Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 79 : Cemas



Shehan dan Lilis sama-sama menatap tidak percaya ke layar televisi yang masih menyala dan menayangkan berita peristiwa yang terjadi seputar dalam negeri. Nurbanu yang duduk di antara mereka, tenang bermain mainannya. Anak kecil itu belum mengerti kalau situasi ruang tengah yang mereka huni semula tenang berubah jadi mencekam.


"Apa benar berita itu, Mas?" Lilis menoleh suaminya dan bertanya dengan kening penuh garis kernyitan panik. Shehan tidak membalas ataupun menoleh LiIis gantian. Masih tertegun mendengar berita yang memang sangat mengejutkan itu.


"Mas Shehan...," panggil Lilis lebih kencang. Kali ini Shehan menoleh.


"Tunggu sebentar, Lilis! Aku mau menghubungi Sarah dan menanyakan tentang kebenaran kabar ini." Shehan ikut panik.


"Ya, Mas." LiIis mengangguk. Sorot matanya mengawasi Shehan yang buru-buru pergi meninggalkan ruang tengah sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana. Sampai jejak langkah Shehan berbelok ke suatu ruangan, barulah LiIis berpaling. Tetap tinggal di ruang tengah menemani Nurbanu bermain.


Setibanya di ruangan yang sunyi, Shehan menelepon Sarah. Namun, tidak langsung dijawab oleh Sarah panggilannya tersebut. Sampai beberapa kali dering panggilan mengudara, akhirnya Sarah menerima panggilan itu.


"Ha--lo ... She--han...." Suara Sarah parau dan tersendat ketika menyapa dari seberang. Ia juga terdengar sesengukan.


Deg!


Batin Shehan langsung terenyuh. Dari intonasi mantan istrinya bicara, Shehan sudah bisa menebak kalau berita yang dia lihat di televisi tadi ternyata benar adanya.


"Aku ... aku...." Shehan ragu ingin melanjutkan kalimat, "tadi aku melihat berita di televisi---"


"Ya, Shehan," potong Sarah,  "berita itu benar. Jody--suamiku sudah meninggal dunia! Hiks ... hiks ... hiks...." Sarah terisak.


Shehan bergeming, mendengar ratapan tangis mantan istrinya. Alunannya begitu pilu menyayat hati. Pasti Sarah sangat terpukul saat ini. "Sarah, aku turut berdukacita atas kejadian ini," ujarnya kemudian.


"Hiks ... hiks ... hiks ... aku tidak menyangka kalau Jody akan pergi secepat ini, Shehan! Aku belum rela dia pergi meninggalkanku seperti ini! Hiks ... hiks ... hiks..." Kecamuk Sarah meledak terbawa suasana haru yang melingkupinya.


'Kasihan Sarah!'


Shehan yang pernah mencintai Sarah merasa tidak tega. Ia pun mengambil keputusan sendiri ingin menghibur mantan istrinya itu.


"Sarah, tunggu aku di sana! Aku akan datang sekarang menemuimu!"


"Ya, Shehan. Terima kasih!"


"Jaga dirimu baik-baik."


"Hhmm."


Terdengar Sarah menyeka hidungnya yang berair saat Shehan menutup panggilan telepon mereka. Lekas ia berjalan kembali ke ruang tengah menemui Lilis yang masih ada di sana sedang menunggu dengan perasaan harap-harap cemas. Seketika Lilis bangkit dari duduknya tatkala melihat Shehan sudah kembali. Ikut menyambangi Shehan dan bertemu di tengah jalan.


"Bagaimana Mas? Apa berita itu benar?" tanya Lilis masih panik.


Shehan diam, menghela napasnya berat. Ia menatap LiIis dengan sorot mata dalam cukup lama. "Ya, LiIis. Berita itu benar. Jody sudah meninggal dunia."


Kernyitan yang terpahat di wajah LiIis berubah menjadi mimik terkejut luar biasa. Ia menganga. Bahkan, tangannya gemetar saat akan menutup mulutnya yang menganga itu saking syoknya.


"Bagaimana dengan Mbak Sarah, Mas?"


"Dia sangat terluka saat ini. Aku akan berangkat ke Jakarta malam ini juga untuk menemuinya."


"Malam ini, Mas?"


"Ya, sekarang juga aku harus ke sana," jawab Shehan, yakin.


"Lalu aku dan Nurbanu bagaimana?"


"Kalian ikut saja denganku malam ini. Besok pagi terpaksa kita harus meminta izin libur pada kepala sekolah TK Nurbanu lagi."


Kerisauan tampak jelas tergambar di diri Shehan. Lilis pun menyadari itu. Hal ini wajar karena biar bagaimanapun Sarah adalah ibu kandung dari anak semata wayang mereka. Terlebih lagi dulunya mereka pernah saling mencintai.


