
Killa menggeliat kecil sembari membuka matanya. Tubuhnya terasa remuk sehabis olah raga semalaman. Senyum Killa mengembang saat melihat Del duduk disebelahnya sambil bermain ponsel. Melihat Del pertama kali saat dia membuka mata adalah mood booster buat seorang Akilla Luna.
"Sudah bangun?" Tanya Del saat menyadari cewek disebelahnya sedang merenggangakan otot.
"Hem.... jam berapa sekarang? kakak tumben bangun lebih dulu dari Killa." Tanyanya sambil menguap. Rasanya tidurnya masih belum cukup, masih saja ngantuk.
"Jam 11."
"Apa!" Pekik Killa yang tak menyangka jika dia bangun sesiang ini. Dia buru buru mengubah posisinya menjadi duduk sambil memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Kenapa gak bangunin Killa, Killa ada janji sama Dilan dan Cea mau olah raga ke cfd."
"Kita kan habis olah raga semalaman, emang gak capek? Atau jangan jangan masih kurang capek? Mau nambah lagi?" Goda Del sambil menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih kak." Desis Killa sambil melotot. "Tulang tulang Killa rasanya udah remuk semua, capek gara gara kamu yang gak ada cepek capeknya itu." Killa geleng geleng sambil membuang nafas kasar.
"Ya udah gue pijitin sini." Del meletakkan ponselnya lalu memegang kedua bahu Killa.
"Gak usah." Tolak Killa sambil menyingkirkan kedua tangan Del.
"Kenapa?"
"Killa mencium bau bau modus."
"Hahaha, tumben lo pinter kalau soal ginian. Kalau soal matematika sama fisika kenapa gak pinter." Cibir Del.
Krucuk krucuk
Cacing diperut Killa sepertinya sudah mulai menangis meminta jatah. Terbiasa sarapan pagi, membuatnya sangat kelaparan di jam segini.
"Lapar?" Tanya Del sambil menatap Killa.
"Hem." Jawab Killa sambil mengangguk malu.
"Ya udah buruan mandi, biar gue suruh bibi nyiapin sarapan. Gak usah drama pakai selimut, langsung ke kamar mandi. Gue gak mau kejadian semalem terulang lagi."
Killa mengangguk patuh, lalu dengan sedikit malu dia bangkit dari ranjang tanpa sehelai benangpun lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.
Del turun dan meminta Bik Siti segera menyiapakan sarapan untuknya dan Killa.
...****...
Selesai makan, Del dan Killa menonton tv diruang keluarga. Ralat, hanya Killa yang menonton tv, karena Del cuma sibuk ***** ***** Killa mulu. Rumah memang sedang sepi jadi Del makin leluasa ngegrepe. Semuanya pergi ke cfd dan belum pulang hingga tengah hari.
"Kak Del udah dong, geli." Protes Killa saat Del terus menciumi dan menggigit kecil sekitar bahu dan lehernya.
"Habisnya lo ngegemesin banget sih, jadi pengen gigit terus." Kata Del sambil meletakkan dagunya dibahu bahu Killa dan melingkarkan kedua tangannya diperut yang sedikit buncit itu.
"Kak Del, jangan ih. Malu kalau sampai ada yang lihat." Killa menyingkirkan tangan Del yang usil masuk ke dalam kaosnya.
"Gak ada orang."
"Ada bik Siti dan bik Jum."
"Ya udah kekamar aja yuk."
"Eng... enggak mauh... " Ucapan Killa mulai terputus putus, nafasnya tersengal karena Del terus menggigit telinganya dan memberi kecupan basah dilehernya. Tangannya juga sibuk memainkan puncak dada Killa hingga membuat cewek itu menggigit bibir bagian bawahnya.
"Kenapa?"
"Ka, kakak pasti minta macem macem kalau dikamar."
"Gak macem macem, cuma satu macem aja. Bejein gue ya Kil." Bisiknya tepat ditelinga Killa.
"Apaan itu, Killa gak ngerti."
