Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 41 : Menunggu



Lilis, gadis muda berparas manis. Dia anggun dalam balutan gaun warna fuchsia yang terang. Gaun yang menurutnya adalah yang terbagus di lemari malam ini. Riasan wajah natural pada bagian mata dan perona pipi. Terkecuali bibir Lilis terlihat lebih mencolok sebab diberi warna senada dengan gaunnya.


Juga jepit rambut penuh taburan permata telah tersemat di sisi kiri rambut Lilis. Jepit rambut yang Shehan bilang adalah hadiah pribadi suami kepada sang istri setelah hari pernikahan mereka.


Lilis, gadis muda berparas manis. Dia duduk sendiri di ruang makan. Membisu di hadapan cukup banyak makanan. Bahkan makanan yang tersaji di atas meja semuanya memiliki citarasa Turki. Dibantu oleh Mbok Tum, sejak siang Lilis sudah bergelut di dapur untuk menyiapkan semua menu makan malam itu.


Api dari tiga buah lilin menari seirama embusan angin yang kian kencang. Agaknya akan turun hujan malam ini. Waktu pun sudah menjelang tengah malam, nyaris pukul dua belas. Tetapi yang Lilis nanti tak kunjung datang.


Dari balik dinding ruang makan, Mbok Tum menatap kasihan pada gadis itu. Dia ingin membereskan semua makanan di atas meja lantaran sudah bukan waktunya lagi untuk makan malam. Namun, sesendok makanan pun belum ada yang masuk ke mulut Lilis. Lantas Mbok Tum mendekatinya.


"Non Lilis ...."


Panggilan Mbok Tum serta-merta menyadarkan Lilis dari lamunan. Ia menoleh wanita paruh baya yang telah berdiri di sampingnya.


"Iya, Mbok," sahut Lilis dengan suara lembutnya. Dipaksakan Lilis untuk tersenyum di depan Mbok Tum meski hatinya risau tak menentu.


"Non Lilis tidak makan? Ini sudah mau jam dua belas malam loh, Non."


Senyum Lilis kian melebar. "Sebentar lagi, Mbok. Tunggu Tuan Murad pulang."


Mbok Tum semakin prihatin. "Sepertinya Tuan tidak pulang, Non. Apalagi sekarang mau turun hujan. Kalau Non Lilis tidak makan sekarang, nanti bisa masuk angin."


"Aku tidak apa-apa kok, Mbok." Lilis masih menunjukkan ketegarannya. "Mbok, istirahat duluan saja. Ini sudah larut malam. Biar aku saja nanti yang membereskan semuanya."


"Jangan Non Lilis. Kalau Non Lilis sudah selesai makan, panggil Mbok saja. Biar Mbok yang bereskan."


"Baiklah, Mbok."


Akhirnya Mbok Tum sedikit lega karena Lilis tidak menolak permintaannya kali ini.


"Mbok permisi ke kamar dulu ya, Non."


"Iya, Mbok."


Lilis mengangguk singkat seraya memperlihatkan raut ramah. Sengaja Lilis melakukan itu, agar Mbok Tum bisa tenang meninggalkan dirinya.


Setelah kepergian Mbok Tum, pandangan Lilis menelusuri setiap piring hidangan yang telah dia buat dengan susah-payah. Dari warnanya segar sampai mulai pucat. Dari lilin tinggi sampai sudah pendek, tubuhnya hampir habis dilalap api.


Acara makan malam istimewa yang Lilis persiapkan sebagai balasan atas hadiah Shehan, nyatanya tidak berjalan sesuai rencana. Sejak pukul enam sore, Shehan telah pergi dan sampai sekarang belum kembali.


Ketika melihat jam di dinding, jarum pendeknya sudah berada di antara angka dua belas dan satu. Sedangkan jarum panjang berada di angka tujuh. Itu artinya sekarang sudah pukul setengah satu dini hari.


"Mungkin yang Mbok Tum bilang benar. Tuan Murad memang tidak pulang malam ini."


Dengan gerakan lemah, Lilis membalik sebuah piring yang tertutup, jadi terbuka. Diisinya beberapa sendok makanan ke atas piring. Lalu mulai makan malam dengan ditemani air mata dan kesedihan. Tak lama setelah itu, hujan pun turun dengan derasnya.


**


Kilas balik delapan jam yang lalu.


Ddrrtt ... Ddrrtt ... Ddrrt ....


