika Shani datang.


"Shani." Pekik Killa saat Shani merampas ponsel ditangannya.


"Gila, ini I phone 12 pro max. Ini beneran punya lo Kil?" Shani menatap tak percaya pada ponsel yang ada ditangannnya.


"Wow, ponsel lo baru Shan?" Yusuf yang baru datang langsung menyerobot ponsel yang ada ditangan Shani.


Mata Yusuf membulat sempurna saat menyadari jika ponsel yang dipegang adalah I Phone 12 pro max. Dia masih sangat ingat bentukannya karena kemarin dia kekonter dan melihat ponsel itu disana. Dicatat, cuma melihat, karena dia gak punya uang buat beli.


"Sup, balikin." Shani merebut kembali ponsel itu.


"Gak nyangka lo banyak duit juga Shan. 20 juta lebih woi harganya, gak kaleng kaleng." Ujar Yusuf sambil geleng geleng.


"Bukan punya gue, tapi punya__"


Killa menggeng, berusaha memohon pada Shani agar tak bicara. Tapi sayangnya, Shani sedang tak melihat kearahnya.


"Punya siapa?" Yusuf penasaran tingkat dewa.


"Killa." Jawab Shani sambil menoleh ke arah Killa.


"Gue gak nyangka, ternyata lo tajir juga Kil. Ponsel lo aja lebih mahal dari motor gue." Yusuf menatap Killa. Dia baru tahu jika temannya itu anak orang kaya.


Killa memperhatikan sekeliling, ternyata teman temannya sudah pada berdatangan. Dan karena kehebohan Yusuf mengenai ponsel barunya, tak sedikit dari temannya yang mulai bisik bisik tetangga. Padahal sebenarnya Killa tak ingin ada yang tahu tentang itu. Dia juga tak mau dianggap pamer.


"Nih." Shani mengembalikan ponsel pada Killa. "Gak nyangka lo bisa punya HP semahal itu? Kapan lo beli? Tumben gak minta gue anterin?"


"Udah beberapa hari yang lalu Shan." Killa memang sengaja tak memakainya didepan teman temannya agar tak dianggap pamer.


"Perasaan kemarin masih pakai ponsel lama?"


"Iya, gue masih pakai yang lama. Soalnya yang lama belum kejual." Bohong Killa, padahal alasan utamanya agar Shani tak curiga.


"Maaf ya Kil, bukannya gue ngeremehin keluarga lo. Tapi menurut gue, HP itu terlalu mahal untuk kelas seperti kita." Shani ragu ragu mengucapkannya. "Elo gak ngelakuin hal yang gak Benerkan buat dapet itu?"


"Gak Bener gimana maksud lo?"


"Ya misalnya, nyuri." lirih Shani agar tak ada yang sampai dengar.


"Astaga Shan, gue gak seburuk itu."


"Lalu, Darimana lo dapet duit sebanyak itu? Dan satu lagi. Gue ngerasa lo berubah Kil. Lo sekarang lebih banyak duit. Kita udah temenan lama. Gue tahu lo selalu ngirit pengeluaran buat ditabung untuk buat beli beli barang yang lo pengen. Tapi sekarang lo kayak gak pernah mikirin masalah duit. Lo juga sering banget nraktir gue." Sebenarnya sudah sejak laa Shani penasaran, hanya saja di masih belum yakin untuk bertanya.


"Aku... " Killa mengemas jari jarinya, dia bingung harus memulai cerita Darimana. Dia sadar jika tak mungkin menyembunyikan kenyataan tentang dirinya terlalu lama pada Shani. Cewek itu begitu mengenalnya, sehingga perubahan sedikit saja, dia bisa curiga.


"Elo... gak jadi cabe cabean kak Kil?" Lirih Shani lalu menggigit bibir bawahnya. Dia takut Killa tersinggung.


"Ya enggak lah." Killa langsung melotot.


"Terus, Darimana lo dapet uang sebanyak itu. 20 juta lebih Kil. Gue yakin gaji bokap lo sebulan juga sampai sebanyak itu."


"Nanti gue ceritain."


"Pulang sekolah ikut gue kerumah. Gue ngerasa banyak banget yang lo sembunyiin dari gue."


Killa mengangguk, menyetujui ajakan Shani.


