
"Maaf saya terlambat."
Semua orang diruangan itu kompak menoleh saat mendengar suara seseorang dari ambang pintu.
"Mas Fariz." Desis Killa dengan mata berbinar. Dia tak menyangka jika kakaknya datang. Kakak yang dia rindukan beberapa bulan ini, hari ini datang untuknya. Membuat Killa sedikit merasa tenang, setidaknya dia tidak sendiri.
Fariz menyalami semua orang disana lalu duduk disamping Killa.
"Gak usah takut." Ucap pria itu sambil menggenggam tangan adiknya yang terasa dingin. Fariz bisa melihat ketakutan diwajah Killa.
Pembicaraan itu kembali dilanjutkan. Mama Laura mendesak Kepsek untuk mengeluarkan Killa. Tapi beruntung, Fariz, Bu Dea dan Bu Asti mati matian membela Killa. Selama sekolah disini, Killa memang tak pernah punya sejarah berkelakuan buruk. Hal itu juga menjadi pertimbangan kepala sekolah.
Kepala sekolah mengambil keputusan final, dan hasilnya, Killa diskors selama seminggu, terhitung mulai hari ini. Lebih baik daripada dikeluarkan. Walaupun ini juga tak adil buat Killa, mengingat dia tidak bersalah disini.
"Makasih Mas udah mau datang." Ucap Killa setelah mereka keluar dari ruang guru.
"Maafin mas ya dek." Ucap Fariz sambil membelai puncak kepala Killa. "Ayo mas anter pulang, kita ngobrol dijalan aja." Lanjutnya sambil menggandeng Killa menuju tempat parkir.
"Kakak pakai mobilnya ayah?" Tanya Killa saat mereka sampai diparkiran. Fariz hanya mengangguk lalu membukakan pintu untuk Killa.
"Emangnya ayah gak kerja?"
"Ayah sakit, dia dirawat di rumah sakit sekarang."
"Sakit!" Killa terkejut. "Sakit apa?"
"Gagal ginjal."
Killa membekap mulutnya sendiri, tak menyangka jika ayahnya yang tampak sehat ternyata mengalami gagal ginjal.
"Killa mau nengokin ayah." Lirihnya dengan mata berkaca kaca. Bagaimanapun perlakuan ayahnya dulu, dia tetap ayahnya.
Fariz mengangguk lalu menyalakan mesin mobilnya. Mereka berdua keluar dari area sekolah menuju rumah sakit.
"Bagaimana kabar kamu? kamu baik baik sajakan?" Tanya Fariz sambil melirik ke arah Killa yang duduk di kursi penumpang disebelahnya.
"Baik mas." Jawab Killa sambil tersenyum. Walaupun sebenarnya tidak baik baik saja, tapi biarlah hanya dia sendiri yang tahu.
"Calon keponakan mas, gimana kabarnya?"
"Baik juga." Jawab Killa sambil mengelus perutnya.
"Maaf, mas gak tahu apa apa soal kamu. Mas terlalu sibuk skripsi sampai tak pernah menanyakan kabar kamu." Terlihat sekali raut penyesalan diwajah Fariz. "Dan kamu juga kenapa gak pernah ngehubungin mas?"
"Killa gak mau mengganggu Mas Fariz yang sedang fokus skripsi."
"Suami kamu, memperlakukan kamu dengan baik kan?"
"Hm , iya."
"Jangan sembunyikan apapun lagi dari mas. Kamu adik mas satu satunya. Mas gak mau menyesal karena gagal menjadi kakak yang baik untuk kamu." Ujar Fariz sambil menggenggam jemari yang ada dipangkuannya Killa.
"Saat mendengar kamu hamil karena diperkosa, mas merasa sangat bersalah. Mas tidak bisa melindungi kamu. Mas gagal menjadi kakak, mas gagal memenuhi janji mas sebagai guardian angelnya Killa." Fariz terlihat berkaca kaca.
"Bukan salah mas. Mas udah menjadi guardian angelnya Killa selama bertahun tahun. Killa sayang sama mas." Lirih Killa dengan suara terputus putus karena menahan tangis.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Fariz tiba dirumah sakit dimana ayah mereka dirawat.
Killa mengintip ayahnya dari celah pintu. Fariz tak mengijinkan dia masuk mengingat ayahnya masih belum bisa menerima Killa. Dia melihat ibunya sedang menyuapi pria paruh baya yang tampak lemah itu. Mata Killa berkaca kaca, ingin rasanya dia masuk dan memeluk keduanya.
Ayahnya Memamg jauh dari kata ayah yang baik. Tapi dia tetap sosok ayah bagi Killa.
"Mas harap, kamu bisa memaafkan ayah, ibu dan juga mas." Ucap Fariz sambil menyentuh pelan kepala Killa.
