Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 46 : Dua Garis Merah



Sebulan kemudian.


Jari-jari Miranda-Sekretaris Shehan menari lincah di atas papan ketik komputer. Suasana tenang di kantor Ocean Corner Resort Bali pagi ini. Waktu juga masih menunjukan pukul 10.05 WITA. Sesekali Miranda menoleh pada sebuah dokumen kantor yang terbuka dan terletak di samping komputer yang sedang dia gunakan.


Tuk ... Tuk ... Tuk ....


Selang semenit kemudian, suara ketukan sepatu di lantai berhasil mengalihkan fokus Miranda dari komputer. Ia bergegas melihat ke asal suara. Lantas, didapatinya seorang wanita memakai sepasang stiletto warna burgundi sedang mendekat ke arah meja kerjanya.


"Selamat pagi, Nona Jesslyn." Miranda berdiri, memberi salam dengan ramah pada tamu yang baru datang itu.


"Pagi, Miranda," Jesslyn juga membalasnya dengan sopan "Aku mau bertemu Shehan sekarang. Apa dia ada di kantornya?"


Ternyata Jesslyn terpaksa mendatangi kantor Shehan sebab sejak kejadian percintaan mereka waktu itu, Shehan tidak pernah lagi mau menerima panggilan telepon darinya ataupun membalas pesan-pesan yang dia kirimkan. Meski telah berkali-kali Jesslyn coba menghubungi.


"Apa Nona sudah membuat janji dengan Tuan sebelumnya?"


"Belum."


"Kalau begitu, mohon tunggu sebentar, Nona. Saya akan menanyakan kesediaan Tuan Shehan untuk menerima tamu."


"Hhmm ...." Jesslyn berdeham pelan. Ia menunggu Miranda berbincang via telepon dengan Shehan. Bila membaca gerak-gerik Miranda, Jesslyn merasa yakin kalau Shehan juga telah menolak untuk bertemu dengannya pagi ini.


Gagang telepon kembali Miranda letakan ke posisinya semula. Menatap Jesslyn dengan sorot mata penyesalan. "Nona Jesslyn, mohon maaf. Tuan Shehan sedang sibuk sekarang dan tidak bisa menerima tamu."


"Cih! Aku sudah menduganya." Raut Jesslyn berubah masam.


Tidak diduga, wanita Indo-Belgia itu nekad mendatangi ruangan kantor Shehan meski telah ditolak. Ia terburu-buru beranjak ke sana dan serta-merta lekas disusul oleh Miranda.


"Nona Jesslyn! Nona mau ke mana? Tolong kerjasamanya, Nona. Tuan Shehan bisa marah pada saya nanti!"


Jesslyn yang sudah kehilangan kesabaran tidak menggubris dan terus berjalan. Membuka pintu ruangan kantor Shehan dengan paksa begitu dia tiba.


Ceklek!


Shehan di dalam ruangannya cukup terkejut melihat sosok Jesslyn muncul di depan pintu dengan napas tersengal dan tatapan tajam membidiknya. Sementara Miranda bergegas membungkuk sembari meminta maaf lantaran tidak berhasil menghalau Jesslyn.


"Maafkan saya, Tuan. Sudah saya katakan pada Nona Jesslyn kalau Tuan sedang sibuk dan tidak bisa menerima tamu. Tetapi Nona Jesslyn tetap memaksa."


Tuk ... Tuk ... Tuk ....


Tanpa diberi izin, Jesslyn menyelonong masuk ke dalam. "Aku mau bicara empat mata denganmu, Shehan," ujarnya menahan kesal.


Miranda mengangkat badan, melihat Jesslyn. Diseretnya wajah paniknya pada Shehan kemudian, takut dimarahi oleh atasannya itu. Namun, Shehan dengan gerakan tangan beberapa kali menyuruh Miranda pergi. Miranda pun mengerti. Ia mengangguk singkat sebelum keluar ruangan dan menutup pintu dengan rapat.


Ceklek!


Baik Jesslyn dan Shehan sama-sama menoleh ke arah pintu, beriringan dengan derit yang berbunyi. Setelahnya mantan pasangan sahabat tadi saling bersitatap muka.


"Kenapa kau memaksa masuk ke ruanganku? Bukankah aku sudah melarangmu untuk masuk!" ketus Shehan.


Jesslyn berjalan menghampiri. "Aku tahu kau tidak sedang sibuk. Hanya sengaja tidak mau menemuiku," balasnya sinis.


"Apa kau tidak melihat di atas meja kerjaku banyak tumpukan dokumen!" Kedua tangan Shehan mengarah pada permukaan meja di mana terdapat beberapa tumpuk dan lembar pekerjaan yang terbuka.


Jesslyn melihat itu sebentar. "Baiklah, kuakui kau memang sibuk bekerja. Tetapi kenapa kau tidak pernah mau menerima panggilan teleponku? Aku sudah coba menghubungimu berkali-kali. Kalau kau bisa bicara baik-baik denganku, aku tidak mungkin mendatangimu secara paksa di kantor ini."


"Memangnya apa yang mau kau bicarakan? Kalau soal bisnis, aku sudah menyuruh Miranda sebagai perantara perusahaanku untuk berdiskusi denganmu," terang Shehan lagi dari balik meja kerjanya.


"Ck! Apa maksudmu? Apa kau pikir jabatan Miranda setara hingga pantas berdiskusi denganku? Lagipula aku tidak mau membahas tentang bisnis." Jesslyn mengomel di hadapan Shehan.