Disisi lain, Laura yang baru datang langsung mendapat laporan kenegaraan dari Greta.


"Lo tahu gak, Si Killa punya HP baru." Bisik Greta.


"Emangnya kenapa? cuma HP baru aja, apa masalahnya?" Laura menanggapi dengan datar.


"Lo tahu apa HP barunya?"


"Apa emangnya?" Laura terlihat tak begitu tertarik membahas HP baru Killa.


"I phone 12 pro max."


"What!" Pekik Laura cukup keras sampai Beberpaa Siswa menoleh kearahnya.


"Biasa aja kali." Desis Greta sambil memelototi Laura.


"Elo gak salah informasi?" Laura mulai memelankan suaranya.


"Enggak, gue lihat sendiri waktu dipegang Yusuf."


"KW kali."


"Emang tas lo kira kw?"


"Lo bilang keluarga Killa biasa aja. Tak kan mungkin dia punya duit sebanyak itu?" Laura jadi penasaran. Greta memang teman Kilka sejak SMP, sedikit banyak dia tahu tentang Killa.


"Itu juga yang jadi pertanyaan gue." Greta tampak berfikir keras. "Kalau orang miskin punya barang mewah, kemungkinannya cuma 3."


"Apa?" Laura penasaran.


"Nyuri, pinjeman online, atau..... "


"Atau apa?"


"Jadi cabe cabean."


Laura langsung melotot mendengar kemungkinan ke tiga. Tapi Laura punya satu kemungkinan lain, yaitu Dilan.


"Apa mungkin Dilan yang beliin?" Tanya Laura.


"Ngaco, mana mungkin anak SMP punya uang sebanyak itu. Kalaupun Dilan punya, gak mungkin dia mau beliin barang semahal itu buat ceweknya. Emangnya Kak Delmar peenah Beliin barang semahal itu?"


"Apa mungkin dari pendapatan you tube atau nyanyi di cafe?" Greta masih mencari kemungkinan lain.


"Gue gak yakin. Tapi kayaknya, kita harus selidikin dia. Selain masalah hubungan dia dengan Kak Del, juga tentang apapun yang berhubungan tentang dia." Ujar Laura sambil melirik tajam ke arah Killa.


...******...


Para siswa berkumpul disekitar lapangan basket. Team Cheers yang diketuai oleh Laura sudah bersiap siap tampil. Hari ini ada pertandingan basket antara tim SMA 48 dengan Tim Alumni SMA 48. Pertandingan ini selalu rutin diadakan setelah anak kelas XII selesai ujian. Dan lawannya adalah alumni yang baru lulus tahun lalu.


Delmar memandang sengit kearah tim lawan. Dia menyeringai saat matanya beradu dengan kapten tim lawan, yang tak lain adalah Fando.


Fando terlihat sama, dia menatap Del meremehkan sambil mengacungkan jempol terbaliknya.


Del mengedarkan pandangannya, dia mencari Killa. Dia tak ingin Killa sampai bertemu Fando. Bagaimanapun Killa pernah mengalami pelecehan oleh Fando. Del tak ingin luka itu terbuka lagi saat Killa bertemu Fando.


Dari daftar nama yang diterima Del beberapa hari yang lalu, tak ada nama Fando di tim lawan. Oleh sebab itu semalam Del tak memperingati Killa apapun.


"Kok ada Fando?" Tanya Del pada Manu yang sedang melakukan pemanasan disebelahnya.


"Entahlah." Manu mengedikkan bahu.


Del mengambil ponselnya dan mengirim chat pada Killa, menanyakan dimana keberadaan cewek itu. Tapi sayangnya, chat dari Del tak dibalas hingga pertandingan dimulai.


Sorak sorai mulai bergemuruh. Para siswa menyorakkan nama jagoannya masing masing. Tapi yang paling gencar terdengar adalah nama Delmar dan Fando.


Suara peluit yang ditiup wasit menandakan mulainya pertandingan. Kedua tim sama sama kuat. Skor mereka beda tipis, saling mengejar.


"Gue kira lo mati pas kecelakaan kemarin?" Ujar Fando saat mendrible bola dengan posisi Del didepannya.


"Tuhan masih sayang gue."


"Iyalah, orang jahatkan matinya susah." Ledek Fando sambil menunjukkan smirknya.


