Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 19 : Ratu Drama



"Kamu berasal dari mana, Shehan?"


Kalimat itu tercetus dari mulut Hendra selagi reuni pasangan Lilis, Shehan, Hendra dan Tina tengah berlangsung. Di atas piring Hendra sudah tersisa setengah potong steik saja. Sedangkan Shehan nyaris menghabiskan semua steik miliknya.


Tina dan Lilis yang duduk saling berhadapan seketika ikut menoleh, dengan kedua tangan masing-masing memegang garpu dan pisau makan. Isi di piring mereka juga sama, masih ada banyak potongan steik daging sapi yang belum dimakan. Mungkin kedua wanita itu sengaja makan secara lambat untuk menjaga imej.


Pandangan Shehan dan Hendra bersirobok. "Turki ... negara asalku adalah Turki dan aku membuka bisnis di sini" jawab Shehan pada Hendra.


"Kalau boleh tahu bisnis apa itu?"


"Aku mengelola resor milikku sendiri."


'Berarti Shehan seorang pengusaha. Pantas saja penampilan dan pakaiannya kelihatan mahal. Dia juga membelikan Lilis gaun mahal.' Tina yang sedari tadi menyimak percakapan kedua pria itu membuat kesimpulan sendiri.


"Kapan-kapan boleh dong aku dan Tina datang ke sana?" kelakar Hendra yang ditanggapi serius oleh Shehan.


"Silakan, datang saja! Pelayanan resorku siap menyambut kalian," ucapnya ringan.


"Sudah berapa lama kamu tinggal di Indonesia? Bahasa Indonesia-mu sudah lancar seperti air."


"Cukup lama, sudah enam tahun aku tinggal di Bali."


"Wow, pantas saja! Lidahmu sudah fasih bicara." Hendra memberi sanjungan lewat binar sorot matanya.


"Ya, karena sudah terbiasa."


"Omong-omong, kapan kamu dan Lilis akan menikah?"


"Uhuk ...." Mendadak Lilis tersedak sebab tersentak. Nyaris potongan steik daging sapi yang berada di dalam mulutnya tertelan begitu saja. Gadis itu pun sontak menjadi pusat perhatian tiga orang yang semeja dengannya.


"Minumlah!" Shehan menggeser gelas jus pelangi ke dekat Lilis.


"Terima kasih."


Lilis meneguk jus itu segera.


Glek! Glek! Glek!


Rasanya lega air telah mengaliri tenggorokannya.


"Kamu tersedak karena malu, ya?" Tina mencandai mantan pacar suaminya itu.


"Ah, itu ... bukan begitu, kok." Lilis menyembunyikan wajahnya yang sudah merah merona menahan malu.


"Menikah cepat saja. Menikah itu enak, loh!" sambung Hendra, berbaur dengan suasana santai yang Tina ciptakan.


"Ya, kami akan segera menikah. Benarkan, Sayang?" Shehan memasang badan untuk melindungi Lilis dari cecar selorohan Hendra dan Tina.


Lilis yang terperangah mengangkat wajah. Manik hitamnya dan manik coklat muda Shehan saling bertemu. Mereka pun bicara lewat pandangan mata.


'Tuan Murad ... aku malu dipanggil Sayang sama Tuan!'


'Apa? Kenapa menatapku tanpa berkedip? Tidak terima kupanggil Sayang? Bukannya kamu duluan yang memanggilku begitu. Berterima kasihlah karena aku adalah pahlawanmu hari ini. Sepulang nanti kamu harus memijatku dari kepala sampai kaki. Aku lelah menjadi aktor seharian, melakoni sandiwara untuk menyelamatkanmu.'


Hendra dan Tina tertegun menyaksikan keintiman Lilis dan Shehan. Keduanya lantas bertukar pandang.


'Apa-apaan mereka? Saling menatap mesra serasa dunia milik berdua. Yang lain cuma numpang!' Tina cemburu.


"Ehem! Ehem!" deham Hendra sengaja memecah kebisuan di antara mereka.


Lilis dan Shehan yang terciduk saling bertatapan mengalihkan arah muka masing-masing ke sembarang tempat. Lilis menunduk, fokus pada makanannya lagi. Sedangkan Shehan mengambil selembar tisu lalu menyeka ujung mulutnya. Selesai membersihkan, Shehan pun bangkit.


"Permisi! Aku mau ke toliet sebentar."


"Ya, silakan!" balas Hendra seraya mengangguk singkat.


Tiga orang yang tersisa mengawasi kepergian Shehan sampai pria itu menghilang melewati pintu keluar.


Hendra kembali menyantap steik miliknya yang sudah tersisa sedikit. Begitu pun Lilis dan Tina. Namun, di dalam hati Tina merencanakan siasat untuk menggoda Shehan.


'Bagus! Mumpung ada kesempatan. Kudatangi saja Shehan di toilet. Biar sekalian bisa minta nomor teleponnya.'


Untuk memuluskan niatnya, Tina mulai mengatur skenario. Mencari alasan yang tepat agar bisa pergi ke toilet juga. Pertama-tama wanita itu mengawasi gerak-gerik Hendra dan Lilis. Tahu targetnya sedang lengah, Tina pun melancarkan aksi dengan pura-pura menjatuhkan saus barbecue ke pakaiannya.


"Aduh!"


"Kenapa Tin?" Hendra langsung menanggapi. Lilis di seberang ikut memperhatikan.


