Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 59 : Perisai



"Begini saja! Untuk membuktikan perkataanku benar atau tidak, ayo, kita ke lemari tempat penyimpanan barang-barangmu, Lilis!" Jesslyn yakin dengan sarannya kali ini.


Mbok Tum merasa prihatin melihat Lilis dituduh. Sementara Lilis gemetar menahan air mata yang berdesakan ingin segera keluar dari pelupuk.


Shehan yang berada di dekatnya menatap dalam. "Ayo, Lilis!" ajaknya kemudian seraya memegang pundak Lilis.


"Tapi Mas!" Binar mata Lilis berkaca-kaca.


Shehan menggeleng lemah, memberi isyarat kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Ba--baiklah, Mas. Akan kubuktikan kalau aku tidak bersalah." Lilis menelan saliva lalu menangis kali ini. Lekas ia menyeka air matanya sebelum membuat wajahnya sembap.


Shehan, Jesslyn dan juga Lilis beranjak pergi ke kamar utama, lantaran di sanalah lemari tempat Lilis menyimpan barang-barangnya. Mbok Tum tidak ikut kali ini karena merasa segan. Ia pergi ke dapur dengan hati cemas. Menunggu hasil dari pembuktian tadi.


"Cepat, buka lemari barang-barangmu, Lilis!" perintah Shehan ketika mereka semua telah tiba.


"Aku sungguh tidak mencuri kalung itu, Mas!" ratap Lilis semakin pilu.


"Kalau kamu tidak mencurinya, seharusnya kamu tidak perlu takut dan menangis! Cengeng sekali! Biar apa? Biar Shehan membelamu!" Jesslyn geram pada sikap Lilis.


"Aku memang tidak mencurinya, Nona!" seru Lilis melawan, meskipun sambil menangis.


"Sudah! Hentikan pertikaian kalian berdua!" Shehan tegas. "Lilis, jangan takut dan buka lemarimu sekarang!"


Lilis sesengukan. Dengan berat hati akhirnya menuruti Shehan, membuka lemari yang hampir menyerupai nakas, hanya saja ukurannya lebih besar. Kemudian ketiganya melongok ke dalam ceruk lemari.


Tak banyak isi di dalamnya tatkala pintu lemari sudah dibuka. Namun, ada sesuatu yang bersinar di paling belakang lemari dekat sudut. Dan nahasnya, sinar itu berasal dari liontin berlian kalung Jesslyn.


"Itu, benda apa yang di paling ujung?" Jari telunjuk Jesslyn mengarah ke sudut.


"A--aku tidak tahu ...." Lilis ragu sebab tidak merasa memiliki benda itu.


"Barang itu ada di lemarimu, tetapi kamu sendiri tidak tahu! Ayo, cepat ambil! Aku ingin melihatnya!" omel Jesslyn sambil memerintah.


Shehan sudah mengernyit, menebak benda bersinar apa itu.


Usai Lilis berhasil mengeluarkan benda tersebut dari dalam lemari, sebuah kalung dengan liontin berlian tergeletak di atas telapak tangannya. Kontan matanya membulat, tak percaya. "A--apa! Tidak mungkin kalung ini ada di sini!"


"Nah, kan benar! Aku memang melihatmu masuk ke dalam kamarku mengendap-endap ketika aku mandi. Saat itu aku lupa membawa handuk, makanya keluar lagi dari toilet," terang Jesslyn menceritakan.


"Tidak Nona! Aku sungguh tidak mencuri kalung ini!" Lilis membela diri.


"Kalau tidak mencurinya, kenapa bisa ada di lemari barang-barangmu!" hardik Jesslyn lagi.


"Aku juga tidak tahu kenapa kalung ini bisa ada di sini, Nona!"


"Bohong!" Jesslyn kemudian bertukar pandang dengan Shehan "Shehan, sudah kukatakan kau tidak tahu sifat Lilis yang sebenarnya. Kau sudah memelihara ular di dalam rumahmu. Lebih baik usir ular itu sebelum dia berubah menjadi Anakonda dan menelanmu!"


