Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 30 : Tentang Calon Pengantin



Sebulan kemudian.


Sehelai kerudung putih gading baru saja disematkan di atas kepala Lilis yang ditata membentuk sanggul. Riasan wajahnya sangat istimewa. Tidak tebal, tetapi pas. Sungguh tepat memperindah paras Lilis di hari pernikahannya.


Dua orang penata rias serta satu orang penata busana telah mendandani Lilis sedemikian rupa sesuai keahlian mereka. Di hari Sabtu ini, rasa-rasanya Lilis-lah calon pengantin paling cantik, paling ayu. Dengan kesahajaan, kepolosan serta keindahannya, Lilis menjelma menjadi Cinderella khas nusantara.


Namun, pandangan gadis itu sayu dan redup. Bibirnya beku, berat menyunggingkan senyum bahkan untuk sekadar berkedut pada tiap ujungnya. Kedua tangan Lilis terlipat di atas pangkuan seraya menundukkan wajah. Bayangannya yang tidak bergairah itu terpantul di cermin rias berukuran cukup besar yang ada di depannya.


Tentang Lilis, mulai detik ini dia harus merelakan masa mudanya. Mulai hari ini statusnya akan berubah. Mulai malam ini, dia tidak akan pernah kembali lagi seperti sediakala. Lilis, betapa berat beban yang harus dipikul gadis itu di kedua pundaknya.


Di kamar lain, Shehan juga muram durja. Duduk di kursi yang juga menghadap ke sebuah cermin. Pandangannya fokus pada cincin yang melingkari jari manis tangan kirinya. Beberapa kali Shehan membolak-balik telapak tangan, hanya untuk memperhatikan lekat-lekat cincin itu. Agaknya ia belum rela melepas cincin itu dan menggantinya dengan cincin yang baru.


Sebuah tarikan napas dalam lalu embusan panjang, Shehan lakukan. Ia ingin melonggarkan rongga dadanya yang serasa sesak. Namun, keputusan telah dia buat. Meski harus mengingkari hatinya sendiri, akhirnya Shehan melepas cincin itu juga.


Tek!


Suara dentingan benda besi itu terdengar ketika diletakkan di atas meja. Terdapat sebuah ukiran nama di bagian dalamnya, dan cahaya lampu yang terang menyala dari langit-langit kamar, membuat ukiran nama itu semakin terlihat jelas.


Shehan & Sarah.


Itulah kata yang terukir di sana. Rupanya sampai detik ini pun, Shehan masih mengenakan cincin pernikahannya bersama Sarah, walaupun sudah dua tahun mereka berpisah.


Tentang Shehan, ia juga terbebani dengan perasaan bersalah sekaligus cinta. Perasaan bersalah pada Lilis dan cinta pada Sarah.


Usai bergelut dengan kecamuk yang memenuhi batinnya, Shehan bangkit dari kursi. Diraihnya sebuah kotak cincin yang terbalut bahan beludru hitam, sedangkan di dalam kotak itu telah terisi dua buah cincin pernikahan. Shehan menggenggamnya lalu pergi menemui Lilis di kamar hotel yang lain.


**


Ceklek!


Suara deritan pintu, menyadarkan Lilis dari lamunan. Gadis itu tersentak, menoleh ke belakang. Jejak langkah Shehan mengalun dalam suasana hening di kamar itu. Mata Lilis tak berkedip, mengawasi Shehan yang kian mendekat padanya. Demikian juga dengan Shehan, yang tak berpaling, fokus pada Lilis yang sedang duduk di sebuah kursi di depannya.


"Tuan ...." Suara Lilis lemah memanggil. Bangkit tatkala Shehan sudah berhasil menjangkau posisinya. Keduanya saling bersemuka.


Manik coklat muda Shehan mengitari calon istrinya dari atas kepala sampai ujung kaki. Ia pun mengakui kalau Lilis telah berubah menjadi cantik sejak hari mereka pergi ke kantor kedutaan besar Turki. Apalagi hari ini. Dalam balutan kebaya warna putih gading yang senada dengan kerudungnya, serta kain batik di bagian bawah sebagai pelengkap kebaya putih gading itu, Lilis menjadi semakin anggun dan elok.


"Kamu sudah siap?" tanya Shehan, lembut.


"Eum ...." Lilis mengangguk singkat. "Sudah, Tuan."


Jawaban Lilis terdengar hampir bergetar. Shehan sedikit mengernyit saat mendapati binar mata Lilis berkaca-kaca.


"Kenapa kamu menangis?" Shehan khawatir.


"Ah, tidak apa-apa, Tuan. Ini cuma air yang sembarangan menetes."


Lilis berpaling, coba ia seka ujung matanya yang berembun dengan ruas jari. Namun, Shehan mencegah dengan menahan pergelangan tangannya.


"Jangan!"


Lilis terperanjat.


"Biar aku saja!" Pria itu mengambil sehelai saputangan dari dalam saku jas bagian dalam. Lalu berhati-hati menyeka ujung mata Lilis agar riasan wajahnya tidak rusak.


"Aku tahu kamu pasti juga merasa terbebani dengan pernikahan ini, Lilis," kata Shehan sembari menyimpan saputangannya lagi ke dalam saku. "Tapi percayalah, aku akan menepati janjiku padamu."


