Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 9 : Sudut Pandang



Sudut pandang Shehan.


Terus terang, aku terpaksa menikahi Lilis. Aku membutuhkannya untuk melanjutkan pengurusan kartu izin tinggalku selama di Indonesia. Dulunya izin tinggalku disponsori oleh Sarah. Namun, setelah kami resmi bercerai, aku harus memiliki seorang penjamin yang baru.


Bukan tidak mungkin untuk menggunakan kartu izin tinggal yang diberikan kepada investor asing. Hanya saja aku merasa lebih nyaman jika penjaminku adalah seorang warga negara asli. Itu sebabnya aku membuang kewarasanku dan merencanakan untuk menikah kontrak dengan Lilis.


Lilis, selama bekerja menjadi pengasuh Nurbanu, dia tidak pernah membuat kesalahan. Nurbanu adalah buah cintaku bersama Sarah, mantan istriku terdahulu. Nurbanu pun selalu dibuat ceria oleh Lilis. Gadis itu juga cekatan mengurus anak meski usianya tergolong masih sangat muda.


Ia juga memiliki kepribadian penurut serta sederhana. Aku berpikir Lilis akan menjadi istri yang patuh pada suami dan tidak akan banyak menuntut bila aku menikahinya. Jujur saja, aku memang membutuhkan wanita yang seperti itu untuk menikah kontrak denganku.


Tetapi Lilis bukanlah wanita yang tepat untuk menggantikan Sarah. Posisi Sarah sampai saat ini tetap berada di ruang istimewa di dalam hatiku. Aroma tubuhnya wangi. Napasnya hangat dan belaiannya lembut. Renyah tawanya masih kuingat. Terlebih lagi caranya tersenyum, masih terekam sangat jelas di dalam memoriku.


Kami saling mencintai dan bahagia sebelum akhirnya Sarah mengatakan bahwa jiwanya kesepian. Dahulu sebagai suami Sarah, aku memang selalu menemaninya. Namun, entah mengapa tidak bisa mengisi kekosongan di hati Sarah.


Sarahku ternyata lebih bahagia bersama pria yang baru dia kenal setelah dua tahun masa pernikahan kami. Dia mengatakan hanya mendengar nama pria itu disebutkan saja, sudah bisa membuatnya tersenyum.


Aku adalah Shehan Murad. Sejak umurku 27 tahun, aku pergi dari Turki menuju Indonesia dan memulai bisnis resorku di sini. Memang keberuntunganku, bisnis yang kujalankan berkembang pesat dan bisa menempati posisi salah satu yang terbaik.


Aku adalah Shehan Murad. Setengah tahun berada di Indonesia, aku pun mengenal Sarah Agatha. Sejak dari pandangan pertama, aku sudah jatuh cinta padanya. Sarah, kecantikannya alami, kebaikan hatinya murni dan sifatnya terpuji.


Aku adalah Shehan Murad. Aku mencintai Sarah dan menginginkannya selalu bahagia. Meskipun kebahagiaannya bukanlah bersamaku. Oleh sebab itu aku berani menerima keputusannya agar kami berpisah. Untuk kebahagiaannya bersama pria yang baru.


Aku adalah Shehan Murad. Suami Lilis Ekawati dan juga mantan suami Sarah.


**


Sudut pandang Lilis.


Menikah dengan duda tampan yang mempunyai resor di Bali, enak tidak sih?


Enak. Ekonomi kehidupanmu langsung terjamin. Bisa membeli ini dan itu. Yang dulunya harus menunggu sampai tabungan penuh, baru bisa kesampaian. Sekarang tinggal lapor suami, bilang maunya apa. Besok barang itu sudah ada di tangan.


Mau jalan ke mana-mana tidak kepanasan. Ada mobil dan supir yang siap mengantar. Mau keluar negeri juga bisa asal lancar bahasa Inggris. Supaya kalau tersesat di jalan, bisa bertanya pada penduduk lokal.


Tampan?


Ya tampan. Pria Turki asli berumur 32 tahun. Hidungnya bangir dengan garis wajah yang tegas. Rambutnya berwarna coklat gelap. Klimis dan tidak pernah terlihat berantakan di mataku. Sekalinya pun baru bangun tidur.