"Entar gue ajarin, lo pasti suka. Mau ya, please... "
"Kak Killa." Teriakan Cea yang cempreng, merusak momen kedua anak manusia itu. Memaksa Del melepaskanmu tangannya dari sesuatu yang mulai dia sukai.
Cea tampak berjalan kearah Del dan Killa, lalu duduk tepat disamping Killa.
"Kakak dibangun kok gak bangun bangun sih. Cea sampai capek ketok sambil teriak teriak didepan kamar kakak. Dan gitu ditelepon juga gak aktif. Jadi gak bisa ikutan kita ke cfd kan." Omel Cea sambil cemberut dan melipat kedua tangannya didada.
Rumah yang tadinya sepi itu seketika menjadi ramai karena kedatangan dua keluarga. Yaitu keluarga inti Delmar dan keluarga Leo sahabat Sean.
"Hai Del, apa kabar kamu? gimana ujiannya?" Tanya Leo, papa Naomi.
"Baik Om." Jawab Del dan segera beranjak dari duduknya lalu salim pada Leo dan Zalfa istrinya. Killa juga mengikuti Del salim pada keduanya.
"Makin cantik aja, udah berapa bulan?" Tanya Zalfa, mamanya Naomi sambil meraba perut Killa.
"Jalan 5 bulan tante."
"Tapi masih kecil ya." Ujar Zalfa sambil melihat kearah perut Killa. "Jadi nenek bentar lagi kamu Rain." Ucapnya sambil menoleh ke arah Rain.
"Iya, necan, nenek cantik. Aku juga gak nyangka bakal secepet ini mau punya cucu. Berasa tua." Ujar Rain dan disambut tawa oleh Zalfa dan Leo.
"Kamu gak akan bisa menjadi tua sayang. Selalu terlihat muda dan menarik dimataku." Sean meluncurkan gombalanya yang membuat Del, Cea dan Dilan jengah. Mereka sampai bosan mendegar papanya yang tiap hari menggombali mamanya.
"Kamu ih," Rain menyenggol lengan suaminya. "Malu tu diketawain Naomi." Rain melirik Naomi yang tengah tertawa.
"Gak papa kok tante. Om Sean emang romantis banget. Tipe suami idaman. Nom juga pengen punya suami kayak Om Sean." Naomi malah mengacungkan kedua jempolnya kearah Sean.
"Bisa aja kamu Nom." Ucap Rain sambil tersenyum pada Naomi.
"Tuh, Si Del mirip Om Sean. Tapi sayang udah sold out." Ujar Leo sambil menunjuk dagu kearah arah Delmar.
"Om Sean ya kayak Del gitu pas muda." Leo menimpali.
"Masak sih?" Naomi terlihat tak percaya.
"Udah ah, Yuk kebelakang, kita makan." Ajak Rain kepada tamunya.
"Nom, makan ntar aja tante. Mau disini dulu, godain Del."
"Naomi...! Zalfa menggeram pelan sambil memelototi anak gadisnya. "Jangan aneh aneh, Del udah nikah." Peringatnya.
"Becanda mah, siapa juga yang mau sama Del. Kalau didunia ini tinggal 2 orang cowok, Delmar sama Shawn mendes. Nom pasti milih Shawn Mendes." Ujarnya sambil menjulurkan lidah kearah Del.
"Gak usah sok kecakepan, yang ada gue sama Shawn Mendes, keduanya ogah lo pilih." Balas Del tak kalah pedas.
"Udah udah, berantem mulu. Ya udah kita kebelakang dulu. Yang mau makan, nyusul kebelakang. Kita mau piknik dihalaman belakang." Kata Rain sambil menarik tangan Zalfa menuju halaman belakang.
Setelah semua orang tua pergi, tinggal para anak muda yang kumpul diruang keluarga sambil nonton tv dan makan cemilan yang disediakan bik siti.
"Leher kakak kenapa? kok merah merah? Digigit apa?" Pertanyaan Cea sontak membuat Naomi dan Dilan terpingkal pingkal. Mereka tak menyangka jika Cea sepolos itu. Tapi maklum, dia masih kelas VII.
"Ce, jangan deket deket, bisa nular. Itu bekas gigitan hewan buas, berbisa." Ucap Naomi hingga membuat Cea merinding.
