
Pejaman mata Shehan terbuka seiring ia melepaskan Lilis dari cumbuan dan jeratannya. Dari jarak yang amat dekat, Shehan menatap Lilis intens. Tampak olehnya gadis itu memejamkan mata dengan erat. Kedua tangannya pun gemetaran, masih memegang kemeja Shehan.
"Ck!" Hal itu malah menjadi hiburan bagi Shehan, lantas berdecak senang.
Lilis membuka mata usai merasakan lilitan di tubuhnya merenggang. Ketika ia sudah kembali melihat dengan sempurna, keteduhanlah yang Lilis temukan di raut wajah Shehan. Pandangan mereka saling bertemu. Binar mata Lilis memancarkan rasa gugup yang amat sangat. Sedangkan pancaran sepasang manik coklat muda Shehan lebih stabil. Pria dewasa itu tahu caranya mengendalikan diri meski di dalam hatinya ikut merasakan getaran yang sama.
"Kamu gemetar," ucap Shehan pelan dan sorot mata fokus pada Lilis. Di tengah suasana sunyi serta redupnya cahaya di dalam kabin mobil, pria itu terlihat begitu seksi.
Lilis mengerjap beberapa kali. Menelan saliva saking groginya. "A--aku ... aku ... aku mau masuk dulu, Mas!"
Buru-buru Lilis meraih pegangan pintu mobil hendak keluar.
"Mau ke mana?" sela Shehan seduktif. Usaha Lilis untuk kabur berhasil digagalkannya. Dengan cepat Shehan meraih tangan Lilis lalu menariknya. Lilis akhirnya kembali bersemuka dengan Shehan lagi.
"A--aku ... aku, mau masuk ke dalam rumah, Mas." Terbata.
"Tetaplah di sini."
"I--ini ... sudah malam. Mas masih harus bekerja besok. Jadi harus segera tidur." Lilis beralasan, padahal debaran hatinya sudah tidak karuan.
"Aku masih ingin bersamamu." Tak urung Shehan melepaskan pegangannya dari pergelangan tangan Lilis.
Lilis sendiri perlahan-lahan meronta, berharap bisa pergi dari Shehan segera. "A--aku .... aku ...."
"Bagaimana perasaanmu padaku?" Shehan malah mempertanyakan hal yang sama sekali tidak berkaitan dengan kata-kata Lilis tadi.
"Perasaanku ... pada Mas?" Lilis mengerti dengan apa yang Shehan tanyakan barusan. Namun, ia menjawab lambat sebab bingung harus berbuat bagaimana.
"Ya, perasaanmu padaku? Aku ingin tahu." Shehan lebih menuntut kali ini.
Di dalam hati, Lilis merasakan debaran serta getaran orang yang sedang jatuh cinta. Apalagi mereka baru saja berciuman. Matanya berputar mengitari paras Shehan yang tidak pernah tidak terlihat tampan. Jiwanya mengatakan bahwa memuja pria itu. Namun, bayang-bayang Jesslyn menyelimuti relung Lilis, membuatnya jadi ragu untuk mengutarakan isi hati.
"Maaf, Mas ...." Lilis menunduk "Aku belum bisa menjawabnya sekarang."
Shehan menghela napasnya panjang. Perlahan melepaskan pergelangan tangan Lilis. "Baiklah ... aku mengerti."
Lilis mengangkat wajahnya, menatap Shehan dalam. Shehan yang menunjukan ketegaran, melegakan batin Lilis. Setidaknya suaminya itu tidak terluka saat ini. Lilis melipat bibirnya tinggal segaris sebentar.
"Aku ... masuk ke dalam dulu, Mas."
Shehan tidak menahan gadis itu dan mengangguk untuk memberi jawaban ya.
"Selamat malam, Mas."
"Malam."
Lilis menyeret sorotan sayunya.
"Lilis!"
Panggilan Shehan membuat Lilis menoleh lagi. "Ya, Mas," sahutnya lembut.
Sekonyong-konyong Shehan menarik kepala belakang Lilis agar mendekatinya.
Cup ....
Sebuah kecupan Shehan sematkan di kening Lilis. Lilis bergeming, kembali merasakan kehangatan menyentuh kalbunya.
Lilis menelusuri paras Shehan. Mengangguk beberapa kali sebagai penutup kegiatan malam panjang mereka. Ia meninggalkan Shehan di kabin depan mobil. Beranjak masuk ke dalam rumah seraya memegang tepian selendang yang membungkus punggungnya agar tidak jatuh.