"Kebetulan sekali kalau kau tidak mau membahas soal bisnis. Lebih baik keluar dari ruanganku sekarang karena aku mau bekerja lagi."


Shehan tersenyum pelik dan itu membuat Jesslyn bertambah jengkel.


"Kau ini? Kenapa kau berubah tiga ratus enam puluh derajat seperti ini? Apa kau tidak memandang persahabatan baik yang sudah kita bina sebelumnya?"


"Kalau kau juga memandang jalinan persahabatan kita, kau pasti tidak akan menjebakku!"


"Hah!" Jesslyn mendengus kesal. "Jadi kau merasa dijebak?"


"Tentu saja. Aku tidak suka cara licikmu yang bahkan kau gunakan padaku!"


"Dengar Shehan Murad! Kau itu pria normal, kalaupun kau mau bercinta denganku, itu pasti karena nalurimu sendiri. Tidak perlu aku menjebakmu."


"Sudahlah!" Jesslyn menepiskan tangannya ke udara. "Kalau kita berdebat itu terus, tidak akan ada habisnya, Shehan. Aku datang ke sini karena ingin memberitahumu sesuatu."


"Memberitahu apa?"


"Aku ... hamil."


"Apa? Hamil?" Dahi Shehan sontak mengernyit.


"Ya, Shehan."


Shehan diam sejenak, mengatur ritme napasnya yang mulai tidak stabil setelah mendengar berita mengejutkan dari Jesslyn.


"Apa buktinya kau hamil?"


Jesslyn kemudian merogoh ke dalam tasnya. Mengambil sesuatu lalu meletakkan sesuatu itu di atas meja kerja Shehan. Shehan pun melihatnya dengan tercengang. Ternyata sesuatu itu adalah sebuah alat tes uji kehamilan yang menunjukkan dua garis merah.


"Aku sudah terlambat menstruasi selama dua minggu terakhir ini. Dan setelah kucek, ternyata aku memang hamil."


Shehan masih kurang percaya meski telah melihat bukti itu. "Bisa saja kau menggunakan alat tes uji kehamilan milik orang lain!"


"Shehan, apa aku selicik itu!" Jesslyn melotot, marah.


"Terus terang aku sedang mengalami krisis kepercayaan denganmu."


"Ya, sudah. Kalau kau tidak percaya juga. Ikut aku sekarang! Kita pergi ke rumah sakit untuk membuktikannya!"


"Baiklah!"


Shehan bangkit dari kursi kerjanya. Berjalan menyambangi Jesslyn seraya membenarkan kancing jas terlebih dahulu. Keduanya bersama-sama pergi menuju rumah sakit terdekat.


**


Usai seorang dokter kandungan memeriksa rahim Jesslyn dengan disaksikan oleh Shehan sendiri, barulah pria Turki itu percaya kalau Jesslyn memang tengah mengandung.


Shehan tidak bisa bicara apa-apa lagi sekarang. Menyesal atas kesalahan di masa lalu pun tidak berguna. Lebih baik memikirkan solusi untuk masalah ini.


"Jadi sekarang bagaimana? Apa kau bersedia tanggung jawab atas anak ini?" tanya Jesslyn yang duduk di samping Shehan di salah satu bangku koridor rumah sakit.


"Aku masih harus membuktikan anak itu darah dagingku atau bukan."


Jawaban yang terlontar dari bibir getir Shehan barusan membuat Jesslyn harus menahan emosi. "Kau masih belum percaya? Bukankah tadi kau melihatnya sendiri saat dokter memeriksaku!"


"Aku memang sudah melihatnya dan aku tahu kau hamil. Tapi maaf, Jesslyn. Aku belum yakin siapa Ayah dari anak itu."


"Shehan, kau ini!" geram Jesslyn. Giginya saling menggemeretuk di dalam mulut saking jengkelnya. "Aku hanya bercinta denganmu saja! Tidak ada laki-laki lain yang menjamahku."


"Tapi aku tetap belum percaya!"


"Jadi apa maumu sekarang?"


"Aku mau melakukan tes DNA setelah anak itu lahir."


Jesslyn manggut-manggut. "Baiklah. Aku setuju. Aku tidak takut karena bayi ini memang anakmu. Tapi, aku mau mengajukan permintaan."


"Permintaan apa lagi?" Gantian Shehan yang emosi.


"Aku mau tinggal di rumahmu selama aku hamil."


Sepasang mata Shehan seketika membulat. "Apa kau pikir permintaanmu masuk akal? Ada anak dan istriku yang tinggal di sana. Lalu bagaimana dengan mereka?"


"Aku juga mengandung anakmu, Shehan! Apa kau tidak memikirkannya? Baiklah kalau kau tidak lagi mau bersikap baik padaku. Aku bisa terima. Tapi tolong bersikap baiklah pada anak ini. Bagaimanapun juga dia adalah darah dagingmu. Aku sedang hamil dan tidak ada yang menjagaku di rumah. Bila terjadi sesuatu denganku bagaimana?"


Shehan memalingkan wajah kesalnya ke sembarang arah. Dadanya sesak ditekan kenyataan yang tidak dia inginkan.


"Baiklah, kau bisa tinggal di rumahku. Tapi ingatlah, jangan sampai ada yang tahu tentang masalah ini. Cukup kita berdua saja yang tahu."


Senyum tipis Jesslyn terbit setelah Shehan memberinya izin tinggal. "Baiklah, Shehan. Terima kasih sudah berbaik hati padaku."


***


BERSAMBUNG...