"Tuan ...." Lilis makin terharu menatap Shehan.


"Semua pengorbananmu tidak akan sia-sia. Setelah ini, aku akan menjadi suamimu selama setahun ke depan dan kamu akan menjadi istriku selama setahun ke depan. Aku mohon kerjasamanya."


Shehan membalas dengan rekahan senyum yang sama. Mereka berdua memang serasi dalam urusan bekerjasama.


Di tengah perbincangan empat mata antara Lilis dan Shehan, pintu kamar yang tadi tertutup tiba-tiba dibuka dari luar. Baik Shehan maupun Lilis, sama-sama menoleh ke arah sana di waktu yang bersamaan. Mereka bingung siapa lagi yang datang ke kamar itu. Terkesiap keduanya saat melihat Sarah sambil menggandeng tangan Nurbanu memasuki kamar.


"Sarah ...." Netra Shehan bergulir dari anaknya kepada Sarah.


"Mbak Sarah ... Nurbanu ...." Lilis spontan memanggil.


Dari sisi depan, Sarah bersama Nurbanu menghampiri kedua calon pengantin itu dengan wajah ramah serta berlapang dada.


"Papa!" Nurbanu melepas pegangan ibunya, berlari menuju Shehan.


"Sayang ...." Shehan sendiri membungkuk, merentangkan kedua tangannya.


Sekilas Shehan melihat Sarah, lalu fokus memeluk Nurbanu yang sedang memeluknya. Lilis sedikit cemas, sementara Sarah tetap tenang berada di antara mereka.


"Papa, kata Mama, Papa mau menikah sama Kak Lilis, ya?"


Pertanyaan Nurbanu sekonyong-konyong membuat Shehan tersentak. Bingung harus menjawab apa. Lilis yang menjadi penonton setia juga ikut bingung, harus menjelaskan apa pada anak asuhnya tersebut.


Shehan melepaskan pelukan Nurbanu. Menyeret pandangannya pada Sarah. Sebuah tanda tanya besar terpancar dari sorot matanya. "Kenapa kamu membawa Nurbanu ke sini, Sarah? Bukankah aku sudah bilang padamu, tidak mau memberitahu Nurbanu dulu!"


"Shehan, sudahlah!" tepis Sarah. "Pernikahanmu dan Lilis tidak perlu disembunyikan dari Nurbanu. Mau sampai kapan kamu akan menutupinya? Lebih baik Nurbanu tahu dari sekarang. Aku juga sudah menjelaskan pernikahanmu dengan Lilis sesederhana mungkin agar dia mudah mengerti dan menerimanya."


'Mbak Sarah ...,' gumam Lilis dalam hati. Ia sudah cemas, tidak ingin terjadi perseteruan di antara Shehan dan Sarah di hari pernikahannya.


"Papa, tidak apa-apa, kok, Papa menikah sama Kak Lilis."


Refleks ketiga orang dewasa yang ada di sana menoleh pada anak kecil itu. Sarah membungkuk, menjelaskan pada Nurbanu dengan lembut.


"Nurbanu Sayang, mulai sekarang Kak Lilis akan menjadi teman Papa di rumah dan ke mana pun Papa pergi. Sama seperti Om Jody, menjadi teman Mama. Sama seperti Sofia, menjadi teman Nurbanu di sekolah TK. Nurbanu harus bersikap baik sama Kak Lilis. Jangan nakal ya, Sayang! Patuh sama Kak Lilis dan bereskan mainan kalau sudah selesai main."


"Ya, Mama." Senyum Nurbanu terlihat ceria kemudian beranjak mendekati Lilis yang berdiri di samping ayahnya. "Kak Lilis, Kakak cantik sekali pakai baju ini. Banu mau punya baju seperti ini juga, boleh tidak?"


Rengekan khas anak kecil berhasil mencairkan kegundahan dalam benak Lilis. Lilis sedikit membungkuk, hendak bicara dengan jarak yang lebih dekat. "Nanti kita cari baju yang sama seperti yang Kak Lilis pakai buat Banu, ya!"


"Iya, Kak!" Nurbanu bersemangat.


Sarah kemudian bangkit lagi, bersitatap muka dengan mantan suaminya. "Begitulah caraku menjelaskan pada Nurbanu, Shehan. Dia masih empat tahun. Tidak akan mengerti bila kita mengatakan ibunya sudah bertambah, ataupun perpisahan orang tuanya. Tapi seiring berjalannya waktu, Nurbanu pasti akan memahami apa yang sebenarnya telah terjadi."


Dada Shehan membusung, menghela napas panjang. "Baiklah, aku tidak akan berdebat denganmu."


Sarah tersenyum lebar. Lantas memeluk Shehan, "Selamat atas pernikahanmu. Aku berharap kau selalu bahagia."


Shehan membalas pelukan Sarah seraya mengusap punggung wanita itu beberapa kali. "Terima kasih, Sarah."


Kemudian pelukan itu berhambur pada Lilis. "Lilis, selamat menempuh hidup baru. Aku titip Nurbanu, tolong jaga dia."


"Ya, Mbak Sarah. Terima kasih sudah mempercayai aku."


Sarah memejamkan mata, memeluk Lilis lebih erat. Di dalam hati, Sarah berniat akan memperlakukan Lilis seperti adik kandungnya sendiri.


***


BERSAMBUNG...