
'Tidak enak kalau tidak pergi karena orang yang mau menikah, yang mengantar langsung undangannya. Mas Shehan belum diajak saja sudah marah-marah. Mungkin lebih baik aku pergi sendiri saja.'
Sebuah kartu undangan warna emas di bolak-balik oleh Lilis seraya tak lepas pandangannya dari kartu itu. Sambil duduk di salah satu bangku koridor sekolah TK Bunga Matahari, Lilis menunggu Nurbanu yang sebentar lagi akan segera keluar dari ruangan kelas karena jam belajarnya telah usai.
Kriiiiing!
"Yeay!" Sorak sorai para anak-anak TK hampir bergemuruh di seluruh penjuru ruangan kelas. Senang bukan main saat bel pertanda pulang sudah berbunyi.
Nurbanu dan Sofia--teman sekelasnya, keluar beriringan. Namun, bukan Ibu Mutia yang menjemput kali ini, melainkan Nugie. Lantas, pemuda berparas manis itu menemani kedua bocah tadi berjalan menuju mobil mereka yang terparkir di dekat halaman depan sekolah. Ketika sedang melewati koridor, mereka berpapasan dengan Lilis yang juga tengah menjemput Nurbanu.
"Kak Lilis!" Nurbanu berlari kecil mendekat.
"Hati-hati, Banu. Awas jatuh!" Lilis dengan senang hati menerima pelukan cinta anak kecil itu. Beberapa kali ia membelai kepalanya.
"Eh, Mas Nugie di sini juga?" sapa Lilis tatkala melihat Nugie sedang menggandeng tangan Sofia, muncul dari arah belakang Nurbanu.
"Iya, Lis. Tadi Kakak minta tolong untuk menjemput Sofia. Soalnya Kakak lagi banyak tempahan kue, jadi sibuk sekali," terang Nugie ketika jarak mereka berempat sudah dekat.
"Oh, begitu ... halo, Sofia!" Lilis mengalihkan perhatiannya pada anak kecil yang digandeng oleh Nugie.
"Halo, Kak Lilis!" Sofia membalas dengan ramah. "Kak Lilis, tadi Banu tidak habis makan sayur brokolinya."
"Aku kekenyangan, Kak Lilis!" Cepat Nurbanu membela diri.
Lilis tersenyum tipis. "Lain kali dihabiskan ya, Banu."
"Iya, Kak."
Tanpa sengaja Nugie melihat kartu undangan yang dipegang oleh Lilis di tangan kiri. Ia pun seperti menyadari sesuatu. "Sepertinya aku pernah lihat kartu itu, tapi di mana, ya?"
Lilis terhenyak, menunjukkan kartunya. "Oh, kartu ini ya, Mas. Aku sampai lupa menyimpannya."
"Iya, Lis. Seingatku kemarin aku juga punya kartu undangan yang sama seperti itu. Mungkin dari percetakan yang sama, ya."
"Mungkin, Mas. Ini kartu undangan pernikahan temanku. Desi Widyasari namanya," imbuh Lilis.
"Desi Widyasari?" Nugie terperanjat "Apa mungkin kebetulan lagi? Kartu undangan yang kupunya juga dari Desi Widyasari. Dia itu karyawan di restoranku."
Lilis mengernyit tak percaya. "Serius, Mas. Temanku ini memang bekerja di restoran. Tapi aku tidak tahu di restoran mana."
"Boleh aku lihat kartu undangannya sebentar, Lis?" pinta Nugie dan Lilis pun dengan senang hati memberikannya. Setelah melihat isi kartu undangan tersebut, Nugie semakin yakin kalau kartu undangan miliknya dan milik Lilis memanglah sama. Berasal dari orang yang sama pula. "Iya, Lis. Tidak salah lagi! Desi Widyasari ini karyawan restoranku. Aku juga dapat kartu undangannya kemarin."
"Wah, kebetulan sekali ya, Mas! Tapi, aku bingung...." Secercah raut ceria Lilis pudar selang sedetik kemudian.
"Bingung kenapa?"
"Tidak tahu mau pergi sama siapa?"
"Memangnya suami kamu ke mana?"
"Mas Shehan tidak bisa ikut. Dia sibuk, banyak pekerjaan katanya."
"Oh ... kalau kamu mau. Kita bisa pergi bersama. Aku juga tidak tahu mau pergi sama siapa."
"Benar, Mas?"
"Iya, Lis. Nanti aku jemput ke rumah kamu."
Sekonyong-konyong senyum simpul Lilis terbit lagi. "Wah, boleh deh, Mas! Yuk, kita pergi bersama-sama saja!"
**
Seminggu kemudian.