Shehan masih terus mengawasi kepergian Lilis sampai bayangannya menghilang di balik tikungan tembok. Ia membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan, menyandarkan satu tangan pada setir lalu melamun. Mencoba memahami perasaan Lilis. Shehan cukup mengerti, terlebih lagi ada sosok Jesslyn yang berada di antara mereka saat ini.
**
Jesslyn mondar-mandir di dalam kamarnya. Gelisah sepanjang malam, tidak bisa tidur barang sebentar. Sesekali ia mengetuk dagunya, reaksi dari rasa khawatir yang merajai dirinya saat ini.
"Benar, tindakanku sudah benar. Shehan sudah mencurigai aku. Lebih baik kubuang saja dokumen rekam medis itu daripada ketahuan olehnya."
Jesslyn mengangguk beberapa kali. Sejenak mimik mukanya lega. Tetapi mendadak panik lagi.
"Kenapa aku membuangnya di tong sampah rumah ini? Bagaimana kalau ada yang menemukannya? Kenapa tidak kutunggu sampai besok pagi baru membuangnya di kantorku. Ah, celakalah, aku!"
Jesslyn mengetuk keningnya berkali-kali, menyesali kecerobohannya. Ia pun bergegas pergi menuju dapur dengan mengendap-endap. Takut langkah kakinya terdengar oleh orang lain. Saat tiba, ruangan dapur telah gelap karena nyala lampu sudah dimatikan.
Jesslyn menyalakan saklar kemudian melongok ke dalam tong sampah. Nahas, dokumen yang tersimpan di dalam map merah muda yang dia buang tadi tidak dia temukan.
"Ke mana dokumen itu? Bagaimana ini?"
Jesslyn bahkan rela membongkar isi tong sampah demi mencari dokumen itu saking kalang kabutnya. Tetap saja hasilnya nihil.
"Ah, sial! Ke mana dokumen itu!" rontanya kesal bercampur galau. Diperhatikannya isi tong sampah satu persatu "Semua ini adalah sampah-sampah malam ini. Belum dibuang karena biasanya Mbok Tum akan membuangnya ke tong sampah di depan pagar rumah besok pagi. Berarti ada orang yang sudah menemukan dokumen itu dan mengambilnya!"
Garis kernyitan di kening Jesslyn kian bertimbun. Ia memasukan lagi plastik-plastik sampah ke dalam tong lalu mencuci tangannya yang kotor di bawah guyuran air dari pancuran bak cuci piring. Selagi membersihkan tangan, Jesslyn bergumam dengan dirinya sendiri.
'Masalah ini semakin runyam. Kira-kira siapa orang yang telah menemukan dokumen itu? Di rumah ini cuma ada Mbok Tum, Lilis, Nurbanu dan Shehan. Tidak mungkin Nurbanu karena sejak tadi dia sudah tidur. Lagipula dia tidak akan mengambil dokumen itu kalaupun melihatnya di dalam tong sampah karena Nurbanu belum mengerti benda itu.'
'Apa mungkin Lilis atau Mbok Tum? Bisa juga Shehan, duh, gawat! Lebih parah lagi kalau Shehan-lah yang menemukannya.'
Makin dirundung panik, Jesslyn meninggalkan dapur dengan gelagat resah yang sangat kentara. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Shehan yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Shehan!"
"Jesslyn!"
Keduanya sama-sama terkejut. Saling meneliti penampilan lawannya. Jesslyn mengenakan pakaian tidur sedangkan Shehan masih necis meski di tengah malam buta.
"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?" tanya Shehan, datar.
"A--aku tadi ke dapur, minum air putih. Entah kenapa sangat haus." Jesslyn beralasan "Kenapa kamu belum tidur?"
Shehan tidak berniat menjawab Jesslyn. Melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti menuju kamar utama. Jesslyn sendiri sampai memutar kepala melihat kepergian Shehan. Ketika posisi pria itu tinggal terlihat punggungnya, Jesslyn tidak sengaja melihat kunci mobil Shehan yang tercantol di jari telunjuknya. Bergoyang seirama gerakan kaki Shehan.
'Rupanya Shehan tadi keluar rumah. Berarti bukan dia yang menemukan dokumen rekam medisku. Tinggal Mbok Tum dan Lilis saja yang menjadi terdakwa. Besok aku akan menginterogasi mereka!'
Jesslyn bersungut-sungut masuk lagi ke dalam kamar.
Ceklek!
Pintu kamar tamu pun tertutup rapat.
***
BERSAMBUNG...