
Pelan sekali jejak kaki Jesslyn menapak di lantai rumah Shehan. Kepalanya celingukan, pandangannya mengedar ke sekeliling ruangan rumah. Kali ini niatnya harus berhasil, yakni menggeledah kamar utama. Jesslyn memang sengaja pulang dari kantornya di waktu Lilis sedang pergi menjemput Nurbanu di sekolah TK Bunga Matahari.
'Yes, tidak ada siapa-siapa!' batinnya senang saat melihat seisi rumah besar itu kosong. Lekas Jesslyn menarik tuas pintu kamar utama dan masuk ke dalam.
Ceklek!
Kali kedua pun, Jesslyn berhasil lagi masuk diam-diam ke dalam kamar pribadi Lilis dan Shehan, setelah pertama kali adalah sebelum peristiwa kalung yang hilang beberapa hari lalu.
Jesslyn langsung menuju lemari penyimpanan barang-barang milik Lilis. Nahasnya, Lilis masih saja ceroboh. Sudah diperingatkan Shehan untuk mengunci pintunya lalu menyimpan kuncinya dengan baik, toh nyatanya lemari itu dengan gampangnya Jesslyn buka.
Gerakan tangan Jesslyn agresif membongkar isi di dalam lemari. Membalik-balik barang sampai melongok ke yang paling dalam sekalipun. Namun, tetap tidak Jesslyn temukan. Ia pun bersungut-sungut kesal.
'Di mana gadis sial itu menyimpan dokumen milikku? Kenapa tidak ada di sini!'
"Huft!" Helaan kasar napas Jesslyn menguar.
Ia menyeret pandangannya ke segala penjuru ruangan kamar utama. Beranjak mencari-cari di tempat yang sekiranya dapat dijadikan penyimpanan dokumen. Perlahan-lahan Jesslyn mencari, apalagi dia berpikir punya waktu cukup banyak sehingga bisa lebih leluasa, tetapi sayang sekali. Tidak kunjung ketemu jua dokumen yang Jesslyn maksud.
"Ah, sial! Di mana Lilis menyimpannya!" umpat Jesslyn sudah tak sabar. Otaknya berpikir ke alternatif lain. "Atau jangan-jangan Lilis menyimpannya di dalam ruang kerja Shehan? Ah, kenapa baru sekarang terpikirkan olehku!"
Ceklek!
Pintu kembali tertutup rapat usai Jesslyn meninggalkan kamar utama, bergegas pergi ke ruang kerja Shehan. Setibanya di sana, beberapa kali tarikan tuas di pintu, pintu tersebut tak serta-merta terbuka lantaran Shehan mengunci ruangan kerjanya bila sedang pergi bekerja dan akan membuka ruangan itu lagi ketika malam hari setelah ia pulang bekerja.
"Aaakh! Sial!" Jesslyn berteriak frustasi. "Shehan pun sama saja. Mengunci pintu ruangannya seolah takut ada pencuri yang masuk ke dalam!"
Jesslyn menyerah untuk membuka pintu ruang kerja Shehan yang memang terkunci. Berkacak pinggang selagi belum meninggalkan tempat itu. Busungan dadanya bergerak cepat mengikuti irama napasnya yang memburu.
Di saat itu, tiba-tiba sebuah ide brilian muncul dalam benak Jesslyn.
"Tetapi aku gampang sekali masuk ke dalam ruangan ini ketika malam. Itu artinya Shehan akan membuka pintu saat sudah pulang bekerja nanti. Ah, aku masih punya kesempatan. Akan kudatangi tempat ini lagi saat tengah malam nanti!" ujar Jesslyn lebih bersemangat dan sorot mata yang berbinar-binar.
Lantas, di manakah keberadaan dokumen itu sebenarnya?
Lilis awalnya ragu untuk membuka dokumen yang saat ini berada di atas pangkuannya. Ia sendiri sedang duduk di kabin belakang mobil, bersama Pak Maman yang duduk di bangku kemudi, hendak menuju sekolah TK Bunga Matahari.
"Sebenarnya dokumen apa ini?" gumamnya pelan. Matanya tak berpaling sedikitpun dari benda segiempat itu.
Setelah diam sejenak, Lilis lebih berani sekarang. Ia pun bertekad untuk membuka dokumen tersebut guna mengetahui apa isinya. Tangan kanan Lilis mulai merogoh, mengeluarkan dokumen dari dalam plastik bening yang membungkus keseluruhannya. Segera ia menarik benda segiempat tersebut keluar dan berhasil.
Sempat ragu lagi Lilis membukanya. Tangannya yang akan meraih tepian map berwarna merah muda yang saat ini menjadi pusat konsentrasi Lilis terhenti. Tetapi sudah setengah jalan dan kepalang tanggung bila tidak melanjutkannya. Akhirnya Lilis pun membuka map merah muda itu.
