DELMAR

DELMAR
SYARAT



Killa tak bisa konsentrasi pada pelajaran. Sejak tadi dia hanya mencoret coret bukunya gak jelas. Padahal sebulan lagi ujian kenaikan kelas. Tapi otak Killa malah ngeblank.


Dia masih kepikiran dengan ucapan Del semalam. Killa ingin menyangkal, tapi dari mata Del, terlihat jika cowok itu tulus. Apakah Del benar benar cinta padanya?


Ah... pertanyaan yang susahnya melebihi soal fisika. Bikin Killa pusing sendiri mencari jawaban yang gak ada kunci jawabannya.


Enggak, enggak, aku gak boleh baper. Gumam Killa dalam hati.


Bohong sekali kalau cintanya pada Del sudah hampir reda. Kenyataanya cinta itu masih ada walaupun tak sederas dulu. Hanya saja Killa membentengi diri sendiri. Berusaha sekuat tenaga untuk menjauh dari makhluk ciptaan Tuhan yang bernama Delmar. Karena apa? karena dia ingin menjauhkan diri dari luka.


Satu kalimat yang dipegang Killa saat ini adalah. Cinta gak harus memiliki. Dia yakin, jika bertahan dengan cintanya pada Del bukanlah keputusan yang tepat. Karena pada kenyataannya. Cowok itu selalu melukainya lagi dan lagi. Pesan dokter, dia gak boleh stress, tekanan darahnya gak boleh naik terus. Dan oleh sebab itu, dia harus menjauh dari Delmar. Menjauh dari pusat luka.


"Lo kenapa, kayak banyak pikiran? mikirin Kak Del atau mikirin gosip tentang diri lo yang jadi baby?" Tanya Shani saat Bel pulang baru saja berbunyi.


"Kak Del bilang, dia cinta sama aku."


"What!" Pekik Shani. Dia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Menurut kamu, dia beneran cinta sama aku atau cuma pura pura?"


"Dia itu buaya, gak usah dipercaya omongannya. Dari pada lo mikirin tuh buaya. Mending lo lempar aja tuh cowok ke penangkaran." Shani memang tak pernah mendukung hubungan Killa dan Delmar.


"Bisa aja kamu." Killa geleng geleng melihat ekspresi Shani yang memperlihatkan ketidak sukaanya pada Del.


"Lo masih ngarep tuh buaya? katanya udah move on."


"Aku gak ngarepin dia. Aku udah ikhlas ngelepasin dia."


"Bagus, lepasin dia kayak lo ngelepasin upil dari lubang hidung."


"Kok gitu?" Killa tak paham.


"Setelah tuh upil lepas dan lo buang, gak bakal kan lo cariin lagi."


"Hem." Jawab Killa sambil tersenyum absurd.


"Ya udah, Yuk pulang?"


Killa mengangguk lalu membereskan semua peralatan sekolahnya. Mereka keluar kelas bersama dan baru berpisah saat Shani masuk keparkiran sedangkan Killa menuju pintu gerbang.


DORRR


"Aww.. " Pekik Killa sambil memegang dadanya. Rasanya jantungnya mau copot karena terkejut. Siapa yang tak kaget jika tiba tiba ada yang menepuk kedua bahunya dan teriak dor didekat telinga.


"Kaget ya?" Tanya seorang cowok yang berada dibelakang Killa.


"Kak Fando." Ucap Killa saat Fando pindah posisi didepannya. "Kok bisa tiba tiba disini?"


"Gue kan kayak jailangkung. Datang gak dijemput, pulang gak diantar."


"Ada urusan di sekolah?" Tanya Killa. Maklum kadang alumni masih ada kepentingan mengurus sesuatu di sekolah.


"Ada, jemput lo."


"Hah." Killa mengernyit bingung.


"Gue sejak tadi nungguin lo di pos satpam. Daripada nunggu diluar panas. Mending ngobrol di pos sama Pak Arya." Karena alumni, Fando mengenal dekat para satpam disekolah.


"Yuk gue anter pulang." Fando langsung menarik tangan Killa menuju gerbang. Motor cowok itu memang diparkir diluar gerbang sekolah.


Killa ingin melepaskan cekalan tangan Fando. Sayangnya cowok itu tak membiarkan tangan Killa lepas.


Killa mengedarkan pandangannya. Sial, Lagi lagi dia menjadi pusat perhatian.


Fando mengambil helm dan segera memakaikan dikepala Killa.


"Aku udah dijemput kak." Tolak Killa sambil menahan tangan Fando yang ingin mengaitkan pengait helm.


"Siapa yang jemput lo?" Fando mengedarkan pandangannya.


"Supir."


"Ya udah, bilang gih sama sopir kamu kalau pulangnya gue anter."


"Aku pulang sama supir aja ya kak." Killa melepaskan helm yang sudah bertengger dikepalanya.


"Ada hal penting yang pengen gue omongin. Ini tentang Laura. Lo pasti ingin dapet vidio Full yang kemarin viral itu kan?"


Killa seketika berubah antusias. Jujur, dia butuh vidio itu untuk mengembalikan nama baiknya.


"Ikut gue ya?" Ajak Fando.


"Kemana?"


