
Saat diparkiran, Killa tak sengaja bertemu dengan Delmar dan Laura. Terlihat sekali aura kemarahan di wajah Del. Sedangkan Laura, cewek itu tersenyum penuh kemenangan.
Saat tatapan mata Killa dan Del tak sengaja bertemu, Del segera membuang pandangannya.
Killa memperhatikan dengan mata berkaca kaca saat Del memakaikan helm pada Laura. Hatinya terasa nyeri.
"Gak usah dilihatin." Ujar Shani sambil memakai helmnya. "Yuk buruan naik, lo mau kerumah gue, atau gue anter pulang?"
"Pulang." Lirih Killa. Suaranya seperti tak bertenaga sama sekali.
Tanpa menoleh apalagi menyapa Killa, Del segera melesatkan motornya meninggalkan parkiran dengan Laura yang duduk manis di belakangnya.
"Keterlaluan banget kak Delmar. Bisa bisanya dia bersikap manis pada cewek lain didepan lo, istrinya. Sumpah, pengen banget gue santet." Geram Shani sambil memperhatikan motor Del yang semakin hilang dari pandangannya.
Killa memberitahu alamat rumah Del lalu naik keboncengan Shani. Jalanan yang padat membuat Shani tak bisa berkendara cepat. Hingga akhirnya setelah 30 menit lebih dia sampai didepan rumah Del.
"Sumpah, mewah banget rumah mertua lo Kil." Shani menatap takjub rumah Delmar yang memang luar biasa besar dan mewahnya. Bahkan paling mewah diantara semua rumah yang ada di kompleks itu.
"Maaf ya Shan, aku gak bisa ngajak kamu mampir. Aku hanya numpang disini."
"Its ok, gak masalah. Jangan sedih sedih lagi." Ucap Shani sambil menggenggam tangan Killa.
"Makasih Shan. Kamu emang sahabat terbaik aku."
"Udah gih, buruan masuk sana."
Killa mengangguk kemudian segera masuk dan meninggalkan Shani yang masih belum puas menatap rumah Delmar.
"Gue kasihan banget sama lo Kil. Tinggal dirumah mewah kayak istana tapi sakit hati mulu." Shani menghela nafas lalu meninggalkan rumah Del.
Killa merebahkan diri diatas ranjang sambil menatap langit langit kamar. Dia bingung, bagaimana harus menghadapi Del saat cowok itu pulang nanti.
Killa hampir tertidur saat mendengar suara pintu dibuka. Matanya langsung terbuka lebar saat melihat Del pulang.
Delmar meletakkan tasnya lalu keluar menuju balkon. Dia sama sekali tak mempedulikan Killa yang sedang menatapnya.
"Kak." Panggil Killa saat Del sedang merokok di balkon. Cowok itu tak mempedulikan Killa, dia hanya sibuk menghisap rokok yang terselip diantara jari tengah dan telunjuknya.
"Vidio itu gak Bener kak. Laura yang narik rambutku pertama kali. Dia juga yang nampar aku duluan." Entah Del percaya atau tidak, Killa tetap menjelaskan duduk perkaranya. "Dia menghina aku kak. Dia ngejelek jelekin aku hingga aku emosi lalu nampar dia. Aku juga gak tahu kenapa dia bisa terluka, aku gak ngedorong dia."
"Udah selesai dramanya?" Del melirik tajam ke arah Killa. "Sayang gue gak percaya sama semua ucapan lo." Lanjutnya sambil tersenyum sinis.
"Aku gak bohong kak. Laura yang bohong."
"Stop. Berhenti ngejelek jelekin Laura. Dia udah cerita semuanya sama gue. Lagian Laura gak tahu mengenai hubungan kita. Tapi lo malah ngancem dia buat ninggalin gue. Kalau udah kejadian kayak gini siapa yang malu? lo sendiri kan?" Bentak Del sambil menatap tajam ke arah Killa.
"Dia yang ngancem aku kak, bukan aku."
"Dia yang ngajak ngomong berdua, bukan aku." Killa tak tahan jika terus terusan difitnah. Saksi? udah jelas itu saksi fake.
