Butterfly In You

Butterfly In You
EPILOG



Jam berganti, hari terus berlalu. Tidak terasa mulai dari musim panas berlanjut melewati musim gugur hingga musim dingin, kini tiba saatnya memasuki awal musim semi. Sudah cukup lama Lilis harus bolak-balik Indonesia-Amerika Serikat untuk menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Tubuhnya sekarang menjadi lebih kurus. Apalagi kondisi rambutnya bagai hidup segan mati tak mau.


Untuk menutupi penampilannya itu, LiIis selalu memakai kain penutup kepala yang Shehan belikan untuknya. Hari ini Lilis memakai kain warna merah muda yang terang. Shehan sengaja memilih warna-warna cerah agar LiIis termotivasi untuk tetap semangat menjalani hidupnya.


Lilis sedang berdiri di dekat jendela kamar rumah sakit sambil menatap ke arah luar. Tampak di halaman area sekitar rumah sakit lima orang anak tengah bermain kejar-kejaran. Tawa riang mereka berhasil menghibur LiIis lantas ia pun tersenyum.


"Aku sudah membawakan kursi rodanya. Ayo, kita jalan-jalan keluar, Sayang!" ajak Shehan dengan senyum ramah. Ia baru saja kembali usai mengambil kursi roda dan hendak membawa LiIis jalan-jalan di sekitar halaman area rumah sakit.


Lilis berbalik badan menghadap suaminya. "Ya, Mas," balasnya riang.


Shehan membantu Lilis duduk di kursi roda. Tak lupa menyelimuti kaki Lilis sampai sebatas pinggang agar tetap merasa hangat.


"Kamu sudah siap?" Kepala Shehan condong ke arah Lilis.


"Eum...." Lilis berdeham seraya mengangguk singkat. Bukan hanya Shehan yang bersemangat, tetapi Lilis juga antusias. Keceriaan setelah melihat anak-anak kecil bermain tadi masih tergambar di wajah pucatnya.


"Ayo, kita berangkat!" Shehan mendorong kursi roda--membawa LiIis keluar kamar untuk menghirup udara segar di luar.


Setibanya di halaman area rumah sakit, sambil memegang salah satu tangan Shehan yang masih mendorong kursi roda--Lilis mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tampak bunga-bunga mulai bermekaran. Daun-daun pohon perindang bernuansa hijau hangat. Lilis menghirup dalam-dalam udara segar yang melingkupinya saat ini.


"Udaranya segar sekali, Mas!" ungkap Lilis selagi memejamkan mata.


Shehan ikut menghirup dalam-dalam udara--ingin merasakan hal yang LiIis rasakan. "Ya, Sayang. Udara menjadi segar karena sekarang sedang musim semi."


"Apa! Musim semi?" Lilis terkejut sekonyong-konyong menoleh Shehan.


"Ya, Sayang. Sekarang sedang musim semi."


"Kalau begitu, apa di kota kelahiran Mas juga sedang musim semi?"


"Maksudmu Ankara?"


"Ya, Mas."


"Hhmm...." Shehan berdeham sambil mengangguk pelan beberapa kali, "sekarang juga sedang musim semi di Ankara."


Mengetahui hal itu, LiIis langsung mengutarakan keinginannya. Merengek dengan raut manja sambil meremas lembut tangan Shehan agar pria itu mau mengabulkan keinginannya. "Mas, ayo, kita ke Ankara!"


Shehan refleks mengernyit. "Tapi kamu masih menjalani perawatan, Sayang."


"Sebentar saja, Mas. Mas pernah bercerita sebelum kita pergi bulan madu kalau Mas menyukai musim semi di Ankara. Aku juga ingin merasakan musim semi di sana. Merasakan apa yang Mas rasakan. Ayo, ajak aku ke sana, Mas!" pinta LiIis lagi.


Shehan berpikir sejenak. Rasanya tidak tega bila harus menolak permintaan Lilis. "Baiklah, aku akan meminta izin Dokter untuk membawamu ke Turki."


"Yeay! Terima kasih, Mas!" Sontak Lilis girang.


Melihat semangat LiIis yang kembali ceria seperti ini, Shehan turut bahagia. Ia berharap lebih agar Lilis panjang umur dan dapat menemaninya lebih lama lagi.


'Aku berharap kamu selalu bahagia, Lilis.'