"Ke hotel."


"What!" Pekik Killa sambil melotot.


"Becanda, serius amat nanggapinya. Kita cari tempat nongkrong yang enak. Gimana kalau ke cafe langganan gue aja?"


"Jauh gak?"


"Lumayan."


"Ya udah." Akhirnya Killa mengiyakan ajakan Fando. Dia mengirim pesan pada Pak Joe kalau ada kegiatan Disekolah dan menyuruh pria itu pulang dulu, tak usah menunggunya.


...******...


"Mau pesen apa?" Tanya Fando sambil menyerahkan buku menu pada Killa.


Killa membacanya sekilas. "Roti bakar tuna sama orange jus." Killa gak mau jaim, dia memang selalu lapar saat jam pulang sekolah.


Fando segera memanggil pelayan dan menyampaikan pesanannya dan Killa.


"Dari mana kakak tahu masalah vidio itu?" Killa langsung ke pokok masalah.


"Gue alumni Kil, dan gue masih follow akun @lambe_48."


"Lalu darimana kakak tahu jika vidio itu editan, bukan vidio Full?"


"Gue pernah bilangkan buat hati hati sama Laura? Gue tahu dia gimana. Lihat ini."


Fando menyerahkan Ponselnya pada Killa. Disana terlihat skrinshot obrolan antara Laura dengan seseorang yang dia panggil Gre. Killa yakin, jika orang itu adalah Greta. Dengan jelas, mereka membahas tentang kesuksesannya menjebak Killa dan tentang pengeditan vidio.


"Darimana kakak dapat ini?" Killa terlihat shock. Dugaannya benar, Greta adalah orang dibalik mengambilan vidio itu.


"Dari temen gue. Dia seorang hacker. Dulu dia juga yang bantuin nyeselaiin masalah Jessica."


"Apa yang sebenarnya Laura lakukan sama Kak Jessica?" Killa sangat penasaran.


"Lo gak perlu tahu. Itu masalah mereka. Tapi untuk masalah lo, gue janji bakal bantu sampai dapet vidio fullnya. Kayaknya Si Laura gak nyimpen vidio itu."


"Greta, aku yakin dia yang nyimpen vidio itu." Ucap Killa penuh penekanan.


"Makan dulu." Titah Fando saat pesanan mereka datang.


Killa mengangguk lalu menyesap orange jusnya.


"Besok malem lo ada acara?" Tanya Fando.


"Enggak, kenapa?"


"Temenin gue ke ultah temen."


"Gak bisa." Tolak Killa sambil menggeleng..


"Ya udah, kalau gitu gue juga gak bisa bantuin lo dapat vidio itu. Dan ss percakapan tadi bakal langsung gue hapus sekarang." Ancam Fando sambil membuka ponselnya.


"Jangan." Teriak Killa saat Fando ingin menghapus ss tadi. "Kirim dulu ke Killa."


"Bakal gue kirim, tapi gak gratis." Ujar Fando sambil menyeringai kecil.


"Pamrih banget sih. Makanan ini ditraktir apa bayar sendiri sendiri?" Kesal Killa.


"Makanannya gratis, gue gak sepelit itu kali. Masak ngajak cewek keluar gak modal." Jawabnya sambil tertawa ringan. "Bisa ya, besok temenin gue?" Pintanya lagi. Tapi terdengar seperti sebuah paksaan bagi Killa.


"Jam berapa?"


"8 malam."


"Aku harus pulang sebelum jam 10."


"Astaga Manis. Lo itu udah gede, masak jam malam jam 10? jam 12 ok?" Fando malah mengajaknya bernegosiasi.


"Kalau mau, jam 10. Kalau enggak, ya udah. Lagian aku udah terlanjur kena skors. Biarlah kasus itu ditutup aja." Killa sok gak butuh. Padahal dia butuh banget ss tadi dan vidio untuk mengembalikan nama baik dan memberi Laura pelajaran.


"Ok deh jam 10."


"Tapi janji dulu. Gak boleh pegang pengang. Apalagi nyium kayak dulu." Tegas Killa sambil menatap tajam ke arah Fando.


Fando membuang nafas kasar sambil menggaruk tengkuknya. Kayaknya ini cewek paling ribet, paling banyak syarat dibandingkan semua cewek yang pernah dekat dengannya.


"Masak pegang tangan aja gak boleh sih?"


"Boleh."


"Yess."


"Tapi pas nyebrang jalan doang."


"Busyet, gitu amat."


"Kalau gak mau ya udah." Killa sok jual mahal.


"Pegang tangan boleh pas nyebrang. Kalau cium, boleh pas apa?" Godanya sambil menaikkan satu alis.


"Pas dirumah."


"Dirumah kamu?" Wajah Fando tiba tiba berseri seri.


"Aku dirumah aku, kamu dirumah kamu."


"Loh, terus gimana nyiumnya?"


"Kiss bye, via telepon."


"Njirrr, itu sih namanya bukan ciuman." Ujar Fando sambil membuang nafas kasar.


"Ya udah, gimana, setuju gak sama syaratnya?"


"DEAL." Fando mengulurkan tangannya kearah Killa dan langsung dijabat oleh cewek manis itu.