Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 25 : Tamu Dari Amerika Serikat



"Kalau kamu tidak meminta perceraian lebih dulu, kamu tidak perlu membayar denda sebesar Rp.500 miliar itu," jabar Shehan dengan enteng.


Sementara dahi Lilis masih penuh kerutan ragu. Ia kembali memeriksa surat kontrak perjanjian pernikahan yang berada di tangannya.


'Benar juga yang Tuan Murad bilang. Aku tidak akan membayar denda itu kalau tidak meminta perceraian lebih dulu. Lagipula, atas dasar apa aku meminta cerai? Toh, setahun kemudian kami juga pasti akan berpisah.'


Usai membatin, Lilis mengalihkan pandangannya dari kertas berwarna putih tadi pada Shehan yang masih menatapnya. "Kalau Tuan yang meminta cerai lebih dulu. Apa Tuan juga akan membayar denda itu juga?"


"Tentu aku akan membayarnya," jawab Shehan, santai. "Aku punya uang lebih dari itu."


Glek!


Lilis menelan saliva dalam. Sudah pasti Sang Majikan memiliki uang yang banyak. Kalau tidak, mana mungkin dia bisa membuka resor dan hotel di negara lain.


Sementara di luar ruangan kerja Shehan, Mbok Tum baru saja membukakan pintu utama rumah setelah mendengar bunyi bel telah ditekan beberapa kali dari luar.


Ceklek!


Sekonyong-konyong wanita paruh baya itu semringah saat tahu siapa yang muncul di hadapannya. "Non Jesslyn ...."


Jesslyn Tjandra Kesuma, wanita yang namanya baru saja disebut Mbok Tum, usianya nyaris sebaya dengan Shehan. Ia baru saja kembali dari Amerika Serikat setelah tinggal di negara adidaya tersebut sejak enam bulan yang lalu.


Jesslyn membiarkan rambut blonde-nya yang mencapai batas pundak tergerai bebas membingkai wajah. Kulitnya putih khas orang Eropa sebab Jesslyn memang keturunan Indonesia-Belgia. Kini bayangan wanita cantik itu membias di netra Mbok Tum.


"Halo, Mbok. Lama tidak bertemu." Segaris senyum ramah terbit di bibir Jesslyn yang berwarna merah marun.


"Iya, sudah lama sekali Non Jesslyn tidak datang kemari." Mbok Tum memandang kagum.


"Aku baru kembali dari Amerika, Mbok. Di mana Shehan dan Nurbanu?" Celingukan ke dalam ruangan rumah.


Mbok Tum menoleh ke belakang sekilas. "Tuan ada di ruang kerjanya, kalau Non Nurbanu, lagi ikut sama Mamanya-Nyonya Sarah."


"Oh, Sarah datang ke sini?" Jesslyn agak terkesiap.


"Cuma seminggu saja, Non Jesslyn. Sama suaminya, liburan bareng ke Bali. Jadi Non Nurbanu ikut sama Ibunya dulu. Silakan masuk, Non!"


"Eum ...." Jesslyn mengangguk pelan. Kemudian berjalan beriringan bersama Mbok Tum menuju ruang tamu.


"Silakan duduk dulu ya, Non. Saya mau bilang Tuan kalau Non Jesslyn sudah datang."


"Iya, Mbok." Jesslyn duduk di salah satu sofa lalu meletakan beberapa tas kantong yang ia bawa di sampingnya.


"Mau minum apa, Non?" tanya Mbok Tum sebelum beranjak pergi. "Biar sekalian nanti saya bawakan ke sini."


"Nanti saja, Mbok. Aku belum haus."


"Baik kalau begitu, saya tinggal dulu ya, Non."


"Eum ... ya, Mbok."


Jesslyn mengerlingkan mata sekejap. Pandangannya sempat memperhatikan kepergian Mbok Tum barang sebentar. Setelah itu, ia menoleh beberapa tas kantong yang tergeletak di sampingnya. Lalu tersenyum lagi selepas melihat tas-tas kantong itu.


Di dalam ruangan kerja Shehan, Pak Sebastian menyodorkan sebuah pena pada Lilis.


"Nona Lilis bisa membubuhkan tanda tangan Nona di kolom ini." Jari telunjuknya mengarah pada kolom yang diperuntukan untuk tanda tangan.


