
"Yuk pulang." Ajak Del sambil memakai kembali helmnya. Dia kesal pada Killa yang gak nyambung diajak bahas yang ples ples. Padahal pas adem gininya enaknya bahas ples ples terus lanjut anget anget.
Killa terlihat kecewa, dia pikir bakal diajak jalan jalan ke tempat romantis. Menghabiskan malam berdua sambil cerita cerita kayak orang pacaran, ngedate istilah kerennya. Eh tau nya malah cuma diajak beli susu terus pulang.
Killa segera menghabiskan susunya lalu membuangnya ke tong sampah.
Del segera melajukan motornya setelah Killa naik dibelakangnya.
Tak sengaja Killa melihat penjual boneka dipinggi jalan. Tumpukan boneka yang beraneka ragam bentuk dan warna membuat matanya tergoda.
"Kak mau boneka." Ucap Killa sedikit teriak sambil menepuk punggung Del.
"Apaan?" Del sedikit menoleh.
"Mau boneka." Teriak Killa disamping telinga kepala Del yang tertutup helm.
"Boneka?" Tanya Del sambil membuka kaca helmnya saat motornya sudah berhenti ditepi jalan.
"Iya, itu." Killa menunjuk penjual boneka yang berada tak jauh darinya.
"Kayak anak kecil aja lo minta boneka."
"Killa kan emang masih kecil, 17 tahunnya baru bulan depan." Jawab Killa dengan ekspresi puppy eyes agar terlihat unyu lalu dituruti permintaannya.
"Anak kecil pala lo. Lupa, kalau bentar lagi, lo mau jadi emaknya anak kecil." Cibir Delmar.
"Ya udah gak jadi." Jawab Killa sambil tertunduk lesu. Delmar kembali menutup helmnya lalu menghidupkan kembali mesin motornya.
Baru berjalan beberapa meter, tiba tiba motor Del kembali berhenti.
"Buruan turun." Ujar Del sambil menoleh ke arah Killa.
"Ngapain lagi sih, katanya mau pulang." Jawab Killa malas sambil menunduk.
"Katanya mau beli boneka?"
Seketika Killa mengedarkan pandangannya. Senyumnya merekah tatkala menyadari jika Del berhenti didepan penjual boneka.
Killa segera turun lalu melepas helmnya. Matanya berbinar binar melihat tumpukan boneka yang lucu lucu.
"Silakan dipilih Neng." Ujar bapak bapak penjual boneka itu. Killa mengangguk lalu mulai memilih boneka. Del berdiri disamping Killa sambil bersedekap, dia terlihat tak tertarik sama sekali.
"Kak Del bantuin milih dong." Rengek Killa sambil menarik lengan Del.
"Udah terserah lo aja." Malas sekali Del memilih boneka, kayak gak ada kerjaan aja.
Karena terlalu bingung, akhirnya Killa menunjuk sebuah boneka teddy berwarna ungu berukuran lumayan besar.
"Yang itu aja pak." Ujar Killa pada bapak penjual bonekanya. "Berapa?"
"Yang ini 400 ribu neng, tapi karena nengnya manis, saya diskon, tinggal 350 saja." Ucap sang bapak sambil mengambil boneka besar itu dan menyerahkanya pada Killa.
"Kak Del, kok bengong? cepet bayarin."
Del mengambil dompet disaku celananya lalu menghitung uangnya.
"Uang gue gak cukup Kil. Cuma ada 150 ribu. Lo tunggu sini bentar ya, gue ambil duit dulu diatm." Ujar Del sambil menunjuk atm yang berada tak jauh dari mereka.
"Emang atm nya ada?" Lirih Killa sambil nyengir.
"Astaga." Del menepuk jidatnya. "Atm gue kan belum lo balikin."
"Gimana dong kak, Killa juga gak bawa uang."
"Ya udah pilih yang lain aja."
"Tapi Killa sukanya yang ini." Killa enggan mengganti pilihannya.
"Ya terus gimana orang duitnya gak cukup. Kalau mau gratis, ya ikut saja sama bapaknya." Celetuk Del.
"Bener kata mas nya. Kalau mau ikut saya, saya kasih gratis neng." Sahut si bapak dengan girang.
"Enak aja lo." Ujar Delmar sambil melotot dan menarik pinggang Killa merapat kearahnya. Seolah olah menunjukkan pada bapak itu kalau Killa itu miliknya.
"Becanda mas, galak amat neng pacaranya." Sahut bapak itu sambil terkekeh geli melihat ekspresi Delmar.
"Ini aja." Del mengambil boneka kucing kecil berwarna coklat yang berada tepat dihadapannya. "Lo suka kucingkan? Bagus banget nih." Ujarnya meyakinkan.
Bagus darimananya cobak, orang jelek gitu, batin Killa.
"Ini aja pak, berapa?"
"50 ribu mas."
Del segera mengambil uang dan menyodorkannya pada penjual boneka.
"Loh, aku kan gak bilang mau yang itu kak." Protes Killa saat melihat Del membayar bonekanya.
"Udah, ini yang paling cocok buat lo." Del menarik tangan Killa dan meletakkan boneka itu digenggamannya.
