
Sepertinya akan sulit mengambil hati Killa kembali. Tapi sesulit apapun, akan Delmar lakukan demi anaknya. Alibi, sebenarnya bukan hanya demi anaknya, lebih kepada demi dirinya sendiri.
Tak sengaja mata Del melihat pedagang bakso tenda dipinggi jalan yang terlihat begitu ramai. Dia tahu kalau Killa sangat menyukai bakso. Dan mungkin, cewek itu tak akan menolak jika ditawari makan bakso.
Del menghentikan mobilnya didekat warung bakso tersebut.
"Bakso bakar iga." Del membaca tulisan yang tertera di tenda berwarna oranye itu sedikit keras. Dengan tujuan agar Killa yang sejak tadi fokus pada ponsel sedikit mengangkat wajahnya.
Ternyata, usahanya berhasil, Killa yang sedang fokus pada ponsel mengangkat wajahnya.
Killa melihat warung tenda bertuliskan bakso bakar iga yang lumayan ramai. Seketika dia menjadi lapar, bukan lapar lebih tepatnya. Tapi beringin makan, alias napsu makannya otomatis naik berkali kali lipat.
"Mau?" Tanya Del saat melihat Killa menelan ludah. "Kalau pengen, jangan ditahan, entar anak kita ileran."
Walaupun berat, akhirnya Killa mengangguk. Membuat Del seketika tersenyum melihatnya.
Del melepas seltbelt nya. Begitu pula dengan Killa. Tapi saat Killa hendak membuka pintu, Del menahan tangannya.
"Kenapa?" Tanya Killa..
Del memperhatikan penampilan Killa. "Lo serius mau turun?"
"Emangnya kenapa?"
"Rambut lo basah. Trus gak pakai daleman. Mending gue beliin aja, lo tunggu disini."
"Gak papa kak, gak enak kalau makan bakso gak ditempatnya langsung."
Tapi bukan Delmar namanya jika otak mesumnya gak traveling kemana mana. Dia malah membayangkan yang enggak enggak.
"Yuk." Ajak Killa.
"Enggak, gue aja yang kesana. Lo tunggu disini."
"Tapi."
"Gak usah tapi tapian. Lo gak pakai cd. Gimana kalau disana ada semut, terus gigit anu lo." Ucapan Del membuat mata Killa seketika melotot. "Masih mending kalau semut, kalau ada ular?"
Killa langsung merinding. Pikirannya langsung kemana mana. Membayangkan sesuatu yang buruk.
"Cuma ular gue aja yang boleh masuk kesana." Goda Del sambil mengedipkan sebelah mata.
"Tunggu sini ya, gue beliin."
Killa mengangguk lalu menutup kembali pintunya. Ogah sekali dia kalau beneran sampai digigit semut apalagi ular.
Tak lama kemudian Del datang membawa dua sebuah kursi plastik yang ditumpuk. Baksonya?
Tenang, dibawain Penjualnya pakai nampan, hehehe.
Melihat itu Killa buru buru membuka pintu. Del meletakkan kursi plastik itu didekat pintu lalu duduk disana.
"Duduk sini." Ujar Del sambil sambil menepuk kursi disebelahnya.
Del meletakkan dua botol air mineral dipangkuannya lalu mengambil semangkok bakso untuk Killa yang sudah duduk. Setelah itu dia mengambil punyanya. Dibawah mangkok bakso itu diletakkan piring plastik agar tak terlalu panas.
"Kok beda?" Tanya Killa saat melihat baksonya dan milik Del berbeda. Miliknya terlihat tanpa saos, dan setelah diincip rasanyapun tidak terlalu pedas.
"Bumil gak boleh makan pedas." Jawab Del.
"Tapi gak enak, ini gak pedes sama sekali. Terus gak ada sausnya." Protes Killa sambil mengaduk aduk baksonya.
"Tinggal makan aja gak usah protes kenapa sih Kil."
Killa mendengus lalu memakan baksonya. Sesekali dia melirik punya Del. Nikmat sekali tampaknya, Del saja sampai fokus banget makannya. Membuat Killa menelan ludahnya.
"Ngincip punya kamu." Ujar Killa.
"Nih, dikit aja tapi." Jawab Del sambil menyodorkan baksonya kearah Killa.
Dengan senyum mengembang, Killa segera menyendok kuah bakso milik Del dan memakannya.
Benar saja, milik Del lebih enak. Lebih pedes dan rasanya itu sangat pas percampuran antara, saus, kecap dan sambelnya.
"Enak." Ujar Killa sambil mengambil satu sendok lagi. Rasanya dia ingin menghabiskan bakso milik Del.
"Udah gak usah banyak banyak." Del buru buru menjauhkan baksonya dari Killa. Membuat Killa seketika cemberut karena belum puas.
"Pedes, minum." Ujar Killa sambil mendesis mengurangi rasa pedas yang membakar lidah dan mulutnya.
