Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 38 : Terbongkarnya Rahasia



Shehan melamun meski sedang duduk di kursi kerjanya dan terdapat beberapa dokumen di atas meja yang mesti dia periksa. Tubuhnya memang berada di kantor, tetapi benaknya masih tertinggal di rumah.


Pria Turki itu kembali teringat saat dirinya mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi Lilis. Tak pernah terbayangkan oleh Shehan sebelumnya, kalau baru tiga hari mereka menikah, dia sudah nekad melakukan hal itu. Hal yang Shehan pikir tidak mungkin pernah terjadi.


Dua sudut bibir Shehan berkedut menahan senyum. Namun, tetiba ada hal yang mengganjal hatinya dan hal itu membuat bias gembira di wajah Shehan pudar. Berganti dengan raut datar.


"Haah ...." Satu helaan napas panjang berembus cepat dari rongga dada Shehan. Ia menarik satu laci paling atas meja kerjanya. Mengeluarkan sebuah map lalu meletakan map itu di atas meja.


Saat membuka map tersebut, selembar kertas yang penuh tulisan tergeletak di dalamnya. Selembar kertas itu ternyata surat perjanjian pernikahan yang pernah Shehan buat sebelum menikah dengan Lilis, gadis yang tadi pagi dia cium pipinya.


Shehan memandangi kertas itu cukup lama. Tenggelam ke dalam semerawut pikirannya sendiri.


**


Di tempat lain, pantulan bayangan Jesslyn di cermin wastafel menggambarkan pesona serta kecantikan wanita berdarah Indonesia-Belgia itu. Bibir sensualnya diberi warna peach yang agak terang. Garis matanya dipertebal dengan eyeliner warna hitam. Meruncing pada bagian atas hingga memberi kesan tajam sorot mata Jesslyn.


Sapuan terakhir spons bedak di pipi kiri, menjadi penutup kegiatan berdandannya siang ini. Wanita cantik itu tersenyum tipis pada bayangannya sendiri. Lantas berjalan keluar dari toilet yang berada di ruang kerjanya dengan lenggak-lenggok yang aduhai.


Jesslyn adalah anak dari seorang pengusaha properti Indonesia yang terbilang cukup sukses. Keluarganya tinggal di Amerika Serikat sejak enam bulan yang lalu. Merintis usaha baru mereka di sana.


Sebab itu pula, Jesslyn sempat pergi ke negeri Paman Sam dan tinggal di sana selama enam bulan. Kini Jesslyn kembali lagi ke Indonesia, memang sengaja diperintahkan oleh ayahnya untuk mengurus induk perusahaan mereka di sini.


Wanita itu duduk di kursi pimpinan, merogoh ponselnya dari dalam tas kerja yang terletak di laci bawah meja. Jesslyn mulai berkutat dengan gawai pintar itu, sebentar kemudian dia menempelkan ponselnya ke telinga kiri. Hendak menghubungi seseorang.


Siapakah yang Jesslyn hubungi?


Ddrrtt ... Ddrrtt ... Ddrrtt ....


Pada dering ketiga, panggilan Jesslyn diterima oleh orang yang dia tuju.


"Selamat siang, Shehan," sapanya halus.


"Siang Jesslyn," balas Shehan dari seberang "Ada apa tiba-tiba menghubungiku?"


"Shehan, apa kau sibuk siang ini?"


Di ruang kantornya Shehan melihat ke atas meja kerja yang tidak terdapat banyak tumpukan dokumen. "Kurasa tidak."


"Baguslah kalau begitu."


"Memangnya ada apa?"


"Ayo, kita makan siang bersama! Sudah lama kita tidak melakukannya. Kebetulan setengah jam lagi waktunya makan siang."


"Eum ...." Shehan melihat arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya lalu berpikir sejenak. "Baiklah, aku akan datang menjemputmu."


"Tidak usah! Aku yang akan datang ke kantormu. Aku sedang tidak ada tugas penting hari ini."


"Oke, datang saja. Beritahu Miranda kalau kamu sudah tiba."


"Ya, Shehan. Sampai bertemu nanti."


"Ya, Jesslyn."


"Bye ...."


"Bye!"


Sekonyong-konyong kedua ujung bibir Jesslyn naik, mengukir senyum ceria. Ia senang Shehan mau menerima ajakan makan siangnya. Dahulu mereka memang terkadang akan makan siang bersama sesekali. Namun, sudah cukup lama tidak terjadi sejak Jesslyn pergi.


