Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 91 : Akhir Tragedi



"I'm sorry I love you." ~Shehan Murad.


**


Katupan mata Lilis sedikit demi sedikit terbuka. Ia mengerjap-ngerjap meski dengan lambat. Jemari tangannya juga bergerak-gerak perlahan. Usai pingsan selama beberapa waktu, kondisi LiIis kini ada kemajuan. Ia sudah sadar dan menyadari sedang terbaring di dalam sebuah ruangan yang berbeda--bukan kamar utama rumah Shehan.


Cahaya lampu kamar rumah sakit menerpa tepat ke wajah Lilis dan membuatnya menjadi silau. Lantas Lilis berpaling hendak menghindari silau cahaya itu. Tanpa sengaja LiIis menemukan Shehan sedang tidur dengan posisi yang kurang nyaman--pria itu duduk di sebuah kursi lalu melipat kedua tangannya pada tepian ranjang. Lipatan tangan itulah yang Shehan jadikan sebagai bantal sandaran kepala. Pria itu ketiduran selepas terus menunggu LiIis.


"Mas ... Shehan...." Suara LiIis nyaris seperti orang berbisik saking pelan. Tangannya ingin menggapai kepala Shehan, tetapi terhalang selang infus yang ditanam ke dalam punggung tangannya. Lilis melepas plester yang melekat lalu mencabut jarum infus--keluar dari tangannya. Barulah dia bisa membelai kepala Shehan dengan leluasa.


"Mas ... Shehan...." Pelupuk mata Lilis menggenang air mata mengiringi panggilan kedua yang meluncur dari bibir keringnya. LiIis sedih--amat sedih. Saat dia menyadari terbangun di rumah sakit, itu artinya Shehan pasti telah mengetahui tentang kondisi kesehatannya.


"Mas ... Shehan, maafkan aku!" Genangan air mata LiIis menitik di pipi. Tangannya gemetar ketika menjauh dari kepala Shehan yang tadi dia belai. Meski masih sempoyongan dan berjalan terhuyung-huyung, Lilis nekad meninggalkan rumah sakit. Entah apa yang dipikirkannya, tetapi dia sama sekali tidak ingin bersama Shehan lagi setelah Shehan mengetahui tentang penyakitnya.


**


Esok hari.


Shehan bergeming seraya masih duduk di kursi yang dia pakai sejak tadi malam. Ia baru bangun tidur dan langsung terkejut tatkala melihat tempat tidur rumah sakit sudah kosong. Selang infus yang LiIis gunakan juga tergeletak begitu saja di atas ranjang. Beberapa tetes darah tampak sudah terserap kain dan mengering di dekat jarum infus.


"Lilis? Di mana Lilis?" Shehan celingukan mencari istrinya. Mengedarkan pandangan dari sudut ke sudut ruangan kamar tetapi tetap tidak menemukan sosok LiIis.


"Di mana dia?" Bergegas Shehan bangkit, pergi menuju toilet kalau saja Lilis ada di sana, "Lilis! Lilis!" panggil Shehan lagi dan masih tidak ada sahutan.


Ceklek!


Saat pintu toilet dibuka ternyata kosong di dalam. Benak Shehan semakin kalut. Ia buru-buru pergi ke pusat pelayanan rumah sakit untuk bertanya. Namun, jawaban pihak rumah sakit kurang memuaskan. Shehan yang sudah kelimpungan mencari LiIis akhirnya duduk di salah satu kursi tunggu yang berbaris rapi di sisi pinggir koridor. Ia membenamkan wajahnya ke dalam kedua belah telapak tangan. Mengistirahatkan sejenak lelah dan frustasinya.


'Ke mana Lilis di tengah keadaan genting seperti ini?' batin Shehan, panik. Selesai menyandarkan muka, ia menyeret kedua telapak tangannya menelusur rambut ke belakang.


Shehan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Beberapa kali jarinya menggulir layar gawai untuk mencari nomor telepon rumahnya yang tersimpan di aplikasi penyimpanan kontak. Baru saja akan menghubungi Mbok Tum, beruntungnya ponsel Shehan sudah berdering lebih dulu dan Nining--ibu mertuanya-lah yang menelepon.


Ddrrtt ... ddrrtt ... ddrrtt....


'Bu Nining? Kenapa tiba-tiba menelepon. Atau jangan-jangan Lilis....' Lekas ibu jari Shehan menyentuh tanda penerimaan panggilan.


"Halo, Ibu."


"Nak Shehan, maaf ya kalau Ibu tiba-tiba menelepon." Intonasi Nining terdengar ragu-ragu dari seberang.


"Tidak apa-apa, Ibu."


"Nak Shehan, Ibu mau bertanya tentang LiIis. Ibu terkejut tadi pagi LiIis sudah sampai ke Banyuwangi. Sendirian dan tidak ditemani Nak Shehan. Selain itu Ibu lihat, LiIis gemetaran dan wajahnya pucat sekali. Kalau boleh tahu sebenarnya ada apa?"


"Jadi LiIis ada di Banyuwangi sekarang, Bu?" Shehan antusias sama persis seperti dugaannya.


"Iya, Nak Shehan. Sekarang sedang tidur di kamar. Tadi Ibu sempat tanya kenapa tiba-tiba pulang--tidak memberitahu dulu dan kenapa pulang sendirian. Tapi kata LiIis jangan bilang-bilang sama Nak Shehan kalau dia pulang ke Banyuwangi. Jadi sekarang Ibu diam-diam telepon Nak Shehan. Apa Nak Shehan dan LiIis sedang ada masalah?"


