DELMAR

DELMAR
KAYAKNYA SUKA



Killa dan Fando segera mencari meja kosong sesampainya mereka di kantin. Rupanya kedatangan mereka menyita perhatian siswa lain. Fando memang sangat populer dulu saat masih sekolah di SMA 48, jadi hampir semua anak kelas XI dan XII mengenalnya.


"Siapa tuh yang sama Kak Fando?"


"Itu ceweknya kak Fando?"


"Itu Killa kan yang sama Kak Fando?"


Selentingan selentingan kecil sedikit mengganggu indra pendengaran Killa. Tak hanya itu, tatapan para siswi perempuan juga terlihat aneh, seperti mau menguliti Killa hidup hidup.


"Gak usah didengerin." Ujar Fando yang melihat Killa merasa sedikit tak nyaman. "Lo mau makan apa? biar gue pesenin?"


"Bakso."


"Ya udah, tungguin bentar ya."


Fando segera menuju gerai bakso dan memesan untuknya dan Killa. Terlihat Beberpaa siswi menyapa Fando disana. Ada juga yang terang terangan tebar pesona, hingga membuat Killa yang melihat geleng geleng.


Sesaat kemudian Fando kembali dengan 2 porsi bakso dan 2 es teh diatas nampan.


"Makasih." Ujar Killa saat Fando meletakan bakso dan es teh didepannya.


"Jadi lo pacarnya adiknya Delmar?" Tanya Fando sambil menaruh kecap dan sambal diataa baksonya.


"Iya." Jawab Killa datar lalu menyedot es teh yang terlihat menyegarkan.


"Gak nyangka, ternyata selera lo berondong." Ujar Fando sambil tertawa kecil.


Killa tak begitu menanggapi, dia malah sibuk memakan baksonya.


"Gak pengen coba pacaran sama yang lebih dewasa? misalnya kayak kakak kelas, atau __"


"Mahasiswa kayak kakak." Sahut Killa.


"Tuh pinter." Fando terkekeh kecil sambil melihat Killa yang makannya lahap.


"Aku lebih suka cowok yang manja daripada yang dewasa."


"Gitu ya." Fando garuk garuk kepala. Gak nyangka jika ada spesies wanita yang lebih suka cowok manja, padahal rata rata suka cowok dewasa, pikirnya.


"Sebenarnya gue ini manja loh, terutama kalau dirumah. Kalau diluar aja gue sok dewasa." Fando mulai modus.


"Masak sih?"


"Iya, kalau lo mau, kapan kapan gue ajak main kerumah. Nyokap gua itu baik banget, lo pasti cocok sama dia." Ajak Fando bersemangat. Tapi yang diajak kelihatan lempeng aja tak menanggapi. Killa justru terlihat lebih semangat memakan bakso.


"Kalau kurang boleh nambah kok." Ujar Fando sambil memperhatikan Killa makan.


Memdengar ucapan yang seperti ledekan membuat Killa menghentikan makan lalu menatap Fando. Mangkok bakso milik Fando terlihat masih penuh, sedang milik Killa sudah hampir habis separo.


"Ilfeel lihat aku makan?" Tanya Killa.


"Enggak kok. Gue gak keberatan punya cewek doyan makan. Gak keberatan juga buat nraktir tiap hari."


Siapa juga yang mau jadi cewek lo, batin Killa.


"Emmm, boleh minta nomor HP lo gak?"


"Enggak." Jawab Killa cepat tanpa mikir.


"Pelit banget sih."


"Cowok aku posesif, dia gak ngijinin aku kasih nomor telepon ke cowok." Killa berkilah.


"Tinggalin aja cowok kayak gitu. Mending pacaran sama gue." Kata Fando sambil menaik turunkan alisnya.


"Maaf, aku tipe cewek setia."


Fando terkekeh mendengarnya.


"Kenapa, ada yang lucu?"


"Elo Naksir Delmar ya?"


Deg


Killa langsung tersentak mendengarnya. Dia meletakkan sendok dan garpunya lalu meneguk es teh untuk mengurangi kegugupan.


"Enggak." Sangkal Killa sedikit gugup.


"Gue bisa lihat dari mata lo. Gue tahu lo tadi sakit hati saat Delmar sama Laura. Gak usah bohong. Sok sok an bilang setia. Jadi pacar adiknya, tapi naksir kakaknya." Fando geleng geleng.


"Gak usah sok tahu."


"Bukan sok, tapi emang tahu."