Tepian bawah gaun warna senduduk terseret di lantai, menemani langkah gemulai Lilis saat beranjak keluar dari ruang berpakaian. Wajah beningnya sudah dipoles dengan riasan. Rambutnya pun digelung, hanya menyisakan seuntai rambut saja yang dibiarkan membingkai pipi sebagai pemanis. Sambil membawa clutch bag, Lilis bersiap akan pergi undangan bersama Nugie.
Cantik? Dari atas sampai bawah tidak ada satu pun yang kurang dari Lilis. Dia mempesona, sampai Shehan yang baru masuk ke dalam kamar takjub melihatnya. Bola mata coklat pria Turki itu mengitari penampilan Lilis dari atas kepala sampai ujung kaki.
"Mas ...," sapa Lilis pada suaminya.
"Mau pergi undangan, Mas. Ke pesta pernikahan temanku."
"Pesta pernikahan temanmu?" Dahi Shehan mengernyit. "Kenapa tidak bilang sebelumnya kalau mau pergi ke sana?"
"Waktu itu aku mau bilang. Tapi Mas yang tidak mau diganggu. Baru kuketuk pintu ruang kerja Mas, Mas sudah menyuruhku pergi."
'Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan! Jangan ganggu aku! Aku sibuk bekerja!' Lantas Shehan teringat tentang perkataannya tempo hari.
"Jadi, sama siapa kamu perginya sekarang?" tanyanya lagi.
"Sama Mas Nugie, Mas. Adiknya Ibu Mutia yang waktu itu pernah mengantar ke sini."
"Laki-laki itu?" Padahal di dalam hati, Shehan sudah berharap Lilis mau minta diantarkan olehnya. "Kamu kan istriku? Kenapa bisa pergi sama laki-laki itu?"
"Kebetulan Mas Nugie juga dapat undangan yang sama, Mas. Temanku yang menikah ini, rupanya karyawan di restoran Mas Nugie."
"Dari mana kamu bisa tahu dia karyawan di sana? Diam-diam kalian sering komunikasi, ya?"
"Tidak kok, Mas. Cuma sering ketemu di TK Bunga Matahari saja kalau sedang menjemput Nurbanu. Kadang-kadang Mas Nugie juga menjemput Sofia."
"Sering ketemu?" Shehan tambah cemburu.
"Iya, Mas."
Seketika mimik Shehan berubah masam usai mendengar jawaban iya Lilis.
"Jadi kalau ketemu, kalian ngobrol dulu. Tidak langsung pulang?"
"Sebentar saja kok, Mas. Ngobrolnya."
"Ngobrol apa saja?"
'Apa sih Mas Shehan ini? Bertanya lengkap sekali, sudah melebihi wartawan saja!'
Belum sempat Lilis menjawab pertanyaan Shehan kali ini, ia sudah diselamatkan dengan kehadiran Mbok Tum yang muncul di ambang pintu. Perhatian Shehan dan Lilis langsung terarahkan padanya.
"Permisi, Tuan, Non Lilis. Ada tamu laki-laki yang mencari Non Lilis. Sedang menunggu di bawah," kata wanita paruh baya itu.
"Mas Nugie ya, Mbok?"
"Iya, Non."
Sekonyong-konyong Lilis pergi menuju jendela, melihat halaman depan rumah dari balik tirai. Shehan makin gelisah dengan sikap Lilis yang demikian. Apalagi Lilis langsung senyum-senyum sendiri ketika melihat Nugie memang ada di sana.
"Mas Shehan, aku pamit pergi undangan, ya."
Tanpa basa-basi, Lilis pergi meninggalkan Shehan begitu saja. Tanpa Lilis sadari kernyitan di kening Shehan bertambah banyak tatkala ia beranjak keluar kamar.
'Senang sekali dia, mau bertemu Si Nugie itu!' gerutu Shehan, gusar.
Shehan pun mengintai dari balik jendela kamar yang terletak di lantai dua rumah. Di tempat yang sama dengan posisi Lilis tadi. Tampak olehnya Lilis dibukakan pintu mobil oleh Nugie. Tak hanya itu, ketika Lilis akan terjatuh saat hendak masuk ke kabin depan lantaran tak sengaja memijak tepian bawah gaunnya, Nugie dengan sigap memeluk Lilis agar tidak jatuh.
"Akh!"
Sap ....
"Kamu tidak apa-apa, Lis?"
Lilis menoleh dan mendapati dirinya sudah berada dalam rangkulan Nugie.
"Tidak apa-apa, Mas."
Keduanya saling mengembangkan senyum. Sementara Shehan yang mengintip dari balik jendela kamar bersungut-sungut tidak karuan.
***
BERSAMBUNG...