"Ibu, tolong jaga LiIis baik-baik. Saya akan ke sana sekarang juga. Maaf, belum bisa bercerita tentang masalah kami dan tolong jangan beritahu Lilis dulu kalau saya mau datang. Sesampainya di Banyuwangi, baru saya akan cerita pada Ibu."


"Baiklah, Nak Shehan. Hati-hati di jalan, ya!"


"Terima kasih, Bu."


Setelah panggilan telepon dengan Nining berakhir, Shehan langsung beranjak ke mobilnya. Pergi ke Banyuwangi untuk menjemput LiIis.


Lilis berdiri sambil melamun--menatap keluar jendela kamarnya. Angin sepoi-sepoi yang masuk melalui jendela yang dibuka membelai wajah serta rambut LiIis. Sesaat Lilis memejamkan mata, menghayati ketenangan dan keheningan.


Ceklek!


Suara pintu dibuka seketika menyentak lamunan LiIis lantas menoleh ke asal suara. Shehan sembari masih memegang tuas pintu melihat Lilis dengan sorot mata terluka. Sementara Lilis terkesiap Shehan mendadak muncul di hadapannya.


'Mas Shehan....'


Mereka saling bersitatap muka.


"Mas ... Shehan...," panggil Lilis pelan dan bergetar. Sekonyong-konyong ia berbalik badan menghadap suaminya yang masih berdiri di ambang pintu.


Shehan menutup pintu kamar lalu berjalan lambat masuk ke dalam kamar. Hati serta seluruh hasratnya saat ini adalah ingin menggapai Lilis. LiIis sendiri diam di posisinya semula--menatap Shehan dengan sorot mata tak kalah terluka.


Ketika jarak mereka sudah dekat, Shehan dan LiIis sama-sama membisu. Membiarkan kerinduan yang menguar dari bahasa tubuh mereka bicara. Setelah puas memandang, Lilis dengan suara bergetar memanggil lagi suaminya.


"Mas ... Shehan...." Air mata kesedihan menggenangi pelupuk mata LiIis. Tak bertahan lama di sana, segera genangan itu tumpah menjadi hujan yang deras.


Shehan diam--terus diam memandang istrinya sebisa mungkin dan selama mungkin. Tidak tahu entah sampai kapan bisa puas memandang seperti ini. Belum ada semenit, dia tak mampu lagi menyembunyikan segala lara yang mencabik-cabik sanubarinya. Shehan ambruk--berlutut di hadapan LiIis dengan kepala menunduk. Kedua bahunya gemetar memikul beban pikiran yang berat.


"Kembalilah ... padaku! A--ku ... mohon kembalilah ... padaku!" Suara Shehan bergetar karena dia hampir menangis ketika mengatakan itu.


Lilis benar-benar semakin tidak tega membiarkan suaminya terpuruk, jatuh ke dalam jurang sengsara. Shehan yang dulu dilihatnya kokoh bagai tebing, sekarang hancur lebur tak bersisa. LiIis ikut duduk di lantai berhadapan dengan suaminya.


"Inilah alasanku kenapa meninggalkan Mas di rumah sakit. Aku tidak mau Mas melihatku dengan tatapan kasihan. Hiks ... hiks ... hiks...." Lilis menangis tersedu-sedu.


Shehan mengangkat wajahnya, melihat sang istri penuh duka. "Ayo, kita pergi! Aku akan membawamu ke Amerika untuk mengobati penyakitmu di sana. Kita harus berusaha, tidak boleh menyerah, Lilis!"


"Aku sudah tidak tertolong, Mas. Itu sebabnya aku pernah menyuruh Mas agar kembali pada Mbak Sarah. Hiks...." LiIis terisak.


Dengan lembut Shehan menyeka air mata istrinya. "Tidak ada yang tidak mungkin selagi kita mau berusaha. Yang penting kita sudah berupaya dan tidak menyerah dengan keadaan. Selanjutnya kita serahkan semuanya pada Tuhan."


"Mas...." Suara LiIis ketika memanggil terdengar menyayat hati.


Shehan menarik LiIis ke dalam dekapannya, memeluk Lilis dengan erat. Ia tidak mau LiIis pergi ataupun menjauh lagi. "Tetaplah begini! Tetaplah di sisiku. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Jangan berjuang sendiri. Biarkan aku menemani."


"A--ku ... awalnya aku, tidak bermaksud jatuh cinta pada Mas. Aku hanya ingin mengikuti alur kontrak perjanjian pernikahan kita." Lilis mengenang.


"Aku juga tidak bermaksud jatuh cinta. Maaf, ternyata aku mencintaimu."


"Mas Shehan, aku takut Mas. Aku takut ... hiks ... hiks ... hiks...."


"Jangan takut, Sayang! Ada aku yang akan menemanimu. Ayo, kita pergi! Sekarang juga kita pergi, jangan ditunda lagi."


Lilis mengangguk lemah. "Ya, Mas."


Shehan menangkup wajah LiIis dengan kedua tangannya. Mendekat perlahan demi memberikan sebuah kecupan sayang di kening LiIis.


Cup....


***


BERSAMBUNG...