Lilis melihat kolom itu cukup lama. Ia ingin meyakinkan dirinya sendiri kalau keputusan yang akan dia ambil tidak salah. Sekali saja Lilis masuk ke dalam jerat kontrak pernikahan bersama Shehan, selamanya dia tidak akan bisa kembali. Bilapun mereka berpisah suatu hari nanti, status Lilis otomatis akan berubah menjadi janda. Bukan gadis belia seperti sekarang ini.


Keputusan yang memang sulit bagi gadis 22 tahun sepertinya. Namun, Lilis sudah melangkah cukup jauh. Tidak mungkin bisa berpaling ataupun mundur ke belakang. Mau tidak mau, Lilis harus tetap teguh pada pendiriannya semula.


Selesai berperang melawan batinnya sendiri, akhirnya Lilis menggoreskan pena ke atas kolom. Tanda tangannya pun tercipta melintasi setengah materai. Sah-lah sudah surat itu. Kini hanya tinggal selangkah lagi, Lilis akan menjadi istri kedua Shehan Murad.


"Ini suratnya, Pak." Gadis itu menyerahkan surat yang sudah ditandatanganinya.


Shehan terlihat puas. Sedangkan Pak Sebastian serta-merta mengambil map berisi surat yang diberikan oleh Lilis.


"Tuan Shehan, sekarang perlu tanda tangan anda di surat kontrak perjanjian pernikahan ini."


Penandatanganan surat kontrak perjanjian pernikahan itu pun selesai ketika Mbok Tum mengetuk pintu dari luar.


Tok! Tok! Tok!


Ketiga orang yang berada di dalam refleks menoleh ke arah sana. Awalnya Lilis hendak bangkit, tetapi Shehan mencegahnya.


"Biar aku saja."


"Baik, Tuan."


Lilis mengangguk sebelum kembali duduk, sedangkan Shehan bangkit lalu beranjak menuju pintu.


Ceklek!


Daun pintu sedikit terbuka. Shehan melongok keluar melalui celah sempit itu.


"Permisi, Tuan. Maaf mengganggu," ujar Mbok Tum dari luar.


"Ya, ada apa, Mbok?"


"Itu Tuan, Non Jesslyn datang."


"Jesslyn?" Dahi Shehan mengernyit terperangah. Ia membuka daun pintu lebih lebar, berhadapan dengan Mbok Tum.


"Iya, Tuan."


"Bukannya dia tinggal di Amerika?"


"Non Jesslyn bilang dia baru pulang ke Indonesia, Tuan."


"Begitu, ya? Di mana dia sekarang?"


"Sedang menunggu Tuan di ruang tamu."


"Baiklah, bilang padanya sebentar lagi aku akan menemuinya."


"Baik, Tuan."


Mbok Tum kembali ke ruang tamu, sementara Shehan balik ke ruang kerja.


Pak Sebastian yang telah selesai membereskan isi tasnya, menghampiri Shehan yang hampir mencapai sofa tempat mereka duduk tadi.


"Tuan, saya kira tugas saya sudah selesai. Ada lagi yang ingin Tuan lakukan?"


Shehan menggeleng pelan. "Tidak, terima kasih Pak Sebastian atas bantuannya."


"Sama-sama, Tuan. Senang bisa bekerjasama dengan anda. Saya sudah memberikan satu surat pada Nona Lilis. Dan satu surat untuk Tuan ada di dalam map di atas meja."


"Baiklah."


"Kalau begitu, saya pamit pergi, Tuan."


"Ya, Pak Sebastian."


Shehan mengantar kepergian pengacaranya menuju ambang pintu ruang kerja. Lilis seraya memeluk surat kontrak perjanjian pernikahan miliknya di depan dada, ikut menyusul di belakang. Saat Pak Sebastian melangkah keluar, gadis itu juga berpamitan pada Shehan.


"Tuan, aku juga mau membantu Mbok Tum beres-beres rumah dulu."


"Ya," sahut Shehan sekadarnya lalu menarik tuas pintu agar tertutup rapat.


Shehan berjalan lebih dulu meninggalkan Lilis. Ia mensejajarkan posisinya dengan Pak Sebastian. Bersama-sama kedua pria itu berjalan menuju ruang tamu. Sedangkan Lilis beranjak pergi ke kamarnya, hendak menyimpan surat miliknya di dalam lemari kamar, sebelum mulai membantu Mbok Tum.


***


BERSAMBUNG...