**


Rambut blonde Jesslyn ikut bergoyang seirama dengan langkah kakinya yang lincah. Jesslyn sudah tiba di kantor Shehan dan akan mendatangi sahabatnya itu di ruangannya. Sebelum berhasil mencapai tempat tujuan, Jesslyn terlebih dulu meminta Miranda-Sekertaris Shehan agar memberitahu atasannya kalau dia telah datang.


"Mohon tunggu sebentar, Nona Jesslyn. Saya akan menghubungi Tuan Shehan dulu," ujar Miranda ramah.


"Eum ...." Jesslyn ikut tersenyum, mengiyakan Miranda lewat kedipan mata.


Miranda kemudian menelepon Shehan dari meja kerjanya. Setelah diberitahu tentang Jesslyn yang sudah datang, lekas Shehan menyuruh Miranda agar mempersilakan Jesslyn masuk ke ruangan kantornya.


"Nona Jesslyn, silakan masuk ke ruangan Tuan Shehan. Tuan sudah menunggu Nona di dalam," terang Miranda, mengulangi perintah atasannya.


Jesslyn semringah meninggalkan meja kerja Miranda, pergi menuju ruangan kantor Shehan yang jaraknya sudah dekat.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" kata Shehan dari dalam.


Jesslyn menarik gagang pintu, masuk ke dalam. Tak sungkan lagi, ia segera menyambangi meja kerja Shehan.


"Selamat siang, Shehan."


Shehan bangkit, "Maaf merepotkanmu. Duduklah dahulu! Aku mau ke toilet sebentar." Tangan kanannya mengulur pada sofa yang berada di depan.


"Ya, Shehan. Santai saja. Aku juga tidak terburu-buru."


"Baiklah, tunggu sebentar."


"Hhmm ...."


Shehan berlalu pergi ke toilet yang ada di dalam ruang kerjanya, hendak mencuci tangan. Sedangkan Jesslyn memilih tidak duduk di sofa. Menyibukkan diri dengan melihat-lihat ruang kerja Shehan yang masih tetap sama dekorasinya seperti enam bulan lalu ketika terakhir kali dia datang berkunjung ke tempat itu sebelum pergi ke Amerika Serikat.


Jemari Jesslyn merayapi tepian meja, tak sengaja menyentuh ujung map yang ada di sana. Jesslyn melihatnya sekilas. Namun, ada sesuatu yang dia temukan hingga wanita itu menoleh untuk kedua kalinya.


'Apa ini? Surat perjanjian pernikahan? Apa? Shehan dan Lilis menikah kontrak?'


Jesslyn dengan mata membulat, membaca perihal surat yang terpampang di atas meja. Rupanya saat akan pergi ke toilet tadi, Shehan lupa menyimpan kembali map surat itu. Malahan tidak menutup map-nya juga. Akhirnya Jesslyn dapat membaca surat itu dengan leluasa.


Langkah Shehan yang terdengar kian dekat membuat Jesslyn kelabakan. Ia belum sempat selesai membaca isi keseluruhan surat, tetapi terdesak Shehan yang segera datang.


Sekelebat ide brilian kemudian muncul. Jesslyn mengambil ponselnya, memotret surat itu dan otomatis tersimpan di dalam aplikasi galeri foto.


"Jesslyn! Apa yang kau lakukan?"


"Akh ...." Jesslyn tersentak, Shehan memergokinya dari belakang. Seketika berbalik badan sambil menjatuhkan ponselnya ke dalam tas. "Ah, tidak apa-apa, Shehan! Aku hanya melihat-lihat keluar jendela dari sini. Pemandangannya sangat bagus. Pasti kau tidak akan cepat penat bila berlama-lama ada di sini."


"Hhmm ...." Shehan mengangguk beberapa kali. Melangkah ke kursi kerjanya. Sementara Jesslyn menjauh, pura-pura tidak melihat surat perjanjian pernikahan yang masih teronggok di atas meja Shehan.


Shehan pun menyadari kalau surat itu ternyata masih belum dia simpan dan dalam posisi terbuka pula. Sempat ia melirik Jesslyn sebentar. Namun, tidak mau berprasangka buruk sebab wanita itu adalah sahabatnya.


Surat itu kemudian Shehan simpan ke dalam laci meja kerja paling atas. Diraihnya jas kerja yang tergantung di tiang gantungan kayu dekat lemari arsip. Memakai jas itu sebelum keluar ruangan. Bersama Jesslyn, mereka naik mobil yang sama menuju restoran yang dulu sering mereka datangi untuk makan siang.


***


BERSAMBUNG...