Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 72 : Bertandang Ke Rumah Baru



Nurbanu asyik bermain permainan melalui gawai ketika Lilis menoleh anak sambungnya yang sedang duduk di kabin belakang mobil--ditemani boneka beruang warna coklat berukuran cukup besar. Sesekali tangan kanan Nurbanu merogoh plastik kemasan makanan ringan yang tergeletak di bangku dekat dia duduk. Melahap camilan itu sembari bermain permainan lagi.


"Banu! Banu haus?" tanya Lilis perhatian.


"Tidak, Kak Lilis," sahut Nurbanu, tetapi tidak melihat Lilis. Anak kecil itu enggan berpaling dari layar gawai serta jajan yang sedang dinikmatinya. Terkadang remahan jajan tersebut jatuh berserakan di sekitar bangku kabin.


Namun, Lilis tersenyum senang mendapati anak sambungnya tetap tenang dan nyaman meski sudah ikut menempuh perjalanan cukup jauh dari Bali ke Banyuwangi. Kali ini pun Pak Maman ikut bersama mereka agar bisa menyetir mobil bergantian dengan Shehan.


Sebelumnya Pak Maman yang menyetir lebih dulu selagi Lilis, Shehan dan Nurbanu duduk di kabin tengah, tetapi setelah tiga perempat jalan dilalui, Shehan mengatakan kalau ingin menyetir mobil. Lantas, Pak Maman pindah duduk ke kabin paling belakang, sementara Nurbanu di tengah dan Lilis bersama suaminya duduk di kabin depan.


Kini Lilis kembali memperhatikan Shehan seraya menyuapi pria Turki itu potongan rujak buah yang mereka beli di jalan.


"Ayo, Mas, buka mulutnya!"


Sekali Shehan melihat sekilas lalu membuka mulut, menerima suapan dari tangan Lilis. Shehan mengunyah makanannya dengan mulut tertutup sambil fokus memperhatikan jalan raya dan mengemudikan mobil dengan hati-hati.


Lilis juga ikut makan rujak buah tersebut. Diambilnya sepotong buah nanas lalu mengunyahnya perlahan. Memang semenjak menikah dengan Shehan dan menyandang gelar Nyonya Murad, Lilis bertindak dan bersikap lebih hati-hati agar tidak mempermalukan dirinya sendiri.


Hampir empat jam menghabiskan waktu di jalanan, mobil keluarga itu tiba di pelataran rumah yang cukup luas di dekat pusat kota Banyuwangi. Tujuan Lilis datang bersama keluarganya ingin melihat rumah baru yang pernah Shehan janjikan akan dibangun atas nama Lilis dan ketika gadis itu turun dari mobil, Lilis tercengang mengagumi betapa bagus rumah itu.


"Nak Shehan! Lilis! Sudah datang, ya!" Nining--ibu Lilis menghampiri para tamunya yang masih berdiri di sekitar mobil.


"Ibu...." Kompak Shehan dan Lilis menyapa. Lilis memeluk ibunya disusul Shehan menyalami Nining--sang ibu mertua.


"Bagus ya, Bu, rumahnya!" puji Lilis. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, tak ada yang luput dari pengelihatannya. Pagar yang cukup tinggi, bangunan yang kokoh serta sudah ditanami beberapa pohon perindang dan taman pula.


"Iya, Lis. Bagus!" timpal Nining yang kemudian mengalihkan perhatiannya pada Shehan. "Terima kasih, Nak Shehan, ini semua berkah yang tidak terhingga dari Nak Shehan."


"Sama-sama, Ibu. Ibu adalah keluarga saya, tolong jangan sungkan, ya." Shehan membalas.


Tak lama Nurbanu baru ikut menyambangi keberadaan orang tuanya. Sedangkan Pak Maman berdiri di dekat mereka.


"Loh, Nurbanu ikut juga? Sini sama Nenek sini!"


"Iya, Nek. Selamat siang, Nek." Sikap sopan anak kecil itu membuat kagum Nining yang segera memeluk dan menciumnya.


"Duh, anak pintar!" Beberapa kali Nining mengusap kepala Nurbanu. Nurbanu pun senang dengan perhatian Nining.


"Selamat siang, Pak Maman," imbuh Nining menyapa pria yang sekiranya umur mereka sebaya.