"Sesuai dengan warna dan bentuknya, gue kasih nama DEKIL."
"Jelek banget namanya." Alis Killa meyatu mendengar nama yang enggak banget itu.
"Itu yang paling bagus. DEKIL, DEmar KILla."
"Enggak, jelek banget. DELLA aja, DELmar kilLA"
"DEKIL, no debat. Yuk pulang." Delmar mengambil helm milik Killa dan segera memakaikannya. Tak mempedulikan wajah Killa yang cemberut.
"Tapi lo cintakan?" Goda Del sambil menaikkan salah satu alisnya.
Killa hanya bisa menghela nafas pasrah. Entah kenapa dia bisa jatuh cinta sejatuh jatuhnya pada cowok modelan Delmar. Yang cuma punya nilai lebih di wajah, uang serta otak cerdasnya. Sedangkan masalah kelakuan, alias akhlak, nol besar. Dan yang paling menyakitkan, cowok itu tak punya hati, cuma punya jantung. Makanya selalu nyakitin.
...*******...
Sesampainya dikamar, Killa yang langsung melemparkan Dekil ke atas ranjang. Dia sama sekali tak tertarik dengan boneka jelek itu.
"Gitu banget lo, gak ngehargain pemberian gue. Gue belinya pakai duit, main buang aja." Omel Del.
"Killa gak minta dibeliin itu kok." Jawab Killa sambil memasang tampang cemberut.
Del menghela nafas lalu mengambil dekil yang teronggok dalam posisi jungkir di atas ranjang.
"Orang cakep gini dibilang jelek." Ujarnya sambil merapikan bulu boneka yang jauh dari kata rapi itu.
"Warnanya jelek, bulunya juga. Terus kecil banget, mana bisa dipeluk."
"Sini deh." Del menarik lengan Killa agar duduk disebelahnya. Dia lalu melepas pita warna merah yang terikat leher Dekil.
"Kok dilepas, makin jelek." Komen Killa sambil mengerucutkan bibir.
"Dekil cowok, mana boleh pakai pita."
"Cowok?"
"Iya, liat baik baik." Del mendekatkan Dekil ke mukanya. "Mirip gue kan?"
Killa menutup mulut menahan tawa. Bisa bisanya seorang Delmar yang tingkat kesombonganya setinggi langit tiba tiba merosot serendah dasar sumur dengan menyamakan wajahnya dengan boneka jelek.
"Mirip, mirip banget." Killa tak kuat lagi menahan tawanya.
"Berarti lo ngakuin Dekil cakep dong, kan dia mirip gue yang tingkat kegantengannya gak bisa diukur pakai meteran."
Killa menghela nafas, dia pikir Del udah tobat dari narsis, nyatanya tetep aja.
"Lo bayangin aja pas liat dekil kayak ngeliat gue, yakin deh lo bakal suka sama dekil." Ujar Del sambil menarik turunkan alisnya.
"Pengang." Del meletakkan dekil diatas tangan Killa. "Mulai malam ini, lo jadi emaknya dekil."
"Kak Del jadi bapaknya?" Tanya Killa antusias.
"Ogah gue punya anak jelek gitu."
"Ish, gak adil." Killa kembali cemberut.
"Ya udah deh, demi kebaikan dekil, biar gak jadi anak yatim, gue rela jadi bapaknya."
"yeeyyyy... Selamat dekil, mulai malam ini, kamu punya emak sama bapak." Ujar Killa sambil membayangkan wajah Del saat menatap dekil. Benar saja, seketika dia menjadi gemas lalu menghujani dekil dengan ciuman.
"Bapaknya dekil iri, pengen dicium juga." Goda Del.
"emuah emuah emuah." Ucap Killa sambil menempelkan dekil berkali kali kebeberapa wajah bagian Del.
"Maksudnya pengen dicium emaknya, bukan dekil." Del membuang nafas kasar karena kesal.
Cup
Killa mecium pipi kiri Del. "Udah gak usah ngiri."
"Yang kanan belum, iri dong."
Cup, Killa mencium pipi kanan Del. "Udah kan?"
"Kening belum?"
Killa memutar kedua bola matanya malas lalu mencium kening..
"Bibir."
Killa pun dengan pasrah mengecup bibir Del.
"Kurang lama ciuman bibirnya."
"Nanti yang lain ngiri kalau gak adil." Killa membalikkan kata kata Del.
"Kill.... "
"Apa?"
"Emmm..." Del tiba tiba gugup. Jantungnya berdegup kencang dan lidahnya terasa kelu.
"Apa?"
"Emm.."
"Apaan sih kak?" Killa mulai penasaran.
"Boleh gak kalau malem ini gue na___"
Hoam...Killa menguap. "Ngantuk kak."
Del tak jadi melanjutkan ucapannya, padahal baru saja dia pengen bilang mau nagih utang. Taunya Killa udah ngantuk. Melihat jam udah hampir jam 1 malam, Del jadi tak tega, mengingat besok pagi Killa harus sekolah.
"Ya udah,.ganti baju sana, terus bersih bersih, pas itu tidur." Ujar Del sambil mengacak pelan pucuk kepala Killa.