Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 42 : Hubungan Terlarang



Jesslyn dengan mata sembap dan tanpa alas kaki langsung berlari kecil memeluk Shehan, setibanya pria itu di depan pintu utama rumahnya. Shehan cukup terkejut, menerima pelukan tiba-tiba itu. Tubuhnya sempat ikut terlonjak.


"Shehan ...," panggil Jesslyn. Intonasinya bergetar. Ia lalu menengadah. Memperlihatkan wajah muram durjanya.


Shehan seketika mengernyit cemas. "Ada apa denganmu, Jesslyn?"


Keduanya berakhir di sebuah ruang tengah kediaman keluarga Kesuma. Duduk saling berhadapan dan dipisahkan oleh sebuah meja persegi empat. Atmosfer kesunyian melatari suasana di ruang tengah tersebut.


Masing-masing di depan Shehan dan juga Jesslyn telah terhidang dua gelas minuman. Jesslyn menunduk sejak tadi, sementara Shehan terus memperhatikannya. Menilai dari penampilan Jesslyn yang kusut, Shehan menebak sesuatu yang tidak enak mungkin telah terjadi.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Jesslyn?" tanya Shehan untuk yang kedua kalinya.


Tanpa melihat, Jesslyn menjawab, "Aku ... berulang tahun hari ini."


Sepasang mata Shehan membulat. "Ah, ya! Aku lupa dan tidak membawakanmu hadiah. Maafkan aku. Selamat ulang tahun, Jesslyn."


Barulah Jesslyn mengangkat wajahnya. Menatap Shehan dengan sorot mata menuntut. "Baru kali ini kau melupakan hari ulang tahunku, Shehan. Sebelumnya kau bahkan memberiku hadiah sehari sebelum waktunya tiba."


Shehan merasa bersalah. "Maaf, Jesslyn. Aku terlalu sibuk belakangan ini."


"Apa kau sibuk dengan istri barumu?"


Dada Shehan membusung, menghela napas. "Jangan bahas itu sekarang."


"Ya, aku memang tidak mau membahasnya. Aku hanya mau membahas tentang kita berdua. Kau-lah orang yang paling mengerti aku setelah kepergian Ibuku untuk selamanya dan kemudian Ayahku menikah lagi."


"Itulah gunanya seorang sahabat. Akan selalu ada di saat suka maupun duka."


Namun, di dalam hati Jesslyn benci mendengar Shehan mengatakan hal itu. Mengatakan kalau hubungan di antara mereka hanya sekadar sahabat saja.


"Sejak Ibuku meninggal, Ayahku tidak pernah lagi mau tahu tentang kehidupan pribadiku. Jangankan mengucapkan selamat ulang tahun. Bahkan, tanggal kapan aku dilahirkan saja dia sudah lupa. Sibuk dengan istri barunya. Aku tidak suka wanita itu!"


"Sudahlah Jesslyn, jangan bersedih lagi dan mengingat hal itu. Biarlah Ayahmu dengan kebahagiaan barunya dan kau juga harus memulai hidup barumu yang bahagia sekarang," ujar Shehan menasihati.


'Ya, Shehan. Akan kumulai hidup baru yang bahagia bersamamu.'


Kedua ujung bibir Jesslyn berkedut sebelum akhirnya tersenyum tipis. Shehan yang tidak menginginkan sahabatnya larut dalam nestapa apalagi di hari ulang tahunnya, berusaha menghibur Jesslyn dengan percakapan-percakapan yang menyenangkan.


Tak henti Jesslyn memandang kagum saat melihat pria Turki itu bicara. Karismatik dan berwibawa. Shehan adalah gambaran pria sempurna di mata Jesslyn, sebab itu dia begitu memujanya.


Sambil berbincang santai, sesekali Shehan dan Jesslyn menyesap minuman yang ada di hadapan mereka. Minuman berjenis sama, cuma berbeda rasa. Akan tetapi, tiap kali Shehan meneguk minuman itu, Jesslyn menghitung di dalam hati. Menghitung waktu kapan rencana besarnya akan dimulai.


Dan tepatnya, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 19.35 WITA, Shehan hendak berpamitan lantaran ia ingat punya janji akan makan malam bersama Lilis. Namun, entah mengapa rasanya kepalanya itu berat. Ada lonjakan hasrat yang kuat di benaknya. Gairah tubuhnya mendidih dan membakar seluruh diri.


Sebagai pria normal, Shehan menyadari sinyal tubuhnya dan apa kehendaknya saat ini, tetapi dia tidak mengerti atas dasar apa tiba-tiba keinginannya untuk bercinta membludak sedemikian rupa. Hingga rasanya ia tak mampu meredamnya.


"Jesslyn, aku harus pamit pergi." Shehan masih duduk ketika mengatakan itu.


"Tunggu Shehan!"


Jesslyn yang berada di depannya bangkit, mendekat. Dari belakang ia lagi-lagi mengagumi punggung berbidang pria itu. Tangannya tak sungkan merayap. Shehan yang sadar segera berbalik badan, menghadap Jesslyn.