**


Shehan berhasil mendapatkan izin dari dokter yang biasanya merawat LiIis agar bisa mengajak LiIis pergi ke Turki. Dari Amerika Serikat, Shehan dan Lilis langsung bertolak ke Ankara-Turki beberapa hari setelah mendapat izin tersebut. Tidak seperti bulan madu waktu itu, kali ini Shehan mengajak Lilis menginap di rumahnya agar Mehrunissa bisa menjaga LiIis juga.


Di hari kedua setelah Shehan dan Lilis tiba di Ankara, Shehan mengajak LiIis berjalan-jalan ke taman yang dulu sering dia datangi untuk menikmati musim semi semasih tinggal di Turki.


"Lihatlah, Lilis! Daun-daun serentak tumbuh berwarna hijau. Langit cerah dengan sedikit awan. Bunga-bunga juga bermekaran. Musim semi itu indah, bukan!" Shehan menatap kagum pada pemandangan di sekitarnya.


"Ya ... Mas...." Sahutan LiIis terbata--meluncur dari bibirnya yang bergetar. Berjalan tertatih-tatih sebab tubuhnya kian lemas dan merasa sedikit kedinginan. Rasanya sudah tidak kuat lagi. Lilis memeluk dirinya sendiri sembari mengusap-usap lengannya untuk memperoleh kehangatan.


Shehan menoleh LiIis--menemukannya sedang gemetaran.


'Pasti Lilis lelah karena menempuh perjalanan yang cukup jauh dari Amerika Serikat ke Turki,' pikir Shehan. Ia lalu jongkok di depan LiIis.


"Naiklah ke punggungku, Sayang! Jalan di depan masih jauh. Aku akan menggendongmu."


"Ya ... Mas."


Lilis naik ke punggung seraya melingkarkan tangannya ke leher Shehan agar tidak jatuh. Shehan menopang kedua kaki LiIis dengan tangannya lalu bangkit. Melanjutkan perjalanan mereka menyusuri sepanjang jalan taman yang indah.


"Terima kasih sudah menggendongku, Mas."


"Ya, Sayang. Kamu senang sudah bisa melihat musim semi di Ankara?"


"Ya, Mas ... aku senang. Pemandangan di sini benar-benar indah!"


"Kamu tahu kenapa bunga bermekaran di musim semi, Lilis?"


Lilis menggeleng pelan. "Tidak, Mas."


"Karena di musim panas matahari terlalu hangat. Sedangkan musim dingin terlalu dingin. Itu sebabnya bunga-bunga memilih bermekaran di musim semi dan layu di musim gugur. Meskipun akhirnya layu, bunga-bunga itu tidak akan menyesal karena pernah menjadi bagian keindahan di bumi."


"Apa aku termasuk bunga-bunga itu, Mas?" tanya Lilis. Suaranya kian melemah hampir seperti berbisik.


'Aku akan menjadi bunga musim semi. Meski layu di musim gugur, tetapi aku tidak akan menyesal karena telah pernah menjadi bagian keindahan di bumi. Aku tidak akan menyesal sekarang karena pernah menjadi istri dari seorang pria baik sepertimu, Mas Shehan.'


"Mas Shehan...."


"Ya." Shehan sedikit menoleh.


"Aku ... mencintaimu, Mas."


Shehan menghela napas ringan. Senang mendengar ungkapan LiIis barusan. "Aku juga mencintaimu, LiIis. Mau kuceritakan rahasiaku padamu?"


"Ya ... Mas."


Shehan tersenyum tipis sebelum mulai bercerita. Rasanya aneh bila mengingat kembali perasaannya dulu pada LiIis.


"Sebenarnya dulu aku tidak menyukai penampilanmu. Menurutku kamu tidak cantik waktu itu. Tapi kamu mulai berubah saat pertama kali aku membelikan gaun warna ungu amethyst. Hari-hari berikutnya kamu selalu cantik di mataku. Tapi aku tidak berani mengatakan kekagumanku. Aku hanya diam sambil memujamu dari jauh. Sampai detik ini pun, kecantikan itu tidak hilang dirimu."


Shehan mengakhiri ceritanya, tetapi sama sekali tidak ada sahutan dari Lilis.


"Lilis, kamu masih mendengarku?"


Lilis bergeming tidak bersuara.


Deg!


Tiba-tiba jantung Shehan berdegup. Ia terperangah mulai menyadari sesuatu. "Li ... lis," panggilnya pilu.


