
Luapan amarah membingkai rahang kaku Hendra. Pria itu menghunuskan sorot mata tajam bak hendak menerkam. Kedua bahunya naik turun, mengikuti alur napas yang memburu. Tanpa aba-aba, Hendra mengepalkan tangan lalu melayangkan tinjunya ke arah pria Turki yang menjadi pemicu amarahnya.
"Beraninya kau menyakiti istriku!"
Sekonyong-konyong, buk!
"Aaakh!" Tina menjerit histeris seraya menutup muka dengan kedua belah tangan. Ia gemetar, takut bukan kepalang. Tak disangka kejadiannya akan berubah serunyam ini. Bila saja Shehan terpancing bujuk rayu Tina, sudah pasti tidak akan ada keributan yang terjadi.
Suasana koridor yang semula sunyi kini menjadi ricuh. Untung saja Shehan sempat mengelak hingga tak terkena tinju Hendra yang tiba-tiba menyerangnya.
"Kamu sudah salah paham, Hendra! Kejadiannya tidak seperti yang kamu pikirkan!" sergah Shehan. Namun, sia-sia karena Hendra tidak mempercayainya.
"Salah paham bagaimana, hah? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kamu sudah mendorong istriku ke dinding!" Jari telunjuk Hendra mengacung pada Tina yang masih menangis terduduk di lantai.
Hendra yang sudah dikuasai emosi melangkah maju, sengaja ingin berhadapan dengan Shehan untuk menantangnya.
Akan tetapi Shehan tidak gentar. Tak sedikit pun ia berjalan mundur untuk menghindar. Ia tetap tegak berdiri pada posisinya semula. Sekilas Shehan melihat Tina. Kemudian beralih pada Hendra untuk memberi penjelasan kedua. Mungkin saja kali ini Hendra akan percaya.
"Tidak mungkin aku sengaja mendorong istrimu tanpa alasan yang jelas. Apa kau pikir aku gila?"
"Bisa saja kau memang gila," ejek Hendra. "Kau gila karena mau bertunangan dengan Lilis."
Shehan mengernyit bingung. "Apa hubungannya dengan Lilis? Kenapa membawa-bawa dia? Dia tidak ada kaitannya dengan masalah ini."
"Tentu ada kaitannya. Kau cemburu padaku karena Tina lebih cantik dari Lilis. Waktu Lilis memanggilmu Sayang, kau malah buang muka. Pasti kau ingin merayu Tina di belakangku, kan!"
"Bukan itu alasannya. Tapi sudahlah!" Shehan mengibaskan tangan ke udara. "Tidak perlu kuceritakan padamu soal itu. Yang penting kau harus tahu kalau tidak ada niatku sama sekali untuk mengganggu Tina. Maaf, aku tidak tertarik dengan istrimu."
"Cih! Jadi kau anggap istriku jelek, begitu, hah!" Hendra mencengkeram kerah jas Shehan, meremasnya lalu mendelik di wajah Shehan.
"Lepaskan aku!" Shehan berusaha melepaskan cengkeraman Hendra dari kerah jasnya, tetapi Hendra yang semakin tersulut emosi, berniat memukulnya lagi.
"Munafik kau!"
Buk!
"Akh!" pekik Tina lagi.
Kali ini mengenai sudut bibir Shehan. Kulitnya pecah, mengeluarkan sedikit darah dan lebam. Shehan menyapu bagian itu dengan ibu jari. Tampak olehnya darah ikut menempel di permukaan sidik jari. Ia kemudian memalingkan muka ingin meredam emosi. Namun, kesabarannya sudah habis. Shehan geram lalu membalas pukulan Hendra.
"Kau memang keras kepala!"
Buk!
"Akh!" Tina refleks kembali berteriak.
Tinju Shehan mengenai pipi Hendra. Wajah pria itu miring ke samping dengan bekas luka memar.
"Berani kau melawanku? Mau bertarung! Ayo, aku tidak takut!"
Hendra dan Shehan sudah saling mencengkeram kerah baju masing-masing saat seruan Tina menghentikan aksi keduanya.
"Hentikan, Mas! Hentikan!" Ia memeluk salah satu lengan Hendra dan menariknya, ingin mencegah perkelahian terjadi. Seruan Tina yang keras menggema dari lorong koridor hingga terdengar oleh pengunjung lain yang berada di sekitar. Sontak mereka berdatangan, ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Ada apa itu ... ada apa itu?" Desas-desus terdengar samar.
"Mas, sudah Mas! Jangan berkelahi di sini!" mohon Tina lagi.
Pengunjung mall yang baru tiba di tempat kejadian perkara segera membantu Tina melerai Hendra dan Shehan. Tubuh keduanya kaku, sudah siap baku hantam. Hingga perlu beberapa orang untuk memisahkan mereka.
