
Setelan jas hitam lengkap dengan dasi serta rompi, membalut tubuh proporsional Shehan secara sempurna. Selain memberikan kesan gagah, ia juga terlihat berwibawa dan tampan di hari pernikahannya.
Seraya menggenggam tangan Lilis--sang mempelai pengantin wanita, Shehan berjalan memasuki ruang hotel yang akan digunakan untuk proses akad nikah. Semua mata para tamu undangan yang datang tertuju pada mereka tatkala keduanya menjejakkan setapak demi setapak langkah.
Atas dasar diskusi keluarga, agar tidak memberatkan Shehan pun memutuskan untuk mengadakan resepsi acara pernikahannya bersama Lilis di kota Banyuwangi. Lantaran sanak saudara Lilis yang diperkenankan untuk hadir, keseluruhannya tinggal di kota itu.
Sedangkan dari pihak Shehan sendiri, yang dapat hadir ke acara tersebut hanyalah adik kandung perempuannya saja--Mehrunissa. Kedua orang tua Shehan kebetulan telah meninggal dunia. Selain adik Shehan, Jesslyn, Mbok Tum, Pak Maman dan tidak ketinggalan juga Sarah bersama Jody serta Nurbanu, ikut menghadiri acara sakral itu.
Shehan dan Lilis sama-sama duduk menghadap seorang penghulu dengan sebuah meja ijab kabul menjadi pemisah. Sembari ditautkan sehelai kerudung di atas kepala mereka berdua, proses akad nikah pun dimulai.
Baik Shehan maupun Lilis, serta para tamu undangan yang hadir mendengarkan secara seksama kata sambutan dan khutbah nikah yang disampaikan oleh penghulu. Selanjutnya adalah sesi puncak dari serangkaian susunan acara akad nikah, yakni ijab kabul.
"Saya nikahkan engkau, Shehan Murad bin Okan Murad dengan Lilis Ekawati binti Ahmad Budiyanto dengan mas kawin satu set perhiasan berlian dibayar tunai,” ucap penghulu dengan khusyuk sambil menjabat tangan Shehan.
Kemudian Shehan membalas. “Saya terima nikahnya, Lilis Ekawati binti Ahmad Budiyanto dengan mas kawin satu set perhiasan berlian dibayar tunai.”
"Apakah sudah sah, Saudara-Saudara?"
"Sah! Sah!" sahut para saksi dengan penuh sukacita.
Dengan posisi masih menunduk, Lilis perlahan menoleh Shehan yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Ada kebahagiaan bercampur kesedihan di pucuk matanya. Nining yang berada di barisan para tamu dan duduk di sebelah Doni--Adik Lilis, tak kuasa menahan tangis saat melihat putri semata wayangnya telah menikah.
'Ibu berharap, kamu selalu bahagia, Lis.'
Berkali-kali wanita paruh baya menyeka air mata. Kedua ujung bibirnya berkedut, berusaha menerbitkan senyum bahagia meski sulit untuk saat ini. Beberapa orang saudara yang duduk di belakang Nining pun sudah ada yang menyampaikan ucapan selamat kepadanya.
"Selamat atas pernikahan Lilis ya, Bu Nining."
"Terima kasih, ya," balas Nining lalu mengangguk singkat.
Usai acara pembacaan doa akad nikah, penandatanganan buku nikah dan serah terima mahar, kini tiba saatnya bagi Shehan dan Lilis harus bertukar cincin. Masing-masing dari mereka telah memegang sebuah cincin yang akan dipakaikan ke jari manis masing-masing. Dimulai dari Shehan lebih dulu.
'Lilis Ekawati, sebagai suamimu aku meminta maaf. Maaf, belum bisa mencintaimu dengan tulus. Maaf, belum bisa memberimu ruang di dalam hatiku. Maaf belum bisa membahagiakanmu lahir dan batin. Maaf, bila aku akan menceraikanmu setelah setahun pernikahan kita.'
