Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 49 : Hujan Deras Di Pagi Hari



Pemandangan Lilis sedang melambaikan tangan ke arah bus TK yang melaju di badan jalan dan sedang membawa Nurbanu pergi ke Taman Kanak-kanak Bunga Matahari, membias dalam bola mata Jesslyn. Sembari bersandar di kusen sisi kiri pintu utama rumah dan bersedekap, Jesslyn memperhatikan Lilis dari jarak jauh.


Posisi tubuh wanita itu berubah tegak ketika Lilis--orang yang dinantinya sejak tadi sudah berjalan kembali memasuki area pelataran rumah, usai tugasnya mengantar Nurbanu tuntas.


"Eh, Nona Jesslyn! Aku pikir sudah berangkat bekerja juga. Rupanya masih di sini."


Lilis bercengkerama saat berpapasan dengan Jesslyn di dekat ambang pintu. Jesslyn pun tersenyum tipis padanya.


"Tidak, Lilis. Aku memang sengaja belum pergi bekerja karena ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."


"Hal penting? Denganku?" Lilis dengan terkesiap menunjuk dirinya sendiri. "Benar denganku, Nona? Bukan dengan Mas Shehan?"


"Shehan sudah pergi bekerja sejak lima belas menit yang lalu dan aku sengaja menunggumu di sini."


"Memangnya apa yang mau Nona bicarakan?" Dahi Lilis sedikit mengernyit.


Jesslyn mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah, tampak Pak Maman sedang berjaga di pos keamanan dekat pintu gerbang. Meski sebenarnya jarak mereka dengan pria paruh baya itu cukup jauh, tetapi Jesslyn merasa tidak nyaman jika harus berbicara di tempat itu.


"Lebih baik kita cari tempat aman dulu untuk bicara, Lilis."


Serta-merta Lilis pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Ia menyadari posisi mereka masih berada di teras, memang rasanya kurang nyaman jika berbincang di tempat itu.


"Eum ... baiklah, Nona. Ayo, kita ke ruang tengah saja," ajak gadis polos itu kemudian.


"Tidak!" Lekas Jesslyn menolak. "Jangan di ruang tengah karena aku mau bicara empat mata denganmu. Ini tentang persoalan pribadi."


'Persoalan pribadi? Memangnya apa persoalan pribadi Nona Jesslyn yang berkaitan denganku?'


Sejenak Lilis mencari tempat paling aman di rumah itu untuk membicarakan persoalan pribadi yang tadi disebutkan oleh Jesslyn. Sebersit ide brilian melintas di benaknya kemudian.


"Oh, ya! Kita bicara di balkon saja, Nona! Jarang ada orang lain yang datang ke tempat itu. Lagipula cuma ada Mbok Tum di dalam rumah."


"Baiklah! Ayo, kita ke sana!"


"Eum ...."


Lilis mengangguk. Ia dan Jesslyn bersama-sama pergi ke balkon lantai dua rumah. Biasanya, tempat itu memang selalu sepi. Selain jarang ada orang yang datang ke sana, bila Shehan dan Nurbanu sudah pergi di pagi hari, hanya tinggal Lilis dan Mbok Tum saja yang menghuni rumah.


Setibanya mereka, Lilis berdiri seraya memegang railing balkon. Dipejamkannya mata sesaat, hendak menikmati sepoi-sepoi angin yang menerpa, membelai rambutnya. Jesslyn ikut menghampiri, berdiri di samping Lilis dengan pandangan ke arah depan. Melihat pemandangan yang sama. Tetapi ia tidak memegang railing balkon.


"Anginnya segar kan, Nona!" ujar Lilis setelah membuka mata dan menoleh Jesslyn. Namun, balasan yang Jesslyn berikan tidak sesuai dengan perkataan Lilis.


"Lilis, ada yang ingin kubicarakan denganmu."


Lilis lantas teringat tujuan mereka mendatangi balkon ini bukan untuk menikmati segarnya angin.


"Oh, ya, Nona. Apa itu? Aku siap mendengarkan."


"Kamu bukan hanya harus siap mendengarkan, tetapi juga harus mengerti dengan apa yang akan kukatakan nanti." Intonasi Jesslyn mengubah suasana santai di antara mereka jadi serius. "Lilis, aku akan bicara langsung ke intinya. Apa kau tahu alasanku tinggal di rumah ini?"


Lilis larut dalam suasana serius yang Jesslyn ciptakan. Bimbang dan terbata dia bicara. "Aku ... aku tidak tahu, Nona."


Yang muncul di hadapan Lilis kemudian adalah guratan senyum pelik Jesslyn yang mengembang.


"Baiklah! Akan kuberitahu. Alasan aku tinggal di rumah ini karena Shehan yang menyuruhku. Aku sedang mengandung anaknya, Lilis."


Gluduk! Gluduk! Gluduk!


Seketika gemuruh menyambar telinga Lilis. Ia membeku, sekujur tubuh kaku. Sama sekali tidak ada lagi aura ceria terpahat di parasnya yang bening.


'Benarkah yang Nona Jesslyn katakan barusan?' batin Lilis bertanya-tanya.


"Ya, Lilis. Sebenarnya aku dan Shehan sudah lama berhubungan. Dulunya kami adalah sepasang kekasih." Jesslyn sengaja mengarang cerita agar Lilis percaya.


