DELMAR

DELMAR
MOVE ON



Del melihat sepasang kaos kaki bayi yang sangat lucu. Berwarna pink dan ada karakter hello kitty di ujungnya. Astaga, kenapa dia tiba tiba melow hanya karena melihat kaos kaki. Sepertinya ada yang salah dengannya.


Tak jauh darinya, pasutri muda terlihat tengah memilih jumper bayi. Terlihat perut si perempuan yang sudah sangat buncit, mungkin sudah sekitar 7 atau 8 bulan.


Del tersenyum saat melihat keduanya yang tengah berdebat mengenai warna jumper yang mau dibeli. Sekelebat bayangan Killa muncul dibenaknya. Apakah dia dan Killla juga akan seperti itu jika belanja kebutuhan bayi nanti?


"Yang, aku cariin kemana mana ternyata malah disini sih?" Sewot Laura yang capek mencari Del. Mereka sedang ada di departmen store sebuah mall di Jakarta.


Saat Laura sibuk memilih baju, Del yang gabut memilih berjalan melihat lihat. Hingga sampailah dia di bagian pakaian bayi dan anak.


"Udah selesai?" Tanya Del..


"Aku bingung, bagusan yang mana?" Laura menunjukkan 2 buah dress yang dia bawa.


"Ambil aja keduanya. Udah yuk ke kasir." Del menggandeng tangan Laura ke kasir lalu segera membayar belanjaan cewek itu.


"Kak aku pengen beli sepatu boleh gak?"


"Terserah kamu."


Wajah Laura makin sumringah. Dia segera mengapit lengan Del menuju toko sepatu.


Laura segera memilih sepatu, mencoba beberapa dan belum juga menemukan yang cocok.


"Yang, gak ada yang cocok disini. Kita cari di toko lain aja ya?"


"Gue capek beb. Gue tunggu di cafe ya, lo cari sendiri aja."


"Kok gitu sih yang, gak seru ah." Laura bersedekap sambil mengerucutkan bibirnya.


"Gue beneran capek beb. Nih bawa kartu kredit gue. Beli aja sepatu yang lo mau. Gue tunggu di setarbak, ok." Del menyerahkan kartu kreditnya pada Laura lalu melangkah pergi.


Laura ingin protes, tapi sudahlah. Yang penting dia udah bawa kartu kredit milik Del dan bisa shopping.


Del mengaduk kopinya sambil stalking ig milik Killa. Sudah 4 hari cewek itu ada di Malang.


Del tersenyum melihat foto Killa yang sedang makan bakso lobster. Wajah cewek itu terlihat bahagia, beda dengan Del yang galau beberapa hari ini.


Ada juga foto Killa yang sedang memberi makan burung merpati di alun alun kota Malang. Terlihat sangat Cantik dengan gaun hitam selutut. Jika diperhatikan dengan seksama, perutnya terlihat sedikit buncit.


Del terus menscrol foto Killa hingga bawah. Jarinya berhenti pada sebuah foto dimana Killa memakai seragam putih biru. Cewek itu terlihat masih sangat lugu, tapi manis dan menggemaskan.


"Kak Del."


"Iya Kil."


"Apa!" Pekik Laura sambil melotot dan mengepalkan tangannya. Siapa yang gak marah kalau dipanggil dengan nama cewek lain.


"Hei beb, udah dapet sepatunya." Del yang sadar jika keceplosan langsung berusaha mengalihkan topik.


"Kil? Apa maksud kakak nyebut nama Killa? Kamu lagi mikirin Killa?" Laura terlihat naik pitam.


"Lo salah denger beb. Gu, gue gak nyebut Killa kok. Udah duduk sini, mau kopi gak? gue pesenin ya." Del berusaha bersikap wajar agar Laura gak makin marah.


"Pulang aja, aku capek." Bukannya melunak, cewek itu terlihat makin kesal.


...******...


Malam ini Del dan genk nya kumpul di club malam milik orang tua Aiden. Del memang sudah mendapatkan kebebasannya kembali pasca ujian. Tapi untuk masalah balap liar, tetap dilarang keras oleh mamanya. Membawa Del ke jalan yang lurus memang tujuan utama Rain. Tapi semua itu butuh proses, tak semudah membalikkan telapak tangan.


"Hei bro, lama gak kesini." Sapa Aiden pada Del and the gank. Del melihat cowok itu dari atas kebawah. Katanya kakinya patah, tapi kenapa terlihat jalan dengan baik, pikirnya.


"Kaki lo gak apa apa Bro? katanya patah?" Del akhirnya bertanya.


"Kaki gue baik baik aja. Tangan gua aja yang retak dikit, jadi masih di gips." Jawabnya santai.


"Sori ya kita gak sempet njenguk. Dulu sih udah diagendakan, tapi batal." Ujar Miko. Sebenarnya dia sengaja beralasan saat itu. Dia memang tak mau menjenguk Aiden. Terlalu sakit buat dia melihat cowok yang udah tega berselingkuh dengan pacar temannya sendiri.