Bola matanya bergulir membaca tiap kalimat yang ada tertulis di dalam dokumen dari atas ke bawah. Sampai ketika Lilis menemukan sebuah pernyataan yang menyebutkan bahwasanya Jesslyn sudah keguguran sebab pengaruh buruk minuman beralkohol, sekejap mata Lilis membulat.
'Apa? Nona Jesslyn keguguran! Jadi dia sudah tidak mengandung lagi?'
Seperti masih ragu Lilis dengan kebenaran itu. Ia pun mengulangi membaca dokumen tersebut sampai tiga kali, untuk meyakinkan dirinya sendiri. Nama rumah sakit dari dokumen itu jelas, alamat, tanggal pembuatan surat rekam medis serta dokter yang menandatangani pun jelas.
'Itu artinya, surat ini memang asli bukan palsu.' Lilis yakin sekarang.
**
Dengan cemas Lilis menunggu kepulangan Shehan di teras utama rumah. Sampai mobil sedan hitam yang dihuni Shehan memasuki pelataran depan, barulah Lilis sedikit lega. Ia tak sabar ingin memberitahu Shehan tentang kabar baru yang ditemukannya tadi pagi.
Sekonyong-konyong Lilis menyambangi pintu mobil Shehan. Shehan kemudian keluar sembari menenteng tas kantor miliknya.
"Mas ...," panggil Lilis antusias.
Segaris senyum Shehan tercipta, agaknya hati beku Shehan memang telah luluh karena mau menerima sambutan Lilis dengan hangat.
"Mari kubantu bawakan, Mas!"
Keduanya bersama-sama berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar utama.
"Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Shehan ketika Lilis tengah berdiri di sampingnya, sedang membantu membukakan jas.
"Hah!"
Pertanyaan itu membuat Lilis tersentak saking gugupnya membayangkan reaksi Shehan jika tahu perihal Jesslyn. Shehan menoleh heran, didapatinya kelopak mata Lilis bergoyang khawatir.
"Ada apa denganmu? Kamu sakit?" Punggung tangan Shehan cepat mendarat di kening Lilis.
"Ti--tidak, Mas!" Lilis menggeleng beberapa kali, menjauhkan tangan Shehan dari keningnya.
"Tapi wajahmu pucat?" Shehan tak yakin.
Lilis menarik napasnya dalam sampai gerakan busungan dadanya sangat kentara terlihat. "Mas, sebenarnya ada yang ingin aku beritahukan pada Mas."
Shehan mengernyit dan sedikit meneleng. "Apa itu?"
"Ini ...." Lilis ragu "Ini tentang Nona Jesslyn, Mas."
"Jesslyn?" Shehan mengedik.
"Ya, Mas," jawab Lilis mantap.
"Ada apa dengannya?"
"Ternyata Nona Jesslyn ... sudah tidak hamil lagi, Mas."
"Apa?" Shehan menatap dengan sorot mata tak percaya.
"Ya, Mas. Itu benar, Nona Jesslyn sudah tidak hamil lagi. Di dalam rahimnya sudah tidak ada bayi sekarang."
"Dari mana kamu tahu itu?"
Lilis tidak langsung menjawab, melainkan mengambil dokumen yang tadi pagi sudah dibacanya lalu menunjukannya pada Shehan.
"Ini adalah dokumen rekam medis Nona Jesslyn, Mas. Kemarin malam Mbok Tum menemukannya, tetapi karena tidak berani membuka, akhirnya Mbok Tum menyerahkan dokumen ini padaku."
"Berikan padaku!"
Segera dokumen tadi berpindah tangan. Shehan memperhatikan map merah muda lekat-lekat, kemudian duduk di tepi ranjang. Sementara Lilis menemani dengan berdiri di sampingnya.
"Kamu sudah membaca jelas semua isinya?"
"Sudah, Mas. Silakan Mas baca dokumen itu juga!"
Shehan mengangguk dalam beberapa kali dengan alis yang hampir bertaut. Hatinya juga berdebar ketika hendak membuka sampul map-nya. Pada detik berikutnya, tangan kanan Shehan menjangkau tepian map lalu membukanya.
Sama seperti Lilis tadi pagi, netra coklat muda Shehan bergulir, membaca tiap barisan kalimat di dalam surat rekam medis dengan teliti. Helaan napas panjang mengiringi kegiatan membaca Shehan yang telah sampai di penghujung surat. Ia mengangguk lantas menoleh Lilis setelah itu.
"Kamu benar, Lilis. Jesslyn memang sudah tidak mengandung lagi."
Keduanya saling menatap dalam tanpa ada sepatah katapun yang mencuat dari bibir beku mereka masing-masing.
***
BERSAMBUNG...