"****." Umpat Del sambil merebut bola dari kekuasaan Fando lalu mengoper pada Jimmy yang berada didekat ring.


Prit, bola masuk kan menambah nilai untuk tim Delmar.


"Sial." Kesal Fando sambil menendang udara.


Pertandingan kembali dimulai. Fando yang kesal selalu membayangi Delmar dimanapun cowok itu berada. Disaat Del sedang menguasai bola. Dia sangat bersemangat untuk merebutnya.


"Mana Si Manis, kok gak keliatan? Padahal gue ikut pertandingan ini cuma karena pengen ketemu dia." Lagi lagi Fando memancing emosi Del.


"Jangan ganggu dia." Peringat Del dengan tatapan tajam.


"Gue kangen sama bibirnya yang sweet itu."


"Bajingan."


BRUK


Delmar yang emosi menabrak bahu Fando dengan sangat keras lalu melakukan shot. Tapi karena pelanggaran yang dilakukan Del, bukannya dapat skor, melainkan terjadi perpindahan bola.


Sedangkan Fando, cowok itu berakhir dengan tersungkur kelantai yang keras. Kening dan lengannya mengalami luka hingga dia terpaksa keluar dari pertandingan.


Del mendapatkan peringatan keras. Sekali lagi dia melakukan pelanggaran, dia akan dikeluarkan.


Fando berjalan menuju Uks sambil meniup luka dilengannya yang perih. Dalam hati dia terus mengumpat Del, dan berjanji akan membalas cowok itu.


Fando yang kesal mendorong pintu Uks dengan keras hingga membuat beberapa siswa yang didalam terperanjat kaget dan menoleh kearah pintu.


Wajah Fando yang tadinya mengeras karena emosi, tiba tiba melembut dan kedua ujung bibirnya melengkung membentuk senyum.


"Manis." Sapa Fando kepada Killa yang tengah berdiri mematung dihadapannya.


Jantung Killa berdetak kencang saat melihat cowok yang pernah melecehkannya berdiri dihadapannya. Kejadian saat itu, kembali berputar dikepala Killa.


Killa gemetaran karena takut. Dan sekarang, yang ada dikepalanya adalah segera pergi dari tempat itu.


Fando menghadang langkah Killa. Cowok itu kekanan saat Killa ke kanan, dan kekiri saat Killa kekiri. Killa yang merasa terancam ingin segera lari tapi Fando buru buru mencekal lengannya..


"Lepas." Pekik Killa sambil berontak. "Lepas, aku mau ke keluar."


"Gue gak ngijinin."


Killa terus menarik tangannya hingga terasa sakit tapi Fando tetap mencekalnya kuat. Beberapa siswa disana melihat cengo kearah mereka berdua.


"Obatin gue dulu, baru boleh keluar."


"Gak mau, hari ini bukan tugas gue jaga." Tolak Killa sambil terus berontak.


"Lalu itu apa?" Fando menunjuk dagu pin PMR yang terpasang di dada Killa. Biasanya anak yang bertugas jaga yang memakai pin itu. Killa memang salah satu anggota PMR, dan hari ini adalah tugas jaga dia.


"Sarah, bisa tolong obatin Kak Fando?" Tanya Killa pada Sarah yang hari itu juga bertugas.


"Gue maunya elo." Sahut Fando sebelum Sarah menjawab.


Fando menarik tangan Killa menuju ranjang periksa. Cowok itu lalu menarik kursi dengan satu tangannya lalu mendorong tubuh Killa untuk segera duduk.


"Cepat obatin gue." Titah Fando yang sudah duduk diatas ranjang periksa.


"Lepasin dulu tanganku." Ya, sejak tadi Fando belum melepaskan tangan Killa.


"Janji dulu gak akan kabur."


Killa diam saja tak mau menjawab.


"Kalau lo kabur, gue bakal bilang kesemua anak disekolah ini kalau lo pernah gue cium." Lirih Fando didekat telinga Killa. "Atau, gimana kalau sekarang aja gue bilang keras keras kalau lo sama gue pernah ciuman."


"Jangan." Sahut Killa dengan cepat.


"Ok, kalau gitu cepat obatin gue."


Killa akhirnya mengangguk pasrah. Senyum langsung terukir diwajah Fando. Dan cowok itu melepaskan cekalan tangannya di lengan Killa.