DELMAR

DELMAR
KEDATANGAN TAMU



"Lama banget sih yang." Teriak Aiden yang sudah kelaparan. Sejak tadi dia menunggu Naomi yang sedang membuat nasi goreng didapur apartemennya.


"Bentar lagi Ay." Sahut Naomi dari dapur sambil mengaduk nasi goreng yang hampir saja siap.


Setelah beberapa menit, akhirnya nasi goreng bikinan Naomi siap juga. Dengan wajah sumringah, cewek itu segera membawa nasgor spesialnya ke ruangan tengah. Disana sudah ada Aiden yang menunggunya sambil bermain game.


"Duduk sini yang." Aiden menepuk pahanya agar Naomi duduk dipangkuannya.


"Ogah, ntar kamu modus." Jawab Naomi sambil menjulurkan lidah kearah Aiden. Cewek itu sudah terbiasa berduaan dia apartemen Aiden, tapi sebisa mungkin menghindari hal hal yang kemungkinan bisa tak terkendali. Naomi memilih duduk disamping Aiden dengan sepiring nasi goreng ditangannya.


"Wangi banget baunya, ak." Aiden membuka mulutnya dengan semangat. Dan Naomipun segera menyendok nasi goreng itu. Setelah ditiup sebentar, segera dia suapkan pada kekasih tercintanya.


"Em.... enak banget, rasa cinta." Puji Aiden sambil mengunyah nasi goreng yang berada didalam mulutnya. Membuat senyum seorang Naomi seketika merekah.


"Kamu makan juga dong." Aiden menyendok nasi goreng lalu menyuapkannya pada Naomi. Mereka saling suap suapan hingga nasi goreng satu piring penuh ludes tak tersisa.


"Aku bakalan gemuk kalau kita udah nikah nanti yang. Masakan kamu enak banget." Ujar Aiden sambil memainkan rambut panjang Naomi. Ya, cewek itu sudah terbiasa melepas hijab saat bersama Aiden. Dan karena itulah Del selalu memanggilnya hijaber kw.


Menikah? ya, Naomi ingin sekali. Menikah dengan Aiden adalah harapan terbesarnya. Tapi apakah itu mungkin? Apakah orang tuanya akan menyetujui dia dengan Aiden. Rasanya tak mudah untuk mendapatkan restu. Mengingat cowok itu jauh dari tipe menantu idaman orang tuanya.


"Kok diam aja sih yang? kamu gak ingin nikah sama aku?" Tanya Aiden sambil meraih tangan Naomi lalu menciumnya.


"Aku masih sekolah Ay. Masak udah mikirin nikah?" Jawab Naomi.


"Aku tunggu satu tahun lagi. Tahun depan kita nikah ya?"


"Janji dulu kamu bakalan berubah."


"Aku udah berubah Yang. Aku udah gak selingkuh lagi. Dan aku juga udah mulai belajar baca Alquran, sholat dan sekarang, kamu tahu gak? aku sudah hafal 5 surat pendek." Ujar Aiden dengan bangga. Padahal anak TK aja juga hafal kalau cuma 5 surat pendek.


"Ish.... pinter banget sih cowok aku." Goda Naomi sambil mengacak acak gemas rambut Aiden.


"Kamu gak lupakan sama janji kamu yang?" Tanya Aiden.


"Janji apa?" Seingat Naomi, dia tak pernah janji apa apa. Karena Aiden itu paling pantang dikasih janji, dia pasti akan terus menagih hingga lunas..


"Kamu bakalan mau nikah sama aku jika aku bisa jadi imam sholat buat kamu?" Aiden mengingatkan kembali pada ucapan Naomi beberapa waktu yang lalu. Padahal saat itu, Naomi hanya asal nyeplos. Tapi malah ditanggapi serius oleh Aiden.


Melihat perubahan Aiden dan semangat belajar sholat serta menghafal surat pendek, membuat Naomi tak tega menyurutkan semangatnya. "Ya, aku janji. Tapi, emangnya kamu bisa nafkahin aku. Orang kamu aja kuliah baru semester 3 sekarang?"


"Dih, ngeremihin Kayaknya. Sekaranpun aku bisa nafkahin kamu. Mau bukti?" Aiden menarik turunkan alisnya menggoda Naomi. "Mau disini apa dikamar?" Cowok itu makin mendekatkan wajahnya kearah Naomi. Membuat jarak mereka hanya tinggal beberapa senti saja.


