DELMAR

DELMAR
NAIK MOBIL MEWAH



Delmar mencium kening Killa sebelum dia keluar dari kamar. Mungkin terasa sangat manis jika itu dulu. Tapi sekarang, Killa bahkan merasa muak. Muak dengan sikap Del yang seenaknya sendiri. Muak dengan segala tingkah polah Del yang selalu bisa menjungkir balikkan hatinya.


Killa menyiapkan buku bukunya sebelum dia tidur. Tadi siang dia sudah menyuruh Bi siti untuk memindahkan semua barangnya dari kamar Del.


Ada sesuatu yang jatuh saat dia hendak memasukkan buku bahasa inggris. Sebuah kertas bertuliskan nama Killa dan Delmar. Ditengah tengah, ada simbol love besar yang diwarnai dengan sepidol merah. Dulu dia membuat tulisan itu saat jam peljaran kosong.


Killa mengambil kertas yang terjatuh dilantai itu lalu menyobeknya menjadi dua bagian tepat ditengah simbol love itu.


Setelah semua keperluan sekolahnya siap, Killa segera tidur.


Bunyi alarm membangunkan Killa dari tidur lelapnya. Dia ingin meraih ponsel yang ada diatas nakas tapi tunggu. Ada yang tidak beres. Ada lengan yang melingkar dipinggangnya.


"Kak Del." Pekik Killa saat melihat Del tidur disebelahnya. Entah sejak kapan cowok itu berada disana. "Bangun." Teriak Killa sambil menyingkirkan lengan Del.


"Apa sih Kil, masih pagi udah teriak teriak?" Tanya cowok itu sambil mengerjabkan matanya.


"Kenapa kamu tidur disini?"


"Sory, semalam gue gak bisa tidur. Jadi pindah kesini." Jawabnya tanpa dosa sambil meregangkan otot ototnya. Dasar kang modus.


Killa yang malas meladeni Del memilih beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi.


Setelah mandi, dia tak menemukan Del didalam kamar. Mungkin cowok itu sudah kembali kekamarnya.


Saat Killa ingin mengambil tasnya, dia melihat sesuatu diatas meja. Kertas yang kemarin dia sobek, pagi ini tampak utuh kembali. Seseorang telah menyambung bagian yang sobek itu dengan isolasi bening.


Killa tersenyum miring. Sesuatu yang sudah rusak, biarpun di perbaiki, bekasnya tetap masih ada.


Killa keluar untuk sarapan, tapi tampak sepi. Tak ada Dilan maupun Cea disana. Hanya ada mama dan papanya Del.


"Pagi mah, Pah. Kok sepi, mana Cea dan Dilan? belum turun?" Tanya Killa sambil menarik kursi didepan mamanya.


"Mereka udah berangkat." Jawab Rain sambil menyiapakan sarapan untuk suaminya.


"Kok Killa ditinggalin?" Tanya Killa heran. Padahal ini masih pagi, tapi kenapa dia ditinggal. Tak tahu saja si Killa, kalau ini bagian dari akal akalannya Del.


"Lo gue anter." Sahut Del yang baru datang. Dia tampak sudah siap dengan pakaian kasualnya. Dia memang sudah tidak ada kepentingan apa apa lagi disekolah. Hanya tinggal menunggu wisuda.


Killa diam saja, dia mau menolak tapi sungkan pada mertuanya.


"Pah, Del pinjam mobilnya." Cowok itu langsung mengambil kunci mobil papanya yang tergeletak dimeja makan.


"Pakai mobil kamu sendiri saja. Mobil papa itu masih baru." Sean yang ingin merebut kunci mobilnya ditahan oleh Rain.


"Biarin aja."


"Tapi itu mobil baru." protesnya.


"Emangnya kenapa kalau baru? Mau kamu pakai tebar pesona?" Sinis Rain sambil melotot. Sebenarnya dia sudah kesal saat tahu Sean beli mobil baru tanpa Ijinnya. Apalagi yang dibeli adalah mobil sport mewah yang sangat cocok dipakai anak muda. Seketika Rain jadi panas, takut suaminya itu sengaja bergaya ala anak muda untuk menarik lawan jenis.


"Mamah apaan sih kok ngomong gitu?" Sean tersenyum sambil mengelus punggung tangan Rain yang ada diatas meja. Melihat aura marah di wajah sang istri, membuat Sean ketar ketir.


"Patut diwaspadai mah." Delmar malah menyiram minyak agar apinya membesar.


"Apaan sih kamu Del." Sean seketika memelototi anak sulungnya yang bandel itu.


"Buat kamu aja mobilnya Del." Ujar Rain.


"Beneran." Mata Del seketika berbinar. "Makasih mamah." Ucapnya sambil berlari lalu memeluk mamanya dari belakang.


"Gak bisa." Tolak Sean dengan lantang. "Mobil itu limited edition, papa dapatnya susah."


"Susah mana ngedapetin mobil itu apa ngedapetin mamah?" Tanya Rain yang makin emosi.


Killa hanya menonton saja drama keluarga pagi ini. Dia yang cuma anak mantu gak berani ikut campur.


"Kayaknya papa lebih milih mobilnya daripada mamah." Del lagi lagi memanasi.