"Aku sudah selesai." Killa segera berdiri dan ingin pergi tapi ditahan oleh Fando. Terlihat seklai raut kesal diwajah Killa.


"Sori kalau ucapan gue keterlaluan."


"Lepas, aku mau balik ke kelas." Ucap Killa sambil menarik narik tangannya.


"Duduk kembali atau gue gak bakal lepas tangan lo." Ancam Fando. "Lo gak liat, sekeliling pada merhatiin kita?" lirihnya sambil menatap tajam Killa.


Seketika Killa sadar, jika dia menjadi pusat perhatian sekarang. Akhirnya Killa mengalah dan kembali duduk.


"Mending buang rasa lo jauh jauh. Jangan berurusan dengan Laura. Cewek itu gak sinting. Lo belum tahu aja apa yang pernah dia perbuat ke Jessica." Jessica adalah mantan pacar Fando yang pernah dekat dengan Delmar.


"Emang apa?" Killa terlihat penasaran.


"Elo gak perlu tahu, cuma perlu hati hati sama cewek itu. Atau kalau bisa, jangan berurusan dengannya." Peringat Fando.


"Hei lo sini." Panggil Fando kepada seorang siswi yang duduk tak berapa jauh darinya. Cewek itu segera bangkit lalu menuju meja Fando dan Killa.


"Ada apa kak?" Tanya cewek yang terlihat gugup itu. Dia tampak salah tingkah berada didepan Fando.


"Pinjem bolpoin." Ujar Fando pada cewek yang terlihat membawa tas itu.


"Oh.. " Cewek itu terlihat kecewa, Di segera membuka tasnya dan mengeluarkan bolpoin lalu menyerahkannya pada Fando.


Fando menarik tangan Killa yang berada diatas meja.


"Apaan sih." Killa berusaha menarik tangannya saat Fando ingin menulis sesuatu dilengannya.


"Diem bentar." Fando menuliskan nomor ponselnya dilengan Killa. "Save nomor gue. Kali aja suatu saat nanti, lo butuh bantuan gue. Gua bakal selalu siap buat bantu lo. Kalau lo putus, gue juga siap jadi cowok lo." Ujar Fando sambil tersenyum..


Fando melepaskan tangan Killa setelah selesai menulis nomor ponselnya.


...******...


Fando memberhentikan motornya didepan rumah Shani. Hari ini cowok itu memaksa mengantar Killa pulang. Dia menghadang motor Shani diparkiran sekolah. Tak membiarkan cewek yang tengah membonceng Killa itu untuk keluar dari area parkir sekolah.


Dengan terpaksa Killa mengikuti kemauan Fando. Menolak cowok sinting itu hanya akan memperlambat kepulangannya bersama Shani.


"Jangan lupa save nomor gue. Gue tunggu chat dari lo Malem ini. Bye Manis." Ujar Fando sambil memberikan kiss bye.


Killa menatap muak kearah cowok itu lalu segera masuk kedalam rumah Shani.


"Kok lo bisa kenal Kak Fando sih Kil?" Tanya Shani penasaran. Belum terjawab penasarannya tenang hubungan Killa dengan Delmar, sekarang sudah ditambah Fando.


"Ceritanya panjang, sampai besokpun gak bakal kelar kalau aku ceritain." Jawab Killa sambil meletakkan tasnya dimeja belajar Shani lalu rebahan diranjang milik sahabatnya itu.


"Sepanjang apa sih emang? Rel kereta api?"


"Lebih panjang lagi." Jawab Killa asal. Dia malas saja membahas soal Fando. Tujuannya kesini adalah untuk membahas tentang Del, bukan Fando.


"Eh Kil, beneran ya gosip yang gue denger tadi. Katanya Kak Del sama Kak Fando berantem di Uks rebutan lo?" Tanya Shani sambil ikut rebahan disebelah Killa.


Killa menghela nafas lelah. Tak menyangka jika gosip itu sudah menyebar dengan cepat.


"Gue kayak gak kenal lo deh Kil. Gue gak tahu kalau lo udah sedeket itu dengan Kak Del. Dan yang lebih bikin gue bingung, lo juga kenal sama Kak Fando."


Killa masih setia diam, tak tahu harus cerita dariimana.


"Btw, Lo mau minum apa, biar gue buatin."


"Gak usah, aku udah ada air minum ditas."


"Bagus deh, biar gue gak capek capek buatin minum." Jujur Shani sambil nyengir.


