Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 10 : Bertemu Mantan Istri



Seorang pria tengah memijat pelipisnya lembut seraya merileksasikan punggungnya yang penat pada sandaran kursi. Derit jarum jam yang berlari tiada henti mengisi kehampaan ruang kerja yang dihuni oleh pria tersebut.


Shehan, pria yang berada di sana asyik memejamkan mata. Pijatan-pijatan ringan masih ia lakukan di sekitar area kening. Kedua matanya terpejam dan gerakan busungan dadanya teratur. Padahal jam sudah menunjukan pukul 22.14 WITA menjelang tengah malam. Namun, ia baru saja selesai memeriksa tiga dokumen pekerjaan yang tak sempat dia selesaikan di kantor. Memang Shehan adalah seorang pekerja keras.


Angan Shehan tenang usai rileks beberapa menit lamanya. Ia berniat akan pergi beristirahat di kamar tidur sebentar lagi. Akan tetapi agaknya niat itu harus ditunda lantaran gawainya yang tergeletak di atas meja kerja di samping tumpukan dokumen yang dia periksa tadi tiba-tiba berdering.


Ddrrtt ... Ddrrtt ... Ddrrtt ....


Buaian Shehan terpecah, mengagetkan pria itu. Ekor manik coklat mudanya melirik layar gawai yang kini menyala terang. Pijatannya di pelipis ikut terhenti.


'Siapa malam-malam begini menelponku?' keluh Shehan, belum berniat meraih gawai yang masih berdering itu. Shehan bahkan masih tidak menggubrisnya sampai dering keempat berbunyi. Barulah tangan kanannya bergerak meraih. Saat melihat foto si penelepon yang muncul di layar, sontak Shehan tercengang.


Jika ia tahu kalau si penelepon itu adalah Sarah-mantan istrinya, tidak akan Shehan membiarkannya menunggu lama. Pada dering kedua pasti Shehan sudah menjawab panggilan telepon itu. Segera ibu jari Shehan menggeser tanda menerima panggilan pada layar.


"Halo, Sarah." Intonasi Shehan halus, sehalus sutera.


"Shehan, maaf aku meneleponmu di jam begini. Apa aku mengganggumu?" Sembari mengemudikan stir mobil, balasan Sarah pun tak kalah lembutnya.


"Oh, tidak Sarah. Aku juga belum mengantuk."


Padahal lima detik lalu Shehan sudah menguap, akan beranjak tidur sebab matanya telah dilanda kantuk. Ketika tahu Sarah menghubunginya, mendadak rasa kantuk Shehan raib entah ke mana. Suaranya pun jadi segar bugar saat berbincang dengan mantan istrinya itu.


"Ada apa tiba-tiba menelpon, Sarah?" lanjut Shehan lagi.


"Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik, Sarah. Kamu dan Jody bagaimana?"


"Kami berdua juga baik-baik saja. Oh ya, apa Nurbanu sudah tidur?"


"Sudah. Kamu tahu jam sembilan malam dia harus segera tidur."


"Baguslah kalau Lilis juga mendisiplinkannya. Bagaimana kabar gadis itu?"


Sesaat Shehan membisu, teringat pada pengasuh anaknya.


"Lilis baik, Sarah."


"Sudah hampir dua minggu aku tidak menghubunginya untuk bertanya tentang Nurbanu. Shehan, aku ingin memberitahumu kalau aku akan ke Bali besok bersama Jody. Jadi aku ingin mengajak Nurbanu tinggal bersamaku selama aku di Bali."


Helaan napas panjang Shehan menguar. Ia memaklumi permintaan Sarah karena wanita itu adalah ibu kandung putrinya. "Jam berapa penerbanganmu besok?"


"Tidak terburu-buru, aku akan mengambil penerbangan siang. Lagipula Jody ikut denganku karena dia sedang ingin berlibur selagi aku mengunjungi butikku di Bali."


"Berapa lama kamu tinggal di Bali?"


"Tidak lama, Shehan. Cuma seminggu karena kesibukan Jody juga padat. Apalagi dia baru mendapatkan tawaran untuk berakting di sebuah Film."


"Kebetulan, ada yang ingin kubicarakan denganmu, Sarah."


"Apa itu?" Sarah antusias.


"Aku ...."


Shehan jeda sebab bimbang. Apa reaksi Sarah bila ia berkata jujur. Sementara di seberang Sarah sudah tak sabar menunggu kelanjutan ucapan Shehan.


"Aku akan menikah, Sarah."


"What! Really?" Begitu kencang sahutan terkejut Sarah. "Benarkah Shehan? Dengan siapa?"


"Besok aku akan menemuimu dan bicara tentang itu."


Shehan terbelenggu oleh rasa tidak percaya diri. Apalagi bila Sarah tahu siapa calon istrinya nanti.


"Ah, aku jadi tidak sabar!" Sarah merengek manja.


"Bisakah kita makan siang bersama besok. Aku akan mengambil penerbangan pagi saja agar kita bisa segera bertemu," sambung wanita itu bersemangat.


Sarah selalu bersikap ramah pada Shehan meski mereka dulunya adalah pasangan suami istri yang telah bercerai. Ia juga menganggap Shehan sebagai teman dan keduanya tidak pernah saling bermusuhan. Tak heran bila Sarah dan Shehan tetap kompak mengasuh Nurbanu secara bergantian.


