DELMAR

DELMAR
ANAK KITA



Mata Laura membulat sempurna melihat sosok yang datang.


"Miko." Gumam Laura sambil menatap Miko yang berdiri diambang pintu. Jantungnya tiba tiba berdetak dua kali lipat lebih cepat. Cewek itu meremat sprei dengan kuat karena cemas berlebihan.


"Permisi tante, saya temannya Laura, Miko." Miko meraih tangan Celin dan mencium punggung tangan perempuan itu.


"Kamu teman sekolahnya?" Tanya Celin ramah. Sikap Miko yang sopan, membuat Celinpun berlaku sama.


"Iya tante, kakak kelasnya."


"Silakan duduk nak Miko. Mumpung ada nak Miko, tante tinggal keluar sebentar ya." Ujar Celin.


"Iya tante, serahkan Laura pada saya, saya pasti akan menjaganya dengan baik." Sahut Miko sambil tersenyum.


"Sayang, mama keluar dulu." Celin mengambil tasnya lalu keluar dari ruang rawat Laura.


Seketika keheningan tercipta. Tak ada yang buka suara diantara Laura maupun Miko. Keduanya sibuk dengan pikiran masing masing.


"Gimana kabar lo Ra?" Akhirnya Miko membuka suara. Cowok itu berdiri tepat disamping ranjang Laura.


"Sudah lebih baik." Jawab Laura sambil meremas jari jarinya. Dia bahkan tak menatap Miko sejak tadi.


"Apa benar lo hamil?"


Laura bergeming membuat Miko kembali bertanya.


"Apa itu anak gue?"


"Bukan." Jawab Laura setengah berteriak. Wajahnya terlihat tegang, membuat Miko yakin jika Laura sedang berbohong.


"Lalu anak siapa?" Tanya Miko datar.


"Anak Kak Del."


Miko menyeringai kecil. Hatinya tercubit mendengar Laura bilang itu anak Delmar.


"Berhenti membohongi semua orang dan diri lo sendiri Ra."


"Gue gak bohong, ini anak Kak Del." Ujar Laura dengan suara bergetar dan tangan mengusap lembut perutnya yang masih rata.


"Delmar gak pernah ngelakuin itu sama lo. Apa mungkin lo bisa hamil anaknya?"


"Kita pernah ngelakuin itu. Hanya saja Kak Del tak mau mengakui."


"Kapan?"


"Cukup Ra, cukup." Miko menggenggam tangan Laura tapi dihempaskan dengan segera oleh cewek itu. "Hentikan kebohongan lo. Gue takut semua ini hanya akan memperumit keadaan. Gue takut lo yang bakal kena imbasnya."


"Gak usah sok peduli sama gue. Gue gak butuh Mik."


"Gue peduli sama lo, karena lo hamil anak gue."


"STOP." Teriak Laura dengan nafas naik turun dan mata yang sudah mulai berkaca kaca. "Berhenti bilang ini anak lo. Karena bayi ini anak Kak Del." Ucap Laura sambil menatap tajam ke arah Miko.


"Berhenti berbohong Ra, cukup. Gue akan tanggung jawab, gue akan nikahin lo." Ujar Miko penuh penekanan.


"Enggak." Laura menggeleng cepat. "Gue gak butuh lo, gue butuh Kak Del. Gue cinta Kak Del, bukan lo. Bukan lo Mik, bukan." Tangis Laura seketika pecah. Cewek itu memegangi dadanya yang terasa nyeri karena operasi waktu itu.


"Anak ini anak Kak Del Mik, bukan anak lo. Gue gak butuh lo, gak butuh." Laura makin histeris.


"Tapi anak itu butuh gue, gue ayahnya." Ujar Miko sambil memegang kedua pundak Laura dan menatap matanya dalam dalam. "Tatap gue Ra, bilang kalau anak itu anak gue." Pinta Miko dengan setulus hati.


Laura menggeleng cepat. "Enggak, anak ini bukan anak lo. Anak ini anak Kak Del. Dan anak ini gak butuh pertanggungjawaban dari elo." Ucap Laura sambil menatap mata Miko.


"Stop untuk bersikap egois Ra. Anak itu butuh gue Ra, bukan Del. Delmar sedang menunggu usia kehamilan lo 10 minggu, setelah itu dia akan tes DNA. Lo pasti tahu kan konsekuensinya kalau sampai Del melakukan tes DNA. Sebelum hal itu terjadi, gue minta lo ngaku."


Sebelum menemui Laura di rumah sakit, Miko lebih dulu bertemu dengan Delmar. Dia hanya ingin memastikan kabar yang disampaikan Rey. Miko memang belum bilang jika kemungkinan anak yang dikandung Laura adalah anaknya. Miko masih butuh pengakuan langsung dari Laura.


Tangis Laura kian pecah. Dia tahu konsekuensinya jika sampai dilakukan tes DNA. Karena sudah pasti janin itu bukan anak Delmar.


"Jangan egois Ra." Miko mengusap air mata Laura. "Jangan hanya memikirkan diri lo sendiri, pikirin anak ini juga." Miko mengusap lembut perut Laura.


"Dia butuh gue, butuh ayahnya. Gue tahu lo gak cinta sama gue, dan sebaliknya, gue juga gak cinta sama lo. Tapi kita bisa belajar Ra. Kita bisa belajar mencintai dan menjadi orang tua yang baik. Kita yang berbuat salah hingga anak ini ada dirahim lo. Tapi dia gak salah, kita yang salah. Jangan sampai anak ini yang akan menanggung akibatnya Ra. Gue dibesarkan di keluarga broken home, gue ngerti rasanya hidup tanpa kedua orang tua yang utuh. Dan gue gak mau anak gue ngerasain hal yang sama." Mata Miko mulai berkaca kaca. Walaupun dia tidak mencintai Laura, tapi anak itu hanya korban. Dan Miko tak mau anak itu akan bernasib seperti dirinya. Tumbuh di keluarga broken home.


Laura hanya diam, dalam hati kecilnya, dia juga tak mau mengorbankan anak itu demi obsesi yang selalu dia sebut cinta.


"Delmar akan memilik anak dengan Killa. Berhenti mengharapkan dia Ra. Elo gak akan bahagia, lo cuma akan nyakitin diri lo sendiri. Lo pantas bahagia, dan gue janji bakal bahagian lo dan anak kita."


Laura melihat kesungguhan dimata Miko. Tapi pertanyaannya adalah, apa bisa dia mencintai Miko? Sampai detik ini, cintanya hanya untuk Delmar. Apakah mungkin dua orang yang tidak saling mencintai bisa membina rumah tangga? Apalagi usia mereka masih sangatlah muda. Dan jujur, Laura sebenarnya belum siap menikah.


"Tatap gue Ra, katakan, anak itu anak gue." Miko masih berharap kejujuran dari mulut Laura. Walaupun tanpa diucapkanpun, Miko yakin, jika anak itu anaknya.


"Anak ini bukan anak lo Mik." Ujar Laura sambil menatap kedua mata Miko. Miko memejamkan kedua matanya, dia bingung harus bagaimana lagi bicara pada Laura agar cewek itu mau mengaku.


Laura meraih tangan Miko dan meletakkan diatas perutnya. "Anak ini anak kita." Lanjut Laura.


Seketika air mata Miko menetes. Ya, takdir memang tak bisa ditebak. Dia mencintai Sasa, tapi justru dia menghamili Laura.