"Dasar pemalas." Cibir Killa sambil menjitak kepala Shani.


"Oh iya, ngomongin soal HP baru lo. Lo dapet uang dari mana?" Shani hampir mati penasaran.


"Dari ngepet. Bokap gue ngepet, gue bagian jagain lilin." Jawab Killa santai sambil menatap langit langit kamar Shani.


"Busyet dah, gue nanya serius lo malah ngajak becanda." Kesal Shani sambil melirik Killa.


"Dari Kak Del."


"Tuh kan becanda mulu. Gue nanya serius bambang." Shani yang kesal langsung menjitak kepala Killa.


"Sakit tauk." Protes Killa sambil mengelus kepalanya. Tak seperti Killa tadi yang menjitaknya pelan, Shani justru menjitak dengan kuat.


"Makanya kalau ditanya itu jawabnya yang bener." Omel Shani sambil melotot gemas.


"Aku udah nikah sama Kak Del."


"Halu nih anak." Shani memutar kedua bola matanya jengah. Jengah pada Killa yang bucin setengah mati pada Delmar hingga berujung pada kehaluan tingkat dewa.


Shani mengubah posisinya menjadi duduk lalu meletakkan punggung tangannya dikening Killa. "Lo gak lagi demamkan? ngelantur omongan lo."


Killa membuka kunci ponselnya lalu memberikan pada Shani. "Lihat galery aku."


Shani segera mencari galery dan membukanya. Kedua mata Shani membulat sempurna melihat foto foto Del dengan Killa yang terlihat mesra.


"Gue gak nyangka udah sejauh ini hubungan lo sama kak Del." Ujar Shani sambil terus menscrol foto foto di galeri HP Killa.


Killa meraih satu telapak tangan Shani lalu meletakkan diatas perutnya. "Aku hamil Shan."


"What!" Pekik Shani sambil langsung menarik tangannya dari perut Killa. "Elo becanda kan Kil?" Shani menatap tak percaya ke arah Killa. Ini lebih mengejutkan daripada tersengat listrik.


Killa menggeleng lalu mengubah posisinya menjadi duduk. Matanya mulai berkaca kaca.


"Aku hamil anak Kak Del." Lirih Killa sambil mengelus perutnya.


Shani menatap Killa cengo. Dia masih belum bisa percaya dengan semua ini. Terdengar sangat mustahil jika cewek baik dan gak neko neko kayak Killa, hamil diluar nikah.


Killa menceritakan semuanya pada Shani. Mulai dari awal mula Del melecehkannya hingga dia hamil lalu mereka menikah.


Shani memeluk Killa yang sedang menangis. Dia tak menyangka jika sahabatnya mengalami hal yang sangat berat. Dan sebagai sahabat, dia merasa tak berguna. Dia bahkan tak tahu apa apa saat Killa benar benar terpuruk.


"Elo yang sabar ya Kill." Ujar Shani sambil mengelus punggung Killa yang sedang menangis.


Obrolan mereka terhenti saat ponsel milik Killa berdering. Ternyata Delmar yang menelepon.


"Lo dimana?" Tanya Del langsung saat Killa baru menganggat teleponnya.


"Dirumah temen."


"Gak usah bohong." Bentak Del sangat keras hingga telinga Killa terasa berdengung.


"Killa gak bohong."


"Berhenti bohongin gue. Gue tahu lo pulang sekolah bareng Fando. Share loc, gue jemput sekarang."


Tut tut tut Delmar langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Killa hanya bisa mengelus dada lalu mengirim lokasi kepada Del.


"Kak Del?" Tanya Shani penasaran.


"Hem." Jawab Killa sambil mengangguk. "Dia mau jemput aku."


"Kayaknya dia suka sama lo Kil."


"Suka darimananya, orang dia ngamuk ngamuk barusan. Dia nuduh aku jalan sama Kak Fando."


"Itu tandanya dia cemburu bambang. Dia suka sama lo."


Killa hanya bisa tersenyum kecut mendengar kesimpulan Shani.


"Bukan cemburu Shan, dia gak ngebolehin aku deket sama cowok karena gak ingin sampai ada yang tahu kalau aku hamil anak Kak Del."


"Gue gak yakin itu alasan utamanya Kil. Dilihat dari foto kalian tadi, kayaknya Kak Del beneran suka sama lo."


"Aku gak yakin." Sahut Killa sambil mengedikkan bahu.