"Ihhh.... " Naomi buru buru mendorong dada Aiden. Cewek itu tak ingin sampai kewarasannya hilang. Belum apa apa saja, jantung Naomi sudah melompat lompat gak larian. "Yang kamu pikirin itu mulu Ay. Nafkah lahir maksud aku."


"Lupa kamu." Aiden mendorong dahi Naomi dengan telunjuknya. "Aku udah bisa nyari duit dengan jualan design." Ya, Aiden memang berbakat dalam membuat design perhiasan. Awalnya dia sering memajang designnya di sosmed, hingga akhirnya ada perusahaan perhiasan yang sering membeli designnya atau kadang ada orang yang meminta dibuatkan khusus olehnya.


"Kamu udah lihat cincinnya Del sama Killa gak? itu aku yang ngedisaign." Ujar Aiden.


"Benaran Ay? bagus banget loh itu." Ujar Naomi bangga.


"Nanti cincin nikahan kita bakalan lebih bagus lagi." Ujar Aiden bersemangat. "Oh iya, kemarin aku ngedisaign topeng. Dan laku mahal banget. Ada artis yang membeli designku."


"Hem." Jawab Aiden sambil mengangguk bangga. "Kamu pengen apa, nanti aku beliin. Mau tas, sepatu atau... " Aiden mengambil dompetnya yang berada diatas meja. "Kamu bawa aja ini. Pin nya tanggal anniversary kita." Aiden memberikan kartu debitnya pada Naomi.


"Enggak." Naomi mengembalikan kartu tersebut pada Aiden. "Aku belum berhak dapat ini. Aku cuma pengen kamu setia sama aku, gak selingkuh lagi." Lanjut Naomi sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Aiden.


"Aku janji, aku gak bakal selingkuh lagi. Tapi kamu juga harus janji sama aku."


"Apa?" Tanya Naomi sambil menatap wajah Aiden.


"Gak ada yang boleh milikin kamu selain aku. Apapun yang terjadi, Naomi hanya milik Aiden. Hanya milik Aiden." Cowok itu menekankan kata-katanya. "Janji." Aiden mengangkat kelingkingnya.


"Janji." Jawab Naomi sambil menautkan kelingkingnya pada kelingking Aiden.


"I love u , my future wife." Ucap Aiden sambil menempelkan dahinya didahi Naomi.


"I love u too, my future husband." Jawab Naomi.


Aiden memajukan bibirnya, membuat jantung Naomi berdegup sangat kencang. Saat bibir mereka saling bersentuhan, Naomi merasakan darahnya berdesir.


Ting tong ting tong


Suara bel membuat adegan kissing yang baru akan dimulai itu terpaksa harus gagal.


"****, siapa sih ngeganggu aja." Umpat Aiden yang jengkel. Pasalnya susah sekali mendapatkan momen seintim ini dengan Naomi.


"Bukain dulu Ay."


"Ck, Males yang."


"Gak boleh Gitu, siapa tahu tamunya penting. Gih, buruan buka." Kalau Naomi yang nyuruh, mana berani Aiden menolak.


Dengan langkah malas Aiden berjalan kearah pintu lalu membukanya. Tampak seorang wanita paruh baya berdiri diambang pintu.


"Ada yang bisa saya bantu tante?" Tanya Aiden penasaran. Pasalnya dia tak kenal dengan wanita itu.


"Siapa Ay?" Teriak Naomi sambil berjalan menuju pintu. Dia berharap kali ini bukan polisi yang datang seperti saat itu.


"Nyari siapa ya Tante?" Aiden kembali bertanya karena wanita itu tak kunjung menjawab.


"Ada apa Ay?" Tanya Naomi yang sekarang sudah berada dibelakang Aiden.


"Gak tahu yang, aku gak kenal sama tante ini. Salah alamat kali." Jawab Aiden.


"Maaf tante, tante nyari siapa ya?" Naomi ikut bertanya.


"Saya ibunya Sasa, Salsabilla Aurin."


Deg


Seketika jantung Aiden seperti berhenti berdetak. Mendengar nama Salsabilla Aurin, dia seperti tersambar petir disiang bolong.