Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 43 : Kenyataan Pahit



Kembali ke masa sekarang.


Gemuruh dan petir saling bersahutan di tengah derasnya hujan yang turun malam ini. Di dalam sebuah kamar yang sunyi, Lilis duduk seorang diri di depan meja rias. Melepaskan jepit rambut yang tersemat di rambut panjangnya yang tergerai.


Diletakannya jepit rambut itu ke atas meja. Menatapnya cukup lama dengan sorot mata sayu. Jepit rambut yang merupakan hadiah pernikahan dari Shehan-Suaminya. Jepit rambut itu berkilau terkena paparan cahaya lampu dari langit-langit kamar. Kilaunya turut membias dalam pancaran bola mata Lilis. Sungguh indah sekali. Namun sayang, tidak seindah hari yang Lilis lalui malam ini.


Dengan gerakan lemah gadis itu menghapus riasan wajah dengan kapas yang sudah diberi cairan pembersih, sambil melihat bayangannya yang tak lagi merona di cermin. Beberapa sapuan telah Lilis lakukan pada area pipi, tetapi tiba-tiba tangannya yang sedang memegang kapas terkulai, mendarat ke permukaan meja rias. Lilis lelah, bahkan sekadar untuk membersihkan riasan wajah saja bagai tak bertenaga.


Tak peduli dengan sisa riasan yang masih menempel, Lilis pergi meninggalkan meja rias. Berganti baju dengan pakaian yang lebih nyaman untuk dikenakan saat tidur. Selesai berganti, Lilis beranjak naik ke sofa, tempat ia mengistirahatkan diri. Dari sofa itu, sesekali Lilis melongok ke ranjang Shehan.


Bila biasanya Shehan akan duduk santai sambil bersandar pada headboard tempat tidur seraya ditemani sebuah buku. Menghabiskan sisa hari kemudian pergi tidur setelah tidak sanggup lagi menahan kantuk yang mendera.


Kini ranjang itu kosong tidak berpenghuni. Bentangan selimut yang melapisi kasur bagian kaki pun masih rapi. Tidak ada guratan kusut sama sekali. Dengan sedih Lilis memalingkan muka, tidak ingin melihat ranjang itu lagi.


'Mas Shehan, sebenarnya Mas di mana? Sekarang sudah jam setengah dua dini hari, tapi Mas belum juga kembali. Kenapa tidak bilang kalau Mas tidak akan pulang malam ini? Setidaknya, jangan buat aku menunggu. Karena menunggu tanpa kepastian itu rasanya tidak enak.'


Lilis berbaring telentang di sofa. Kedua tangannya memegang tepian selimut yang menutupi tubuhnya sampai batas dada. Ia berusaha memejamkan mata meski sulit. Mencoba tetap tenang dan tidak memikirkan Shehan lagi.


**


Esok pagi.


Mata Shehan berkerut, sebelum mengerjap beberapa kali lalu akhirnya terbuka dengan sempurna. Ia terbangun usai menghabiskan malam yang panjang bersama Jesslyn. Ketika akal sehatnya telah kembali, Shehan pun menyadari kalau dia sedang berada di kamar yang berbeda, bukan di rumahnya.


'Di mana aku?'


Batin Shehan bertanya usai menatap langit-langit kamar. Saat akan bangkit, terasa sebuah tangan tengah melingkari perutnya. Seketika Shehan terkesiap melihat dirinya sendiri dalam keadaan tanpa busana, semerawut serta acak-acakan.


"Hah! Jesslyn!"


Lebih terkejut lagi ia tatkala melihat sahabatnya juga dalam kondisi yang sama, polos tanpa sehelai benang pun. Apalagi Jesslyn sedang tidur di sampingnya.


"Jesslyn ...."


Sepasang mata Shehan membesar. Ia masih enggan percaya dan berpikir kalau semua yang dilihatnya pagi ini hanya sebuah mimpi belaka. Untuk menyadarkan dirinya sendiri, lantas Shehan mengguncang tubuh Jesslyn berkali-kali, hendak membangunkan wanita itu.


"Jesslyn! Bangun, Jesslyn! Jesslyn!"


Panggilan Shehan yang berisik, memaksa Jesslyn terbangun dari tidur lelapnya. Sekejap kemudian ia menggeliat pelan. Perlahan matanya ikut terbuka. Begitu melihat Shehan ada di hadapannya, senyum Jesslyn pun terbit.


"Selamat pagi, Shehan. Kau sudah bangun?"


Seraya memegang tepian selimut untuk menutupi bagian dadanya yang terbuka, Jesslyn bangkit. Tanpa aba-aba mendaratkan sebuah kecupan singkat ke bibir Shehan.


Cup ....


"Apa-apaan kau ini!"


"Akh!" Jesslyn berdecak kaget saat Shehan mendorongnya dengan keras hingga ia terjungkal ke belakang.


"Katakan padaku, sebenarnya apa yang terjadi, Jesslyn? Kenapa aku bisa ada di kamarmu?" tanya Shehan, serius. Tatapannya fokus, tak berpaling dari Jesslyn barang sedetik saja.


