
killa pov
Aku berjalan menuju kelas sambil menulikan telinga. Sesuai dugaanku, aku kembali jadi bahan gosip. Tentu saja gara gara mobil sport barunya papa, yang diklaim terlalu mewah untuk aku tumpangi.
"Aww." Pekikku pelan saat ada yang menabrak lenganku. Beruntung aku gak sampai jatuh. Awalnya aku pikir itu hanyalah sebuah ketidak sengajaan. Tapi saat ku lihat siapa yang menabrakku, aku yakin dia sengaja.
"Kayaknya ada yang kesekolah dianter daddy." Ucapnya sambil menyeringai.
"Apa maksud kamu?" Tanyaku sambil menahan pergelangan tangan Laura. Aku bukan orang bodoh atau polos yang gak tau maksud perkataan Laura.
"Gak usah muna." Jawabnya sambil menghempaskan tanganku. "Sekarang gue tahu darimana lo dapet ponsel mahal. Cih, menjijikkan." Cibirnya sambil tersenyum miring.
Ingin sekali aku tampol mulutnya. Tapi aku tak ingin menambah masalah. Apalagi situasinya sangat ramai. Aku tak mau menarik perhatian.
Aku segera berjalan cepat menuju kelas meninggalkan dia yang masih terdiam dibelakang. Mungkin dia sedang mengumpatku sekarang.
"Killa." Teriak Shani saat melihatku berjalan kearahnya. "Kangen." Ujarnya sambil memelukku. Lebay banget Shani, dah kayak gak ngeliat aku bertahun tahun aja. Padahal beberapa hari yang lalu kami masih vc.
"Aku juga kangen sama kamu Shan." Sahutku sambil melepaskan pelukannya. Aku meletakkan tas diatas meja lalu duduk dibangku kesayangan yang sudah seminggu aku tinggalkan.
"Mana oleh oleh buat gue?" Shani langsung menengadahkan tangan, menodongku minta oleh oleh.
"Kirain beneran kangen aku, nyatanya kangen oleh oleh." Ledekku sambil membuka tas.
"Hehehe.... " Shani malah nyengir gak jelas. "Kangennya gak boong kok, tapi oleh oleh kan wajib. Apalagi lo udah jadi mantu sultan." Lanjutnya sambil berbisik.
"Bisa aja kamu, nih." Aku mengeluarkan sebuah bungkusan yang berisi kaos untuk Shani.
"Thanks girl. Cantik banget." Ujarnya kegirangan saat membuka oleh oleh dariku.
"Eh Kil, siapa yang nganter lo tadi? Btw, mobilnya cakep banget. Kira kira yang nganter cakep juga gak?" Tanya Yusuf sambil menaikkan satu alisnya. Cowok itu Emamg paling resek sekelas. Suka banget Kepo, dan gitu kalau ngomong kayak toa masjid, gak bisa dipelanian volumenya.
"Ya pasti om om lah." Celetuk Greta dengan lantang hingga hampir seluruh anak sekelas menatapku.
"Gak usah sok tahu lo." Shani pasang badan membelaku.
"Lo pikir kita kita ini bodoh. Mana ada anak sekolah atau kuliah yang punya mobil semahal itu. Pasti cuma om om tajir yang mampu beli." Greta makin sok tahu, bikin aku makin panas ngedengernya.
"Lo jadi baby nya om om Kil?" Ratna menatapku tak percaya.
Aku berjalan mendekati meja Greta dan Laura. Muak rasanya terus terusan difitnah.
"Sebelum fitnah aku yang enggak enggak, cari bukti dulu." Ujarku sambil menatap Greta dan Laura bergantian. Ingin sekali kutelan mereka hidup hidup. Tapi enggak, kasian anakku kalau harus ketemu mereka didalam perut.
"Udah jelas buktinya. Ponsel mahal lo sama yang mobil yang nganter lo pagi ini udah jadi bukti. Iya gak temen temen?" Ujar Laura lantang sambil berdiri, seolah mencari dukungan.
"Iya sih."
"Iya."
"Iya, Bener."
Kenapa semua anak malah ngedukung Laura gini sih. Kayaknya yang di bilang Kak Fando bener, Laura terlalu berbahaya. Dan aku harus sangat hati hati padanya.
"Udahlah Kil, ngaku aja. Lo jadi simpenan om om kan?" Tanya Laura sambil tersenyum miring.
"Biasanya gue juga lihat Killla di antar jemput pakai mobil mewah. Tapi bukan yang tadi. Dia turunnya agak jauh dari sekolah. Mungkin sengaja agar gak ada yang ngelihat." Amanda makin memperkeruh suasana. Aku tahu yang dia maksud adalah mobil pak Joe.
"Pasti itu daddy nya yang lain lagi." Nyinyir si Greta mulut rombeng. "Maklumlah, dia kan dari keluarga biasa aja. Pasti dia pengen bergaya. Makanya dia mau jadi baby."
"Ish, kalau gue sih jijik ya. Ya kali kalau daddy nya ganteng. Kalau udah tua, buncit, botak. Hii.... ngebayangin aja udah pengen muntah." Ratna ikut mengeroyokku. Kayaknya satu kelas kompak kali ini, kecuali Shani.
"Kalian bisa diem gak sih." Teriakku yang mulai kehabisan kesabaran. "Buktikan kalau aku memang simpenan om om. Kalau kalian gak bisa buktiin, jangan pernah ngomong yang enggak enggak tentang aku." Lanjutku sambil mengedarkan pandangan tajam ke arah anak sekelas.
"Bener yang dikatakan Killa. Bicara tanpa bukti itu fitnah." Kata Yusuf.
"Gue bakal buktiin kalau omongan gue benar." Seru Laura sambil menatap tajam kearahku.