Di bagian pipi belakangnya juga dagu serta sekitar area mulut, tumbuh bulu-bulu halus yang membuat pria itu semakin maskulin dan ehem! Tampan. Ah, mungkin aku terlalu berlebihan membayangkan Tuan Murad seperti aktor film Holywood. Hahaha!


Mbak sarah adalah wanita yang baik juga ramah. Mungkin dia dulu merasa jenuh menghadapi sikap mantan suaminya yang serius, tegas dan kurang bercanda. Makanya Mbak Sarah bisa jatuh ke pelukan Jody Abraham yang humoris.


Nah, aku sendiri tidak menemukan sifat jelek di diri Mbak Sarah. Selain kepribadiannya yang mengagumkan, beliau juga pintar mendesain pakaian. Kariernya sebagai desainer pun terbilang cemerlang.


Ia pandai memasak aneka makanan khas nusantara. Makanan internasional juga bisa. Apalagi kalau soal dandan, wah, Mbak Sarah ahlinya! Cantik luar dalam dari atas sampai bawah. Belum lagi rambut panjangnya yang ikal, bergelombang, tebal, berkilau, kalau jalan ikut goyang. Wuih, pokoknya top deh empat jempol.


Hhmm ... Mbak Sarah memang jelmaan dewi. Mungkin itu juga yang ada di benak Tuan Murad, yang membuatnya tidak bisa melupakan Mbak Sarah. Bisa saja aku mengatakan belum bisa melupakan, tetapi aku sudah pesimis duluan.


Aku tahu betapa sulit bagi Tuan Murad melupakan mantan istrinya yang seorang dewi itu dan sepertinya memang tidak mungkin dapat melupakan. Apalagi selama pernikahan, keduanya sudah memiliki buah hati yang akan mempererat hubungan mereka meski telah berpisah.


Kenapa aku bisa bilang begitu?


Sebab yang akan kutulis selanjutnya bukan cinta yang bersemi dan memuai di dalam pernikahan mutualisme. Melainkan bab-bab yang berisi tentang kehidupan sehari-hari seorang istri penjamin WNA yang hanya sekadar membutuhkan sponsor izin tinggal di Indonesia.


Aku, Lilis Ekawati. Gadis polos dari Banyuwangi. Umurku baru genap 22 tahun saat diperistri oleh Tuan Murad.


Aku, Lilis Ekawati, yang melihat ketampanan mempelai prianya di hari pernikahan. Namun, mempelai pria yang bersanding denganku malah sibuk melihat kecantikan mantan istrinya yang hadir sebagai tamu undangan.


Aku, Lilis Ekawati, yang menyadari bahwa kehadirannya tak pernah dianggap penting. Mengunggah foto di akun sosial media, membuat status tentang kepenatan dan gundah gulana, tetapi tidak pernah di-like suami, tidak pernah dikomentari bahkan mungkin tidak pernah dilihat.


Malah Mbak Sarah, mantan istri Tuan Murad yang lebih peka pada setiap unggahan foto dan status kacauku. Dia sering meng-like dan memberi komentar yang membuatku tetap bersemangat.


Lalu Tuan Murad-nya meng-like foto dan mengomentari status siapa?


Setiap ada unggahan foto baru dan status baru dari Mbak Sarah, Tuan Murad tidak pernah absen untuk meng-like dan mengomentari. Padahal aku, Mbak Sarah dan Tuan Murad sama-sama berteman di sosial media. Pastilah setiap like dan komentar Tuan Murad juga bisa terlihat di beranda akun sosial mediaku.


Seolah aku hanya nyamuk yang terbang dibawa angin lalu. Tuan Murad tidak pernah membayangkan bila ada di posisiku.


Jadi aku-nya cemburu?


Awalnya tidak. Sama sekali tidak. Cuma perlahan-lahan, hari berganti hari, sedikit demi sedikit rasa sedih itu meracuni hatiku. Racun tersebut bekerjasama dengan emosi untuk membuatku terjangkit virus cemburu. Pada akhirnya aku didiagnosa menderita penyakit galau dan uring-uringan berkepanjangan. Lemas!


Inilah kisahku, kisah Lilis Ekawati. Mengungkap pahit, manis serta getirnya hubungan rumah tangga tanpa cinta.


***


BERSAMBUNG...