"Beneran gitu Pah?" Rain berdiri sambil mengepalkan tangannya.


Sean diam saja. Mana bisa menang kalau ngelawan 2 orang sekaligus.


"Ya udah balikin kunci mobilnya Del. Papa kayaknya lebih sayang mobilnya daripada mamah." Rain hendak pergi tapi ditahan oleh Sean.


"Iya iya, mobilnya buat Del." Terpaksa Sean ngalah demi jatah malamnya. "Gak usah ngambek lagi ya?" Rayunya sambil menyentuh dagu Rain.


"Awas saja kalau berani nyari daun muda." Ancam Rain sambil melotot.


"Aku gak suka daun muda. Sukanya yang udah pengalaman."


"Keterlaluan kamu Pah." Seru Rain.


"Jangan salah paham, maksud papa yang pengalaman itu ya kamu sayang. Aku sukanya cuma kamu." Sean berusaha menjelaskan.


"Gak usah bohong."


"Udah mulai gak percaya nih sama papa? Katanya kepercayaan diatas segalanya." Rayu Sean sambil memeluk istrinya. "Udah ah jangan ngambek lagi." Lanjutnya sambil mencium pipi Rain.


"Hadeh, dirayu gitu aja luluh mah." Delmar menyebikkan bibirnya.


"Diem kamu." Desis Sean sambil memelototi Del. "Mending ikut papa ke kantor aja yuk." Ajaknya sambil sambil menaik turunkan alisnya.


"Cie.... kayaknya ada yang mau honeymoon dikantor nih." Del menggoda kedua orang tuanya yang bertingkah kayak pengantin baru.


"Kapan kita honeymoon yang?" Del beralih menatap Killa.


Huk huk huk


Killa seketika tersedak mendengar Del memanggilnya yang. Dan apa tadi, honeymoon? Gak salah denger?


"Berangkat yuk, biar gak telat." Del meraih pergelangan tangan Killa. Membuat cewek itu mau tidak mau segera berdiri dan mengikuti Del.


"Killa berangkat mah, Pah." Pamitnya sambil berjalan mengikuti Del. Bukan mengikuti lebih tepatnya, tapi ditarik oleh cowok.


Del melesatkan mobilnya keluar dari halaman rumah. Naik mobil mewah limited edition, memang memberikan sensasi berbeda. Sangat nyaman, tapi tak senyaman perasaan Delmar. Cowok itu dibuat galau karena sejak tadi Killa tak membuka suara sama sekali.


"Ntar pulangnya gue jemput ya." Tawar Del.


"Gak usah."


"Gue pengen ngajak lo jalan jalan."


Hening, Killa tak menjawab.


"Mau gak?"


"Enggak."


"Ada film baru. Kita nonton yuk?"


Killa yang malas menanggapi segera mengambil earphonenya. Lebih baik mendegar lagu dari pada mendengar Del ngomong unfaedah.


Del berdecak kesal, Bisa bisanya Killa lebih memilih memakai earphone daripada mendengarkan dia bicara.


Tak terima dicuekin, Del menarik earphone dari telinga Killa.


"Gue lagi ngomong, kenapa telinga lo malah lo sumpel? Sengaja?" Tanya Del dengan nada kesal.


"Iya." Jawab Killa datar sambil memakai kembali earphonenya.


Shitt, ngeselin banget si Killa. Kita lihat aja, kuat sampai berapa lama dia nyuekin gue.


"Turun disini." Ucap Killa saat mereka sudah dekat dengan sekolah.


"Didepan sana aja, entar lo jalannya kejauhan."


"Sini aja." Killa segera memakai ranselnya.


"Nanggung, udah disana aja." Del tetap melajukan mobilnya hingga dekat dengan gerbang sekolah.


Killa berdecak kesal. Akan jadi masalah kalau dia turun disini. Semua anak pasti malihatnya. Dan, ah sudahlah. Sudah bisa dipastikan kalau di bakal jadi trending topik lagi.


"Kok gak turun?" Tanya Del.


"Sengaja pengen aku dihujat satu sekolah?" Killa mendengus kesal.


"Gak akan ada yang tahu kalau gue yang nganter. Kaca mobilnya gelap, gak kelihatan dari luar."


Killa masih ragu untuk keluar. Dia belum yakin jika tak jadi bahan omongan kali ini. Mengingat mobil ini terlalu mewah, pasti menarik perhatian.


"Kenapa masih diem? mau bolos aja? Ya udah kita jalan jalan aja kalau kamu mau bolos." Del malah memberi saran yang enggak banget.


Killa menghela nafas lalu keluar dari mobil. Mungkin dulu jalan jalan bersama Del adalah sesuatu yang sangat diinginkan Killa. Tapi saat ini, dia lebih milih sekolah dari pada jalan jalan dengan Del.


Mobil itu memang sudah menarik perhatian sejak berhenti didepan gerbang sekolah. Meraka menerka nerka siapakah sosok yang akan keluar dari mobil mewah yang masih kinclong itu.


Dan saat melihat Killa yang keluar, mereka langsung melongo. Terhipnotis seperti melihat adegan slow mo saat seorang cewek cantik keluar dari mobil sport mewah limited edition sambil mengibaskan rambutnya.