Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 56 : Kau Istriku!



Lari jarum arloji yang melingkari pergelangan tangan kiri Shehan telah menjadi fokus pria itu sejak satu jam yang lalu hingga saat ini. Sekali lagi Shehan menoleh ke arah jendela yang tirainya bergoyang tertiup embusan angin. Keningnya mengernyit tidak senang, lantaran belum terdengar tanda-tanda deru laju mobil memasuki area pelataran depan rumahnya.


Shehan memang gundah gulana sejak ditinggal Lilis yang pergi ke pesta pernikahan bersama pria lain. Akan tetapi, Shehan masih mengingkari perasaan uring-uringannya tersebut. Awalnya Shehan berpura-pura baik-baik saja. Membaca buku dari perpustakaan pribadinya seraya minum minuman dingin. Lama kelamaan ia pun merasa jenuh, apalagi Lilis belum juga kembali.


"Huh! Ke mana dia? Kenapa lama sekali pulangnya! Apa dia lupa kalau sudah satu jam lebih keluar!" omel Shehan yang sudah tidak mampu bersabar.


Bingung menghabiskan waktu di hari Minggu tanpa berbuat apa-apa selain cemas menunggu kepulangan Lilis, Shehan akhirnya meninggalkan buku yang tadi dia baca. Beralih membuka dokumen pekerjaan yang kebetulan ada beberapa tergeletak di atas meja kerja.


Namun, tetap sia-sia. Lima belas menit Shehan membuang waktu dengan percuma. Hanya membolak-balik kertas tanpa ada mengerjakan apapun. Ingin bekerja, tetapi seluruh konsentrasi Shehan cuma terpusat pada Lilis.


Brak!


Sampul dokumen yang tidak bersalah pun, ikut jadi korban pelampiasan kegelisahan Shehan. Ditutupnya sampul itu dengan kasar lalu didorong menjauhinya. Sejenak Shehan bergeming menahan kesal.


"Sebenarnya ke mana dia? Apa benar pergi undangan ke pesta pernikahan? Atau jangan-jangan pergi jalan-jalan bersama pria itu!"


Lantas dirogohnya ponsel dari dalam saku celana, ingin sekali Shehan menghubungi Lilis dan menyuruh gadis itu cepat pulang. Bahkan, nomor kontak Lilis sudah terpampang di layar, tinggal menyentuh tanda hijau untuk memanggil saja.


Namun, tidak jadi Shehan lakukan. Dengan berat hati ia menyingkirkan ponsel tersebut ke atas meja. Gengsi dan malu jikalau harus menghubungi Lilis lebih dulu. Sementara Lilis sendiri sedang enak-enakan makan daging di pesta pernikahan temannya. Ditemani oleh Nugie pula, yang duduk di sampingnya.


"Enak ya, Mas. Dagingnya!" Ujar Lilis girang setelah melahap potongan terakhir di piringnya.


"Iya, pintar juru masaknya. Rasanya tradisional sekali, wangi rempah-rempah dan serat dagingnya juga sangat lembut." Nugie menimpali.


"Nanti di rumah aku mau belajar mengolah daging seperti ini."


"Kalau sudah bisa, jadi koki di restoranku saja!"


Sontak Lilis tersipu. "Hahaha! Mas Nugie bisa saja!"


Selesai makan, keduanya tidak langsung pulang. Melainkan memilih untuk menikmati hiburan yang disuguhkan oleh penyanyi yang cukup merdu suaranya. Sesekali Lilis juga tertawa saat mendengar guyonan yang dilontarkan oleh Nugie lagi.


**


Di rumah Shehan, pria Turki itu kebingungan seperti orang linglung. Minta dibuatkan teh hangat oleh Mbok Tum, tetapi malah bilang minta dibuatkan teh dingin saat Mbok Tum sudah membawakan teh hangat.


"Kok teh hangat, Mbok?"


"Maaf, Tuan. Tadi Tuan minta dibuatkan teh hangat?"


"Saya minta teh dingin."


"Oh, Mbok buatkan lagi ya, Tuan."


"Ya, Mbok."