"Nih ambil." Del mengangkat sedikit baksonya agar Killa bisa mengambil air mineral yang ada dipangkuannya.
Killa memangku baksonya lalu mengambil air mineral di pangkuan Del.
"Uh.. " Del meringis.
"Kenapa?"
"Sengaja ya nyenggol. Pengen digigit uler?" Goda Del sambil menaikkan satu alisnya.
"Tanggung jawab, bangun." Ujar Del sambil melihat Killa lalu beralih melihat miliknya.
"Apaan sih, gak jelas." Omel Killa sambil lanjut makan bakso.
"Ih ngeles, tanggung jawab beb."
"Beb?" Killa melotot. Jelas saja Killa gak suka dipanggil beb. Panggilan itu mengingatkannya pada Laura.
"Terus mau dipanggil apa?"
"Ya nama aku lah, orang aku punya nama."
"Gak ada seninya kalau manggil nama. Kurang gimana gitu, kurang spesial. Ya udah gue panggil sayang aja."
"Enggak, gak mau."
"Ya udah honey kalau gitu."
"Aku gak suka kak. Panggil nama aja." Sahut Killa sambil melotot.
"Gimana kalau aku panggil Bi?"
"Bee? lebah maksud kamu? Aku galak, suka nyengat kayak lebah gitu maksud kamu?" Protes Killa.
"Dih, gak usah marah marah, entar darah tinggi." Killa jadi teringat pesan dokter, kalau tekanan darahnya gak boleh terus naik.
"Bi itu dari bebi, diambil belakangnya. Bukan lebah." Del menjelaskannya sambil tertawa.
"Panggil nama aja."
"Aku panggil Bi, titik."
"Maksa."
"Suka suka gue."
Setelah bakso miliknya habis, Del meletakkan mangkuknya dibawah lalu menggeser kursinya makin mepet dengan Killa.
"Ngapain sih mepet mepet." Omel Killa sambil memakan baksonya yang belum habis.
"Ada kotoran dirambut kamu." Ucap Del sambil menyentuh rambut Killa. Jangan dipikir benar benar ada kotoran, Del cuma modus aja.
"Rambut kamu wangi Bi." Del malah menciumi rambut Killa. Membuat si pemilik rambut menjauhkan kepalanya karena risih.
Bukan Del namanya kalau nyerah gitu aja. Cowok gak tahu diri itu malah menyisir rambut Killa dengan jari jarinya.
"Kak malu dilihatin orang." Protes Killa.
"Ya udah cepetan habisin baksonya. Kita lanjut didalam mobil."
"Lanjut? lanjut apaan?" Killa seketika menjadi tak tenang. Takut cowok disebelahnya itu minta yang aneh aneh.
"Ya kamu mau nya lanjut apaan?" Goda Del sambil menaik turunkan alisnya.
"Lanjut pulang." Jawab Killa seraya memasukkan suapan bakso yang terakhir.
"Masih jam segini Bi. Entar aja pulangnya, kita main dulu."
"Enggak, pulang aja. Aku ke warung bakso aja gak kamu bolehin, tapi kenapa malah diajak main. Pulang aja, dingin banget diluar."
"Emang siapa yang mau ajak kamu main diluar?" Ujar Del sambil menahan tawa. "Kita main didalam mobil." Lanjut Del sambil berbisik ditelinga Killa.
Untung baksonya udah habis , kalau belum pasti Killa udah kesedak. Gak lucukan kalau udah gede kesedak pentol.
Killa meremas gaunnya. Dia menggigit bibir bawahnya karena gelisah. Benerkan dugaanya, Del mau minta yang aneh aneh.
"Kemarin kamu sendiri yang bilang gak mau jadi istri durhaka karena nolak suami. Mau ngejilat ludah sendiri?"
Killa sungguh menyesal mengatakan hal itu kemarin. Kalau waktu bisa diputar kembali, dia gak balakan ngomong kayak gitu.
"Kak kayaknya ponsel Killa bunyi deh." Killa buru buru mengambil ponselnya didalam mobil. Jendela mobil memang terbuka, jadi Killa bisa mendengar suara ponselmya.
Killa melihat vc dari mama mertuanya.
"Hallo mah." Ujar Killa saat sambungan terhubung.
"Sayang kamu dimana?" Tanya Rain.
"Dia sama Del mah." Ujar Del yang baru saja merebut ponsel dari tangan Killa.
Melihat wajah Del di layar ponsel membuat Rain lega. Membiarkan anak cewek berada diluar malam malam membuatnya cemas.
"Mama seneng kalau kamu sama Killa. Jagain dia ya sayang."
"Gak disuruhpun pasti Del jagain mah. Ya udah Del mau pacaran dulu." Del langsung menutup panggilan telepon. Dasar anak gak ada akhlak, gak pakai basa basi langsung main tutup aja.