DELMAR

DELMAR
PUTUS



Prosesi pemakaman ayah Killa berjalan dengan lancar. Terlihat Killa, ibu dan kakaknya yang berdiri didekat pusara sang ayah dengan mata sembab. Tak ada kerabat yang hadir karena keluarga dari ayah Killa berasal dari jawa timur. Kemungkinan mereka baru akan sampai sore ini.


Sedangkan ibu Killa hanya 2 bersaudara, orang tuanya sudah meninggal, sedangkan kakaknya yang sudah menduda, bekerja di Malaysia. Hanya tetangga dan kenalan saja yang hadir dipemakaman itu.


Delmar dan orang tuanya juga ada datang untuk mengucapkan bela sungkawa.


Setelah semua prosesi selesai, para pelayat pulang satu persatu. Begitu pula dengan Rain dan Sean yang juga hendak pulang. Setelah berpamitan dengan ibu Killa, Rain mengajak Killa bicara berdua.


"Sedih boleh, tapi jangan berlarut larut. Ingat, kata dokter kamu gak boleh stress, tekanan darah gak boleh naik." Rain menasehati Killa sambil membelai kepala menatunya itu.


"Iya mah. Makasih ya mama dan papa sudah mau datang."


"Itu sudah kewajiban kami sayang. Ini tolong berikan pada ibu kamu. Mama sungkan mau memberikannya langsung." Rain menyerahkan amplop coklat berisi uang kepada Killa.


"Gak perlu repot repot mah." Killa Sungkan menerimanya.


"Gak repot kok." Jawab Rain sambil tersenyum. "Ya udah mama pulang dulu. Maaf jika tidak bisa ikut tahlilan, beberapa jam lagi kami harus ke Singapura."


"Iya mah, hati hati, maaf Killa tidak jadi ikut."


Mereka sekeluarga akan ke Singapura hari ini mengunjungi Amaira dan Alan, adik Rain yang sudah menetap disana. Amaira baru saja melahirkan anak keduanya.


Harusnya Killa juga ikut, tapi karena musibah ini, dia terpaksa tidak ikut.


"Jangan terlalu sedih, ok!" Ujar Del sambil menyentuh kepala Killa. "Ingat Kalau ada baby diperut kamu." lanjutnya.


"Hem." Jawab Killa sambil mengangguk.


"Aku pulang dulu ya." Pamit Delmar. Dia ingin memberikan ruang untuk Killa dengan keluarganya. Mengingat Killa sudah sangat lama tidak bertemu ibunya. "Nanti malam aku kerumah kamu."


"Kakak gak ikut ke Singapura?"


"Enggak, aku mau nemenin kamu aja disini. Kapan kapan kita bisa babymoon berdua kesana." Ujar Del sambil memegang kedua tangan Killa. "Jangan lupa makan, aku pulang dulu."


"Hem."


Del dan keluarganya pergi meninggalkan area pemakaman itu.


Setelah semua pelayat pulang, Killa dan keluarganya juga pulang. Setelah 4 bulan, akhirnya Killa bisa menginjakkan kaki dirumahnya lagi. Tapi rasanya sudah berbeda, karena sekarang sudah tak ada lagi ayahnya.


"Killa bolehkan Bu nginep disini malem ini?" Ujar Killa pada sang ibu saat mereka berkumpul diruang tamu.


"Tentu saja sayang." Jawab sang ibu sambil membelai rambut putri yang sangat dia rindukan. "Ini rumah kamu, rumah kita." Ujar ibu Killla sambil memeluk kedua anaknya. "Maaf, selama ini ibu gak bisa ngebelain kamu. Ibu gak berguna, gak bisa berbuat apa apa untuk kamu." Ujar Ibunya sambil meneteskan air mata.


"Enggak bu, ibu adalah ibu terbaik untuk Killa."


"Maafin almarhum ayah ya nak." Ucap ibunya sambil menyeka air matanya sendiri.


"Killa yang banyak salah sama ayah Bu. Killa yang sudah mengecewakan ayah."


"Enggak sayang, kamu anak yang baik." Sahut sang ibu sambil mengecup puncak kepala Killa.


"Lebih baik kamu tinggal disini saja sama ibu. Gak usah kembali kerumah suami kamu." Ujar Fariz. Dari nada bicaranya, terlihat sekali jika pria itu tidak menyukai Del. Bahkan saat di prosesi pemakaman tadi, dia sama sekali tak bertegur sapa dengen Del.


Killa diam saja tak menjawab. Ini bukanlah keputusan yang mudah untuk dia ambil.


"Oh iya bu, ini ada titipan dari orang tuanya Kak Delmar." Killa memberikan amplop yang lumayan tebal itu kepada ibunya.