"Bajuku, Mas! Kena saus!" adu Tina, merengek.


"Bersihkan saja pakai tisu!" Hendra memberikan selembar tisu pada istrinya.


"Terima kasih, Mas. Tapi mau kubersihkan di toilet saja."


"Ya sudah."


"Aku ke toilet dulu ya, Mas!"


"Iya, Tin."


Dengan hati riang Tina bangkit dari duduknya, tergesa-gesa menuju toilet lantaran takut Shehan sudah kembali lebih dulu. Namun, agaknya Tina beruntung kali ini. Setibanya di mulut koridor yang menjadi penghubung area mall dan toilet, wanita itu berpapasan dengan Shehan.


'Itu Shehan!'


Tina berakting, memeluk perut dengan tangannya sambil merintih kesakitan. Seolah wanita itu sedang dilanda sakit perut yang hebat.


"Aduh, perutku!" Ia juga meringis agar aktingnya lebih meyakinkan.


Dari kejauhan Shehan dapat mengenali Tina. Apalagi setelah melihat wanita itu terlihat kesakitan, Shehan mempercepat laju jalannya agar bisa segera menjangkau posisi Tina.


"Tina, ada apa?" Shehan meneliti bagian perut Tina yang dilingkari tangan wanita itu.


"Akh! Perutku sakit sekali, Shehan!" erang Tina.


"Mau kupanggilkan Hendra?" Shehan ikut cemas.


"Jangan! Kelamaan kalau kamu pergi ke restoran lagi."


"Tapi kamu sedang sakit perut. Jadi aku harus bagaimana?"


"Shehan, tolong antar aku ke toilet? Sepertinya aku tidak tahan lagi. Kepalaku juga pusing. Aku takut pingsan di sini."


"Baiklah! Pegang pundakku!"


Shehan berbaik hati merangkul Tina. Tina pun mengambil kesempatan dengan merapatkan tubuhnya ke tubuh Shehan sembari memegang pundak pria itu agar tidak jatuh.


'Yes, berhasil!' gumam Tina selagi Shehan memapahnya ke toilet wanita.


"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu masuk ke dalam. Akan kupanggil saja Lilis untuk membantumu."


"Tidak Shehan! Jangan!" Tina mencengkeram lengan Shehan. "Tolong, tetaplah di sini. Aku takut tiba-tiba pingsan nanti."


"Baiklah, aku akan menunggumu di sini. Kamu bisa masuk ke dalam sendiri?"


"Bisa."


"Kalau ada apa-apa, cepat panggil aku dari dalam, ya."


"Ya, Shehan."


Tina berjalan masuk ke dalam toilet wanita. Sementara Shehan menunggu di depan pintu. Sesampainya Tina di dalam, dia cengengesan di balik telapak tangan yang menutupi mulutnya.


"Yes! Yes! Berhasil, berhasil, hore!" Ia mengepalkan tinjunya ke udara. "Tinggal sedikit lagi rencanaku akan berhasil."


Tina membasahi saus yang mengenai bajunya tadi. Menggosoknya perlahan agar hilang. Tina tahu air yang meresap akan membuat dadanya yang berada di balik kain tersingkap samar dari luar, tetapi ia sengaja melakukan itu agar Shehan dapat melihatnya.


Di luar toilet tanpa sepengetahuan Tina, Shehan menelepon Lilis.


Ddrrtt ... Ddrrtt ... Ddrrtt ....


Pada dering panggilan ketiga, gadis itu baru menjawab panggilan telepon Shehan.


"Halo."


"Lilis, cepatlah ke toilet! Ajak Hendra juga. Tina sakit perut dan sepertinya parah. Tadi dia bilang hampir pingsan!"


"Be--benarkah! I--iya, aku segera ke sana sama Mas Hendra!"


"Ya, cepatlah!"


Tut ... Tut ... Tut ....


Shehan menutup panggilan telepon.


Hendra yang melihat gelagat cemas Lilis pun bertanya. "Ada apa, Lis?"


"Mbak Tina, Mas! Katanya sakit perut sampai mau pingsan di toilet!"


"Oh ya!" Hendra panik. Ditinggalkannya Lilis begitu saja. Tergopoh-gopoh ia berjalan melewati meja-meja tamu restoran yang lain.


Lilis juga mau ikut menyusul. Namun, saat sudah berada di dekat meja kasir, langkah Lilis dicegah oleh seorang pramusaji.


"Maaf Nona. Anda belum membayar tagihan di meja nomor 33."


"Tapi maaf, temanku ada yang sakit di toilet!"


"Maaf Nona, anda tidak bisa pergi sebelum membayar tagihan pesanan di meja nomor 33 karena semua orang di meja itu sudah keluar. Tinggal Nona saja yang masih ada di sini. Tolong kerjasamanya, Nona. Kami di sini juga harus menjalankan peraturan restoran."


"Eum, bagaimana ini?" Lilis mengernyit bingung. "Ya sudah. Berapa total tagihannya?"


"Ini tagihannya, Nona."


'Apa! Mahal sekali! Mana punya aku uang segitu!'' Lilis terkesiap ketika melihat barisan nominal yang tertulis di kertas tagihan.


Di sisi lain, Hendra memergoki perbuatan tak senonoh di koridor. "Apa yang kalian lakukan?" teriaknya murka.


***


BERSAMBUNG...