Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 47 : Wanita Itu Datang



Alunan musik jazz sayup terdengar dari kejauhan. Suaranya kian jelas ketika jejak langkah Jesslyn sudah memasuki area tempat duduk sebuah bar yang biasa dia datangi. Sambil membawa tas kantong kertas di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menenteng tas berbahan kulit, Jesslyn pergi menuju meja bartender.


"Hai, Starley!" sapa Jesslyn kepada seorang gadis muda blasteran Indonesia-Ukraina, Starley Lisowska.


"Hai, Kakak Sayang!" Starley yang berprofesi sebagai bartender membalas sapaan Jesslyn dengan riang. Manik coklat terangnya menjelajahi gestur pelanggan VIP bar tersebut, yang sudah duduk di salah satu kursi berkaki tinggi di depan meja bartender. "Wah, sepertinya ada kabar gembira!"


"Hahaha!" Tawa kecil Jesslyn mencuat setelahnya. Ia meletakkan tas kantong kertas yang tadi dia bawa ke atas meja bartender. Menyodorkannya pada Starley. "Ini untukmu!"


"Untukku?" Raut Starley berbinar terang.


"Ya, ambillah."


Cepat Starley mengambil hadiah dari Jesslyn dan membuka isinya saat itu juga. Jesslyn ternyata memberikan hadiah sebuah tas tangan mahal pada gadis itu. Usai mengetahui merek kenamaan yang terdapat di dalam tas, Starley bahkan sampai tercengang.


"Haah!" Menganga "Really! You give me a new and expensive one?"


"Of course, Darling. It's a gift for you and now you can congratulate me because I'm pregnant now."


"Aaahh! Oh, my God! Congratulation for you and your baby!"


Muah ... Muah ....


Starley mengecup pipi kanan dan kiri Jesslyn sebagai ucapan selamat atas berita kehamilan Jesslyn.


"Aku sudah tidak sabar ingin segera menggendong calon keponakanku," ucap Starley. Seulas senyum lebarnya tak henti mengembang sejak ia tahu kabar baik itu.


"Ya, berkat ide cemerlangmu, Starley. Akhirnya aku berhasil mengikat pria itu agar bisa menjadi milikku."


"Lalu bagaimana reaksi pria itu setelah tahu kau hamil?"


"Cih! Awalnya dia tidak mempercayainya sampai kami pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganku. Dan cepat atau lambat, dia pasti akan bertanggung jawab atas anak ini nantinya."


Starley mengangguk beberapa kali. "Selangkah lagi kau bisa menguasainya, Jesslyn."


"Sedikit lagi, Starley. Hanya butuh waktu sedikit lagi saja karena aku akan tinggal di rumahnya selama aku hamil. Dengan begitu, aku bisa mendekatinya lagi agar hubungan kami kembali baik seperti sediakala," ungkap Jesslyn penuh percaya diri.


Plok ... Plok ... Plok ....


Starley bertepuk tangan ringan, membanggakan rencana Jesslyn. "Hebat! Aku akan jadi orang pertama yang akan selalu mendukungmu."


"Terima kasih, Starley."


"Jadi kau mau minum apa untuk merayakan hari istimewa ini. Aku yang akan mentraktir!" Starley mengedipkan mata kirinya, malahan juga tersenyum genit.


"Oh, Darling! Kau tahu apa yang kusuka."


Sekonyong-konyong Starley terkesiap. "What! Vodka? Oh, no, Jesslyn. Kau sedang hamil. Minuman beralkohol tidak akan baik untuk janinmu."


Jesslyn cemberut manja. "Seloki saja, please! Aku akan baik-baik saja kalau hanya meminum seloki."


"Tapi, Jesslyn. Usia kandunganmu masih sangat muda. Akan sangat rentan mengalami keguguran. Kau harus benar-benar menjaganya."


Starley menasihati, tetapi tetap tidak dihiraukan Jesslyn.


"Tenang saja, Starley. Ini akan menjadi yang terakhir selama masa kehamilanku. Seterusnya aku tidak akan meminum minuman beralkohol lagi sampai aku melahirkan nanti. Jadi tolong berikan aku seloki vodka saja."


Starley menghela napas berat, tidak bisa menentang permintaan Jesslyn lagi. Wanita itu adalah tamu VIP di bar tempatnya bekerja. Menolak keinginannya untuk minum sama saja masuk dalam kategori kelalaian saat bertugas karena tidak melayani tamu dengan baik.


Starley pun memberikan seloki vodka pada Jesslyn yang segera ditenggak langsung oleh wanita itu sampai habis. Usai berbincang akrab dengan Starley, Jesslyn pulang ke rumahnya. Memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper lalu berangkat ke rumah Shehan dengan mengendarai mobilnya sendiri.


**


Ting Ning! Ting Ning!


Mbok Tum tergopoh-gopoh mendatangi pintu utama ketika bel di luar telah berbunyi sebanyak dua kali. Wanita paruh baya itu membuka pintu dan langsung terkejut usai melihat siapa tamu yang datang di jam setengah sembilan malam hari ini.


