Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 76 : Mehrunissa



"Mehrunissa akan datang ke sini, Lilis," ujar Shehan seraya menyimpan ponselnya lagi ke dalam saku celana setelah mengakhiri percakapan dengan adik perempuannya.


Lilis yang mendengar hal itu mendadak buncah. "Sekarang, Mas?"


"Ya."


Segera garpu yang sedari tadi dipegang Lilis untuk makan dolma diletakkan di atas piring. Lantas buru-buru merapikan rambutnya. Takut kalau terlihat jelek di hadapan adik ipar yang bahkan umurnya lebih tua dari Lilis.


"Bagaimana ini? Aku gugup, Mas!"


"Gugup kenapa?"


"Aku bingung harus bicara apa dengan Nona Mehrunissa nanti."


Shehan menanggapi santai kecemasan istrinya. "Kamu bisa mengatakan apa saja yang ingin kamu katakan. Aku akan jadi penerjemah bahasa untukmu."


"Wah, bagusnya punya suami multitalenta! Mas yang terbaik deh pokoknya!" puji Lilis setinggi langit.


"Tapi tidak gratis dan ada syaratnya."


Seketika wajah gembira Lilis berubah terperangah. "Apa syaratnya, Mas?"


Shehan menyeringai licik seraya mengetuk bibirnya dengan jari telunjuk beberapa kali. Sontak mata Lilis membulat, mengedarkan pandangan ke sekeliling kemudian.


"Mas ini! Di sini banyak orang, Mas!" omel Lilis.


"Hahaha!" Disambut tawa renyah Shehan, "ayo, makan lagi makananmu selagi menunggu Mehrunissa datang."


"Ya, Mas. Mas tidak makan?"


"Ya, aku juga akan makan."


Lilis dan Shehan sama-sama makan sambil menunggu kedatangan Mehrunissa. Gadis Turki itu tiba di Goksu Park setengah jam kemudian dengan menyetir mobilnya sendiri. Ketika dia datang, Lilis sampai terpana--menelan saliva saking terpukau dengan kecantikan Mehrunissa.


'Perempuan Turki memang cantik-cantik. Laki-lakinya juga tampan-tampan termasuk Mas Shehan,' gumam Lilis dalam hati.


Bila Shehan memiliki rambut coklat muda, beda hal dengan Mehrunissa yang memiliki rambut warna jerami--tebal dan bergelombang. Rambutnya yang digerai ikut berayun bebas mengikuti langkah anggun Mehrunissa. Postur tubuhnya ramping dan gaun malam yang dia kenakan melekat sangat pas, semakin memperindah tampilan dirinya.


"Hello, Shehan!" sapa Mehrunissa seraya merentangkan kedua tangan dan tersenyum menawan tatkala sudah berhasil menjangkau tempat duduk Shehan dan Lilis.


"Hello, nice to see you." Shehan memeluk adik perempuannya. Sementara Lilis ikut berdiri, tersenyum dan tak henti memandang kagum adik ipar perempuannya.


"Sorry, I came late because I have work to finish first," imbuh Mehrunissa. Pelukan kedua kakak beradik itu ikut merenggang.


"It doesn't matter. Lilis can't wait for you since the beginning." Tangan kanan Shehan mengarah pada istrinya.


Refleks Lilis tertegun tiba-tiba Shehan menunjuk dirinya tanpa tahu apa sebenarnya yang kedua orang Turki itu bicarakan. Padahal Mehrunissa sengaja memakai bahasa Inggris--bukannya Turki sekiranya Lilis lebih mudah memahami percakapan mereka. Mehrunissa menyambangi Lilis, memeluk dan menyapa dengan saling menempelkan pipi.


"Hello, sister-in-law, nice to meet you again."


"Eh ... iya, iya, hehehe!" Lilis kikuk tidak mengerti adik iparnya bicara apa, akhirnya hanya bisa pasrah dan menjawab seadanya.


"Mehrunissa bilang dia senang bertemu denganmu lagi." Shehan menyelamatkan Lilis kali ini dengan memberitahu Lilis apa yang adiknya katakan barusan.


"She said that she was happy to meet you too." Shehan memberitahu adiknya. Ia benar-benar berprofesi sebagai penerjemah bahasa malam ini.


Obrolan akrab mereka dilanjutkan dengan kembali duduk di kursi masing-masing dan menikmati makanan Turki yang Shehan pesan lagi untuk adiknya. Lilis menyeruput tehnya sambil menemani Shehan dan Mehrunissa berbincang. Meski lebih banyak diam, tetapi sesekali Shehan juga mengajaknya bicara agar Lilis tidak merasa diabaikan.