Shehan kemudian menyematkan cincin mas putih ke jari manis Lilis. Lima detik berikutnya, cincin telah terpasang dengan sempurna. Barulah Lilis yang mendapat giliran untuk memasangkan cincin di jari manis Shehan.
'Tuan Murad, sebagai perempuan aku meminta maaf. Maaf karena mau menikah denganmu karena sebuah tujuan tertentu. Tetapi sebagai istrimu, aku akan berusaha menjalankan peraturan kerjasama yang telah kita sepakati. Apapun yang akan terjadi kelak, semoga kita berdua dapat bertahan menghadapi ujian.'
Dengan lembut Lilis menyematkan cincin kawin ke jari manis Shehan. Keduanya saling mengangkat wajah dan bersemuka cukup lama. Menilik ke dalam sanubari satu sama lain lewat tatapan intens.
**
Nining tampak sibuk melayani para tamu yang lain ketika semua proses akad nikah telah terlaksana dan berakhir. Di sela-sela keramaian, Nurbanu berlari kecil menghampiri ayahnya.
"Papa ...."
"Sayang!" Shehan memeluk putrinya erat lalu menggendongnya. Diciumnya pula pipi anak kecil itu sekali.
"Papa, hari ini Papa menikah sama Kak Lilis, ya?"
"Ya, Banu. Siapa yang bilang pada Banu?"
"Mama yang bilang. Menikah itu apa sih, Pa?"
Lilis yang berada di samping mereka ikut tertawa kecil mendengar pertanyaan polos Nurbanu. Sementara dari arah berlawanan, Sarah dan Jody datang dengan raut gembira, ingin memberikan ucapan selamat.
"Banu, sini sama Mama. Papa sedang sibuk sekarang," ajak Sarah sambil merentangkan tangan hendak mengambil putrinya dari gendongan Shehan. Lantas Shehan pun memberikannya.
"Selamat ya, Shehan dan Lilis atas pernikahan kalian."
Segaris senyum Shehan tercipta, berjabat tangan kemudian. "Terima kasih, Jody. Sudah menyempatkan diri untuk datang ke sini bersama Sarah."
"Tentu saja aku akan hadir. Jadi tidak perlu sungkan, Shehan." Jody bersikap ramah. Meski profesinya seorang penyanyi terkenal. Namun, lelaki humoris itu tetap rendah hati.
"Terima kasih ya, Mas Jody." Lilis menimpali.
Perhatian Jody kini teralihkan pada Lilis. "Wah, Shehan! Kau sangat beruntung mendapatkan istri yang cantik." Menatap penuh kagum.
"Ah, Mas Jody bisa saja!" Lilis menunduk, tersipu malu. Shehan sendiri tersenyum tipis mendengar pujian Jody untuk istri barunya.
Sesaat Shehan tertegun, memandangi kecantikan Sarah yang datang bergaun merah terang hari ini. Lipstiknya pun senada, berwarna merah terang juga. Lilis yang berada di sana tanpa sengaja memergoki Shehan melihat Sarah dengan tatapan penuh cinta.
'Aku tahu Tuan Murad masih sangat mencintai Mbak Sarah,' gumam Lilis, menghela napas pelan berusaha memaklumi.
"Terima kasih, Sarah." Shehan menjawab.
"Kalian pasti sangat sibuk dengan tamu undangan yang lain sekarang. Aku, Jody dan Nurbanu akan mencicipi hidangan dulu." Sarah menarik diri.
"Ya ... ya, silakan." Shehan beralih dari Sarah ke Jody. "Silakan Jody, tolong jangan sungkan."
"Hhmm ...." Dehaman Jody cukup jelas untuk mengutarakan kesetujuannya.
"Ayo, Sayang!" Sarah mencoba merangkul lengan Jody. Jody yang tahu Sarah sedikit kesusahan menggendong Nurbanu, memberikan pengertian.
"Banu, sini Om gendong! Kita mau terbang, cari kue manis yang Banu suka!"
"Iya, Om!" sahut anak kecil itu girang.