"Selamat siang, Bu." Pak Maman menjawab ramah seraya mengangguk singkat.


"Ayo, semuanya masuk, yuk!"


Tak sabar ingin menunjukan bagian-bagian rumah, Nining mengajak Lilis dan Shehan untuk mengitari sekeliling rumah. Awalnya Shehan berniat akan membangunkan rumah dua lantai untuk Lilis, tetapi Lilis menolak. Gadis itu beralasan ingin rumah satu lantai yang sederhana saja. Akhirnya Shehan putuskan untuk membangun rumah satu lantai dengan ukuran lebar serta pekarangan yang luas.


Sejauh mata memandang, rumah itu lebih banyak didominasi dengan cat berwarna pastel yang hangat. Perabotannya banyak menggunakan bahan kayu dan dicat sesuai warna alaminya. Beberapa alat canggih untuk perlengkapan rumah tangga juga sudah tersedia di sana. Bila di rumah kontrakan Lilis yang lama tidak ada kulkas, kipas angin, apalagi AC. Kini di rumah yang baru sudah ada barang-barang itu, bahkan oven listrik dan peralatan canggih lainnya.


Di pekarangan belakang, Nining memanfaatkan lahan yang ada dengan bercocok tanam sayuran menggunakan polibag. Suasana rumah menjadi lebih asri dan sejuk. Kini Nining pun sudah tidak bekerja lagi sebagai buruh cuci baju di rumah orang. Shehan dengan bijaksana telah membukakan usaha toko kelontong agar dapat dikelola Nining dan dibantu oleh Doni--adik Lilis.


**


Malam Hari.


Nining menyarankan agar Shehan sekeluarga bertolak lagi ke Bali esok pagi saja agar bisa beristirahat sejenak dan berkumpul lebih lama. Apalagi semenjak menikah, ini baru kali kedua Lilis pulang mengunjungi ibunya di Banyuwangi. Tersedia kamar yang cukup di rumah itu. Pak Maman dan Doni tidur di kamar masing-masing. Sedangkan Nurbanu diajak Nining tidur di kamarnya. Tinggallah Shehan dan Lilis yang menempati kamar utama.


Gadis itu baru saja mengganti pakaian rumah dengan gaun tidur yang cukup mencolok. Meski warna dasarnya gelap, tetapi gaun tidur cukup transparan dan dilapisi lagi dengan baju paling luar. Sebelum naik ke tempat tidur, Lilis berputar-putar mengitari kamarnya. Masih ia mengagumi rumah baru itu.


"Terima kasih ya, Mas. Rumah ini benar-benar bagus!"


Shehan tidak menjawab, tetapi memperhatikan Lilis dari posisinya yang sedang duduk di tepi ranjang. Bukan salah pria itu juga bila Shehan tak bisa berpaling dari Lilis, sebab Lilis terus berjalan sesekali berputar dan berjinjit sehingga memperlihatkan bagian tubuhnya yang mengintip dari celah-celah gaun yang terangkat.


"Mas! Kok diam saja, sih!" rengek Lilis, urung mendapat balasan Shehan.


Shehan malah tersenyum melihat perangai Lilis yang kekanakan. Ia kemudian berdiri, mendekati istrinya. Tiba-tiba menarik tangan Lilis dengan satu gerakan cepat.


Sap....


"Akh!" Spontan Lilis berdecak kaget. Tubuhnya terbentur dada bidang Shehan. Ia gugup memandangi Shehan yang sedang melihatnya tanpa berkedip. "Mas...."


"Kamu suka rumah ini?" tanya Shehan bernada menggoda.


"Ya ... Mas. A--ku ... suka rumahnya." Lilis menjawab terbata, menahan sensasi ge-li karena Shehan sedang merayapi pahanya saat ini.


"Tapi aku lebih suka dirimu." Shehan meninggalkan area paha Lilis. Menempatkan punggung jari tangannya ke pipi sang istri seraya membelai dengan lembut.


Dari tatapan dan gelagat Shehan, Lilis menduga suaminya akan meminta sesuatu yang lebih darinya.


"Mas, a---"


Kalimat Lilis dihentikan oleh ciuman Shehan. Bibir mereka bertemu, memercik gairah saling menyatu.


***


BERSAMBUNG...