"Jangan pergi dari sini! Aku mohon temani aku malam ini!" Satu tangan Jesslyn merambati rahang berbulu Shehan dengan mesra. Cepat Shehan memegang pergelangan tangan Jesslyn, menghentikan aksi wanita itu.


"Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah punya janji, Jesslyn."


"Shehan ...." Jesslyn semakin merapat, mencondongkan dadanya ke tubuh Shehan. "Aku ingin hadiah darimu. Tolong berikan aku hadiahmu!"


Shehan mengawasi gerakan Jesslyn yang akan menautkan bibir mereka berdua. Pria itu berpaling, segelintir akal sehatnya masih mengendalikan diri Shehan. "Tidak Jesslyn. Kita tidak boleh melakukan ini. Ini tidak benar."


Jesslyn meraup wajah Shehan dengan telapak tangan kanannya. Membuat mereka saling bersitatap muka lagi. "Shehan, aku tahu kau juga menginginkannya saat ini."


Sontak Shehan mengernyit curiga. "Bagaimana kau bisa tahu?"


Senyum Jesslyn mengembang. Ia ingat beberapa jam lalu sebelum Shehan datang, sebuah obat berbentuk serbuk telah Jesslyn masukkan ke dalam minuman yang akan diberikannya pada Shehan. Dengan semringah, Jesslyn kemudian mengaduk minuman itu agar obat yang tercampur di dalamnya larut.


"Sudah cukup lama kita berteman. Tentu aku cukup mengenal kepribadianmu. Kau tidak pernah bersama wanita sejak perceraianmu dengan Sarah. Lalu bagaimana kau menyalurkan hasratmu?"


Shehan berpaling dan berdiri. "Cukup Jesslyn! Ini tidak pantas untuk kita berdua."


Jesslyn ikut berdiri di samping Shehan. Tangannya meraba-raba tubuh Shehan dengan lihai. "Ini pantas kalau kita berdua setuju. Aku tahu kau menginginkannya sekarang dan aku siap melayanimu sekarang."


Mendadak Jesslyn berjinjit agar dapat menjangkau Shehan yang lebih tinggi darinya.


Cup ....


Kali ini ia berhasil mempertemukan bibir mereka berdua. Shehan menolak, lekas Jesslyn mencumbu untuk yang kedua kali. Mengunci bibir Shehan dengan erat bagai tak terlepas sambil terus menggerayangi.


Naluri pria dewasa Shehan kian tak terbendung. Awalnya ia berusaha mengabaikan. Namun, reaksi obat yang telah dicampur Jesslyn ke minumannya bekerja sekarang. Gairah Shehan meronta, mendesak ingin lepas bebas. Sekuat apapun ia menahannya, tetapi itu sungguh menyiksa seperti mencabik-cabik diri sendiri.


Dikuasai ledakan berahi, Shehan akhirnya membalas cumbuan Jesslyn dengan hal serupa. Permainan bibir yang semula halus berubah penuh luapan gejolak seirama dengan nafsu yang memuncak. Jesslyn pasrah saat Shehan merengkuhnya ke dalam pelukannya.


Sehelai gaun tipis Jesslyn luruh ke lantai. Diikuti kemeja Shehan yang terbuang ke sembarang arah kemudian. Di bawah pengaruh obat yang diberikan Jesslyn, Shehan tidak menyadari sebuah hubungan terlarang di antara mereka telah tercipta.


Sementara Lilis di rumah sedang menunggu kedatangan Shehan bersama Nurbanu di meja makan. Dengan hati resah, Lilis berkali-kali melirik jam yang tergantung di dinding. Nurbanu yang duduk di sampingnya pun sudah kelihatan uring-uringan.


"Kak Lilis, ayo, kita makan! Banu sudah lapar?"


Lilis tersenyum lembut. "Sebentar lagi ya, Banu. Tunggu Papa pulang. Nanti kita makan malam sama Papa."


"Ah, Papa pulangnya lama!" Nurbanu merengek. "Banu sudah lapar, Kak Lilis!"


'Sebenarnya di mana, Mas Shehan? Kenapa belum pulang?'


Berkali-kali Lilis coba menelepon, tetapi tidak dijawab. Ia kemudian melihat jarum jam yang sudah menunjuk ke pukul setengah sembilan malam. Pantas saja anak kecil itu kelaparan sebab sudah semalam ini bahkan lewat jam biasanya Nurbanu menyantap makan malam.


Tak sampai hati menyuruh terus menunggu lagi, Lilis pun mengambilkan makanan ke piring Nurbanu. Menyuapinya dengan perlahan. Sedikit Lilis terhibur melihat anak asuhnya lahap menyantap makanan buatannya, meski di dalam hati Lilis terus bertanya-tanya keberadaan suaminya yang tak kunjung kembali.


***


BERSAMBUNG...