"Non Jesslyn!"


"Hai, Mbok Tum. Apa Shehan ada?"


Sebentar Mbok Tum memperhatikan koper berukuran besar yang teronggok di samping Jesslyn. Sebenarnya Mbok Tum merasa heran dengan keberadaan koper itu. Namun, tidak pantas dia bertanya mengingat statusnya hanya seorang asisten rumah tangga.


"Ada, Non, ada. Tuan, Non Lilis dan Nurbanu sedang menonton TV di ruang tengah. Silakan masuk, Non Jesslyn. Saya panggilkan Tuan dulu."


Greek ....


Suara roda koper yang diseret masuk, mengiringi kepergian Mbok Tum ke ruang tengah. Hendak memberitahu majikannya kalau ada seorang tamu yang datang.


"Permisi, Tuan. Non Jesslyn datang ke sini dan sedang menunggu di ruang tamu," lapor Mbok Tum setibanya dia.


"Jesslyn?" Shehan mengernyit.


"Ya, Tuan."


Lilis dan Nurbanu yang juga ada di sana ikut mendengarkan.


"Tante Jesslyn datang ya, Mbok?" tanya Nurbanu bersemangat. Wajar demikian, sebab sebelum kemunculan Lilis sebagai baby sitter di rumah itu, Jesslyn sudah lebih dulu berusaha dekat dengan putri semata wayang Shehan dan Sarah.


"Iya, Non Banu."


"Yeay! Tante Jesslyn datang!" Nurbanu lompat, jingkrak-jingkrakan di atas sofa. Sementara Lilis masih bersikap tenang.


Shehan bangkit dari duduknya, beranjak menuju ruang tamu untuk menemui Jesslyn.


"Papa, mau ketemu Tante Jesslyn, ya? Banu ikut, Papa!"


"Hati-hati, Banu!" seru Lilis tatkala melihat anak kecil itu turun dari sofa dengan cara melompat.


Lilis dan Mbok Tum akhirnya ikut pergi ke ruang tamu, bermaksud menyambut Jesslyn sebagai tamu.


"Shehan!"


Jesslyn bangkit dari sofa, semringah melihat Shehan tiba. Ia bahkan sudah akan memeluk Shehan. Tetapi cepat Shehan menghentikannya dengan gerakan tangan. Kemudian lewat gerakan kepala, ia memberitahu kalau ada orang lain yang akan segera datang ke ruang tamu juga. Jesslyn pun mengerti. Lantas tidak jadi memeluk Shehan.


"Tante Jesslyn!" Nurbanu dari tikungan tembok muncul sambil berlari kecil. Ia memeluk Jesslyn setelah berhasil menghampiri.


"Banu Sayang!"


Cup ....


Sebuah kecupan Jesslyn sematkan di kepala anak kecil itu. Lilis dan Mbok Tum akhirnya tiba di dekat mereka.


"Selamat malam, Nona Jesslyn." Lilis, si gadis polos menyapa dengan ramah.


Seketika Shehan menoleh istrinya. Ada rasa bimbang di hatinya saat itu yang tidak bisa dia utarakan. Jesslyn sendiri juga tersenyum menanggapi sapaan Lilis.


"Malam."


Selesai bercengkrama sebentar, semua orang yang berada di sana tertarik untuk melihat koper yang dibawa oleh Jesslyn.


"Tante, kok bawa koper? Memangnya Tante mau ke mana?" Nurbanu lebih dulu bertanya.


"Eum ... Tante ma---"


Belum sempat Jesslyn melengkapi perkataannya, Shehan sudah menyela.


"Mulai malam ini, Jesslyn akan tinggal bersama kita."


"Yeay, asyik!" Refleks Nurbanu berputar-putar di depan Jesslyn, kegirangan. "Nanti temani Banu main ya, Tante!"


Celotehan-celotehan khas anak kecil memeriahkan suasana ruang tamu. Sedangkan Lilis bertanya-tanya di dalam hati.


'Tinggal di sini? Kenapa tiba-tiba Nona Jesslyn mau tinggal di sini? Sebelumnya Tuan Murad juga tidak ada bilang apa-apa.'


"Mbok Tum, tolong antar Jesslyn ke kamar tamu dan layani dia dengan baik." Shehan memberi perintah.


"Baik, Tuan," jawab Mbok Tum.


"Terima kasih, Shehan, Lilis. Sudah mau menerima kehadiranku di sini." Jesslyn berbasa-basi.


"Tidak apa-apa, Nona Jesslyn. Tolong jangan sungkan, ya. Kalau perlu sesuatu, katakan saja. Aku siap membantu." Lilis bersikap rendah hati. Dia memang bukan seorang cenayang yang mampu melihat isi hati orang lain dan menerka apa yang akan terjadi padanya kelak.


***


BERSAMBUNG...