"Ya, Mas. Sekarang aku akan mengemasi pakaian kita."


"Ya."


Lilis berbalik badan hendak pergi menuju kamar utama, tetapi baru dua langkah menjejakan kaki, Shehan memanggilnya lagi.


"Lilis!"


"Bawa seperlunya saja agar kita bisa cepat berangkat."


"Ya, Mas."


Gadis itu kemudian melanjutkan lagi jalannya. Sedangkan Shehan sibuk memesan tiket untuk penerbangan dengan rute tujuan Bali-Jakarta dan untungnya masih ada jadwal keberangkatan pesawat malam ini.


**


Sebuah koper berukuran cukup besar yang ada di dalam lemari ruang berpakaian LiIis keluarkan dan taruh di atas tempat tidur. Dipilihnya beberapa helai pakaian miliknya dan milik Shehan. Pakaian dengan bahan kain yang nyaman untuk dikenakan sehari-hari. Tak lupa beberapa pakaian Nurbanu juga LiIis masukan ke dalam koper yang sama. Tak sampai setengah jam, LiIis sudah siap berkemas.


Shehan datang ke dalam kamar, ingin memastikan pekerjaan Lilis dan untungnya pria itu memang tiba tepat waktu. "Sudah selesai, LiIis?"


Lilis baru saja selesai mengatur kode keamanan koper. Ia melongok ke samping--ke arah Shehan yang sedang berjalan mendekat. "Sudah, Mas. Barang-barang penting semuanya sudah kumasukan."


Shehan mengangguk beberapa kali. Tak ingin membuang waktu, segera ia menurunkan koper dan mengajak semua anggota keluarganya pergi ke bandara malam ini.


"Nurbanu, pakai jaketnya, ya!"


"Kita mau ke mana Kak Lilis? Sekarang kan sudah malam?" Nurbanu balik bertanya pada Lilis yang sedang memakaikan sebuah jaket wol warna merah muda ke badannya.


LiIis tersenyum lembut, tidak ingin membuat anak kecil itu khawatir. "Kita mau ke rumah Mama Sarah."


"Mama! Yeay! Ke rumah Mama!" Nurbanu sontak kegirangan sambil loncat-loncat. Ia tidak tahu tujuan sebenarnya mereka datang ke tempat itu. Bagi Nurbanu bisa mengunjungi ibu kandungnya adalah impiannya setiap hari.


Sementara Shehan sibuk mengirim pesan melalui ponsel untuk sekretarisnya--Miranda agar mengatur ulang jadwal pekerjaannya besok. Pak Maman yang sudah siap memasukan koper ke dalam bagasi mobil menghampiri.


"Tuan, kopernya sudah saya simpan."


"Ayo, sekarang kita ke bandara, Pak!"


"Ya, Tuan.,"


Masing-masing mengambil posisi. Pak Maman membukakan pintu kabin depan untuk Shehan. Setelah itu masuk dan duduk di bangku kemudi. Lilis bersama anak asuhnya duduk di kabin belakang. Pak Maman kemudian membelah jalanan malam dengan laju kecepatan sedang meski tidak banyak pengendara lain menghuni jalan raya malam ini.


Pria paruh baya itu lebih mengutamakan keselamatan. Apalagi beliau juga sudah mendengar tentang kabar yang menimpa suami Sarah--meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas.


Beberapa saat kemudian.


Lilis diam memperhatikan gelagat Shehan yang tidak bisa tenang semenjak mendengar kabar buruk itu. Berjalan mondar-mandir di depan Lilis seraya memasukan kedua tangan ke dalam saku celana.


'Mas Shehan pasti sangat cemas dengan keadaan Mbak Sarah sekarang.'


Sebentar Lilis mengedarkan pandangan ke sekeliling. Terdapat banyak kursi-kursi kosong di ruang tunggu, hanya saja sepertinya Shehan memang enggan duduk untuk menenangkan diri.


"Mas, duduk dulu, Mas!" pinta Lilis.


"Ya, nanti!" Balas Shehan, kaku.


LiIis mencoba memahami suasana hati Shehan saat ini. Sesekali ia berbincang dengan Nurbanu--yang sedang duduk di sebelahnya, agar anak kecil itu tidak merasa kesepian.


Saat terdengar pemberitahuan kepada para penumpang untuk masuk ke dalam kabin pesawat karena sebentar lagi pesawat akan segera berangkat, Shehan-lah yang paling antusias.


"Ayo, Lilis! Banu! Cepat jalannya!"


"Ya, Mas." Lilis mengalihkan perhatiannya pada anak kecil yang sedang dituntunnya, "Banu, mau Kak Lilis gendong?"


"Tidak, Kak. Banu mau jalan saja!"


Ketiganya lantas masuk dan duduk di kabin pesawat dengan posisi saling bersebelahan. Menunggu pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas menuju Jakarta.


***


BERSAMBUNG...