Shehan diam sejenak mengamati kalung Jesslyn yang masih berada di telapak tangan Lilis. "Jesslyn, apa benar kalung itu adalah kalung yang kamu cari?"


"Ya, Shehan. Itu adalah kalung warisan mendiang Ibuku."


"Lilis, kembalikan kalung itu padanya!"


Lilis menyodorkan kalung tersebut pada Jesslyn. Sekejap benda berkilau itu sudah berpindah tangan.


"Pencuri!" olok Jesslyn, sekonyong-konyong membuat air mata Lilis tambah deras mengalir.


"Hiks! Hiks! Hiks!"


"Shehan, apalagi yang kau tunggu? Cepat usir Lilis dari sini!"


"Jesslyn, sudahlah! Yang terpenting kalung itu sudah ketemu!" Shehan tidak ingin memperpanjang masalah.


"Jadi apa tindakanmu pada si pencuri ini?"


"Aku bukan pencuri!" sela Lilis pada Jesslyn.


"Diam kamu!" Jesslyn menatap tajam "Sudah ketahuan mencuri, masih tidak mau mengaku!"


Shehan mengangkat tangan, melihat jam di arlojinya. "Akan kupikirkan nanti, sekarang lebih baik kita menenangkan diri masing-masing. Lagipula aku sudah akan berangkat bekerja."


"Mas, aku tidak mencurinya, Mas! Aku tidak tahu kenapa kalung itu bisa ada di sini!"


"Ssstt ...." Shehan menggeleng pelan, agar Lilis tidak bicara lagi. "Siapkan tas kantorku, sekarang!"


"Baiklah, Mas." Lilis pergi sambil menunduk, hendak mengambil tas kantor Shehan.


"Dan kau Jesslyn, kau juga akan bersiap pergi bekerja, kan? Kita bahas nanti malam masalah ini lagi."


"Baiklah, Shehan." Jesslyn dengan senang hati menurut. Berpikir dia sudah menang kali ini.


**


Di ruangan kantornya, ternyata Shehan urung melupakan keributan tadi pagi yang terjadi di rumahnya. Sebagai kepala rumah tangga, ia tentu harus menjadi hakim untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Ia pun kembali melihat jam dari arlojinya. Sekarang sudah pukul 10.00 pagi. Biasanya di jam segini, Lilis akan pergi menjemput Nurbanu ke sekolah TK Bunga Matahari.


Lantas, diam-diam Shehan pulang ke rumah. Ia ingin memeriksa lemari tempat Lilis menyimpan barang-barangnya. Setibanya Shehan di rumah, bergegas ia pergi ke kamar utama. Membuka lemari milik Lilis lagi. Dengan mudah Shehan dapat membukanya, sebab Lilis memang tidak pernah mengunci lemari itu.


"Dia ceroboh sekali! Padahal lemari ini ada kuncinya! Kenapa tidak dikunci!" gerutu Shehan sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling bagian dalam lemari.


"Apa itu?" Shehan mengernyit heran. Diambilnya benang itu dan mengamatinya sesaat.


Saat keluar dari kamar utama, kebetulan Mbok Tum yang tengah melintas tak sengaja melihat Shehan. Wanita paruh baya itu bimbang. Namun, hati nuraninya meronta ingin menyampaikan sesuatu. Meski awalnya sempat ragu, Mbok Tum pun nekad menyambangi Shehan.


"Tuan ...," panggil Mbok Tum pada majikannya saat jarak mereka sudah dekat.


"Ya, Mbok. Ada apa?"


"Tidak biasanya Tuan pulang di jam segini?"


"Ya, Mbok. Aku mengambil sesuatu yang kuperlukan." Shehan beralasan agar Mbok Tum tidak ricuh jika tahu alasan kepulangannya yang sebenarnya.


"Eum ... Tuan ...." Mbok Tum ragu lagi. Jemari tangannya saling bertaut gelisah.