Lekas Nurbanu pindah posisi ke gendongan Jody. Sarah tentu saja senang dengan kebaikan hati Jody. Ia merangkul lengan kiri suaminya, berdampingan pergi ke meja hidangan.
Shehan yang tertinggal di belakang masih menatap mereka meski pasangan itu telah cukup jauh. Lilis cuma bisa bermurah hati, dia merasa tidak berhak cemburu ataupun marah sebab statusnya hanya istri kontrak. Hanya dia, Shehan, Pak Sebastian dan Tuhan sajalah yang tahu.
"Congratulation for you, Shehan and my beloved older sister in law, Lilis!" Mehrunissa juga memberikan ucapan selamat atas pernikahan kakaknya dan Lilis. Namun sayang, ia tidak bisa tinggal lebih lama di Indonesia karena masalah pekerjaannya yang menumpuk di Turki.
Mbok Tum yang datang bersama Pak Maman turut menyelamati pasangan pengantin baru itu.
"Selamat ya, Non Lilis. Mbok tidak tahu kalau Non Lilis adalah calon istri Tuan. Mbok minta maaf kalau selama ini suka minta tolong Non Lilis untuk membantu membereskan pekerjaan rumah."
Lilis menggamit tangan Mbok Tum dengan kedua tangannya. "Tidak apa-apa, Mbok. Aku sudah menganggap Mbok Tum seperti orang tuaku sendiri karena di Bali, aku tidak punya siapa-siapa selain Mbok Tum dan Pak Maman. Ke depannya, aku akan tetap membantu Mbok Tum."
"Jangan Non Lilis, Mbok merasa tidak enak!" Mbok Tum mengernyit.
"Tolong jangan bersikap berbeda setelah ini, Mbok. Aku tetaplah Lilis yang dulu meskipun sudah menikah dengan Tuan Murad."
Melihat ketulusan dari pancaran mata Lilis, Mbok Tum akhirnya luluh juga, menuruti permintaan Lilis. "Baiklah, Non. Terima kasih banyak, Non Lilis sudah bermurah hati sama Mbok Tum."
Lilis memberikan senyum manisnya sebagai jawaban.
Tak disangka, Hendra dan Tina juga hadir ke acara pernikahan Lilis dan Shehan, setelah sebelumnya Lilis memberikan mereka kartu undangan lewat ibunya-Nining.
"Shehan ... Lilis!" Hendra-lah yang menyapa lebih dulu.
Seketika Lilis semringah. "Eh, Mas Hendra! Mbak Tina!"
"Selamat atas pernikahan kalian berdua. Maaf tentang kejadian waktu itu." Hendra melanjutkan perkataannya.
"Tidak apa-apa, Hendra. Semua sudah jelas dan tidak perlu diungkit lagi. Terima kasih sudah mau datang." Sebagai sesama pria, Shehan mewakili Lilis untuk bicara.
"Selamat ya, Lis. Kamu sekarang jadi pengantin juga." Tina memeluk Lilis, akrab.
"Sama-sama, Mbak Tina. Terima kasih sudah bersedia datang."
Pelukan Lilis dan Tina merenggang. Saling memberikan kesan hangat dan tentram. Baik Lilis maupun Tina, sudah lebih bijaksana dalam bersikap sekarang. Tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka.
Setelah kepergian pasangan Hendra dan Tina, Jesslyn menggantikan posisi mereka untuk memberikan ucapan selamat.
"Shehan, selamat atas pernikahanmu!"
"Terima kasih, Jesslyn."
Shehan dan Jesslyn saling memeluk cukup lama. Jesslyn menghela napas panjang, memejamkan mata, mengusap punggung Shehan beberapa kali. Ia begitu sebab ingin melebur sesuatu di hatinya yang Lilis tidak tahu itu apa. Gadis polos yang telah resmi menjadi istri Shehan itu hanya menganggap kedekatan mereka sebagai pasangan sahabat saja.
***
BERSAMBUNG...