"Buktikan."
"Buktikan."
Seruan anak anak membuat kelas makin gaduh.
"Ada apa gaduh gaduh?" Tanya Andra yang baru datang.
"Lagi ngomongin si Killla yang katanya jadi sugar baby." Jawab Amanda.
Andra terlihat mengerutjan keningnnya. Lalu dia berjalan kearahku dan menarik lenganku menjauh dari meja Greta. "Kembali kebangku lo."
Aku patuh dan kembali duduk dibangkuku.
"Jangan cari masalah dulu. Lo baru saja di skors. Jangan sampai lo dikeluarin kalau kena masalah lagi."
"Diemin aja mereka. Gue yakin lo gak kayak gitu." Ucapan Andra sedikit membuatku lega. Setidaknya selain Shani, masih ada yang percaya sama aku. Andra memang bijaksana, gak salah kalau dia jadi ketos.
"Kok lo belain dia Ndra? Jangan bilang lo Naksir Killa?" Tanya Laura sambil bersedekap. Gayanya yang sok bikin aku tambah pengen nampol dia.
"Bukan urusan lo gue mau naksir siapa?" Jawab Andra ketus. Dari dulu dua orang itu memang gak pernah akur. Sejak drama penolakan Laura didepan kelas sambil menghinanya.
...******...
Killa lega saat melihat mobil Pak Joe yang terparkir ditempat biasanya. Dia malas kalau Del benar benar datang menjemputnya seperti yang dia bilang pagi tadi.
Killa segera membuka pintu mobil bagian depan. Setiap pulang sekolah dia selalu naik didepan karena hanya berdua dengan Pak Joe. Sedangkan Cea dan Dilan biasanya sudah diantar ke tempat bimbel.
"Kamu." Pekik Killa sambil melotot saat melihat Del yang ada dikursi pengemudi. Saat Killa hendak keluar, Del sudah lebih dulu mengunci pintunya.
"Mau kemana?"
"Aku pulang naik ojol aja." Jawab Killa sambil mencoba membuka pintu.
"Coba aja buka kalau bisa." Uajr Del dengan senyum kemenangan. Dia sengaja memakai mobil Pak Joe untuk mengelabuhi Killa.
Killa merutuki dirinya sendiri. Kenapa tadi dia langsung masuk dan duduk tanpa melihat siapa yang ada didalam.
"Cepat pakai seatbelt nya. Atau mau gue yang pakein?" Goda Del sambil menaikkan turunkan alisnya.
Killa segera memakainya, malas sekali kalau Del yang memakaikan. Cowok itu pasti modus.
Sepanjang jalan Killa hanya diam. Dan untungnya kali ini Del juga diam. Hingga Killa merasa ada yang salah..
"Ini kan bukan jalan pulang?" Tanyanya sambil menoleh kearah Del.
"Emang siapa yang bilang mau pulang. Kita jalan jalan dulu." Jawab Del sambil menahan tawa karena rencananya berhasil.
"Aku capek."
"Bentaran doang, temenin gue beli sepatu."
Killa mendengus kesal. Tapi tak ada pilihan lain, hanya bisa pasrah, menolakpun percuma. Karena Del akan tetap memaksanya.
Del menghentikan mobilnya di parkiran sebuah mall. Cowok itu menautkan jarinya dengan jari tangan Killa saat memasuki Mall. Tapi Killa segera menarik tangannya dan memasang wajah jutek.
"Gak usah pengang pengan." Sinis Killa.
"Gue takut lo ilang kalau gak dipengangin."
"Aku bukan balita kali."
"Iya iya, ya udah yuk. Jangan cemberut gitu dong, ntar keriput." Goda Del sambil tertawa ringan.
Killa melengos mendengar candaan Del. Dia gak ada minat untuk menanggapinya. Sepertinya Del harus berpikir lebih keras bagaimana caranya membuat Killa seperti dulu lagi.
"Eh bagus tuh, masuk yuk." Del menarik tangan Killa masuk kesebuha toko pakaian saat melihat hoodi couple warna hitam yang dipasang di manekin.
"Mbak, lihat yang itu dong." Ujar Del pada penjaga toko. Penjaga itu segera melepaskan baju itu dari manekin lalu menyerahkannya pada Delmar.
"Bagus gak?" Tanya Del pada Killa yang sejak tadi diam saja.
"Bagus gak?" Del kembali bertanya karena Killa hanya diam saja. "Kita beli ini yuk."
"Aku gak suka." Akhirnya Killa buka suara.
"Kenapa? bagus loh." Del meyakinkan. Dia memang menyukai hoodi itu. Biarpun koleksi hoodi hitam dialmarinya udah gak bisa dihitung pakai jari.
"Itu koleksi baru. Cocok banget buat pasangan muda seperti kalian. Warna lainnya juga ada." Ujar pegawai toko mempromosikan jualannya.
"Lo kan tiap hari kesekolah pakai hoodi. Kita beli ini ya, biar lo gak pakai yang itu itu aja." Ujar Del. Setiap hari Killa memang memakai hoodi untuk menutupi perutnya yang makin kelihatan. Dia baru melepas hoodinya saat jam pelajaran.
"Aku gak suka." Killa kekeh menolak.
"Ya udah pilih yang lain kalau gak suka."
"Warna lainnya juga ada kok. Kaos couple juga ada." Trik penjaga toko agar dagangannya laku.
"Ada warna pink gak?" tanya Killa.
"PINK!" Pekik Del.
"Ada kok warna pink." Jawab Penjaga toko.
"Ya udah saya mau yang pink."
Mata Del membulat sempurna mendengarnya. Ya kali dia pakai hoodi pink. Enggak, gak banget. Bukan selera dia.