Shehan menoleh ke belakang perlahan. Ia tidak ingin meyakini dugaannya. Namun, Shehan menemukan saputangan miliknya yang pernah dia berikan pada LiIis dan sedari tadi LiIis pegang sudah jatuh dan tertinggal di belakang. Tetesan-tetesan darah menitik ke tanah mengikuti alur langkah Shehan.


Lilis sudah mengembuskan napas terakhirnya.


"Li ... lis...."


Panggilan itu tidak bersambut. Tubuh Shehan gemetar dilanda kesedihan yang mendalam.


"Li ... lis...."


Suara Shehan bergetar. Ia hancur seketika. Air matanya berderai di pipi mengiringi kepergian Lilis untuk selamanya. Shehan terus berjalan menyusuri jalan setapak musim semi sambil menggendong tubuh istrinya yang kini tidak lagi bernyawa.


Selang seminggu berlalu.


Pak Sebastian--pengacara Shehan datang ingin membicarakan persoalan izin tinggal Shehan di Indonesia. Kedua pria itu berbicara di ruang kerja Shehan.


"Saya turut berdukacita atas kepergian Nyonya LiIis. Nyonya LiIis sudah meninggal dunia. Bagaimana kelanjutan izin tinggal anda di Indonesia, Tuan?" tanya Pak Sebastian.


Shehan menundukkan pandangan. Menghela napas panjang sebelum menjawab.


"Saya sudah memutuskan saya akan menjadi warga negara Indonesia setelah surat izin tinggal tetap itu berakhir."


"Maaf, Tuan. Apa anda sudah yakin mau menjadi warga negara Indonesia?"


"Ya, saya sudah yakin. Saya mau menjadi warga negara Indonesia agar suatu hari saya bisa dimakamkan di liang yang sama dengan istri saya. Pada saat itu kami akan bertemu lagi. Saling mencintai dalam waktu yang abadi."


Pak Sebastian tidak dapat berkomentar apapun. Ia menghormati keputusan pribadi Shehan. Usai kepergian Pak Sebastian, Shehan beranjak menuju kamar utama. Di sana foto pernikahannya dengan Lilis tergantung di atas tempat tidur. Shehan meratapi foto pernikahan itu. Lilis tersenyum di dalam foto dan sekarang senyum itu hanya tinggal kenangan.


'Kamu bersedia kupermainkan?'


'Kita sama-sama mempermainkan.'


Shehan teringat itu adalah kalimat percakapannya dengan Lilis ketika mereka sudah sepakat untuk menikah kontrak selama setahun saja. Namun, usai setahun pernikahan mereka tidak bercerai, tetapi berpisah untuk selamanya.


***


TAMAT


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang sudah membaca dan mendukung novel ini.


Author akan berbagi sedikit rahasia tentang novel ini. Bab pertama novel Butterfly In You terbit pertama kali di bulan Juli tahun 2020. Tetapi baru sekarang Author bisa menyelesaikannya setelah hiatus cukup lama.


Alasan Author hiatus karena Author sendiri tidak sanggup mengetik setiap kata dalam novel ini. Author sedih bila mengingat Lilis. Itu sebabnya Author menulis cerita ini dengan mendetail dari mulai Lilis meminta restu ibunya untuk menikah sampai bertemu mantan kekasihnya lalu melewati serangkaian peristiwa dalam pernikahan tanpa cinta. Agar pembaca dapat mengenang dan benar-benar mengerti tentang perjalanan kisah hidup Lilis hingga akhir hayatnya.


Meski berakhir dengan perpisahan, tetapi isi surat perjanjian pernikahan antara Lilis dan Shehan sudah selesai dan tunai. Lilis sudah berhasil mewujudkan impiannya membangun rumah untuk sang ibu. Shehan juga sudah mendapatkan izin tinggal tetapnya di Indonesia dengan sponsor Lilis.


Mohon maaf bila berakhir tidak sesuai dengan keinginan pembaca. Karena sejak awal bahkan ketika judul novel ini dibuat, alur novel ini memang tidak akan sama seperti kebanyakan alur novel online pada umumnya--menikah, punya anak dan bahagia. Untuk visual para tokoh novel "Butterfly In You" bisa pembaca lihat di Instagram Author ya, @mayu_assanna.


Sekali lagi mohon maaf dan terima kasih banyak. Semoga kita bisa mengambil hikmah serta pembelajaran dari novel ini.


^^^Tertanda Author^^^


^^^Mayu Assanna^^^