Malam ini, Mehrunissa mengajak Shehan dan Lilis agar ikut pulang bersamanya dan tinggal di rumah peninggalan orang tua mereka. Sungkan menolak, apalagi Shehan dan Mehrunissa sudah cukup lama tidak saling bertemu, akhirnya Shehan menyetujui ajakan Mehrunissa. Lilis sebagai istri menurut saja ke mana pun Shehan membawanya pergi.


**


Tidak hanya mewah, rupanya rumah peninggalan kedua orang tua Shehan dan Mehrunissa terbilang mirip sebuah istana kerajaan Turki. Sejak lahir, kakak beradik itu memang dibesarkan dalam lingkungan keluarga sosial kelas atas. Tak heran jika di umur belum mencapai kepala tiga, Shehan sudah mampu mendirikan resor di Bali sebagai investor asing.


Sementara Mehrunissa yang bertugas mengelola bisnis warisan keluarganya di Turki. Kenapa Shehan pergi meninggalkan Ankara lalu memilih Bali-Indonesia? Ternyata awalnya dia hanya berniat ingin mengembangkan bisnis resor yang sebelumnya sudah dimiliki oleh keluarganya.


Namun, pertemuan Shehan dengan Sarah adalah skenario takdir yang tidak Shehan duga sebelumnya. Hingga pria itu akhirnya memilih untuk menetap di Indonesia dan menikahi Sarah. Sayangnya, hubungan mereka berakhir kandas. Kini Lilis-lah yang menjadi sandaran hati pria Turki kaya raya itu.


Sungguh beruntung, bukan!


Shehan dan Mehrunissa dengan ramah mengajak Lilis berkeliling melihat bangunan yang berdiri di atas sebidang tanah berukuran luas tersebut. Bagian fasad rumah mengusung konsep klasik modern, kontras dengan pilar-pilar tinggi. Tetapi tetap mempertahankan nuansa timur tengah.


Semua perabotan, karpet indah dan rak-rak hias lainnya ditata sedemikian bagusnya. Agar tidak monoton, terdapat tanaman hijau yang diletakan di beberapa sisi ruangan. Jadi meskipun modern, atmosfer asri masih melingkupi sekitaran rumah.


Lilis dan Shehan menempati kamar utama di rumah itu. Keduanya juga tidur lebih awal karena cukup lelah melewati hari yang serasa lebih panjang dari biasanya sejak tadi pagi. Shehan mengatakan akan mengajak Lilis pergi ke tempat wisata di Ankara terlebih dulu sebelum mereka bertolak ke Kapadokia untuk naik balon udara.


**


Esok pagi.


"Darah ... mimisan ini datang lagi."


Tangan Lilis bergetar saat akan menyentuh darah yang mengalir dari lubang hidungnya. Ia baru saja selesai mandi dan akan membasuh wajahnya lagi di wastafel dengan menggunakan sabun pembersih wajah. Akan tetapi hal yang tidak terduga terjadi.


Lilis kembali menemukan dirinya mimisan pagi ini dan sebelumnya ini terjadi ketika Jesslyn memberitahunya kalau sedang mengandung anak Shehan. Itu belum terlalu lama. Mungkin baru berselang dua bulan yang lalu.


Sekali Lilis menyapu aliran darah itu, tetapi tak kunjung hilang. Masih saja terus mengalir meski Lilis sudah mencoba berbuat hal yang sering dia lakukan bila mimisan ini terjadi, yaitu mendongak seraya menekan ujung hidungnya agar darah tersebut berhenti mengalir. Kali ini berbeda, bila dia berhenti mendongak maka mimisan itu masih terus terjadi.


"Mungkin aku kelelahan makanya seperti ini," gumam Lilis tak ingin panik. Diambilnya tisu yang tersedia di dekat cermin wastafel lalu menyeka mimisannya.


Shehan yang berada di dalam kamar mulai khawatir. Ia berpikir Lilis sudah cukup lama berada di dalam toilet, tetapi belum keluar juga. Lantas Shehan mengetuk pintu toilet beberapa kali ingin memastikan kalau istrinya baik-baik saja.


Tok! Tok! Tok!


"Lilis! Lilis!" seru Shehan dari luar, "masih lama di toiletnya? Kamu baik-baik saja, kan?"


Seketika Lilis panik mendengar suara Shehan. Buru-buru ia membuang tisu-tisu berlumuran darah mimisannya ke dalam kloset, menekan tombol pembuangan agar air dapat segera menghanyutkan tisu-tisu itu.


"Iya, Mas. Aku baik-baik saja!" seru Lilis cukup kencang agar dapat didengar Shehan.


***


BERSAMBUNG...