"Santai aja, lagian gue juga gak apa apa."


Ternyata Bener, orang jahat matinya susah. Jatuh dari lantai 2 aja dia gak kenapa kenapa. Del membatin.


"Del, gue boleh pinjem HP lo gak?" Tanya Aiden.


"Buat?" Del mengernyitkan keninganya..


"Telepon Naomi, gue kangen banget."


"Dia gak jenguk lo waktu lo sakit?" Tanya Rey.


Mendengar kata blokir, membuat Del teringat dirinya yang juga di blok oleh Killa. Dan sekarang, dia sangat merindukan cewek itu.


"Nih." Del memberikan ponselnya pada Aiden. Tak tega dia melihat Aiden yang tersiksa rindu. Mengingat dia juga sama, wkwkwk.


"Thanks bro." Aiden segera pergi untuk mencari tempat yang lebih tenang. Disana terlalu bising.


"Lo daritadi ngeliatin apa sih Man, fokus amat?" Tanya Rey.


"Killa baru upload vidio di you tube chanelnya. Dia colab sama seorang cowok nyanyiin lagu bahasa jawa. Keren, ternyata Killa bisa juga nyanyi lagu bahasa jawa." Manu menunjukkan ponselnya pada Rey.


"Elo masih aja kepoin Killa. Dia itu sukanya sama Del. Mending move on daripada lo sakit hati." Miko menasehati.


"Mungkin sekarang dia sukanya sama Del. Tapi hati bisa berubah. Bisa saja karena Del gak balas cintanya, Killa move on. Siapa tahu setelah move on dia jadian sama gue." Jawab Manu sambil melirik Del. Sebelum janur kuning melengkung, seorang Immanuel pantang menyerah. Padahal udah melengkung bang, lo nya aja yang gak tahu.


"Semoga aja, biar lo gak jadi jones terus." Ledek Rey.


"Kayak lo kagak aja." Balas Manu.


"Tapi Bener juga sih kata Lo. Hati manusia bisa berubah. Naomi yang bucin aja bisa move on." Kata Rey.


"Dari mana lo tahu kalau Nom udah move on?" Tanya Del.


"Lo gak denger tadi Aiden bilang apa? Naomi gak peduli saat dia sakit. Bahkan nomor Aiden juga udah di blok."


"Nomor diblok , belum tentu udah move on kali." Del tak terima dengan persepsi Rey, mengingat dia juga di blok oleh Killa.


"Tapi itu udah tanda tanda. Kalau bucin mah, jangankan ngeblok, gak denger suaranya sehari aja dah kayak setahun."


"Baguslah kalau Naomi udah move on. Lagian cewek mana yang betah disakitin mulu. Sebucin bucinnya cewek, kalau disakitin terus, lama lama bakal move on juga." Miko ikut berpendapat.


"Sok tahu kalian." Tiba tiba Del ngegas dan pergi dari tempat itu.


"Hobi banget ngegas cowok itu. Maknya ngidam LPG kali ya pas hamil dulu." Seru Rey sambil geleng geleng.


Setelah mengambil ponselnya dari Aiden, Del bergegas pulang. Ucapan teman temannya tadi sungguh meracuni otak Del. Sebuah pertanyaan terus mengganggu pikirannya.


Apakah Killa sudah move on?


Ah entahlah, Del makin galau kalau memikirkan itu.


...****...


Tok tok tok


"Ce, buka pintunya."


Tok tok tok


Del terus mengetok hingga akhirnya Cea membuka pintu kamarnya.


"Apaan sih Kak, ganggu orang tidur aja?" Dengusnya dengan mata yang hendak terpejam menahan kantuk. Del memang gak ada akhlak, jam 12 malam bukannya tidur malah ngerecokin Cea.


"Pinjem HP lo." Todongnya


"Emang HP kakak kenapa?"


"Bacot lo bocah, buruan." Bentak Del.


Melihat kakaknya yang tampak mabuk membuat Cea taku. Dia segera mengambil HP dan menyerahkannya pada Del.


"Untung cakep, kalau enggak, ogah gue ngakuin dia sebagai kakak." Gerutu Cea setelah Del hilang dari hadapannya.


Del menelepon Killa memakai HP Cea. Karena tengah malam, lama sekali Killa baru menganggat teleponnya.


"Hallo." Jawab Killa dari seberang sana


Del terdiam, tiba tiba lidahnya terasa kelu saat mendengar suara Killa.


"Hallo Ce, ada apa malem malem telepon?"


"I, ini gue." Jawab Del ragu ragu. "Jangan ditutup dulu." Lanjutnya. Dia seperti punya firasat kalau Killa akan menutup teleponnya.


"Gue sakit Kil, lo bisa segera pulang gak?" Ujar Del dengan suara lemah.


Tut tut tut tut


Killa memutus sambungan telepon tanpa menjawab pertanyaaan Del.