Sambil menempelkan ponsel ke telinga kiri, Lilis gelisah menunggu Shehan menerima panggilan teleponnya. Ini masih menjelang sore, tepatnya pukul 16.03 WITA. Shehan pun masih berada di kantor, belum pulang bekerja.


"Halo ...." Pada dering panggilan ketiga Shehan menjawab telepon Lilis.


"Halo, Mas." Lilis bicara dengan intonasi girang.


"Ya, Lilis. Ada apa?"


"Aku mau tanya, apa nanti malam Mas sibuk?"


Shehan diam, mengingat jadwal hariannya sebentar. "Tidak. Waktuku senggang nanti malam."


"Eum ... Mas. Sebenarnya aku mau mengajak Mas makan malam." Malu-malu Lilis mengatakannya.


"Makan malam?" Shehan terperangah.


"Iya, Mas. Jujur, aku segan karena tidak bisa memberi Mas hadiah. Jadi aku berencana mau mengajak Mas makan malam."


"Tidak, Mas. Jangan makan di restoran."


"Jadi makan malam di mana?"


"Di rumah saja. Aku mau memasak semua menu makanannya."


"Memangnya kamu mau memasak apa?"


"Eum ...." Lilis malu lagi. "Aku mau mencoba memasak makanan Turki, Mas."


"Ck!" Shehan berdecak geli. Bukan ingin menertawakan Lilis, tetapi karena sifat lugu Lilis yang membuat Shehan terhibur. "Kamu bisa memasak makanan Turki?"


"Aku masih mau belajar, Mas," ungkap Lilis agak ragu. Takut Shehan akan menolak idenya.


Shehan menyadari pita suara Lilis yang berubah pelan. Tidak ingin istrinya berkecil hati, lantas Shehan menyemangati Lilis. "Ya, sudah. Belajarlah memasak makanan Turki. Aku akan mencicipinya nanti malam."


Sontak Lilis senang. "Terima kasih, Mas. Sudah mau mencoba. Aku lanjut memasak dulu ya, Mas. Masih ada makanan yang belum kubuat."


"Ya ...."


"Selamat sore, Mas."


"Sore."


Usai menyudahi perbincangan lewat sambungan telepon, Lilis tambah semangat menyiapkan kelengkapan acara makan malam yang dia rencanakan malam ini.


**


Dua jam berikutnya.


Shehan baru saja menyemprot parfum ke sekitar tubuhnya. Aroma wangi maskulin seketika menguar di udara. Pria itu habis mandi dan memakai parfum memang sudah menjadi kebiasaan Shehan meski dia berada di rumah sekalipun. Tubuhnya tidak pernah tidak wangi.


Shehan berencana akan mendatangi putrinya-Nurbanu di kamarnya, saat tiba-tiba ponselnya yang tergeletak di atas nakas berdering. Shehan meraih benda persegi empat itu, kemudian melihat ke layar.


"Jesslyn ...." Dahi Shehan sedikit mengernyit.


Ddrrtt ... Ddrrtt ... Ddrrtt ....


Dering panggilan masih berbunyi. Selang sedetik, Shehan menggerakkan ibu jarinya pada tanda terima panggilan telepon dan meletakkan ponsel itu ke telinga.


"Halo, Jesslyn."


"Shehan ...." Dari seberang suara Jesslyn terdengar bergetar seperti orang mau menangis.


"Kau kenapa? Apa ada masalah denganmu?" Shehan khawatir.


"Bisakah kau datang sekarang, Shehan."


"Memangnya ada apa, Jesslyn?"


"Aku mohon datanglah, temui aku." Jesslyn yang mengiba semakin membuat Shehan cemas.


"Kau kenapa dan di mana sekarang?"


"Aku di rumahku sekarang. Aku mohon Shehan, datanglah temui aku."


Shehan melihat arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya, masih pukul 17. 45 WITA. Dia ingat kalau punya janji makan malam dengan Lilis, tetapi sekarang masih sore dan tersisa cukup banyak waktu sampai menjelang malam nanti.


'Jesslyn sepertinya sedang dalam keadaan tidak baik, tidak ada salahnya jika aku datang sebentar menemuinya. Setelah itu aku akan pulang ke rumah.'


Itulah yang Shehan rencanakan sebelum kepergiannya. Setelah itu dengan menggunakan mobil sambil menyetir sendiri, Shehan pergi ke rumah Jesslyn.


***


BERSAMBUNG...