"Ada apa, Mbok? Ada yang ingin Mbok katakan?"


"Sebenarnya, masalah tadi pagi ...."


"Tenang Mbok!" Shehan memotong, "Aku sudah tahu semuanya."


"Baiklah, Tuan." Mbok Tum diam, tidak berani bicara apa-apa lagi.


**


Malam hari.


Sebuah sisir Jesslyn taruh di atas meja rias. Ia tersenyum tipis melihat pantulan bayangannya tampak cantik di cermin.


Ceklek!


Suara tarikan tuas pintu tiba-tiba mengagetkan Jesslyn, serta-merta menoleh ke belakang.


"Shehan ...," panggil Jesslyn semringah, melihat sosok Shehan sudah muncul di dalam kamarnya. Jesslyn langsung bangkit menghampiri.


"Hentikan!" Satu tangan Shehan berayun, agar Jesslyn tidak memeluknya.


Raut Jesslyn langsung berubah kecut. "Aku rindu kamu datang ke kamarku seperti ini lagi!" ungkapnya merengek manja.


"Aku memang ingin menemuimu," balas Shehan datar.


"Kemarilah!" Jesslyn menggamit tangan Shehan, hendak mengajaknya ke tempat tidur.


"Kita bicara di sini saja!" tolak Shehan, melepaskan pegangan Jesslyn dari tangannya.


Lagi-lagi, mimik Jesslyn membias kecewa. "Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan, Shehan?" Tak lagi berkata dengan gelagat manja.


Shehan berkacak pinggang, menatap Jesslyn intens cukup lama. "Aku akan melakukan tindakan pada orang yang membuat keonaran di rumahku."


"Maksudmu Lilis?" Jesslyn meneleng "Tindakan apa itu?"


Shehan merogoh ke dalam saku celananya. Mengeluarkan selembar tisu dari sana. Dibukanya selembar tisu itu di hadapan Jesslyn. Jesslyn pun antusias melihat ke atas permukaannya. Mendadak matanya membola setelah tahu.


"Bukankah ini helaian rambutmu?" tanya Shehan langsung ke intinya.


"I--itu ...." Jesslyn tergagap, tak bisa melanjutkan ucapannya. "I--itu ...."


Jesslyn akan meraihnya, dengan cepat Shehan menjauhkannya dari jangkauan Jesslyn.


"Dari mana kau mendapatkannya, Shehan? Rambutku memang rontok belakangan ini."


Sayangnya alasan Jesslyn tidak mempan mengelabuhi Shehan.


"Aku mendapatkannya di dekat lemari barang-barang milik Lilis. Tadinya aku pikir ini benang. Tapi seratnya bukan benang setelah dipegang, tetapi menyerupai rambut. Di rumah ini, siapa lagi orang yang memiliki rambut pirang kalau bukan dirimu, Jesslyn?"


Jesslyn menundukan pandangan. Bingung selagi berpikir alasan apalagi yang tepat untuk dikatakannya agar Shehan percaya.


"Tapi bisa saja helaian rambutku terbawa angin dan masuk ke dalam kamar utama."


"Tapi tidak mungkin secara kebetulan terselip di celah pintu lemari milik Lilis, bukan?"


"Bisa saja terjadi, Shehan! Itu kan rambut, gampang terbang terbawa angin."


"Sudahlah Jesslyn! Kau jangan mengelak lagi. Aku tahu kau tidak menyukai Lilis dan berusaha menyingkirkannya dari rumah ini. Tapi ingatlah, seberapa keras usahamu untuk menyakitinya. Kau harus berhadapan denganku dulu karena aku melindunginya!"


Shehan pergi dari kamar Jesslyn setelah menyampaikan ketegasannya.


Ceklek!


Pintu kamar tamu kembali tertutup rapat. Yang tersisa hanyalah aroma parfum Shehan yang masih menguar di udara sekitar kamar.


"Huft!" Jesslyn menghela napas kesal lalu berpaling.


***


BERSAMBUNG....