Bug.
Delmar langsung melempar bantal sofa kekepala Naomi.
"Keterlaluan lo, bilang gue hewan buas."
"Lo kok kak Del marah? Yang Kak Nom bilang hewan buas itu yang gigit Kak Killa, bukan kakak, gak jelas banget." Cibir Cea dan langsung disambut tawa oleh Naomi dan Dilan.
"Kayaknya kak Killa harus periksa ke rumah sakit deh. Takut bahaya, apalagi kakak kan lagi hamil."
"Gak usah lebay deh Ce. Gak papa kok, lagian Killa juga gak ngerasa sakit, malah keenakan."
Killa langsung mencubit lengan Del sambil melotot. Sedangkan Cea terlihat bingung.
"Lo besok sekolah kan Kil?" tanya Naomi.
"Iya." Jawab Killa santai sambil memakan keripik kentang.
"Terus leher lo?"
"Emangnya kenapa?"
"Ya belum ilang lah begok." Naomi menepuk jidat melihat kepolosan Killa.
"Apa? jadi semalaman gak bisa hilang?" Killa mulai panik.
"Ya gak bisa oneng. Paling 2 atau 3 hari baru hilang bekasnya. Dah gitu banyak banget lagi. Sumpah, buas banget lo Del. Gue bersyukur banget gak jadi nikah sama lo. Ngeri gue ngebayangin." Entah apa yang ada dibenak Naomi, cewel itu terlihat begidik ngeri.
"Ngeri kata lo." Delmar memelototi Naomi. "Killa aja keenakan sampai minta nambah terus. Iya kan Kil?" Goda Delmar sambil meletakkan dagunya dibahu Killa sambil mengendus leher cewek itu.
"Kak Del geli, jangan gini dong." Killa ingin menjauh tapi Del menahan pinggangnya hingga Killa tak bisa bergerak.
"Delmar gila, gak lihat ada adik kamu yang masih kecil. Main nyosor aja lo." Bentak Naomi sambil memelototi Del.
"Ngamar aja yuk, males gue disini lihat mukanya si Nom."
"Idih, yang ada gue yang pengen muntah lihat muka lo. Gue tahu lo lagi engass, gak usah pakai bilang males lihat muka gue. Dasar cowok mesum, untung gak jadi nikah sama lo." Ujar Naomi sambil menepuk nepuk dadanya. Seakan akan dia begitu bersyukur.
"Cowok lo lebih parah lagi, gak usah ngatain gue mesum." Protes Delmar.
"Elo masih pacaran sama si berengsek itu Kak?" Tanya Dilan sambil menatap Naomi.
"Enggak, gue udah putus."
"Dia bunuh diri gara gara lo putusin." Sahut Del
"Sayangnya gak mati." Celetuk Naomi sambil menarik ujung bibirnya..
"Gila nih anak, bisa bisanya lo ngomong gitu. Kalau dia beneran mati, termehek mehek lo. Bisa bisa lo Nangis darah sampai depresi ditinggal Aiden mati." Del sangat tahu bagaimana cintanya Naomi pada Aiden.
"Najis gue nangisin dia." Kilah Naomi sambil memutar kedua matanya malas.
"Mulut lo doang bilang najis, tapi hati lo nangis."
"Stop ngomongin dia, gue capek Del. Gue juga punya batas kesabaran. Kalian para cowok emang keterlaluan, gak punya hati, gak punya perasaan. Bisanya cuma nyakitin cewek." Naomi mulai emosi.
"Kok gue juga ikut dibawa bawa." protes Del.
"Karena lo sama dia sama saja, cowok berengsek." Naomi melempar bantal kemuka Del lalu pergi dari tempat itu untuk menyusul orang tuanya.
...*****...
"Lo kenapa sih La?" Tanya Greta yang merasa aneh saat Laura terus terusan menatap Killa.
"Jam istirahat nanti, gue bakal bikin perhitungan sama Killa.
Cuplikan bab berikutnya.
.
Jangan lupa like dan komennya. Kasih hadiah juga biar author makin semangat nulis.