"Sudah! Sudah! Jangan berkelahi!" ujar salah satu pengunjung.
"Lepaskan aku! Aku mau menghajar orang itu karena sudah mendorong istriku ke dinding!" Kaki Hendra menendang-nendang tatkala diseret sebagian orang ke sisi kiri. Tina pun ikut menemani suaminya sembari masih menangis.
"Ceritakan saja! Apa rupanya yang istriku lakukan padamu, hah?" balas Hendra lagi.
Petugas keamanan mall yang sudah diberitahu ada keributan di lantai tiga bergegas datang. Selang semenit kemudian mereka tiba dan langsung menginterogasi kedua tersangka. "Ada apa ini? Kenapa membuat keributan di sini?"
"Laki-laki itu sudah mendorong istriku ke dinding, Pak!" sahut Hendra lebih dulu.
"Baiklah! Akan kuceritakan padamu kejadian yang sebenarnya," tegas Shehan.
Tina terperanjat, melotot sebab takut ketahuan bila Shehan membuka aibnya. 'Aduh, bisa gawat ini!'
"Mas Hendra, sudah Mas, jangan bertengkar lagi. Ayo, kita pulang saja!" bujuknya sambil menyeka air mata.
"Tin, Mas harus kasih pelajaran sama orang yang sudah mendorong kamu," balas Hendra lalu kembali menantang Shehan. "Ayo, ceritakan! Apa yang mau kamu katakan tadi? Biar Tina juga mendengarnya!"
"Mas, sudah Mas. Malu dilihat orang!" Tina risih pada pandangan orang-orang yang berkerumun, menonton mereka.
"Tunggu dulu, Tin. Mas mau dengar Shehan mau bilang apa."
"Kita bicara di tempat lain saja. Di sini terlalu banyak orang." Shehan menimpali. Akan tetapi alasannya malah berbuah prasangka bagi Hendra yang masih tidak mempercayai omongan Shehan.
"Kenapa tidak mau bicara di sini?"
"Karena aku masih peduli padamu!"
"Peduli apa? Hah! Dasar pengecut! Kamu tidak berani mengatakannya, kan. Kalau memang kamu benar, katakan di sini saja! Biar saja orang lain juga tahu yang sebenarnya."
Shehan mengangguk beberapa kali. "Baiklah, kalau itu maumu. Akan kukatakan di sini saja."
"Mas, sudah Mas. Ayo, kita pulang saja!" Tina membujuk lagi, tetapi tetap tak didengar oleh Hendra.
"Ya, katakan saja! Apa yang mau kau bilang!" Hendra memotong ucapan Tina. Sama sekali tidak menggubris istrinya sebab fokus pada Shehan yang berada di seberang, tetapi berhadapan dengannya.
"Istrimu mengatakan bosan dengan pernikahan kalian dan mengajakku berselingkuh!"
"Whoaa ...." Desas-desus khalayak ramai seketika menguar.
Hendra sendiri terdiam lalu menoleh Tina. Sesaat dia bungkam, melihat istrinya dengan sorot mata tak percaya. Namun, rasa cintanya pada Tina telah menutupi hati Hendra untuk menerima kenyataan yang ada dan memilih menyangkal perkataan Shehan.
"Tidak mungkin Tina seperti itu. Istriku perempuan baik-baik. Kau pasti berbohong. Pasti kau-lah yang mengajak istriku berselingkuh!"
"Kalau aku berbohong, kau bisa melihat kejadian yang sebenarnya di CCTV mall. Aku mendorong istrimu karena dia mau menciumku!"
"Whoaa ...." Orang-orang yang ada di sana kembali dibuat terkejut bukan main.
"Bohong! Tidak mungkin Tina seperti itu! Tangkap orang itu, Pak. Dia sudah mencemarkan nama baik istriku!" seru Hendra pada petugas keamanan.
"Lihat CCTV saja kalau masih tidak percaya!" tukas Shehan.
"Sudah! Sudah! Jangan ribut di sini! Ayo, kalian berdua ikut kami ke ruang keamanan!"
Hendra, Shehan dan Tina terpaksa menuruti petugas keamanan mall yang membawa mereka ke ruang keamanan untuk disidang. Sementara Lilis masih menunggu Shehan di restoran dengan perasaan cemas.
'Duh! Di mana Tuan Shehan ini? Kenapa belum datang juga?'
Ia mengernyit gelisah. Celingukan ke pintu masuk restoran, berharap Shehan akan muncul. Namun, lelaki yang ia tunggu tak kunjung datang.
***
BERSAMBUNG...