Jesslyn menoleh, melempar tatapan tajam sembari membenarkan posisi duduknya. "Kenapa kau berubah kasar pagi ini, Shehan? Padahal tadi malam, kau memperlakukanku dengan sangat lembut!"


"Tadi malam?" Shehan mengernyit bingung.


"Ya, Shehan. Tadi malam."


"Memangnya apa yang telah kulakukan padamu?"


"Kau sudah tidur denganku!"


"Apa?" Spontan Shehan melotot dan menganga. Alisnya nyaris bertaut menggambarkan keterkejutan yang amat sangat.


"Apa kau lupa kalau tadi malam kita bercinta sampai hari menjelang subuh, Shehan? Kau tidak berhenti melakukannya. Terus menerus, sampai aku yang memohon padamu untuk menyudahinya."


"Tidak mungkin! Tidak mungkin aku melakukannya!" Shehan menggeleng beberapa kali.


Sekonyong-konyong Jesslyn membuka selimut yang sedari tadi membungkus bagian dadanya. Sengaja ingin memperlihatkan bekas tanda merah yang Shehan ciptakan hampir di sekujur tubuhnya. Shehan menatap itu dan seperti tidak percaya, tetapi sekeras apapun keinginannya untuk menyangkal, semua bekas tanda merah di tubuh Jesslyn memang nyata.


"Kau sudah melihatnya bukan? Ini semua hasil perbuatan siapa kalau bukan perbuatanmu?"


Shehan mengerutkan mata. Menekan pelipisnya. Kepalanya berat seakan mau pecah. Dalam keadaan sadar, tidak mungkin dia mau bercinta dengan Jesslyn, tetapi kenapa peristiwa nahas itu bisa benar-benar terjadi.


Jesslyn mendekati Shehan, memegang pundaknya hendak menenangkan pria itu. "Shehan, sudahlah ...."


"Lepaskan aku!" Shehan menepisnya dengan kasar.


Jesslyn tersentak lagi. "Kenapa kau jadi seperti ini? Kita berdua sudah sama-sama setuju untuk melakukannya tadi malam. Kenapa kau tidak mau menerima kenyataan ini?"


Perdebatan pun tidak bisa dihindari.


"Aku tidak mungkin mau melakukannya denganmu, Jesslyn. Karena aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun selain menganggapmu hanya sebagai seorang teman saja. Aku ingat kalau tadi malam aku sudah mau pulang. Tapi aku merasa sesuatu yang aneh telah terjadi di tubuhku. Katakan, Jesslyn! Minuman apa yang sudah kau berikan padaku?"


Jesslyn ingat mencampurkan obat ke dalam minuman Shehan, tetapi tidak mungkin dia mau mengakuinya.


"Tidak, Shehan! Aku hanya memberimu minuman yang sama seperti minuman yang kuminum."


"Kau bohong! Pasti kau sudah mencampurnya dengan sesuatu dan membuatku jadi hilang kendali."


Shehan turun ranjang, mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai. Dengan tergesa-gesa ia memakainya lagi. Jesslyn kemudian ikut turun, menyambangi Shehan sambil memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Shehan, percayalah! Aku tidak berbuat apa-apa padamu!"


Shehan tidak peduli. Keinginan terbesarnya saat ini adalah pergi meninggalkan kamar Jesslyn. Namun, Jesslyn menahan tangannya.


"Lepaskan aku, Jesslyn!"


"Jangan pergi, Shehan!"


"Aku mempercayaimu, tetapi kau melakukan ini padaku!"


"Aku begitu karena aku mencintaimu!"


"Kau sudah menodai jalinan persahabatan kita!"


"Aku tidak mau jadi temanmu!" Jesslyn meronta. "Aku mau jadi milikmu!"


"Lepaskan aku!"


"Akh!"


Shehan menarik tangannya dipegang Jesslyn dengan kuat hingga benar-benar terlepas.


"Shehan ... Shehan! Jangan pergi, Shehan!"


Jesslyn berteriak memanggil, tetapi Shehan tidak peduli. Ia terus melangkah pergi, keluar dari rumah Jesslyn.


Beberapa saat kemudian.


Lilis baru saja mengantar Nurbanu naik bus TK ketika mobil Shehan memasuki pelataran rumah. Lilis yang sudah berada di ambang pintu utama menoleh tatkala mendengar deru mesin mobil yang kian jelas.


'Itu mobil Mas Shehan!' gumamnya semringah.


Tidak langsung memarkirkan mobilnya ke garasi, Shehan hanya memarkirkan mobil itu di halaman depan rumah lalu turun dengan wajah kusut seribu. Ia berjalan terburu-buru hendak masuk.


"Mas ...," panggil Lilis ketika Shehan melewatinya. Namun, alih-alih menjawab. Shehan bahkan tidak menoleh Lilis. Terus berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah terburu-buru dan pandangan terhunus ke depan.


Kepala Lilis sampai berputar, mengawasi Shehan. 'Kenapa lagi Mas Shehan pagi ini? Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres,' gerutunya dalam hati.


***


BERSAMBUNG...