"Ka--kalau Nona Jesslyn adalah kekasih Mas Shehan? Kenapa Mas Shehan menikahi aku? Bukannya Nona?"


"Itu karena Shehan kesal padaku. Aku pergi ke Amerika selama enam bulan lamanya. Dia pikir aku benar-benar meninggalkannya dan tidak akan kembali ke pelukannya lagi. Itu sebabnya dia menikahimu hanya untuk membalas dendam. Jujur saja, aku juga masih mencintainya. Saat mendengar Shehan mau menikah, aku segera pulang ke Indonesia. Tapi Shehan bilang semua sudah terlambat."


Perih hati Lilis bak tersayat sembilu. Kata-kata Jesslyn membuat matanya tanpa sadar berembun. Pandangannya pun mengabur.


"Tapi ... Mas Shehan, tidak pernah cerita tentang ini sebelumnya."


"Itu karena kamu hanya istri kontraknya dan akan diceraikan tahun depan. Jadi Shehan pikir tidak perlu menceritakan tentang persoalan pribadinya padamu. Kamu hanya permainan yang akan dia buang kalau sudah bosan memainkannya."


Lilis tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan, Jesslyn tahu rahasia pernikahan mereka.


"Dari mana Nona tahu itu?"


"Shehan sendiri yang mengatakannya padaku. Setelah kami berbaikan dan menyadari perasaan kami masing-masing, dia menceritakan semuanya padaku. Dia bilang kalau dia menikahimu hanya agar aku kembali. Bukan karena untuk sponsor izin tinggalnya di Indonesia."


'Mas Shehan bilang tidak ada yang boleh tahu tentang rahasia pernikahan kontrak ini. Tapi dia sendiri mengatakannya pada kekasihnya. Jahat sekali kamu, Mas!'


Air mata Lilis akhirnya berlinangan di pipi. Tidak mampu lagi dia menahan cairan bening itu agar tidak tumpah. Lilis merasa telah ditipu, diperalat dan dipermainkan. Sungguh tertekan batinnya saat ini.


"Sadarlah Lilis! Kamu hanya alat pelampiasan Shehan. Kamu juga tahu itu. Untuk apa lagi kamu bertahan? Kamu bisa langsung mengatakannya pada Shehan sekarang juga. Dia pasti akan senang hati jika kamu meminta bercerai lebih dulu."


Lilis terisak, sesenggukan. Tubuhnya gemetaran dari atas kepala sampai ujung kaki. Melihat kelemahan Lilis, Jesslyn tambah menghasutnya.


"Kamu tahu apa yang terjadi? Shehan merengek-rengek, mengemis agar bisa kembali padaku. Dia sampai bersujud di depanku. Awalnya aku bimbang menerimanya karena status Shehan sekarang sudah menjadi suamimu. Karena aku belum yakin, Shehan pun menyarankan agar aku hamil dan tinggal di rumahnya. Itu semua dia lakukan agar aku percaya dan mau kembali padanya."


Lilis masih bergeming, sesekali menyeka air matanya yang terus mengalir.


"Kenapa kamu menangis, Lilis? Bukannya kamu hanya istri kontrak? Atau jangan-jangan kamu sudah menyukai Shehan?"


Lilis menoleh, terlihatlah sklera mata dan ujung hidungnya yang memerah.


"Ti--dak, Nona Jesslyn. Aku sangat tahu diri agar tidak menaruh perasaan pada Mas Shehan. Karena aku sadar statusku hanya istri kontrak."


"Baguslah kalau kamu sadar diri. Dan satu lagi, tolong kosongkan kamar utama segera karena aku mau tidur di kamar itu mulai malam ini."


Jesslyn menepuk pundak Lilis beberapa kali sebelum meninggalkan Lilis di balkon seorang diri. Setelah kepergian Jesslyn, tak tahan lagi Lilis memendam perasaan kecewa yang menikam jantungnya.


Lilis jatuh terduduk di lantai, menangis tersedu-sedu begitu pilu. Air mata jatuh membasahi lantai. Tubuhnya gemetaran tidak bisa dia kendalikan. Entah mengapa Lilis merasa hancur.


'Air mata, kumohon berhentilah mengalir! Kenapa aku harus menangis kalau sejak awal, aku sudah tahu akan diceraikan. Kenapa aku sesedih ini, bila tidak memiliki perasaan apapun padanya.'


Lilis berharap tidak ada lagi air matanya yang tumpah, tetapi respon tubuhnya tidak berjalan sesuai keinginannya. Air mata Lilis tetap saja jatuh bagai hujan deras di pagi hari.


'Tega sekali kamu, Mas! Tega sekali!'


Tangan Lilis bergetar, hendak meraih hidungnya yang terasa perih dan nyeri. Bukan hanya dadanya yang sesak, tetapi udara yang melewati lubang hidung Lilis pun terasa panas membakar.


Saat sudah berhasil memegang hidungnya, telapak tangan Lilis malah penuh lumuran darah. Segar, berwarna merah. Lilis sampai terkesiap melihat banyaknya darah yang keluar.


"Aku mimisan lagi. Bukan hanya air mataku, bahkan darahku pun ikut mengalir. Tega sekali kamu, Mas! Tega sekali!"


Lilis kembali menunduk. Menangis sejadi-jadinya hingga urat-urat di keningnya bermunculan, membekas di permukaan kulit. Ia tenggelam dalam kesedihan yang mendalam.


***


BERSAMBUNG...