Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 12 : Kaos Doraemon



"Jadi bagaimana pendapat Nurbanu? Apa dia sudah kamu beritahu tentang rencana pernikahanmu ini?"


Sarah merubah suasana percakapan yang mulanya ringan menjadi berat. Mimiknya pun ikut serius, mendukung pertanyaan tegas yang barusan ia lontarkan kepada mantan suaminya-Shehan.


Shehan beralih menghindari sorotan intens Sarah, pada gelas yang berisi setengah air putih. Gelas itu kembali diraihnya dan diteguk lagi airnya. Gerakan air mengaliri tenggorokan Shehan cukup jelas terlihat, ketika ia sedikit mendongak.


Dari seberang, manik mata Sarah membidik gelas yang telah kosong dan baru saja diletakan Shehan di atas meja. Ia tenang menunggu jawaban mantan suaminya.


"Huft ...." Helaan napas berat Shehan menguar bersamaan dengan iris coklat mudanya yang beranjak menuju Sarah. "Aku tidak memberitahu Nurbanu tentang ini, Sarah. Aku tidak ingin dia mengetahuinya."


Jemari Shehan ditarik dari badan gelas lalu mendarat ke permukaan meja. Ia menegakan posisi duduk menjadi tegas pula.


Jawaban Shehan sekonyong-konyong membuat Sarah mengernyit tak paham. "Kenapa? Dia akan merasa aneh jika melihat kedekatan kalian berdua nanti," terangnya.


"Sarah, aku tidak ingin Nurbanu terkejut jika tahu aku menikahi pengasuhnya. Jadi sudah kuputuskan, aku akan tetap menjaga jarak dengan Lilis walaupun kami sudah menikah nanti."


"Pssh ...," decak tawa Sarah mendesis ringan seraya berpaling sejenak. Bukan bermaksud meremehkan, tetapi Sarah berpikir alasan Shehan tak masuk akal baginya.


"Apa kamu pikir pernikahan itu lelucon, Shehan?" sergah Sarah kala mereka berdua sudah kembali bertatap muka. "Apa jawabanmu nanti pada Nurbanu kalau melihat Lilis tidur di kamar yang sama denganmu? Apa kamu juga mau bilang kalau kalian akan pisah ranjang untuk sementara waktu? Hah, lucu sekali!"


"Aku tidak ingin memberitahu Nurbanu sekarang.".


Pria berambut coklat tua itu bersikukuh. Perdebatan antara dirinya dan mantan istrinya pun tak bisa dihindari. Kendati demikian, baik Sarah maupun Shehan tidak pernah bertengkar hebat apalagi sampai berkepanjangan. Salah satu dari mereka pasti akan ada yang mengalah.


"Kamu harus mengatakan pada Nurbanu tentang rencana pernikahanmu ini, Shehan. Lambat laun dia pasti akan menerimanya. Sama seperti penikahanku dan Jody. Aku tidak mau putriku kecewa setelah tahu belakang hari."


"Jangan lupa Nurbanu juga putriku."


"Dia putri kita berdua. Kalau kamu tidak mau memberitahunya, biar aku saja yang mengatakannya pada Nurbanu. Itu pasti lebih baik daripada dia akan tercengang melihat kemesraan kalian suatu waktu."


'Aku tidak mau memberitahu Nurbanu karena tahun depan, aku juga akan menceraikan Lilis.'


Shehan menggerutu dalam benaknya. Adu argumen antara keduanya pun tak berlangsung lama sebab Jody-suami baru Sarah, datang ke restoran itu untuk menjemput istrinya. Keramahtamahan kedua pria yang pernah mendampingi Sarah sempat terjadi. Lalu Shehan harus berlapang dada ketika Jody membawa Sarah masuk ke dalam mobilnya.


Bayangan sosok Sarah yang sempurna masih tergambar dalam pikiran Shehan sepanjang ia menyetir mobil menuju arah pulang ke rumahnya. Memang matanya fokus ke jalan, tetapi tidak dengan isi kepalanya. Bagaimana pun jua, masih ada segelintir perasaan cinta yang tertinggal di relung kalbu Shehan untuk wanita itu.


**


Malam hari.


"Jadi Tuan bertemu Mbak Sarah tadi siang? Kenapa tidak memberitahuku?" sergap Lilis dengan polos.


Ia tidak bermaksud apa-apa. Namun, tanggapan Shehan berbeda. Pria Turki itu memicingkan mata sebagai bentuk tidak suka.


"Kenapa aku harus memberitahumu kalau mau menemui Sarah? Apa aku harus minta izin padamu dulu, begitu?"