Sampai akhirnya deru laju mobil yang masuk ke pekarangan rumah, terdengar di gendang telinga Shehan. Shehan dan Mbok Tum yang sama-sama bisa melihatnya dari jendela ruang tamu menoleh ke sumber suara. Ternyata memang benar mobil Nugie-lah yang mereka dapati.


"Itu Non Lilis, sudah pulang sepertinya," ujar Mbok Tum sembari memegang nampan berisi secangkir teh hangat.


"Ya sudah, ke belakang saja, Mbok. Jangan buatkan teh dinginnya. Tidak jadi!"


"Baik, Tuan."


Mbok Tum menuruti perintah majikannya. Seusai kepergian wanita paruh baya itu, Shehan buru-buru menyambangi jendela. Ingin mengawasi Lilis dari sana.


"Terima kasih ya, Mas. Sudah menemaniku pergi undangan." Lilis semringah bercengkerama dengan Nugie yang sedang berdiri di samping badan mobilnya. Keduanya saling bersemuka.


"Aku juga berterima kasih, Lis. Kalau tidak ada kamu, aku juga tidak akan ada teman pergi ke pesta itu."


Lilis tersenyum ramah, di saat itu mendadak matanya kelilipan. "Aduh!" erangnya seraya mengucek mata.


"Kenapa Lis?" Nugie khawatir.


"Tidak tahu ini, Mas. Tiba-tiba mataku kelilipan," Lilis mengadu sambil masih memegang salah satu matanya.


"Coba sini aku lihat!"


Nugie menarik tangan Lilis. Lilis pun serta-merta membiarkan Nugie memegang kedua pipinya. Bukan hanya memegang pipi, Nugie juga mengembus-embus mata Lilis yang kelilipan tadi dari jarak yang dekat.


"Huu ... Huu ... Huu...."


Shehan yang sedang mengintip dari balik jendela langsung gusar melihat Lilis dipegang-pegang Nugie. Sudah lelah menunggu, malahan tampak olehnya Nugie dan Lilis seperti bermesraan. Tak pelak lagi, Shehan cemburu bukan kepalang.


"Sudah lebih baik, Lis?" Nugie menarik tangannya dari pipi Lilis.


Lilis berkedip beberapa kali dan sekarang merasa nyaman pada matanya. "Sudah, Mas."


"Sekarang aku pamit pulang ya, Lis!"


"Iya, Mas. Hati-hati di jalan, ya!"


"Iya, Lis." Nugie mengangguk singkat.


Keadaan sepi ketika Lilis masuk ke dalam. Tidak terdengar suara aktivitas penghuninya. Ia berniat mengunjungi kamar Nurbanu setelah ini, namun pertama-tama, Lilis hendak ganti pakaian dulu.


Ceklek!


Lilis masuk ke dalam kamar utama selepas tuas ditarik.


"Hah!" Tetiba ia berdecak kaget tatkala melihat Shehan sudah berdiri, fokus membidiknya dari dalam ruangan.


"Mas Shehan!" serunya dari ambang pintu.


"Kenapa terkejut?" sergah Shehan yang sudah dilanda emosi api cemburu.


"Aku pikir tidak ada orang di rumah karena ruang tamu sepi sekali tadi." Lilis beranjak ke dalam tetapi lupa menutup pintu.


"Apa kamu senang kalau rumah sepi, jadi kamu bisa bermesraan dengan Si Nugie itu!" Shehan mendekati Lilis.


Seketika Lilis terkesiap mendengar tuduhan Shehan. "Bermesraan? Maksud Mas apa?"


"Kamu yang tahu apa yang kalian berdua lakukan di depan rumah. Kenapa dia memegang pipimu?"


"Oh, aku tadi kelilipan, Mas. Jadi Mas Nugie mengembus mataku."


"Oh! Oh! Apa kamu anak kecil? Tidak bisa menghilangkan kelilipanmu sendiri! Kau adalah istriku! Kenapa kamu biarkan orang lain menyentuhmu!" omel Shehan panjang lebar. Lilis sampai melongo, tak percaya melihatnya.


"Kenapa sih, Mas marah-marah? Mas Nugie itu cuma mau membantuku, Mas."