"Waktumu tidak akan bermasalah kalau mengambil penerbangan pagi?"


"Tentu saja tidak. Aku akan memesan tiketku dan tiket Jody malam ini."


"Tapi, Sarah ...."


"Ya, ada apa, Shehan? Katakan saja."


"Bisakah hanya kita berdua saja yang makan siang. Karena aku ingin bicara empat mata denganmu."


"No problem, Shehan. Jody pasti juga tidak akan keberatan."


"Ya, jangan lupa datang ke restoran favorit kita, ya!"


"Ya, Sarah."


"Bye, Shehan!"


"Bye!"


Tut ... Tut ... Tut ....


Percakapan itu akhirnya selesai. Shehan masih menghayati foto Sarah yang muncul di bagian profil nomor kontak. Sengaja ia berlama-lama memandanginya, ingin melepaskan kerinduan yang tak kesampaian pada wanita cantik itu.


**


Besok siang.


Bayangan Sarah terpantul pada sebuah cermin kotak bedak berukuran kecil. Ia baru saja menyapukan spons yang sebelumnya sudah dioleskan ke permukaan bedak di sekitaran pipi, kening dan dagu. Lipstik warna nude menghiasi bibirnya. Segaris senyum tipis turut mengembang di sana.


Dengan mengenakan gaun ketat berwarna pinggala, Sarah duduk anggun seraya menyilangkan kaki pada satu dari empat kursi yang melingkari meja makan berbentuk bundar. Kulit pahanya yang mulus tersingkap. Sepasang stiletto hitam menambah kesan menawan pada kedua kakinya yang jenjang.


Ctak!


Sarah menutup kotak bedaknya setelah yakin riasan di wajahnya sempurna. Kotak kecil itu lalu dicemplungkan ke dalam tas tangan yang berisi barang pribadi milik Sarah lainnya.


Tak berselang lama, yang dinanti-nanti oleh wanita itu tiba. Seperti biasa, penampilan Shehan selalu terlihat gagah dan berwibawa dalam balutan jas eksekutif. Ia berjalan dengan pandangan lurus pada satu tujuan, yaitu Sarah.


"Shehan!"


Lambaian tangan Sarah beberapa kali mengudara, mengiringi senyum lebarnya. Tak sampai semenit, Shehan sudah berhasil menjangkau meja bundar yang telah dihuni oleh Sarah.


"Maaf, aku baru datang." Shehan menyapa seraya menerbitkan senyum permohonan maaf.


"Tenang saja! Aku juga belum lama sampai di sini."


Sarah bangkit, mendaratkan pipinya ke kedua sisi pipi Shehan, kanan dan kiri. Bayangan kecantikan Sarah membias di binar mata Shehan sesudah salam hangat keduanya berakhir.


'Sarah selalu saja cantik seperti sediakala.' Suara hati Shehan berdesis tatkala bertemu lagi dengan mantan istrinya.


"Silakan duduk, Shehan!" Tangan kanan Sarah mengarah pada kursi yang berada di depannya.


"Terima kasih."


Kursi yang ditunjuk tadi, ditarik keluar dari kolong meja oleh Shehan. Pria itu kemudian bersemayam dengan anggun di sana.


"Kamu sudah memesan makanan?"


"Belum."


Tatapan Shehan tak berkedip pada Sarah yang saat itu memanggil pramusaji sambil mengangkat tangan.


"Waiter!"


Seorang pramusaji yang sedang berada di dekat meja bartender menoleh ke belakang. Selanjutnya ia mengambil buku menu dari atas meja bartender dan pergi menghampiri meja Sarah dan Shehan.


"Selamat siang, Tuan, Nyonya! Silakan dipesan makanan dan minumannya."


Buku menu yang tadi dibawa, diletakan di atas meja tamu. Lekas pasangan mantan suami istri itu meraihnya. Bersama-sama memilih makanan dari buku menu yang berada di tangan mereka masing-masing.


Bola mata Sarah bergulir, menyortir pilihan makanan yang tertulis dengan urutan dari atas ke bawah. Ia pun memesan makanan kesukaannya. Sedangkan Shehan hanya berpura-pura melihat menu, tetapi tak satu pun ada makanan yang dipilihnya.


"Kamu pesan apa, Shehan?"


Shehan mengedikan kedua bahu sambil menutup buku menu. "Entahlah! Aku tidak tahu harus memesan apa."


Sarah mengernyit bingung. "Kenapa begitu? Bukannya ini restoran favorit kita berdua. Banyak makanan kesukaanmu di sini."


"Bisakah kamu memesankannya untukku?"


Raut ceria Sarah tercipta, membalas tatapan syahdu Shehan. "Baiklah, akan kupesankan."


Sarah mengabulkan permintaan Shehan dengan memesan makanan kesukaan pria itu.


'Ternyata kamu masih ingat makanan kesukaanku.'


Shehan menekuk sedikit wajahnya. Di balik tekukan itu, diam-diam kedua ujung bibirnya terangkat ke atas, membentuk senyum simpul.


***


BERSAMBUNG...