Lekas Lilis menunduk takut. "Maaf Tuan. Maksudku bukan begitu. Aku juga mau bicara sama Mbak Sarah, mau permisi karena mau menikah sama Tuan." Jemari Lilis saling beradu gelisah di depan perutnya yang dilapisi kaos putih. Terdapat sablon gambar Doraemon yang cukup besar pada bagian tengah kaos tersebut.


Shehan mendengus kesal menatap Lilis. Dia sama sekali tidak mau diganggu urusan pribadinya, terlebih lagi bila menyangkut Sarah. "Sarah akan menjemput Nurbanu besok siang di sekolah TK. Selama seminggu ini Nurbanu akan tinggal bersamanya. Kamu bisa bicara dengan Sarah di sana."


"Ya, Tuan," jawab Lilis lemah selagi masih menunduk.


"Kita sepertinya harus membuat surat perjanjian pranikah sebelum acara pernikahan kita. Ada banyak hal yang harus kita sepakati agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari. Dan satu lagi, jangan pakai pakaian seperti itu setelah menjadi istriku nanti!"


Shehan membuang muka masam sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana panjang berbahan ringan yang ia kenakan malam ini. Sementara Lilis langsung memperhatikan kaos Doraemon yang ia kenakan.


'Apa yang salah dengan bajuku?'


Pertanyaan yang terlontar di dalam hati Lilis seketika dijawab Shehan. Pria itu terang-terangan mengatakan ketidaksukaannya pada penampilan Lilis.


Glek!


Saliva Lilis tertelan dalam.


'Pasti banyak aturan yang dibuat Tuan Murad walaupun aku cuma jadi istri kontraknya.'


"Bajuku kebanyakan seperti ini, Tuan. Karena harganya murah, jadi aku sering beli baju seperti ini," jelas Lilis dengan raut sedih.


Shehan menoleh. "Besok sepulang dari sekolah Nurbanu, temui aku di mall. Akan kubelikan baju untukmu!" Shehan beranjak pergi dari ruang tengah tanpa menunggu sahutan Lilis.


"Iya, Tuan." Balasan pelan Lilis ternyata tetap keluar meski ia sudah ditinggal sendirian.


'Selain kuat mental, sepertinya aku juga harus kuat iman kalau mau menjadi istri Tuan Murad.'


"Huft ...." Lilis mengembus napas berat dari mulutnya.


**


Tangan kiri Lilis terangkat sampai ke depan dada, arloji yang melingkar di sana sudah menunjukan waktu pukul 12.25 siang. Sebentar lagi Nurbanu akan keluar dari ruangan kelasnya. Lilis bersama para ibu yang lain sudah menunggu di depan halaman kelas.


Biasanya Ibu Mutia-ibunya teman sekelas Nurbanu, rajin bertegur sapa dengan Lilis. Ia juga tak sungkan mengajak gadis itu mengobrol. Namun, hari ini Ibu Mutia tidak kelihatan batang hidungnya. Malahan seorang pria muda yang turun dari mobil yang biasa dipakai oleh Ibu Mutia.


Cukup lama Lilis memperhatikan pria itu, kini perhatiannya terkecoh oleh kedatangan Sarah yang baru saja tiba di sekolah TK Bunga Matahari.


'Itu Mbak Sarah,' gumam Lilis sembari masih menatap kagum pada mantan istri Shehan yang berjalan ke arahnya.


Glek!


Lilis menelan saliva. Saking terpesonanya pada kecantikan Sarah.


'Mbak Sarah benar-benar cantik dan selalu saja cantik,' puji Lilis lagi. Melihat tanpa berkedip ke arah wanita yang memiliki postur tinggi semampai itu.


"Halo, Lilis!" sapa Sarah tatkala jarak di antara keduanya sudah dekat.


"Ha--halo, Mbak Sarah! Selamat siang." Lilis malah terbata-bata, grogi menghadapi wanita cantik itu.


"Siang, sudah lama menunggu di sini?"


"Ah, tidak begitu lama kok, Mbak. Baru lima belas menit." Senyum tipis menyertai jawaban Lilis.


"Oh ya ...." Sarah melongok ke jendela kelas Nurbanu. Tampak para murid sedang bernyanyi bersama-sama sebelum jam pelajaran dibubarkan. Selanjutnya ibu kandung Nurbanu itu kembali bersemuka dengan Lilis yang sedang berdiri di dekatnya.


"Bagaimana kabar kamu, Lilis?"


"Eum ... aku baik, Mbak. Mbak sendiri bagaimana?"


Raut wajah ramah Sarah tercipta. "Aku juga baik, Lilis."


Lantas Lilis memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya pada Sarah. "Mbak, ada yang mau aku omongin sama Mbak."


"Tentang pernikahanmu dengan Shehan?"


Sarah to the point. Sontak Lilis menekuk wajah, rona malu langsung bersemai di pipinya.


***


BERSAMBUNG...