"Gua gak suka sikap lo yang sok itu. Lo itu seharusnya tahu diri. Laura pacar gue, dan lo cuma orang ketiga yang kebetulan masuk didalam hubungan kami."
jleb
Dada Killa terasa nyeri mendengarnya. Dia bukan kebetulan masuk, lebih tepatnya dijebloskan secara paksa disituasi ini.
"Kebetulan kamu bilang?" Pekik Killa yang mulai emosi. "Kamu yang masukin aku kedalam hidup kamu. Dan ralat kata kata kamu, aku istri kamu, bukan orang ketiga. Laura orang ketiga disini, dirumah tangga kita." Killa menekankan kata katanya. Dia lelah kalau harus mengalah terus. Posisinya sebagai istri harus jelas disini.
"Lo udah mulai berani sama gue?" Teriak Del sambil membuang puntung rokoknya yang bahkan belum habis. Cowok itu terlihat murka. "Sadar diri dengan posisi lo."
"Kamu yang harusnya sadar." Teriak Killa sambil mendorong dada Del. Kesabarannya sudah berada dibatas paling ujung. Dimana tinggal seujung kuku lagi, dia akan jatuh dan menyerah. " Sadar kalau kamu udah nikah, udah punya istri dan mau punya anak. Putusin Laura."
"Apa? gak salah denger gue? lo nyuruh gue putusin Laura? lo gak ada hak buat ngatur hidup gue."
"Ada, karena aku istri kamu. Aku berhak ngatur hidup kamu. Dan aku juga berhak maksa kamu buat ninggalin Laura."
Del menghembuskan nafas kasar sambil geleng geleng. Selama menikah, baru pertama kali ini Killla seberani ini. Bahkan terang terangan menyuruh Del meninggalkan Laura.
"Aku mohon putusin Laura. Aku sayang sama kamu. Aku janji jadi istri yang baik buat kamu." Killa menggenggam tangan Del sambil manatap wajah cowok itu. Kalau tadi dia terlihat menggebu gebu dan sedikit emosi. Sekarang dia terlihat rapuh. Dia terlihat memohon dengan penuh harapan. "Aku bakal ngasih apapun yang kamu mau. Aku sudah melakukan semua kewajibanku sebagai istri. Jadi aku mohon, perlakukan aku seperti istri kamu seutuhnya. Jangan ada wanita lain dalam hubungan kita."
"Jadi istri gue seutuhnya?" Del tersenyum sinis.
"Iya, aku mau pernikahan seperti orang lain. Hanya ada aku, kamu dan anak kita nanti."
"Sepertinya lo salah menilai hubungan kita. Perlakuan gue akhir akhir ini membuat lo salah paham hingga lo berharap terlalu banyak ke gue."
"Apa maksud kakak?" Killa mulai merasa tak tenang.
"Yang kita lakuin beberapa hari ini hanya s*x , bukan bercinta. Gue gak cinta sama lo."
Kaki Killa seketika lemas mendengarnya. Dia tahu Del belum mencintainya, tapi tak menyangka jika perkataan seperti itu keluar dari mulut Del.
"Yang kita lakukan hanya Having s*x, not making love. Lo jangan salah faham." Ujar Del sambil memegang kedua bahu Killa.
Killa hanya terdiam, rasanya air matanya sudah kering.
"Jadi kakak hanya mau tubuhku, bukan aku?"
"Sori kalau selama ini gue cuma nganggep hubungan ranjang kita hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan biologis gue."
Killa memang sempat terbuai dengan perilaku manis Del saat mereka berhubungan badan. Killa sempat mengira jika Del sudah mulai menyayanginya dan menginginkan dia menjadi istri seutuhnya. Nyatanya Killa hanya salah paham. Dirinya hanya dijadikan sebagai palampiasan napsu bagi Delmar.
"Jahat." Desis Killa dengan suara yang sangat rendah. Ucapan Del membuat energinya habis. Dadanya sesak dan saraf saratnya terasa mati. Bahkan menangispun Killa tak mampu.