Fariz menarik lengan Killa dan mengajaknya duduk disebuah bangku panjang.
"Ibu sangat merindukan kamu."
"Bohong, ibu bahkan tak peduli sama Killa. Ibu memblock nomor HP Killa dan bahkan saat itu, ibu langsung menutup pintu saat Killa ada didepan rumah."
"Enggak." Fariz menggelengkan kepalanya. "Ibu terpaksa. Ayah menekan ibu, dia mengancam tidak akan menafkahi ibu jika ibu masih berhubungan dengan kamu. Ayah juga mengancam tidak akan membiayai kuliah Mas. Maafkan Mas, demi biaya kuliah Mas, ibu mengabaikanmu."
Fariz membawa Killa dalam pelukannya. Dia sangat merasa bersalah. Seharusnya dia lebih perhatian dengan adiknya itu.
"Mas Fariz kapan datang ke Jakarta?"
"Kemarin, dua hari yang lalu ibu menelepon jika ayah masuk rumah sakit. Oh iya, Mas udah lulus skripsi, walaupun belum wisuda, alhamdulillah mas udah diterima kerja ditempat magang dulu."
"Bagus dong Mas."
"Tapi karena itu juga, mas gak bisa lama disini. Mas harus segera kembali ke Malang. Sebagai pegawai baru, mas gak boleh terlalu sering mengambil cuti. Kamu mau ikut? Anggap saja jalan jalan, daripada kamu gak ngapa ngapain selama seminggu ini."
"Apa tidak merepotkan Mas?" Killa masih ragu.
"Enggak. Mas justru senang kalau Killa mau ikut. Ntar mas ajak jalan jalan keliling Malang. Kita lama tidak quality time berdua. Mas cariin tiket dulu, penerbangannya nanti sore, semoga saja masih ada tiket." Fariz mengambil ponselnya untuk membeli tiket.
Killa mengangguk, sepertinya dia memang butuh refresing. Terlalu banyak masalah akhir akhir ini yang membuatnya lelah. Dia butuh mood booster.
...******...
Delmar memasuki kamarnya. Tidak ada tanda tanda keberadaan Killa didalamnya. Melihat tas sekolah Killa sudah ada diatas meja, Del pikir Killa pasti ada dikamar tamu. Sudah menjadi kebiasaan cewek itu kalau ngambek tidur dikamar tamu.
Del tidur setelah beberapa saat bermain ponsel. Dan ketika dia terbangun, hari sudah gelap.
Del turun kebawah, dia melihat keluarganya tengah berkumpul untuk makan malam. Tapi ada yang janggal, tidak ada Killa disana.
"Dimana Killa? apa dia makan dikamar?" Del bermonolog sambil berjalan kearah meja makan lalu mengambil sebuah apel hijau disana.
"Kakak gak laper apa setiap malam gak pernah makan?" Tanya Cea sambil menoleh ke arah Del yang duduk disebelahnya.
"Enggak." Jawab Del datar sambil memakan apelnya.
"Ngelihat Kak Del makan apel jadi pengen ke malang nyusulin kak Killa. Asyik kali ya kalau kita berwisata petik apel disana." Cea membayangkan berjalan jalan dikebun apel.
"Malang? Killa di Malang?" Del tampak terkejut..
"Loh kamu ga tahu Del? Mama pikir Killa udah ijin sama kamu." Rain menghentikan makannya dan menatap intens ke arah Del.
Sean terlihat geleng geleng. Dia yakin anaknya itu sedang ada masalah dengan istrinya.
"Emangnya dia ngapain ke Malang?" Setahu Del Killa sudah tak punya siapa siapa. Jadi untuk apa dia pergi ke Malang?
"Tadi abangnya Killa kesini. Dia bilang mau ngajak Killa ke malang karena ada kepentingan keluarga. Killa bilang dia udah ijin ke sekolah selama satu minggu." Rain menjelaskan. Tadi siang Killa memang datang bersama Fariz untuk pamitan pada Rain. Rain bahkan sempat memberikan uang saku kepada Killa selama dia di Malang.
" Dia diskors, bukan ijin." gumam Delmar dalam hati.
Kabar Killa diskors sudah Del dengar dari Laura siang tadi.
Delmar segera meninggalkan meja makan dan kembali kekamarnya. Dia mengambil ponsel untuk mengirim pesan pada Killa. fyi, Del udah mengembalikan ponsel Killa yang sempet dia sita dulu.
Lo ke Malang kok gak ijin sama gue?
Udah gak nganggep gue suami lo?
Satu menit, dua menit, sepuluh menit, hingga satu jam belum juga ada balasan dari Killa. Bahkan pesannya masih tetap centang satu.