"Terus saja kamu bela orang itu! Kamu lagi, pulang undangan lama sekali! Memangnya lokasi pestanya sejauh apa sampai dua jam lebih baru pulang."


"Mas, kami kena macet di jalan. Karena sekarang hari Minggu. Jadi jalan raya cukup padat. Lagipula kenapa Mas marah-marah? Pernikahan kita hanya kontrak. Jadi Mas tidak bisa berbuat apa-apa padaku!" Lilis yang ikut kesal membuang muka.


"Apa!" Shehan yang tidak terima dibantah oleh Lilis beranjak mengikis jarak. Menyisakan satu sentimeter saja celah di antara mereka. "Kamu pikir aku tidak bisa berbuat apa-apa padamu!"


Lilis menoleh Shehan. Tampak binar mata pria Turki itu sudah dilalap api cemburu. Ia menatap tajam Lilis seperti hendak menerkam.


"Baiklah!" kata Shehan lagi lalu membuka kait rantai arlojinya.


'Mau apa Mas Shehan?'


Lilis bergeming, memperhatikan Shehan melempar arlojinya ke sembarang arah di atas tempat tidur. Ketakutannya makin bertambah ketika Shehan membuka dua barisan kancing paling atas kemeja putihnya. Bahkan, pria itu berlanjut membuka kepala ikat pinggangnya di depan Lilis.


Slupt....


Shehan berhasil menarik keseluruhan ikat pinggang, menggulungnya beberapa kali kemudian melemparkannya ke atas tempat tidur juga. Sepasang mata Lilis membola. Dia sudah tidak yakin kalau situasinya akan menjadi baik.


"A-aku mau ganti pakaian dulu." Dengan suara gemetar, Lilis beralasan dan berpaling.


Sap!


"Akh!"


Shehan menarik Lilis ke pelukannya dengan cepat. Lilis semakin panik saat mendapati dirinya sudah berada di dalam belenggu Shehan.


"Mas mau apa? Lepaskan aku, Mas!" Lilis mendongak dan meronta. Memukul-mukul dada Shehan.


Shehan diam tidak menjawab, tetapi wajahnya terus bergerak mendekati wajah Lilis. Ingin menjamah bibir ranum gadis itu.


"Hentikan, Mas!"


Sekonyong-konyong Lilis berteriak lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak dicium oleh Shehan. Shehan lantas menghentikan aksinya. Ia menyeringai, terkekeh ringan melihat Lilis gugup setengah mati.


"Pergilah! Jangan coba-coba mengujiku lagi setelah ini!" Shehan berbisik. Embusan napasnya menelusup ke dalam telinga membuat Lilis merinding.


"Ma-maafkan aku, Mas!" Lilis terbata dan gemetaran saking gugupnya. Tidak berani ia melihat wajah Shehan yang berjarak sangat dekat dengannya.


Shehan pun melepaskan Lilis kemudian. Embusan napas lega menguar dari mulut Lilis. Perlahan ia melangkah hendak pergi. Akan tetapi, baru dua langkah Lilis menjauh, Shehan sudah menariknya lagi.


Sap!


"Akh!"


Dan benar-benar menciumnya kali ini.


"Mmpphh ... Mmpphh...."


Lilis berusaha melepaskan diri, tetapi cengkeraman Shehan di tengkuknya dan lingkaran tangan Shehan di pinggangnya sungguh erat. Lilis terjebak dalam pelukan Shehan. Ciuman pria itu menjamah bibirnya berulang kali. Tidak liar, malahan lembut sekali. Shehan benar-benar menikmati. Padahal pintu kamar utama belum tertutup.


Jesslyn yang baru saja pulang dari toko perlengkapan bayi yang ada di pusat perbelanjaan, ingin memberitahu Shehan barang-barang apa saja yang telah dia beli. Nahasnya, dia malah mendapati Shehan tengah menciumi Lilis di depan pintu kamar utama yang terbuka. Sontak kedua mata Jesslyn melotot. Barang-barang yang dia bawa ikut berjatuhan di lantai. Pelupuknya pun berembun, menganak sungai.


***


BERSAMBUNG...