"Ini banyak sekali sayang." Ucap ibu Killa saat melihat isi amplop yang hampir penuh degan uang ratusan ribu rupiah. "Apa tidak masalah jika ibu menerimanya. Sampai sekarang saja, ibu masih sungkan perihal mahar kamu waktu itu."


"Sudahlah bu, terima saja. Mereka orang baik, Killa yakin mereka ikhlas memberinya."


"Ibu senang kamu mendapat mertua yang sangat baik."


"Gak boleh bilang begitu." Sahut sang ibu.


...*****...


Delmar berada disebuah cafe saat ini. Dia sedang menunggu Laura. Beberapa saat yang lalu mereka janjian bertemu disini.


Akhirnya yang dia tunggu datang. Laura yang biasanya sangat ceria, hari ini tampak yak bersemangat. Sedikit banyak dia tahu alasan Del mengajaknya bertemu hari ini.


"Gue udah mesenin minum buat lo." Ujar Del saat Laura baru duduk didepannya. Sebelum Laura datang, Del memang sudah memesankan minuman kesukaan cewek itu.


Laura diam saja, dia sama sekali tak berminat untuk meminum minuman yang tampak segar itu.


"Gue mau kita putus." Ujar Del langsung tanpa basa basi.


"Aku gak mau." Jawab Laura cepat. Cewek itu terlihat tegang. Dia juga terus meremas jari jarinya, menandakan jika cewek itu sedang tidak baik baik saja.


"Gue gak lagi ngajak lo nego. Keputusan gue udah bulat."


"Gara gara Killa kan? Kamu mutusin aku gara gara Killa kan?" Laura mulai berteriak. Beruntung cafe sepi, jadi tak terlalu menarik perhatian. "Aku gak terima, aku gak bisa diginiin."


"Terima atau enggak, gue gak peduli."


"Killa itu bukan perempuan baik baik. Dia itu simpenan om om."


"Berhenti nuduh Killa yang enggak enggak. Lo gak sadar, lo yang udah ngejebak Killa hingga dia diskors satu minggu." Del emosi jika mengingat kelakuan buruk Laura itu. Killa jadi simpenan om om, entah darimana Laura dapat berita hoax itu. Jelas jelas Del tahu sendiri kalau selalu dirumah, tak pernah keluyuran.


"Aku ngelakuin itu karena kamu. Aku gak mau dia ngrebut kamu dari aku."


"Tapi gak gitu juga caranya Ra. Cara lo salah, dan itu justru ngebuat gue muak sama lo. Elo udah keterlaluan." Del menekankan kata katanya.


"Apasih lebihnya Killa daripada aku? Aku lebih cantik dari dia, lebih kaya, lebih populer dan lebih segalanya."


"Aku gak mau bandingin lo dengan dia. Kalian itu berbeda, dan gue yakin, lo bakal sakit hati kalau gue bandingin antara lo berdua." Del masih berusaha untuk menahan diri.


Laura membuang muka. Matanya mulai panas, berkaca kaca dan sepertinya sekejab lagi air matanya akan turun.


"Kayaknya cuma itu yang mau gue omongin. Gue harap, lo bisa menerima ini dengan lapang dada." Ucap Del sambil beranjak dari duduknya.


"Enggak, aku gak bisa terima." Laura mencekal tangan Del sebelum cowok itu pergi. "Aku cinta sama kamu kak."


"Kamu yakin cinta sama aku? Bukan terobsesi?" Tanya Del sambil menatap dalam dalam mata Laura.


"Aku cinta sama kamu."


"Tapi gue gak cinta sama lo Ra. Dan gue yakin, lo gak akan bahagia kalau bersama cowok yang gak cinta sama lo." Del berusaha memberi pengertian pada Laura.


"Aku gak peduli, aku cuma mau sama kamu."


Del tersenyum sambil melepaskan cekalan tangan Laura. "Buktikan kalau lo beneran cinta sama gue?" Tantang Del.


"Caranya?"


"Lepasin gue. Bukankah tahapan tertinggi dari mencintai adalah melepaskan. Melepaskan orang yang dicintai demi kebahagiaan orang itu. Cinta gak harus memiliki Ra. Jika lo tulus cinta sama gue, biarin gue bahagia dengan pilihan gue, dengan orang yang gue cintai."


"Tapi itu gak adil buat aku." Potong Laura sambil menangis.


"Gak adil juga jika gue bersama lo tapi mencintai cewek lain. Lo berhak mendapatkan orang yang benar benar mencintai lo. Gue yakin, gak sulit buat lo untuk mendapatkan pengganti gue. Lo cantik Ra, walaupun hati lo gak secantik muka lo."


Entah itu pujian atau hinaan, Laura tak mau ambil pusing. Yang dia Pikirin saat ini adalah gimana caranya untuk tetap bersama Del.


"Gue harus pergi Ra." Pamit Del lalu pergi meninggalkan Laura.